Selama sepuluh tahun, Kayana Wiratama mengabdikan segalanya untuk satu pria. Ia menyusun setiap kontrak, memenangkan setiap pertempuran bisnis, dan mengubah "anak papa" bernama Kevin Santoso menjadi seorang raja korporat—hanya untuk dicampakkan, ditampar, dan dipermalukan di depan seluruh kalangan atas demi seorang perempuan berwajah malaikat. Malam itu, hati Kayana mati. Tapi seorang perempuan yang jatuh dari puncak selalu punya dua pilihan: hancur, atau bangkit sebagai sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Di balik topeng "tunangan terbuang" yang dikasihani semua orang, tersembunyi kebenaran yang tak seorang pun berani bayangkan: otak paling cemerlang di negeri ini, seorang perempuan dengan kecerdasan yang mengerikan dan masa lalu yang berdarah. Dan ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Darian Adiwangsa—pria yang dijuluki "sang Iblis", penguasa dunia yang dingin, mematikan, dan tak tersentuh—dunia mulai berubah.
Di mata semua orang, Darian adalah momok yang membuat kota gemetar. Tapi di hadapan Kayana, iblis itu rela berlutut. "Cukup minta, dan seluruh dunia akan kuletakkan di kakimu." Semakin dalam Kayana terseret ke dalam kehidupannya, semakin banyak rahasia terkuak: pengkhianatan keluarga yang membesarkannya, sebuah "kecelakaan" yang menyembunyikan cinta masa kecil yang terlupakan, dan ingatan yang sengaja dirampas darinya.
Sementara para mantan dan pengkhianat menuai balasan setimpal satu per satu, Kayana harus memilih: terus melarikan diri dari masa lalunya, atau merebut kembali takhta, nama, dan hati yang pernah dirampas darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashly Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
"Lupakan masa lalu, maafkan dirimu, dan mulailah dari awal sekarang juga."
Berkat kerja keras Kayana, keluarga Santoso berhasil menempatkan diri sebagai keluarga ketiga paling berkuasa di seluruh negeri.
Kayana teringat, bertahun-tahun lalu ia pernah membuat hidup Marina sengsara. Namun setiap rintangan yang ia pasang justru semakin mendekatkan Marina pada Kevin. Bahkan ketika ia membongkar gaya hidup Marina yang penuh nafsu, Kevin sama sekali tak mau mendengarnya, menganggap semua itu fitnah keji.
Kevin menikmati saat mempermalukan Kayana. Kayana masih mengingat betapa tak manusiawi cara Kevin menghinanya di hadapan seluruh keluarga, bagaimana ia menendang Kayana keluar dari mansion keluarga Santoso.
"Penyihir Kecilku, lalat pun tak berani terbang di sini."
"Kayana?"
Hartono menegurnya, sudah tahu mengapa cucu kesayangannya begitu tenggelam dalam lamunan. Mengingat itu mudah bagi orang yang punya ingatan. Melupakan itu sulit bagi orang yang punya hati.
Cucunya memiliki hati yang begitu lembut, lautan penuh rahasia. Hanya Kayana yang tahu betapa besar luka yang ditimbulkan Kevin.
"Kakek, aku berterima kasih atas niat baikmu, tapi ini bukan saat yang tepat."
"Aku cuma ingin makan siang bersama cucuku."
"Di dekat kantor Wiratama."
"Kebetulan. Kau tak bisa menyangkalnya, restoran ini punya hidangan yang enak. Daging panggangnya sangat lezat."
"Kakek tak pandai berbohong. Setidaknya tidak padaku."
Hartono percaya ini adalah era baru, masa perubahan. Sudah abad kedua puluh satu, sudah saatnya melihat seorang perempuan berkuasa. Dan siapa yang lebih pantas selain Kayana? Ia percaya pada cucunya. Jalannya sulit, tetapi bukan mustahil.
"Jangan mencari kebahagiaan pada orang yang justru merampasnya darimu; keterikatan yang beracun bukanlah cinta."
Ketergantungan emosional adalah kecanduan terhadap orang lain, kebutuhan berlebihan yang membuat seseorang rela melepaskan kebebasan pribadinya, menempuh jalan yang hanya menuju kebahagiaan semu.
Bertahun-tahun lamanya Kayana bergantung pada Kevin. Mulai dari warna kesukaannya hingga makanan favoritnya.
Setelah hubungan itu berakhir, Kayana merintis sebuah perusahaan kecil. Saat ini perusahaan itu dijalankan oleh para pengelola, dan sangat sedikit waktu yang Kayana curahkan untuknya. Meski begitu, perusahaan itu tumbuh semakin besar setiap hari.
Cuaca seakan mencerminkan perasaan Kayana. Hujan, langit yang kelam. Begitulah keadaan Kayana, sedih oleh masa lalu yang tak pernah bisa terhapus, masa lalu yang menudingnya sebagai sosok jahat dalam cerita.
Namun mungkin ia harus memaknai hujan dengan cara lain, membiarkan hujan menghanyutkan masa lalunya yang menyedihkan.
Saat turun dari taksi, ia melihat semua orang berlarian menuju kompleks, berusaha tak basah kuyup oleh hujan. Kayana justru sebaliknya, ia membiarkan hujan itu membasahinya, mencoba merasakan pengalaman baru, menyentuh alam.
Ia menyadari sesuatu yang selama ini tak pernah ia pedulikan: orang-orang yang tak sopan berlalu tanpa menyapa, tanpa berterima kasih, tanpa meminta maaf.
Penjaga pintu dan petugas kebersihan hanya bisa menundukkan kepala. Bagi mereka itu hal biasa. Setiap kali hujan turun, segalanya penuh lumpur, dan pekerjaan mereka pun bertambah.