Bacaan Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Mie Instan
Setelah puas mengerjai mantan mertua yang sialnya menjadi majikan dan sekutunya kali ini, Sarah pun bekerja penuh waktu dalam seharian ini. Padahal ia baru saja bergabung bahkan belum mendapatkan baju seragam resmi, tetapi tugas yang diberikan sudah banyak sekali. Mulai dari membersihkan lantai hingga memotong rumput dihalaman yang luas sekali.
Apalagi ditambah dengan sifat menyebalkan dari seorang pembantu yang bernama Marni. Wanita dengan gaya rambut cepol itu terus saja mengawasi bahkan membuat Sarah harus pontang-panting sana - sini.
Ia kira di hari pertama, dirinya dapat sedikit berleha-leha. Namun ternyata perkiraannya salah. Marni yang terbilang senior di kediaman Aryanaka itu, malah dengan seenak jidat menindas dan melakukan perpeloncoan terselebung terhadap dirinya. Sial.
Untung saja jam kerja pelayan telah berakhir tepat pukul sembilan malam. Akhirnya Sarah dapat bernapas lega. Tubuhnya terasa remuk dan pegal semua. Kini ia hanya bisa berbaring terlentang dan menatap langit - langit kamarnya sambil mengingat kembali rencana yang telah ia persiapkan bersama Rania sebelumnya.
Ah, ngomong - ngomong tentang Rania. Sarah terlupa jika ia mempunyai janji untuk menelfon Rania. Putrinya tadi pagi katanya sampai menangis karena merindukan dirinya. Sarah pun merasakan juga. Jadi lebih baik ia bergegas untuk melakukan panggilan video dengan anaknya itu guna mengatasi rasa rindu.
Tidak lama setelah menekan ikon panggil— terpampang disana wajah sang putri yang tampak gembira dan tersenyum ceria, namun tiba-tiba menjadi menangis tersedu pula.
"Mama! Mama! Thalia kangen Mama huwaa."
Sarah tersenyum sendu, tak kuasa melihat putrinya yang bersedih. "Sayang, mama juga kangen sama Thalia. Tapi mama belum bisa pulang, 'kan mama baru kerja satu hari."
"Mama kenapa sih kerjanya harus jauh, gak disini aja? Mama kerja dimana sih ma? Memang Thalia gak boleh ikut ya?"
Mendengar pertanyaan beruntun dari Thalia, Sarah bingung harus menjawab bagaimana. Apa ia jawab saja kalau dirinya saat ini berada di rumah mereka? Rumah yang dulu terasa hangat dengan tulus kasih yang Thalia idamkan lagi dalam waktu dua tahun ini. Rumah yang seharusnya memang menjadi tempat tinggal Thalia.
Ya, nanti. Nanti setelah semua rencananya berhasil. Rencana untuk membawa kebahagiaan pada Thalia dan kenyamanan hidup yang sudah sepantasnya menjadi miliknya.
"Thalia. Mama kerja di tempat orang. Gak bisa dong sambil bawa anak. Lagian juga kamu sekolah sayang."
Dengan wajah merengut, Thalia membalas lagi, "Ih gak papa tau Ma.Thalia bisa bolos sekolah."
"Eh, gak boleh dong. Masa bolos sekolah sih. Sekolah itu kan penting. Ini kamu tau bolos - bolos begini darimana coba? Pasti diajarin tante Rania ya?"
Rania yang sedang santai—duduk di meja rias sambil memasang masker diwajahnya itu pun tersentak kaget dan langsung menimbrung, menampakan wajah penuh masker hitamnya di layar handphone.
"Lah mbak Sarah, aku gak ngajarin begitu kok mba. Suwer deh suwer. Aku ngajarin Thalia sing apik-apik loh," sanggah Rania sambil mengacungkan dua jari tanda damai dan meringis kaku.
Sarah memicing tak percaya. Namun, karena ia tahu bahwa Rania sudah bekerja keras membantu merawat Thalia selama ia pergi, maka ia pun merasa tidak perlu memperpanjang bahasan itu lagi.
Selanjutnya mereka bertiga akhirnya sibuk mengobrol tentang keseharian Thalia dan tingkah lucu Rania selama menjaga Thalia sendiri.
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Cukup terlambat untuk waktu tidur Thalia, sehingga panggilan video mereka pun terpaksa harus selesai karena Sarah tidak ingin Thalia terlambat sekolah besok pagi.
Thalia tidur terlebih dahulu, sedangkan Rania masih disana dan berbicara empat mata dengan Sarah.
"Mbak, gimana jadinya? Bu Suratih, dia harus pergi secepatnya kan?"
Sarah menghela napas, "Iya Ran. Tadi aku udah ngomong sama dia. Tapi katanya gak bisa buru-buru, takut Bagas curiga. Paling nggak ya nunggu seminggu dulu deh."
"Alah, alasan aja kali itu mbak. Mbak Sarah harus sabar-sabar yo mbak disana, ngadepin ibu-ibu jahanam itu," ucap Rania prihatin.
"Tenang aja Ran, kalo dia berani ganggu aku. Aku ganggu balik. Barusan aja habis aku kerjain dia. Aku bikin dia mules sampe berak berkali-kali tuh hahaha," terang Sarah sambil tertawa puas.
Rania pun ikut tertawa terpingkal-pingkal hingga maskernya pun ikut retak. Lucu sekali.
...****************...
Setelah mengakhiri obrolan panjang melalui panggilan video bersama Thalia dan Rania, Sarah pun memutuskan untuk segera tidur. Akan tetapi ia merasa kandung kemihnya terasa penuh. Mau tidak mau ia pun harus keluar dan segera menuju kamar mandi, walau sebenarnya ia sudah merasa ngantuk sekali.
Langit malam sudah beranjak senyap. Hanya terdengar suara jangkrik di luar dan detik jam dinding yang terasa pelan. Sarah merasa lega telah menuntaskan hajatnya. Segera ia beranjak menuju kamarnya kembali. Namun, begitu hendak melewati dapur, langkahnya mendadak berhenti. Ada suara langkah lain menuju kearahnya. Langkah itu berat, teratur, dan sedikit berirama.
Tampak seseorang muncul dari balik temaram cahaya lampu.
Bagas Aryanaka.
Pria itu hanya mengenakan kaus abu tipis dan celana tidur panjang. Rambutnya berantakan, mata masih terlihat sayu seperti baru bangun. Namun bahkan dalam keadaan seperti itu pun, karisma yang dulu pernah membuat Sarah jatuh cinta, ternyata masih sama.
Sarah langsung menunduk, menyembunyikan wajahnya. “Tuan Bagas. Permisi tuan,” ucapnya cepat, segera hendak melewati Bagas.
Bagas mengusap tengkuknya pelan.
“Tunggu! saya lapar,” gumamnya sambil menatap pada Sarah. “Kamu bisa masak mie instan?”
Sarah tertegun sepersekian detik, tapi segera mengangguk dengan terpaksa. “Bisa, tuan.”
“Buatkan satu, yang kuah ya.”
Meski dalam hati ingin menolak, Sarah tak bisa berbuat apa-apa. Ia berbalik menuju dapur kemudian menyalakan kompor, merebus air, dan mulai menyiapkan mie instan dengan gerakan yang sangat otomatis. Begitu natural—seolah tangan dan hatinya masih hapal dengan setiap kebiasaan yang dahulu sering ia lakukan.
Bagas duduk di kursi tinggi dekat meja dapur dan memperhatikan diam-diam. Keheningan panjang hanya diisi oleh suara air mendidih dan bunyi sendok mengaduk. Sesekali Sarah menengok ke belakang, karena merasa ada mata yang sedang menatapnya lekat.
Bagas masih terdiam, dan matanya tak lepas dari sosok wanita yang membelakanginya itu.
Entah kenapa, dari cara ia memegang sendok, cara menyibakkan anak rambut, bahkan dari aroma tubuhnya, terasa begitu familiar.
Beberapa menit kemudian, semangkuk mie instan kuah hangat tersaji di hadapan Bagas.
“Silakan, tuan,” ucap Sarah sopan.
Bagas mengambil sumpit, meniup sedikit kuahnya, lalu mencicipi. Alisnya mengernyit.
“Hmm… rasanya pas," puji Bagas.
Merasa tidak lagi mampu menahan kantuknya, Sarah pun segera pamit dengan sopan dan hendak pergi dari sana. Namun ketika baru saja ia berbalik, pergelangan tangannya terasa digenggam dengan hangat. Seruan Bagas kemudian menghentikannya.
“Kenapa tidak kamu tambahkan bawang gorengnya, Thalia?”
Tanpa berpikir panjang, Sarah menjawab, “Kan kamu nggak suka bawang goreng.”
Seketika waktu seperti berhenti.
Sarah membeku dan menggigit bibirnya. Sial. ucapan itu lolos begitu saja—refleks murni dari kebiasaan lama serta efek rasa kantuk yang tidak kunjung reda. Sementara di sana, Bagas menatapnya tajam. Ada perubahan di raut wajahnya.
“Darimana kamu tahu saya tidak suka bawang goreng?” suaranya rendah, serak, tapi tajam.
Sarah mencoba tertawa gugup. “Ah, saya cuma nebak aja kok tuan. Soalnya—
Namun belum sempat ia melanjutkan kata, tangan Bagas yang masih menahan pergelangan tangannya itu, terasa menguat bahkan seakan mencengkram erat.
“Bukan. Kamu tadi bilang seolah-olah kamu memang sudah tahu. Sebenarnya siapa kamu Thalia?"