NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 11

Bau keringat dan karat di udara bengkel "Besi Tua Han" seketika tergantikan oleh hawa pembunuhan yang pekat.

"Kau pikir lengan besarmu itu bisa menakuti kami, Bocah?" Pria botak itu terkekeh meremehkan. Ia memberi isyarat dengan lambaian tangannya. Dua anak buahnya yang bertubuh kekar serentak mencabut parang berkarat dari pinggang mereka.

Han Lie tidak mundur. Pemuda itu menggeram rendah, mengangkat martil godam seberat empat puluh kati dengan kedua tangannya seolah benda itu hanya sepotong ranting. "Langkahi mayatku sebelum kalian menyentuh ayahku!"

Salah satu preman menerjang maju, mengayunkan parangnya ke arah bahu Han Lie.

TRANG!

Han Lie mengayunkan martilnya dari bawah ke atas. Benturan logam memekakkan telinga. Kekuatan fisik murni Han Lie begitu mengerikan hingga parang preman itu terlempar ke udara, membuat pergelangan tangan sang penyerang terkilir dengan bunyi retakan yang menyilu.

Namun, preman kedua tidak membuang waktu. Ia menyusup dari sisi kiri, mengayunkan bilahnya ke arah paha Han Lie. Han Lie terpaksa melompat mundur, gerakannya sedikit canggung karena beban martilnya. Di saat itulah, pria botak sang pemimpin geng menendang keras meja kayu di dekatnya hingga menabrak tulang kering Han Lie.

Han Lie kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut. Pria botak itu menyeringai kejam, mengangkat goloknya tinggi-tinggi, mengincar leher pemuda malang tersebut.

Tepat pada detik itu, sebuah bayangan melesat dari sudut gelap bengkel.

Qin Mu tidak menggunakan Qi. Ia tidak memancarkan aura magis apa pun. Mengandalkan kekuatan otot dan refleks dari tahap Awal Body Tempering, pemuda berusia empat belas tahun itu bergerak selicin ular di atas tanah basah.

Dalam satu tarikan napas, ia sudah berada di belakang preman kedua. Tangan kirinya membekap mulut pria itu, sementara tangan kanannya yang menggenggam sisa pisau buru patah menusuk tepat di pangkal leher, memotong urat nadinya dalam satu gerakan presisi.

Tanpa menunggu mayat pertama tumbang, Qin Mu menjadikan bahu mayat itu sebagai pijakan, melompat rendah, dan meluncur ke arah pria botak.

Pria botak itu tersentak saat menyadari salah satu anak buahnya telah mati tanpa suara. Ia memutar goloknya ke arah Qin Mu dengan panik. Namun pedang panjang butuh ruang untuk diayunkan, sedangkan Qin Mu sudah berada terlalu dekat.

Dengan gerakan yang sangat tidak wajar, Qin Mu menunduk, membiarkan golok itu menebas udara kosong di atas kepalanya. Pisau buru patah di tangannya kembali melesat ke atas, kali ini menembus rahang bawah pria botak itu hingga menembus ke langit-langit mulutnya.

Mata pria botak itu membelalak ngeri. Darah menyembur dari mulut dan hidungnya, menodai kerah bajunya, tepat di atas tato tengkorak Sekte Bayangan Darah. Qin Mu mencabut pisaunya dengan paksaan, membuat sisa bilah besi fana itu akhirnya hancur berkeping-keping di lantai.

Preman pertama yang pergelangan tangannya terkilir tadi baru saja berbalik untuk lari, namun sebuah martil godam melayang dan menghantam punggungnya hingga remuk. Han Lie berdiri terengah-engah, wajahnya pucat pasi melihat pembantaian yang berlangsung kurang dari lima detik itu.

Bengkel itu kembali sunyi. Hanya suara api tungku yang berderak dan gemercik darah kental yang menggenang di atas tanah kotor.

Han Lie menelan ludah, menatap Qin Mu yang sedang membersihkan tangannya pada jubah si pria botak dengan ekspresi yang sangat datar. "Kau... siapa kau sebenarnya? Kau membunuh mereka seperti memotong ayam!"

"Mereka yang akan membunuhmu," jawab Qin Mu tanpa menoleh, matanya mengunci tato tengkorak kemerahan di leher pria botak itu. "Dan aku benci anjing pelacak."

Terdengar suara batuk berat dari balik tirai kain di ujung bengkel.

Seorang pria paruh baya dengan rambut beruban dan punggung yang sedikit bungkuk berjalan tertatih keluar. Mata kanannya tertutup oleh bekas luka sayatan yang melintang dari dahi hingga pipi, namun mata kirinya yang tersisa menatap tajam, penuh perhitungan. Itu adalah Han Tie, ayah Han Lie.

"Ayah!" Han Lie bergegas menghampiri pria itu, menopang lengannya. "Ayah seharusnya tidak keluar."

Han Tie mengangkat tangannya, menghentikan kepanikan putranya. Mata tua pandai besi itu beralih dari tiga mayat di lantai, ke gagang pisau Qin Mu yang telah hancur, dan akhirnya ke wajah pemuda pendatang itu.

"Langkah tanpa suara, membunuh tanpa keraguan, dan serangan yang hanya mengincar titik buta," suara Han Tie serak namun penuh wibawa. "Kau bukan orang yang terbiasa menggunakan pedang panjang, Anak Muda. Pedang besar hanya akan memperlambat insting membunuhmu."

Qin Mu menatap pria tua itu dengan waspada, otot-ototnya kembali menegang. "Aku hanya butuh senjata biasa. Pedang di meja itu cukup."

Han Tie menggelengkan kepalanya pelan. Ia melepaskan pegangan Han Lie dan berjalan tertatih menuju landasan tempa utamanya. Ia berlutut, menggeser sebuah kotak besi berat yang disembunyikan di bawah debu arang. Kunci kotak itu berbunyi klik keras saat diputar.

Dari dalam kotak itu, Han Tie mengeluarkan sebuah bungkusan kain hitam yang memanjang.

"Dua puluh tahun aku menempa besi fana di kota ini, mencoba melupakan masa laluku," Han Tie meletakkan bungkusan itu di atas meja dan membuka lipatannya. "Namun ada satu pasang senjata yang kutempa bukan untuk dijual, melainkan sebagai pengingat... bahwa dunia di luar sana tidak berbelas kasihan."

Di dalam kain itu, terbaring sepasang bilah kembar.

Bentuknya melengkung tipis dan mematikan, panjangnya hanya sebatas siku orang dewasa. Warnanya hitam pekat, namun bagian tajamnya memancarkan kilau merah darah yang redup. Tidak ada pelindung tangan yang rumit, hanya gagang yang dibalut kulit ular kasar agar tidak licin oleh darah.

"Bilah Kembar Taring Hantu," ujar Han Tie, menyentuh bilah senjata itu dengan penuh hormat. "Baja hitam fana yang dilipat ratusan kali, dan dicampur dengan sejumput serpihan Batu Bintang yang tidak sengaja kutemukan di masa remajaku. Ini bukan senjata spiritual... tapi cukup tajam untuk memotong tulang seorang kultivator tahap Foundation Establishment jika kau memiliki kekuatan yang cukup."

Qin Mu tertegun. Ia bisa merasakan aura haus darah yang tipis namun nyata dari bilah kembar itu.

"Ambil," Han Tie menyodorkannya ke arah Qin Mu. "Kau menyelamatkan anakku, dan kau tidak membiarkan bengkelku dihancurkan. Anggap ini sebagai bayaran utang nyawa dari keluarga Han."

"Ayah... itu pusaka yang selalu kau simpan..." Han Lie bergumam, menatap tak percaya.

"Senjata hanya rongsokan jika disimpan di dalam kotak, Lie-er," potong Han Tie tegas. "Dan pemuda ini memiliki mata yang membutuhkan senjata seperti itu."

Qin Mu tidak ragu. Ia melangkah maju dan mengambil kedua bilah itu. Bobotnya sempurna. Saat ia menggenggam gagangnya, ia merasa senjata itu seolah menjadi perpanjangan langsung dari lengannya sendiri. Ia bisa membayangkan menggunakannya di lorong sempit, hutan lebat, atau pertarungan jarak sangat dekat.

"Terima kasih," ucap Qin Mu pendek. Ia menyarungkan kedua bilah itu pada dua sarung kulit hitam bawaannya, lalu mengikatkannya secara menyilang di punggung bawahnya, menyembunyikannya di balik jubah raminya.

Meski senjata itu diberikan sebagai hadiah, Qin Mu merogoh sakunya dan melempar sepotong perak yang lumayan besar ke atas meja.

Han Lie mengernyitkan dahi. "Ayahku bilang itu gratis!"

"Itu bukan untuk pedangnya," balas Qin Mu dingin. Ia menunjuk ke arah mayat pria botak berlengan tato itu. "Itu biaya untuk menutup mulut kalian. Lelehkan mayat-mayat itu di tungku tempamu. Hancurkan tulangnya, bakar pakaiannya, dan buang abunya ke selokan kota. Jika ada yang bertanya, mereka tidak pernah datang ke sini."

Han Lie menatap wajah tanpa ekspresi pemuda sebayanya itu, lalu menatap perak di atas meja. Ia mengangguk kaku, sebuah rasa hormat yang aneh mulai tumbuh di dadanya. "Akan kulakukan sampai bersih."

"Namaku Han Lie," pemuda berotot itu mengulurkan tangannya yang berkapalan.

Qin Mu menatap tangan itu selama dua tarikan napas, mengingat ajaran Gu Shanyin untuk tidak mudah percaya. Namun, ia melihat kejujuran di mata Han Lie.

"Qin Mu," jawabnya sambil membalas jabatan tangan itu sekilas. Ia lalu berbalik dan menghilang ke dalam gang yang gelap, kembali berlari menembus rintik gerimis menuju Penginapan Kuda Pincang.

Jalanan Distrik Barat kini mulai sepi, hanya disinari lampion merah yang berayun ditiup angin. Qin Mu mencengkeram erat bungkusan ramuan fana di dadanya. Ia telah mendapatkan senjata yang tepat, ramuan penahan sakit, dan yang paling penting, ia berhasil membungkam mata-mata Sekte Bayangan Darah tanpa menggunakan Qi yang mencolok.

Namun, ketika atap Penginapan Kuda Pincang mulai terlihat dari ujung lorong, langkah Qin Mu mendadak terhenti.

Insting Body Tempering-nya yang tajam menangkap sesuatu. Di atap seberang penginapan, berbaur sempurna dengan bayangan malam, berdiri dua sosok berjubah abu-abu. Mereka tidak bergerak sama sekali, wajah mereka tertutup topeng kain. Pandangan mereka terkunci rapat ke arah jendela kayu di lantai dua kamar tempat Gu Shanyin sedang berbaring tak berdaya.

Qin Mu mencabut Bilah Kembar Taring Hantu perlahan dari punggungnya. Jantungnya berdetak lambat, sementara darahnya mendidih.

1
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!