Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RDBMB 17
Bau amis dari sisa air cucian ikan dan lumpur selokan menguar kuat di lorong sempit yang tak tertembus sinar matahari itu. Di ujung jalan buntu tersebut, langkah Exel akhirnya berhenti. Ia berdiri hanya lima langkah di belakang pria yang mengenakan kaus oblong lusuh dan celana pendek murahan.
"Ketahuan juga akhirnya," Theodore bersuara lebih dulu memecah keheningan, tanpa membalikkan badannya sedikit pun.
Mendengar bariton berat yang sudah sangat dihafalnya itu, pertahanan yang dibangun Exel selama bertahun-tahun hancur tak bersisa. Lutut komandan bayaran yang ditakuti oleh seluruh musuh di dunia bawah itu mendadak lemas.
Bruk!
Kaki kekar Exel membentur aspal yang basah dan berlumut. Ia berlutut tepat di belakang punggung Theodore. Air mata yang selama tiga tahun ditahannya akhirnya tumpah juga. Pria bertubuh raksasa dengan bekas luka memanjang di rahangnya itu menundukkan kepala dalam-dalam, bahunya bergetar hebat menahan isak tangis.
"Maafin saya, Bos. Maafin saya karena butuh waktu tiga tahun buat nemuin Anda," Exel bersuara dengan nada serak dan parau.
Theodore menghela napas pelan. Kantong plastik kresek merah berisi tempe dan sayur bayam di tangannya bergemerisik saat ia memutar badannya. Ia menatap jenderal kepercayaannya itu dengan sorot mata yang teduh, jauh dari aura membunuh yang biasa ia pancarkan saat berhadapan dengan musuh.
"Bangunlah, Exel. Masa komandan tertinggi Aegis berlutut sambil nangis di gang becek begini?" Theodore tersenyum tipis.
"Saya nggak peduli, Bos. Biarin aja sedunia ngelihat," Exel mendongak, menyeka air matanya dengan kasar menggunakan lengan jaket kulitnya. "Tiga tahun kami semua ngira Bos udah mati hancur di ledakan perbatasan itu. Tiap malam saya nggak bisa tidur karena ngerasa bersalah telat bawa pasukan bantuan."
"Itu bukan salahmu. Itu murni pengkhianatan dari dalam," Theodore menatap dinding bata berlumut di depannya dengan tatapan yang mendadak tajam. "Ada tikus yang sengaja masang bom di markas komando kita. Kalau aku nggak pura-pura mati, tikus-tikus itu nggak akan pernah berani keluar dari sarangnya buat ngambil alih kekuasaan."
Exel akhirnya berdiri perlahan, meski postur tubuhnya tetap menunduk penuh hormat. Matanya mengamati penampilan Theodore dari atas ke bawah. Penampilan ini benar-benar mengiris hatinya.
"Tapi Bos... kenapa Bos harus hidup kayak gini?" Exel bertanya dengan suara bergetar menahan amarah. "Saya denger dari laporan intelijen semalam, Bos jadi... jadi..."
"Jadi benalu yang numpang makan dan disuruh-suruh ngepel lantai sama mertua?" Theodore memotong kalimat Exel sambil terkekeh pelan.
"Itu penghinaan besar, Bos! Darah saya mendidih pas lihat Tuan Besar Aegis dibentak-bentak sama tukang ikan dan dihina sama keluarga kelas teri di kota ini!" Exel mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kasih saya perintah sekarang, Bos. Saya ratain rumah keluarga sombong itu sama pabrik-pabrik mereka detik ini juga!"
"Jangan gegabah," Theodore menyela dengan nada tenang namun tegas. "Kakek tua dari keluarga itu yang nyelamatin nyawaku pas aku kabur dari ledakan dengan luka parah tiga tahun lalu. Dan cucunya... Yevone, dia istriku. Cuma dia yang tulus belain aku saat semua keluarganya ngehina aku setiap hari."
"Jadi Bos nikah sama dia murni buat balas budi dan nyamar?" Exel mengernyitkan dahi.
"Awalnya begitu. Tempat paling terang kadang jadi tempat persembunyian paling gelap, kan? Pengkhianat kita pasti nyari aku di kasino mewah, markas mafia, atau klinik rahasia. Nggak ada yang bakal mikir aku lagi nawar sayur kangkung di pasar tradisional," Theodore membalas santai. "Tapi sekarang ceritanya udah beda. Keluarga Yevone udah kelewatan. Mereka nyabotase perusahaannya dan mau ngejual dia ke Tuan Muda Keluarga Z buat bayar utang."
"Keluarga Z yang pabrik elektroniknya baru aja kita bakar semalam itu, Bos?" Exel menyeringai buas, merasa sangat puas.
"Iya, itu cuma pemanasan kecil," Theodore mengangguk pelan. "Keluarga Mahendra dan Keluarga Z udah berani bikin istriku nangis. Aku nggak bakal biarin mereka mati gitu aja. Kalau cuma dibunuh, itu terlalu gampang dan enak buat mereka."
"Terus kita harus gimana sekarang, Bos? Pesawat pribadi VIP sama pasukan tempur jarak dekat kita udah siap *standby* di batas kota. Kita bisa langsung pulang ke markas utama siang ini, bawa Nyonya Yevone sekalian. Biar sisanya anak buah yang urus di sini," Exel memberikan saran, sangat berharap rajanya mau segera kembali duduk di singgasananya.
Theodore terdiam sejenak. Ia melihat kresek sayuran di tangannya, memikirkan wajah lelah Yevone yang sedang berjuang sendirian menghadapi para serigala berbulu domba di kantornya. Lalu, ia kembali menatap mata Exel dengan sorot hitam pekat yang tak terbantahkan.
"Aku menolak pulang hari ini," Theodore memberikan keputusannya.