Seorang gadis manis bernama Hazel, berumur 21 tahun, harus menggantikan posisi saudara kembarnya yang bernama Hazely. Untuk menjadi kekasih dari seorang tuan muda bernama Mark Harold Sebenarnya dia tidak mau melakukan itu, tapi di karenakan keadaan Mark yang begitu memprihatinkan ia terpaksa melakukannya.
Bagaimana jika sang tuan muda tau, jika yang menjadi kekasihnya saat ini bukanlah kekasihnya?...
Penasaran? Yuk, ikuti selengkapnya di cerita ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNGNANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEPULUH
Hari berganti hari, Abila semakin terbiasa dengan pekerjaan nya yang sekarang. Begitu juga dengan keadaan Jovin. Semakin hari keadaan nya semakin membaik. Kini pemuda itu tak lagi harus ketergantungan dengan peralatan rumah sakit. Hanya tinggal pemulihan kesehatan nya saja. Dan itu juga berkat Abila yang dengan telaten, sepenuh hati merawat pemuda itu.
Abila terlihat sedikit murung siang ini, Ia menemani Jovin istirahat sehabis meminum obat. Setelah memastikan pemuda itu sudah terlelap , Abila berlahan meninggalkan nya . Ia berjalan gontai ke taman belakang Mansion besar itu dan terduduk di salah satu kursi panjang berwarna putih di sana.
Gadis itu memandang hamparan bunga-bunga yang terlihat begitu indah. Pasti Nyonya Nichol selalu merawat bunga-bunga itu dengan baik. Gumamnya.
Hingga tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak nya dan membuat nya sedikit terjengit kaget.
"pukk..
"astaga..." kagetnya seraya menoleh ke belakang dan mendapati Johan yang tersenyum teduh pada nya.
"ah.. Tuan, sejak kapan kau di situ." tanya nya.
"panggil aku Kakak, percuma saja kau memanggilku dengan sebutan Tuan jika cara bicara mu saja terlalu bar-bar." cibir Johan.
Sedang Abila hanya nyengir bodoh, benar juga apa yang di katakan Johan. Gumam nya, terkikik geli.
" tidak,.. aku merasa tak pantas memanggil mu dengan sebutan itu." ucap Abila sambil menundukkan kepalanya.
"lalu apa kabar dengan dirimu yang selalu mengumpatiku, apa itu pantas ha?." sindirnya kemudian.
Lagi-lagi membuat Abila tertawa hambar.
"ah.. baiklah-baiklah.. aku akan memanggil mu dengan sebutan Kakak." putus Abila selanjutnya.
Johan menyunggingkan sebelah bibir nya.
menyenangkan sekali membuat gadis ini kesal. Batin nya.
"emm... kenapa kau ada di sini? apa Jovin tidak mencari mu?." tanya Johan.
"dia sedang tidur, Kak." lirihnya.
"kenapa kau terlihat murung? apa kau sedang ada masalah. Cerita saja pada ku ! Aku akan menjadi pendengar setia mu." pinta nya.
Abila menghembuskan nafas nya dan menerawang melihat langit biru nan jauh tak tersentuh.
"aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang akhir-akhir ini begitu mengganggu fikiran ku." jawabnya kemudian.
"memang nya masalah apa yang selalu mengganggu fikiran mu?." tanya Johan penasaran.
"aku hanya berfikir, bagaimana reaksi Jovin jika ia tau bahwa aku bukan lah kekasihnya." curhat Abila sambil memainkan jemarinya.
Johan terdiam, bohong jika dia tidak memikirkan hal yang sama dengan yang di fikirkan Abila.
Asal kau tahu Bil, aku juga memikirkan cara agar kedok mu tidak terbongkar secepatnya, karena aku tau bagaimana sifat Jovin, dia paling tidak suka dengan yang namanya kebohongan. Bukan hanya kau yang terkena masalah, namun aku juga.
Johan berusaha menutupi kegelisahan nya, biar bagaimanapun ia harus memberikan semangat kepada Abila.
"tenanglah... rahasia ini hanya keluargaku yang tau, selama mereka tetap tutup mulut, maka kau akan tetap aman." ucap Johan sambil mengelus rambut panjang Abila.
Abila hanya mengangguk, walau rasa khawatir itu tetap saja bergejolak di dalam hati nya.
"sampai kapan aku akan tetap membohongi Tuan Jovin, Kak?." tanya Abila, sungguh ia ingin sekali terbebas dari Mansion megah ini.
"sampai aku menemukan keberadaan Adira." singkat, padat, jelas. Namun begitu menyesakkan di hati Abila.
Apa dia bilang? sampai Adira ketemu? dan kapan Adira akan di temukan? bahkan belum ada kepastian sama sekali. Aku ingin segera bebas, aku ingin hidup tenang tanpa di hantui rasa bersalah.
"Bil.... kau ok?." tanya Johan.
Abila lagi-lagi hanya bergumam sebagai jawaban.
" em.... aku pergi dulu Kak, aku takut nanti Tuan muda mencari ku." ucap Abila dan melenggang pergi meninggalkan Johan.
Johan menatap lekat punggung gadis itu yang mulai menjauh dari pandangan nya.
Maaf kan aku, aku tau kau begitu tersiksa berada dalam situasi seperti ini. Aku yang salah karena sudah memasukkan gadis polos seperti mu ke dalam rencana gila ku, aku berjanji akan selalu menjaga mu . Kau sudah banyak membantu keluarga ku, aku sudah menganggap mu seperti Adik ku sendiri. Jika terjadi sesuatu pada mu, sungguh aku tak akan bisa memaafkan diri ku sendiri.
Abila memasuki kamar Jovin, dan melihat pemuda itu sudah terbangun duduk bersender di kepala ranjang sembari memandang Abila begitu dalam.
"sayang... kau sudah bangun? maaf, aku meninggalkan mu sebentar tadi." ucap Abila, mendekati Jovin.
"kemana kau pergi." tanya Jovin datar.
"aku habis dari taman belakang, kemarin aku tak sengaja melihat bunga-bunga di sana sedang bermekaran, jadi aku begitu tertarik dan ingin melihat nya lagi." jawab nya, mencari alasan karena memang dia dari taman , namun bukan untuk melihat bunga-bunga bermekaran melainkan untuk merenung. Dan beruntung sekali Jovin dengan mudah mempercayai nya.
Hari berganti hari, minggu berganti bulan.
Kini Jovin sudah kembali sehat dan menjelma menjadi sosok pemuda tampan. Pemuda yang dulu nya seperti layaknya mayat hidup, sekarang berubah menjadi sosok malaikat tak bersayap.
Hari ini merupakan hari pertama untuk Jovin kembali melakukan aktivitasnya terdahulu yaitu menjadi Ceo di perusahaan yang sempat terbengkalai selama beberapa tahun lalu.
Abila kembali ke Mansion megah itu, seperti biasa ia bertugas merawat Jovin meski pemuda itu sudah sembuh sepenuhnya. Perjanjiannya dia bisa berhenti bekerja setelah Adira di ketemukan bukan?.
Abila memasuki kamar Jovin, sedikit tertegun melihat penampilan sang Tuan muda hari ini.
Seakan kedua mata Abila tak bisa untuk berkedip karena terlalu terpana dengan pemandangan didepannya. Kedua kaki nya terasa begitu berat untuk melangkah.
Dadanya terasa sesak serasa ingin pingsan saat itu juga.
Apakah aku sedang melihat seorang pangeran di pagi hari? apa ini mimpi? kenapa mimpi ku indah sekali.
Abila tanpa sadar mengagumi pemuda itu. Hari ini dia sangat terlihat berbeda dan penuh wibawa. Memakai setelan jas berwarna abu di padu dengan kemeja yang senada
dan jangan lupakan dasi bergaris yang menambah dirinya terlihat semakin mempesona.
Ditambah lagi, pemuda itu sedang melirik Abila dengan kerlingan mata menggoda nya.
"sayang.... kenapa hanya berdiri di situ hm?." Sebegitu tampankah kekasih mu ini?." godanya.
Abila menelan ludah nya gugup dan kemudian mendekati Jovin, dengan kurang ajar nya pemuda itu menarik pinggang sang gadis hingga gadis itu terduduk di pangkuan sang pemuda.
Abila gemetar, tanpa bersuara. Jantungnya kembali berdetak tidak karuan.
Tuhan... tolong aku, apakah aku terkena penyakit jantung akhir-akhir ini?.
"sayang... kenapa wajah mu memerah, apa kau sakit?." tanya Jovin lagi, karena merasa begitu aneh dengan sikap kekasih nya.
"ti... tidak sayang, a..aku baik-baik saja. Sungguh kau sangat terlihat tampan hari ini." cicit nya lirih.
Abila merutuki kebodohan nya lagi.
Dasar mulut tidak punya etika, kenapa aku memujinya lagi, sadar lah aku bukan siapa-siapa di sini. Kau hanya seseorang yang menggantikan posisi gadis lain tak lebih dari itu.
Abila sedikit terdiam, ia takut terjatuh dalam pesona pemuda ini. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah sebuah alat pengganti, yang kapan saja bisa terbuang jika pemilik asli nya sudah kembali.
hilang terus
tapi menarik alurne
semangat thor💪💪
klo hilang kmn coba
cm bisa tau dr komen2 org2
gmna mau baca