Karisma Putri, perempuan berusia tiga puluh dua tahun harus menerima kenyataan pahit bahwa sang suami yang bernama Radit, laki- laki yang begitu dia cintai sepenuh hati telah menodai pernikahannya dengan cara berselingkuh dengan perempuan dari masa lalunya.
Tak hanya itu, ternyata selama sepuluh tahun pernikanannya bersama Radit, dan sudah dikaruniai dua orang anak,Risma baru mengetahuinya jika suaminya itu tidak pernah mencintainya dan tidak pernah bahagian hidup bersamanya.
Risma baru mengetahui jika cintanya selama ini kepada Radit hanya bertepuk sebelah tangan.
Lalu apakah Risma bisa mempertahankan keutuhan rumah tangganya di tengah kehancuran hatinya...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Hajatan
Tiga minggu kemudian Anggi adik ipar Risma sekaligus suami dari Arya mengadakan hajatan mewah di rumahnya. Anak keduanya yang bernama Adam disunat.Radit pun pulang menghadiri hajatan sang adik.
"Rafa , Sabila cepetan pakai bajunya ayo kita ke rumah Adam..." ucap Risma di depan kamar kedua anaknya.
"Ibu, kok ayah nggak pulang sih, ayah nggak datang ke hajatan tante Anggi...?" tanya Sabila.
"Pulang sayang, tapi ayah langsung pulang ke rumah nenek. Tadi malam ayah sudah sampai di rumah nenek sama tante Eva..." jawab Risma.
"Yeee... Asik ada tante Eva, nanti Sabila mau main game sama tante Eva..." Sabila senang.
"Apaan sih orang ada acara hajatan di rumah tante Anggi masa mau main game..." Sahut Rafa.
"Ibu, kenapa ayah nggak pulang ke rumah kita dulu...?" tanya Rafa.
"Nggak sayang, ayah kan harus bantu- bantu di rumah tante Anggi..." Risma merapihkan baju Rafa.
Iya, Risma juga sempat kecewa juga sih kenapa Radit tidak pulang ke rumah dulu menemui istri dan anaknya. Tapi dia langsung menuju rumah bu Ratna dengan alasan harus bantu- bantu di rumah Anggi. Sebenarnya Kemarin Risma juga datang ke rumah Anggi buat bantu- bantu di sana dari pagi hingga sore. Dan sorenya dia pulang karena merasa capek dan anak- anak juga tidak mau menginap. Kalaupun mau menginap juga tidak ada tempat lagi karena seluruh kamar sudah penuh oleh saudara dari Aryo.
"Oya bu, kok dulu waktu Rafa sunat ibu nggak hajatan kayak tante Anggi...?" tanya Rafa.
"Nggak sayang, kalau hajatan kan repot, apalagi ayah kerjanya jauh, jadi ayah sama ibu nggak hajatan..." jawab Risma.
"Nanti kalau Rafa sudah dewasa dan Rafa menikah, ibu akan mengadakan hajatan mewah untuk Rafa dan istrinya Rafa..." ucap Risma.
"ih...ibu... Nggak mau ahh... Masa ngomongin menikah kan Rafa masih kecil..." Rafa tersipu malu.
"Ya kan ibu bilangnya nanti kalau Rafa sudah dewasa..." sahut Risma.
"Kira- kira nanti kalau sudah dewasa istrinya mas Rafa siapa ya...? Apa jangan- jangan istrinya mas Rafa itu kak April teman sekelas mas Rafa... " sahut Sabila.
"Ih kamu dek apaan sih..." Rafa kesal karena diledek oleh sang adik.
"April siapa...?" tanya Risma.
"Itu bu teman sekelas mas Rafa yang paling cantik, kan teman- temannya mas Rafa cinta sama April. Tapi kak Aprilnya nggak mau, kak April cintanya sama mas Rafa..." jawab Sabila.
"Ih nggak... enak aja kamu kalau ngomong..." sahut Rafa kesal.
"Weee mas Rafa dicintai kak April...." Sabila meledek Rafa.
"Ih adek... Awas kamu ya..." Rafa makin kesal pada sang adik.
"Eh apa- apaan sih kalian ini malah berantem... Kalian ini masih kecil nggak boleh ngomong cinta- cinta begitu..." ucap Risma.
"Tahu tuh ade nggak jelas banget kalau ngomong...." sahut Rafa.
"Yeee...gitu aja ngambek..." ucap Sabila.
"Kamu aja sana yang menikah sama Rico..." ucap Rafa.
"Nggak, Ade nggak akan menikah selamanya..." sahut Sabila.
"Sudah...sudah... Ayo kita berangkat ke rumah tante Anggi , nanti kesiangan...." ucap Risma.
Mereka bertiga lalu pergi ke rumah Anggi menggunakan motor. Sampai di rumah Anggi, Risma memarkirkan motornya di depan rumah tetangga Anggi. Di sana sudah rame oleh saudara dan tetangga dekat yang membantu hajatan di rumah Anggi. Sementara tamu belum datang karena masih jam sembilan pagi. Biasanya tamu akan datang jam sepuluhan.Tenda yang dihias begitu cantik menambah megahnya suasana hajatan.
Musik khas orang hajatan sudah mengalun merdu. Anggi, Aryo dan Adam sudah duduk di kursi khusus untuk menyambut tamu. Adam sudah terlihat baik- baik saja karena sunatnya sudah dilakukan seminggu lalu. Jadi hari ini tinggal menikmati pesta saja. Sementara bu Ratna dan pak Salim duduk bersama besan tak jauh dari Anggi duduk. Mereka menggunakan baju brukat seragam berwarna biru laut. Sedangkan untuk para laki- laki menggunakan batik yang senada.
Risma lalu menyalami pak Salim, bu Ratna dan kedua mertua Anggi.
"Risma nanti kamu bantuin di meja prasmanan ya..." ucap bu Ratna.
"Mi, Risma kan termasuk tuan rumah juga, biarkan saja dia di sini menerima tamu..." sahut pak Salim.
"Biarin aja, nanti kalau dia di sini yang ada dia bosan nggak ada kerjaan. Itu tadi di prasmanan kurang satu orang..." ucap bu Ratna.
"Umiii..." ucap pak Salim.
"Nggak papa Bah, Risma nanti bantuin di prasmanan saja..." sahut Risma.
Risma lalu mengajak Rafa dan Sabila menyalami Anggi , Aryo dan Adam. Raga dan Sabila juga membawakan kado untuk Adam.
"Adam, ini kado buat kamu..." ucap Rafa.
"Ini juga buat mas Adam..." ucap Sabila.
"Apa nih isinya...?" tanya Adam.
"Buka aja..." jawab Rafa.
Adam lalu membukanya. Ternyata kado dari Rafa isinya sepatu.
"Yah sepatu kayak gini, Adam punya sepatu yang lebih bagus dari sepatu ini, mama aku yang beliin, harganya tiga ratus ribu. Ini harganya berapa...?" tanya Adam.
"Nggak tahu, ibuku yang beli..." jawab Rafa.
Mendengar ucapan Adam Risma hanya menghela nafas panjang. Memang Adam ini walaupun masih kecil sudah mempunyai sifat sombong.
"Kalau kado dari kamu isinya apa...?" tanya Adam pada Sabila.
"Coba tebak isinya apa...?" tanya Sabila.
Adam lalu membukanya. Dan ternyata isinya satu stel baju.
"Yaahh kok baju sih, kalau baju mah Adam sudah punya banyak di lemari, sampai nggak muat malah harus beli lemari lagi..." ucap Adam kecewa dengan kado yang diterima.
Sabila memanyunkan bibirnya karena kado yang dia berikan tidak membuat Adam senang.
"Memangnya Adam maunya kado apa...?" tanya Risma yang merasa kesal dengan sikap ponakannya itu.
Iya, walapun Adam masih kecil tapi dengan sikapnya yang seperti itu menurutnya itu tidak sopan sama sekali. Apa lagi Anggi yang jelas- jelas mendengar ucapan Adam tidak mau menegurnya. Dia malah tersenyum meledek seoalah- olah mencibir pemberian dari Rafa dan Sabila.
"Adam tuh sukanya dikasih kado mainan , tante..'' jawab Adam.
"Adam nih siapa yang datang..." ucap bu Ratna.
Adam menoleh ke arah bu Ratna, begitu juga dengan Risma dan juga Anggi. Ternyata di sana ada Eva yang datang menenteng paper bag. Eva terlihat begitu cantik dengan balutan baju brukat yang serupa dengan brukat yang di pake oleh Anggi dan bu Ratna juga oleh mertua Anggi. Begitu juga dengan kedua adik perempuan Aryo, mereka memakai baju berbahan brukat yang sama.Rupanya mereka pakai baju seragam khusus di acara hajatan ini.
Tiba- tiba hati Risma merasa sakit. Kenapa hanya dia saja yang tidak memakai brukat yang sama dengan keluarga yang lain. Bukankah dia juga bagian dari keluarga. Dia kakak ipar Anggi, tapi Anggi seperti tidak menganggapnya sama sekali. Sedangkan Eva yang hanya saudara jauh tapi diperlakukan istimewa oleh bu Ratna dan Anggi.
"Hai tante Eva..." Adam terlihat gembira menyambut kedatangan Eva.
"Hai Adam, selamat ya , sekarang sudah punya bentuk baru. Gimana, masih sakit nggak itunya...?" tanya Eva sambil melihat ke arah celana Adam.
"Udah nggak tante, lukanya udah kering..." jawab Adam.
"Syukurlah..." sahut Eva sambil mengusap kepala Adam.
"Tante... tante Eva bawa hadiah nggak buat Adam...?" tanya Adam.
"Bawa dong sayang... Ini..." Eva memberikan paperbag pada Adam.
"Yee... Adam buka ya...." ucap Adam, Eva pun mengangguk.
Dengan cepat Adam membuka kado dari Eva.
"Hah...? Drone...? Ini drone beneran tante...?" tanya Adam seakan tidak percaya melihat hadiah yang dikasih oleh Eva.
"Iya beneran, kan kemarin Adam minta hadiah drone, jadi tante belikan deh..." jawab Eva sambil tersenyum pada Adam.
"Yeee... Asik...pasti ini harganya mahal... " Adam berjingkrak- jingkrak saking senangnya hingga sepatu dan baju pemberian Rafa dan Sabila jatuh ke lantai.
"Tante Eva baik banget deh, kalau ngasih hadiah pasti nanya dulu sama Adam maunya apa. Kalau kayak gini kan Adam senang...." ucap Adam.
Sementara itu Rafa dan Sabila menoleh ke arah Risma dengan raut wajah kasihan. Sepertinya mereka sedih karena kado nya tidak disukai oleh Adam. Risma mengusap punggung Rafa dan Sabila.
"Adam, nih om Radit datang..." ucap bu Ratna.
Risma menoleh ke arah Radit. Radit terlihat sangat tampan dan gagah memakai batik yang juga seragam dengan keluarga besar. Lagi- lagi hati Risma merasa sakit, tapi dia mencoba bersikap biasa saja.
"Ayah..." ucap Rafa dan Sabila begitu senang melihat sang ayah datang.
"Om Radit... Om Radit bawa hadiah juga kan buat Adam...?" tanya Adam.
"Bawa dong, kan ini hari special buat Adam, jadi om bawakan hadiah yang Adam inginkan. Nih..." Radit memberikan paperbag yang sama dengan paperbag yang dibawa Eva, yaitu warna hitam. Adam menerima paperbag dari Radit lalu segera membukanya.
"Yeee.... Hape baru...." seru Adam senang.
"Makasih om Radit... Nanti hapenya mau diisi game yang banyak..." ucap Adam. Radit tersenyum pada Adam.
Sedangkan Rafa dan Sabila memasang muka cemberut. Mereka berdua merasa iri melihat Adam dibelikan hadiah hape mahal oleh ayah mereka.
"Tapi jangan main hape terus ya, Adam juga harus belajar. Nanti kalau main game terus sampai lupa belajar, nanti sekolahnya jadi nggak pinter..." sahut Radit.
"Adam jarang belanjar om, tapi nilai Adam selalu bagus. Adam selalu dapat rengking, kan Adam udah pintar dari lahir. Nggak kayak Rafa yang nggak pernah dapat rengking, masa kemarin waktu terima repot dapat peringkat lima belasa hahahaaa...." Adam mentertawakan Rafa. Rafa pun menjadi sedih , dia memeluk sang ibu. Risma mengusap punggung Rafa untuk menguatkan sang putra.
Radit menghela nafas mendengar ucapan Adam yang mentertawakan Rafa. Radit memang sudah mengetahui sifat Adam, ditegur pun percuma dia tidak akan mengerti. Sedangkan Anggi yang duduk di samping Adam bukannya menasehatinya malah ikut tertawa.
"Eh mbak Jumi sudah datang, saya tunggu- tunggu lho dari kemarin..." ucap bu Ratna menyambut kedatangan kakak kandungnya yang tinggal di kampung. Bu Jumi datang bersama anak laki- lakinya yang bernama Ridwan.
"Maaf ya , saya baru datang, rencananya sih mau datang dari kemarin biar bisa lama nginap di rumahmu tapi Ridwan kan harus kerja, baru pulang hari ini dia libur..." jawab bu Juni sambil memeluk sang adik. Bu Jumi lalu menyalami keluarga besar bu Ratna termasuk besan dan ipar Anggi yang ada di tempat itu.
"Radit apa kabar...?" tanya bu Jumi.
"Baik wa...uwa sehat...?" sahut Radit.
"Alhamdulillah sehat, kalau uwa nggak sehat mana mungkin uwa bisa sampai ke sini..." ucap Bu Jumi.
"Lho ini Risma ya...? Ya ampun kok kamu cantik banget sekarang...? Uwa sampai pangling lho. Muka kamu jadi mulus begini, padahal dulu muka kamu hitam, kusam banyak jerawatnya lagi,kok sekarang bisa putih kinclong begini, kamu perawatan ya...? Apa operasi plastik...?" tanya Bu Jumi yang mengira Eva adalah Risma karena Eva berdiri di samping Radit.
"Ma..maaf saya bukan mbak Risma bu... Itu mbak Risma ada di belakang mas Radit..." Eva menjadi tidak enak hati pada Risma.
Risma lalu menyalami bu Jumi.
"Oalah salah orang toh, pantesan kok beda banget. Oh ini Risma, kalau ini mah saya nggak pangling. Kamu masih seperti yang dulu nggak berubah..." sahut bu Jumi pada Risma.
"Uwa gimana sih, masa Eva dikiranya Risma. Kalaupun Risma melakukan perawatan nggak mungkin mukanya berubah cantik kayak gitu dong wa..." sahut Anggi lalu tertawa.
Risma pun hanya diam mendengar semua perkataan yang membuatnya malu dan sedih. Rafa yang mengerti dengan segala cemoohan yang diterima oleh sang ibu terus menggenggam tangan Risma. Iya, Rafa sudah berumur sepuluh tahun dia sudah mengerti dan paham dengan apa yang orang lain katakan. Rafa merasa sedih sang ibu diperlakukan tidak baik oleh keluarga besarnya.
Radit pun menoleh ke arah Risma. Dia tahu Risma sedih atas ucapan bu Jumi dan juga Anggi. Radit mengusap punggung Risma.
"Ya namanya uwa sudah tua, kadang suka nggak ngenalin orang kalau sudah lama nggak ketemu. Apa lagi si Eva ada di samping Radit, ya uwa mikirnya dia istrinya Radit..." ucap bu Jumi.
"Si Eva ini memangnya siapa dia...? " tanya bu Jumi sambil mengusap pundak Eva.
"Eva ini anaknya Harni istrinya Watno..." jawab bu Ratna.
"Lho jadi kamu anaknya Harni...? Yang dulu pernah ditaksir sama Radit...? Oalah...dulu uwa lihat kamu masih kecil, sekarang udah berubah jadi gadis cantik begini..." sahut bu Jumi.
Radit dan Eva pun tersenyum canggung.
"Apa...? Eva pernah ditaksir oleh Mas Radit...?" ucap Risma dalam hati.
"Mbak, makan dulu, mbak pasti lapar kan, ayo kita ke prasmanan ambil makanan ajak juga Ridwan suruh makan..." ucap bu Ratna pada sang kakak.
"Iya ayo..." jawab bu Jumi.
"Eh, Risma, udah sama bantuin di prasmanan, udah ada tamu yang datang tuh..." ucap bu Ratna pada Risma.
"Iya Mi..." jawab Risma.
"Rafa, Sabila, sini sama ayah..." ucap Radit.
"Nggak, Rafa mau ikut ibu..." jawab Rafa.
"Ade juga..." sahut Sabila.
Rafa dan Sabila lalu mengikuti Risma ke tempat prasmanan. Radit mengerutkan keningnya merasa heran melihat sikap kedua anaknya. Biasanya mereka antusias sekali jika Radit datang.
Eva
Bersambung...
inget y radit.... beda istri beda rizkinya...
km mnikah dgn risma.... jabatanmu di kantor makin moncer.... krna risma mngabdi dan mndoakan suaminya setulus hati....
tpi justru doa yg tak hnti risma langitkn siang malam.... km balas dgn pnghianatan dan ktidak adilan...
istri sah km beri nafkah seadanya... sdangkn selingkuhanmu km beri berlipat2 ganda untuk ber senang2...
tapi.. semoga setelah ini si Radit jadi beneran balangsak dan makin ancur dehhhh 😡😡😡😡
makin mblangsak & makin g smbuh2 saat km tau betapa rafa sangat2 mmbencimu...