NovelToon NovelToon
Mempelai Pengganti

Mempelai Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sablah

aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'

'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nafkah pertama

Keesokan harinya,

pagi itu, Alda bangun jauh lebih awal dari biasanya. saat fajar masih menyelimuti desa, ia sudah sibuk dengan berbagai kegiatan. tanpa membangunkan Rama, ia bergegas ke pasar dengan berjalan kaki, membeli berbagai bahan makanan, lalu kembali ke rumah singgah dan mulai melancarkan aksinya.

sementara itu, Rama baru terbangun ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Rama mengusap wajahnya perlahan, mencoba mengusir sisa kantuk yang masih tersisa. matanya masih terasa berat, tetapi udara pagi yang mulai menyelinap masuk lewat celah jendela membantunya sedikit lebih sadar. dengan malas, ia mulai perlahan menegakkan tubuh nya.

namun, begitu ia duduk tegap, matanya langsung tertuju pada kasur di sebelahnya. sepi. tidak ada siapa-siapa. seprai di sisi itu tampak sedikit berantakan, menandakan bahwa seseorang memang sempat berbaring di sana, tapi kini telah pergi entah ke mana.

Rama mengernyit, mengedarkan pandangan ke seluruh kamar. "Alda?" panggilnya, suaranya masih serak khas bangun tidur. tidak ada jawaban. ia mengacak rambutnya, mencoba mengingat-ingat apakah Alda tadi membangunkannya atau tidak.

di tengah kebingungannya, tiba-tiba aroma masakan yang menggoda tercium samar-samar, seakan mengingatkan perutnya yang baru menyadari kalau ia lapar. Aroma gurih itu perlahan semakin kuat, membuat Rama spontan bangkit dari kasurnya. dengan langkah cepat, ia keluar dari kamar, mengikuti sumber bau yang semakin tajam menusuk hidungnya.

semakin dekat, aroma itu bercampur dengan suara alat masak yang beradu. Rama berjalan menyusuri koridor rumah singgah itu, lalu berhenti sejenak di depan dapur. matanya membelalak saat melihat pemandangan di depannya.

meja makan penuh dengan berbagai macam hidangan. nasi hangat mengepul di dalam wadah, ditemani beberapa lauk yang tampak menggugah selera. ada telur dadar keemasan, tumisan sayur yang masih segar, juga sepiring ayam goreng yang aromanya begitu menggoda.

di tengah ruangan, Alda berdiri dengan senyum kecil di wajahnya, masih mengenakan pakaian sederhana yang tampak sedikit lusuh setelah sibuk di dapur sejak pagi.

"siapa yang memasak semua ini?" tanya Rama, suaranya penuh keterkejutan. matanya masih menelusuri setiap hidangan di meja seakan memastikan kalau ini bukan ilusi.

"aku" Alda hanya tersenyum tipis.

Rama menatapnya lekat-lekat. "dari mana semua bahan ini, Da?"

"dari pasar," sahut Alda. "aku sengaja kesana pagi-pagi, takut aku telat menyiapkan sarapan untukmu, Ram"

Rama terdiam sejenak, lalu ekspresinya berubah drastis. "pagi-pagi buta? siapa yang mengantarmu?" nada suaranya kini mengandung kecemasan.

"aku jalan kaki sendiri, Ram. pasarnya tidak begitu jauh dari sini." lain dengan Alda yang justru terlihat santai dan tanpa beban.

Rama kembali menatapnya dengan sorot tajam. "sendiri? kamu jalan kaki sendirian saat langit masih gelap?"

Alda mengangguk pelan. "iya"

"jangan lakukan itu lagi,", alih-alih memuji, Rama justru tampak semakin khawatir. "mulai besok, aku yang akan mengantarmu ke pasar. kita pinjam motor kepala desa. pasar itu lumayan jauh, tidak aman untuk seorang wanita jalan sendiri di pagi buta."

Alda tersenyum kecil melihat kekhawatiran Rama, tapi ia tak membantah maupun menyetujuinya. "sudah, segeralah mandi. setelah itu kita sarapan bersama."

Rama mendengus pelan, tetapi akhirnya menurut. sementara ia menuju kamar mandi, Alda kembali memeriksa hidangan di meja makan. pagi ini mungkin terasa lebih sibuk dari biasanya, tapi entah kenapa, hatinya terasa lebih hangat.

setelah percakapannya dengan Alda di dapur, Rama kembali ke kamar dengan langkah santai, tetapi pikirannya masih berkutat pada kejadian tadi. Alda yang bangun pagi-pagi buta, pergi ke pasar sendirian, lalu memasak untuknya, semuanya terasa begitu baru baginya.

begitu sampai di kamar, ia duduk di tepi tempat tidur sejenak, menghela napas panjang. matanya melirik ke arah kasur yang masih berantakan, terutama di sisi yang tadi ditempati Alda. rasanya masih aneh menyadari ada orang lain yang berbagi kamar dengannya sekarang.

ia mengusap wajahnya sekali lagi, lalu bangkit dan berjalan menuju lemari kecil di sudut ruangan. ia mengambil handuk dan pakaian ganti, kemudian menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari kamar mereka.

begitu memasuki kamar mandi, Rama langsung menyalakan keran air. dinginnya air menyentuh kulitnya, membuatnya sedikit tersentak, tetapi juga membantu menyegarkan pikirannya. ia membasuh wajahnya beberapa kali sebelum akhirnya mulai mandi dengan lebih tenang.

sementara air mengalir membasahi tubuhnya, pikirannya kembali melayang ke Alda. ia masih ingat betul bagaimana wanita itu tampak santai saat mengakui bahwa ia pergi sendirian ke pasar. bukannya senang karena disiapkan sarapan, ia justru lebih banyak merasa khawatir.

"dia itu perempuan... bagaimana kalau ada yang berniat jahat? Alda terlalu percaya diri."

Rama mendesah pelan. ia tahu ini desa yang relatif aman, tapi tetap saja, membiarkan Alda pergi sendiri di pagi buta terasa tidak benar baginya.

setelah selesai mandi, Rama mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu mengenakan pakaian kemeja hitam lengan panjang dan celana panjang senada. ia merapikan rambutnya sedikit dengan jari sebelum akhirnya keluar dari kamar mandi.

saat kembali ke kamar, ia melirik ke cermin kecil yang tergantung di dinding. tatapannya bertemu dengan bayangannya sendiri. dalam hati, ia merasa ada banyak hal yang perlu ia pelajari sekarang, terutama tentang bagaimana menjadi suami yang baik, meskipun pernikahan ini bukan sesuatu yang direncanakan olehnya maupun Alda.

setelah menghela napas sekali lagi, Rama akhirnya keluar dari kamar dan kembali ke dapur. aroma masakan yang menggoda masih menyelimuti ruangan. sedangkan Alda sudah duduk di salah satu kursi, menunggu dengan tenang.

tanpa banyak bicara, Rama menarik kursi dan duduk di hadapan Alda. ia mengambil sendok, lalu mulai menyendok nasi ke piringnya. Alda hanya diam, memperhatikannya dengan ekspresi yang sulit ditebak.

saat suapan pertama masuk ke mulutnya, Rama terdiam. ia mengunyah perlahan, membiarkan rasa masakan Alda menyebar di lidahnya. rasanya cukup enak, dan menurutnya tidak jauh berbeda dengan hasil tangan masakan sang Ibu. namun, sesuatu yang lain menarik perhatiannya, Alda sama sekali belum menyentuh makanannya.

Rama meletakkan sendoknya dan menatap Alda lekat-lekat. "Da, kau kenapa?"

Alda tersentak kecil, seolah baru tersadar dari lamunannya. ia menundukkan kepala, jemarinya saling meremas di atas pangkuannya. "aku takut masakanku nggak sesuai dengan seleramu, Ram."

Rama mengernyit. "kenapa kau berpikir begitu?"

Alda menghela napas pelan. "aku belum sempat minta bantuan Ibu untuk mengajariku memasak makanan kesukaanmu. Aku takut kamu tidak suka"

Rama terdiam sesaat sebelum tersenyum kecil. ia mengambil satu potong ayam goreng, menggigitnya perlahan, lalu mengangguk. "aku sudah cocok dengan masakanmu, Da. ini enak, sebelas dua belas dengan masakan Ibu"

Alda menatapnya ragu. "benarkah?"

Rama mengangguk mantap. "jika aku tidak suka, aku pasti sudah bilang. menurut Ibu, apapun yang dimasak dengan niat baik, pasti hasilnya juga baik"

Alda akhirnya tersenyum lega dan mulai menyantap makanannya dengan lebih tenang.

di sela-sela makan, Rama tiba-tiba menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. ia mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan meletakkannya di meja, tepat di depan Alda.

Alda mengangkat alis, menatap uang itu dengan bingung. "ini apa, Ram?"

Rama menggaruk tengkuknya, tampak agak canggung. "itu.... uang belanja beberapa hari ke depan. aku tidak punya cash lebih sekarang, tapi nanti beberapa hari lagi aku akan ambil uang lebih untuk keperluan kita."

Alda terdiam cukup lama sebelum akhirnya menggeleng pelan. dengan cepat, ia meraih uang itu dan menyodorkannya kembali ke arah Rama. "aku tidak bisa terima ini, Ram. ini bukan hakku."

Rama menatapnya heran. "kenapa bukan hakmu?"

Alda menunduk, suaranya sedikit goyah. "pernikahan ini bukan rencana kita. kita berdua sama-sama tidak siap. aku tidak mau kamu merasa ini adalah kewajibanmu."

Rama terdiam, tidak langsung merespons. ia memandang Alda dengan sorot mata yang sulit ditebak.

Alda kemudian kembali melanjutkan, "aku juga punya pekerjaan, Rama. gajiku cukup untuk kebutuhanku sendiri. kamu tidak perlu merasa harus menafkahiku..."

Rama menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. "Da, aku tahu pernikahan ini bukan rencana kita. tapi tetap saja, sekarang kau istriku. aku tidak tahu harus berperan seperti apa, tapi setidaknya aku ingin mencoba jadi suami yang baik."

Alda menggigit bibirnya, masih ragu-ragu.

Rama menyodorkan uang itu sekali lagi. "terima saja, ya? aku juga sedang belajar. ini pertama kalinya aku memberi nafkah selain kewajibanku pada Ibu. jujur saja, aku juga merasa aneh dan canggung, Da"

mereka saling bertatapan beberapa saat, lalu akhirnya Alda mengambil uang itu dengan sedikit ragu. "baiklah... aku terima. tapi jangan terlalu memaksakan diri, Ram."

Rama mengangguk. "iya, Da. aku hanya berusaha sebaik mungkin"

Alda tersenyum tipis, lalu melanjutkan makannya. pagi itu, ada sesuatu yang berbeda di antara mereka. mungkin mereka belum sepenuhnya menerima keadaan, tapi setidaknya, mereka mulai berusaha memahami satu sama lain.

singkat cerita setelah menyelesaikan sarapan mereka, Rama melihat jam tangannya. ia harus segera pergi. dengan sedikit terburu-buru, ia merapikan piring dan gelasnya sebelum berdiri.

"aku berangkat dulu, Da" katanya sambil mengambil tas kecilnya yang tergantung di kursi.

Alda ikut berdiri, lalu berjalan mengiringinya menuju teras rumah singgah. di depan, sebuah mobil sudah terparkir. seorang rekan kerja Rama duduk di kursi pengemudi, menunggu dengan sabar.

sebelum masuk ke mobil, Rama sempat menatap Alda sejenak. "jangan lupa istirahat juga, Da."

Alda hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Rama akhirnya masuk ke mobil, dan tak lama kemudian kendaraan itu melaju, meninggalkan rumah singgah.

begitu mobil menghilang di tikungan, Alda menarik napas panjang. nasih ada hal lain yang harus ia lakukan hari ini, yaitu menemui Karina. sesuai dengan apa yang mereka bicarakan kemarin.

tanpa membuang waktu, Alda kembali ke dalam rumah dan bersiap. ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih rapi, merapikan rambutnya, lalu mengambil tas kecil sebelum bergegas pergi.

saat Alda tiba di tempat yang dijanjikan, langkahnya sempat terhenti menatap sekeliling nya, tepi danau itu terlihat sepi. hanya ada beberapa orang yang duduk di kejauhan, menikmati udara pagi yang masih segar. permukaan air tampak tenang, memantulkan sinar matahari yang mulai naik perlahan.

dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat nya berdiri, Alda sedikit terkejut dengan adanya Karina yang ternyata sudah lebih dulu ada disana. Karina berdiri membelakangi Alda dan gerak geriknya sedikit menyita perhatian dari Alda.

Karina tampak sedang menelepon seseorang, suaranya pelan, tetapi cukup jelas terdengar dari jarak Alda berdiri.

"hari ini aku tidak masuk kerja," kata Karina dengan nada datar. "bilang saja aku sakit."

Alda mengernyit, mendengar dengan saksama.

di seberang telepon, terdengar suara laki-laki yang bertanya sesuatu, tetapi karina dengan cepat memotong, "ya, tolong bilang begitu ke klien kita, termasuk Rama. yakinkan mereka jika aku benar-benar berhalangan hadir. ada urusan penting yang harus kuselesaikan hari ini."

setelah itu, Karina menutup teleponnya dan menyimpan ponselnya ke dalam tas.

Alda menelan ludah. jelas sudah, Karina sengaja tidak masuk kerja hari ini. tapi yang membuatnya penasaran, urusan pribadi apa yang begitu penting hingga Karina harus berbohong?

namun, Alda tidak butuh waktu lama untuk menyadari jawabannya.

satu-satunya masalah yang bisa membuat karina mengambil keputusan seperti ini adalah... Rama dan Naila

Alda mengepalkan tangannya erat. 'jadi, Karina benar-benar serius ingin menyelesaikan masalah ini' batin Alda dalam-dalam

ia menarik napas, lalu melangkah mendekati Karina yang belum menyadari kehadirannya.

"aku sudah datang," ujar Alda akhirnya.

karina berbalik, menatap Alda dengan ekspresi tenang. "bagus. kita punya banyak hal yang harus dibicarakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!