NovelToon NovelToon
Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Status: tamat
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Autora Gabriela

Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.

Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.

Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.

Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.

Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

POV: Laras

Perempuan itu menungguku di resepsionis Vitalis dengan gaun yang murah sekaligus mahal, jenis pakaian yang harganya tinggi tapi tetap tampak murahan. Ketika melihatku, ia membuka lengannya dan matanya langsung digenangi air.

"Larasati. Anakku. Kamu tidak tahu apa yang kulewati untuk menemukanmu."

Aku tidak mengenalnya. Tapi aku mengenali wajah itu, karena mirip wajahku, dan darah mengenali lebih dulu daripada ingatan.

Kubawa ia ke ruanganku, kututup pintu, kusuruh Dini menahan jadwalku. Baru setelah itu ia bercerita, dan ia membawa serta seorang gadis lebih muda, sekitar dua puluh tahun, yang duduk di sofa mengunyah permen karet dan memandangiku dari atas ke bawah seperti menaksir barang dagangan.

"Aku Nuraini. Nuraini Prasetyo." Perempuan itu memperkenalkan diri seolah nama belakang itu harus berarti sesuatu. "Ibumu. Dan ini Salsa, adik seibumu."

Ceritanya datang terbungkus tragedi yang kebetulan. Ayahku meninggal dalam kecelakaan sembilan belas tahun lalu. Ia, Nuraini, konon terbentur kepalanya dalam kecelakaan yang sama dan "kehilangan ingatan" bertahun-tahun, dan karena itu tidak datang menjemputku ketika keluarga Bramantyo mengambilku dari panti asuhan pada usia sembilan. Kini, "sudah pulih", ia menghabiskan berbulan-bulan mencari putrinya yang hilang.

Amnesia. Sembilan belas tahun amnesia yang sembuh tepat ketika putrinya menjadi general manager sebuah grup triliunan. Aku tidak lahir kemarin. Aku lahir dalam keluarga yang membuangku, yang jauh lebih buruk, karena itu mengajarimu sejak dini mengendus kepentingan.

"Mengharukan sekali," kataku tanpa bangkit dari kursi. "Lalu apa yang Ibu inginkan, Nuraini?"

Salsa-lah yang menjawab, tanpa mengeluarkan permen karet dari mulut.

"Kami punya perusahaan konstruksi. PT Prasetyo Konstruksi. Tenggelam, kreditur memblokir segalanya." Ia mengangkat bahu. "Kamu kebanjiran duit dan kuasa Bramantyo. Bantu keluarga, dong. Darah itu darah."

Nuraini membuka sebuah map di mejaku. Angka-angka, utang, satu properti tersita demi satu. Dan sebuah tawaran: lima puluh satu persen PT Prasetyo Konstruksi atas namaku, dengan harga murah sekali, kalau aku menyuntikkan dana dan jaminan nama Bramantyo untuk membuka blokir para kreditur.

Kuambil map itu. Kubalik neraca, utang, tanah-tanah yang diagunkan. PT Prasetyo Konstruksi busuk di dalam, tapi punya izin-izin, perizinan, portofolio lahan di kawasan yang akan naik nilainya. Di tangan yang salah, itu lubang. Di tanganku, dengan uang dan nama Bramantyo di belakangnya, itu jadi pengungkit.

Di balik tangis murahan Nuraini dan kelancangan Salsa, ada sesuatu yang sungguh menarik bagiku: perusahaan, sehancur apa pun, adalah struktur. Dan struktur, di tangan yang tepat, menjadi kekuasaan. Sejak dini aku belajar bahwa kekuasaan tak ditolak hanya karena datangnya terbungkus orang-orang yang kita hina.

"Akan kupelajari," kataku. "Beri aku tiga hari dan dosir lengkapnya."

Salsa tertawa.

"Dipelajari. Lihat dia." Salsa menoleh pada Nuraini. "Putri Bramantyo tidak mau mengotori tangan dengan keluarga miskin."

Lalu ia menancapkan matanya padaku, dan apa yang ia katakan menyakitkan, karena benar.

"Tahu apa masalahmu, 'Kak'? Kamu janda. Janda tanpa anak tidak berharga di keluarga seperti itu. Hari ini kamu general manager, semua orang menjilat. Besok istri sahnya muncul menggendong pewaris laki-laki dan kamu ditendang ke jalan, dan koran pun tak ingat namamu. Kamu bergantung di seutas benang, dan tidak sadar."

Kusuruh keduanya pergi dengan janji tiga hari itu. Aku tinggal sendirian di ruangan, dengan map PT Prasetyo Konstruksi di meja dan kalimat Salsa yang terus memukul.

Janda tanpa anak tidak berharga.

Ia benar. Dan yang terburuk, aku sudah tahu itu sejak dua tahun lalu, sejak malam aku kehilangan kehamilan.

Tak ada yang tahu, kecuali Rendra. Dialah yang membawaku ke klinik, dini hari, dia yang menggenggam tanganku sementara para dokter melakukan apa yang harus dilakukan. Ia menemaniku lima belas hari masa pemulihan, jauh dari semua orang, mengarang perjalanan dinas untuk menutupi hilangnya.

Itu satu-satunya kali, seumur hidupku, Rendra memperlakukanku seperti milik dia yang sungguhan. Dan anak yang akan mengukuhkanku di keluarga itu selamanya tergelincir di antara jari-jariku di ranjang rumah sakit, bersama satu-satunya kesempatan yang kukira akan kumiliki.

Itu mengeraskanku. Menangis tak mengembalikan anak itu, maka kuhentikan tangis di dalam, dan hanya terus menangis di luar, sebatas yang menghasilkan.

Sejak itu aku membawa jaminan itu, tersimpan di pembeku sebuah klinik di luar negeri, menunggu. Belum waktunya. Tapi Salsa, dengan kelancangannya, telah mengucapkan keras-keras apa yang selama ini kutunda untuk kupikirkan: waktu melawanku. Kirana bisa, kapan saja, mengubah pikiran soal anak kedua, dan aku kalah dalam perlombaan.

Kuraih telepon dan menghubungi Nuraini sebelum tiga hari tiba.

"Perusahaan itu menarik bagiku," kataku. "Tapi dengan dua syarat. Pertama: tak seorang pun, kapan pun, boleh tahu Ibu ibuku. Ibu memanggilku 'Bu Laras' di depan orang lain. Kedua: Salsa menutup mulutnya. Kalau dia membuka soal panti asuhan, soal masa laluku, kepada siapa pun di kota ini, kesepakatan batal seketika dan kalian kembali ke lubang asal. Sepakat?"

Di seberang, Nuraini menelan tangisnya dan berubah jadi urusan bisnis secepat aku.

"Sepakat, Bu."

Kututup. Kusimpan map itu di laci terkunci, bersama kunci yang hanya aku punya. Keluarga yang membuangku pada usia sembilan tahun, kini berguna. Sebuah perusahaan bangkrut yang akan jadi milikku. Dan, di pembeku sebuah klinik di luar sana, keping yang pada saatnya akan mengembalikan padaku semua yang kata Salsa tak kumiliki.

Waktu melawanku, seperti yang diingatkan Salsa dengan begitu baik. Maka aku akan mempercepat jam sebelum Kirana mempercepat jamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!