NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Siasat Kelam di Balai Desa

Suasana pagi di Balai Desa terasa begitu hidup. Di sudut aula terbuka yang dialih fungsikan menjadi taman bacaan masyarakat, suara riuh anak-anak terdengar bersahutan. Nayla tampak telaten membagikan buku-buku cerita bergambar kepada anak-anak usia sekolah dasar yang duduk rapi di atas tikar pandan. Senyuman tulus tak pernah lepas dari wajah manis alaminya, membuat suasana di tempat itu terasa begitu hangat.

Sebagai seorang lulusan sarjana, Nayla memilih untuk tidak mengadu nasib di kota besar. Ia memilih kembali untuk mengabdi, membuka kelas belajar gratis, dan mengelola administrasi digital desa. Ketulusan hati Nayla membuatnya sangat dicintai dan dihormati oleh warga kampung, terutama oleh ibu-ibu kader desa yang pagi itu sedang sibuk membantu merapikan rak buku sumbangan di sudut ruangan.

Namun, ketenangan itu mendadak terusik saat derap langkah kaki dengan sepatu berhak tinggi terdengar nyaring memasuki area aula balai desa.

Ratih melangkah masuk dengan gaya angkuhnya. Mengenakan pakaian paling mencolok dengan riasan wajah yang tebal, kembang desa itu melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya langsung tertuju pada Nayla dengan tatapan penuh kebencian dan dendam yang membara. Penolakan mentah-mentah dari Arkan tadi malam benar-benar membuat harga diri Ratih hancur berkeping-keping, dan ia menuduh Nayla sebagai dalang di balik semua itu.

Nayla yang menyadari kedatangan Ratih hanya menghela napas pendek. Ia bangkit dari duduknya, lalu menatap beberapa anak di depannya. "Anak-anak, kalian baca bukunya dulu di dalam, ya. Mbak Nayla mau ke ruang arsip belakang sebentar untuk mengambil alat tulis baru," ucap Nayla lembut. Setelah anak-anak masuk ke ruang baca, Nayla berjalan melewati Ratih tanpa menegurnya sama sekali, seolah gadis genit itu hanyalah angin lalu.

Melihat dirinya diabaikan, kepalan tangan Ratih semakin menguat. Begitu punggung Nayla menghilang di balik pintu ruang arsip, Ratih langsung melancarkan siasat liciknya. Ia berjalan mendekati kerumunan ibu-ibu kader desa yang sedang menyusun buku. Dengan wajah yang mendadak diubah menjadi penuh drama dan pura-pura cemas, Ratih mulai berbisik setengah berbisik.

"Ibu-ibu... sudah dengar gosip terbaru belum tentang si Nayla?" tanya Ratih memicu rasa penasaran, suaranya dibuat seolah-olah sedang menyampaikan rahasia besar desa.

Beberapa ibu-ibu menghentikan pekerjaannya, menatap Ratih dengan dahi berkerut. "Gosip apa, Ratih? Nayla kan anak baik, setiap hari cuma sibuk mengajar anak-anak di sini," sahut salah satu ibu kader.

Ratih terkekeh sinis, memajukan wajahnya. "Aduh, Ibu-Ibu ini polos sekali, ya. Jangan gampang tertipu dengan wajah alimnya. Ibu-ibu tahu kan ada pria kota yang tampan dan kaya raya dari Jakarta yang sedang menumpang di rumah Mbah Harjo? Kemarin siang, si Nayla sengaja mengajak pria kota itu mampir ke rumahnya! Sengaja memamerkan pesonanya supaya pria kaya itu tertarik."

"Ah, masa iya? Nayla kan cuma menolong mengobati tangan nak Arkan yang melepuh di ladang," bantah warga lain yang mulai ragu.

"Itu kan cuma alibi dia saja, Bu!" hasut Ratih berapi-api, matanya melotot tajam demi meyakinkan warga. "Nayla itu pintar. Dia tahu pria kota itu pewaris kekayaan konglomerat. Makanya dia pura-pura baik, sok jadi penyelamat dengan obat-obatan tradisionalnya. Siasatnya itu murahan sekali! Dia sengaja menggoda Tuan Muda kota itu agar bisa lepas dari kemiskinan desa dan ikut ke Jakarta. Menjual diri dengan tameng mengabdi pada desa. Perempuan kegatelan seperti itu kok malah dihormati!"

Hasutan keji dan fitnah bermuka dua dari Ratih mulai bekerja. Beberapa ibu-ibu yang awalnya membela Nayla kini mulai saling berbisik dengan tatapan curiga. Rumor miring tentang kehormatan seorang gadis di pedesaan selalu menjadi hal yang sensitif dan cepat menyebar seperti api menyambar jerami kering. Ratih tersenyum puas di dalam hatinya melihat reputasi Nayla yang mulai goyah di mata warga.

Namun, Ratih terlalu asyik dengan kelicikannya hingga ia tidak menyadari bahwa dari arah pintu masuk gerbang balai desa, sesosok pria bertubuh tinggi tegap sedang berjalan mendekat.

Arkananta Dewangga berjalan dengan langkah konstan. Pakaian kaus oblong dan celana kain longgarnya hari ini tampak sedikit lebih rapi, dan tangan kanannya masih terbalut rapi oleh kain kasa putih bersih buatan Bude Lastri. Pak Barkah sengaja menyuruh Arkan menyusul ke balai desa untuk mengambil beberapa dokumen kelompok tani yang dititipkan pada Nayla, sakalian agar Arkan bisa melatih fisiknya berjalan kaki.

Begitu melangkah masuk ke koridor aula, telinga tajam Arkan langsung menangkap suara melengking yang sangat ia kenali. Langkah kaki pria berusia 25 tahun itu mendadak terhenti di balik pilar kayu besar pembatas aula. Manuk matanya yang cokelat gelap seketika menyipit tajam, dan rahang tegasnya mengeras seketika begitu mendengar kata-kata keji yang keluar dari bibir Ratih.

"...Nayla itu perempuan kegatelan yang sengaja menggoda Tuan Muda kota demi harta!"

Kata-kata fitnah Ratih terdengar dengan sangat jelas di telinga Arkan. Gelombang amarah yang luar biasa mendadak bergejolak hebat di dalam dada sang Tuan Muda. Arkan yang selama hidupnya di Jakarta terbiasa menghadapi kelicikan dunia bisnis, langsung tahu bahwa Ratih sedang mencoba menghancurkan nama baik gadis desa yang kemarin siang telah dengan tulus mengobati luka di tangannya.

Dengan aura dingin yang mengintimidasi dan tatapan mata sekelam malam, Arkan melangkah keluar dari balik pilar. Kehadirannya yang tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang menyeramkan seketika membuat kerumunan ibu-ibu di aula langsung terbungkam rapat.

Ratih yang menyadari suasana mendadak senyap langsung membalikkan badannya. Begitu sepasang matanya bertatapan langsung dengan manik mata Arkan yang menyorotkan kebencian mutlak, senyuman puas di wajah Ratih seketika membeku. Seluruh pasokan udara di paru-parunya rasanya tersedot habis melihat kemurkaan sang Tuan Muda Jakarta.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!