Setelah aku selamat dari kecelakaan itu, aku berhasil untuk bertahan hidup. Tetapi masalah yang kuhadapi ternyata lebih besar daripada dugaanku. Aku tersesat dihutan yang lebat dan luas ini. Aku mungkin masih bisa bertahan jika yang kuhadapi hanyalah binatang liar. Tapi yang jadi masalah bukanlah itu. Sebuah desa dengan penduduk yang menurutku asing dan aneh karena mereka mengalami sebuah penyakit yang membuat indera penglihatan mereka menjadi tidak berfungsi. Sehingga mereka harus mencari "Cahaya" mereka sendiri untuk mengatasi kegelapan yang amat sangat menyelimuti raga mereka. Mereka terpaksa harus mencari dan mencari sampai bisa menemukan mata mereka yang hilang. Dan akhirnya mereka bertemu dengan kami. Beberapa penumpang yang selamat setelah kecelakaan itu, harus bertahan hidup dari kejaran atau mungkin bisa kusebut penderitaan mereka atas kegelapan yang menyelimuti mereka. Berjuang untuk mendapatkan "Cahaya Mata" mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Foerza17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak
"Ada apa Letnan? Sepertinya pasukan anda mengalami sebuah tekanan batin yang bersamaan?" tanya Pak Juari. Aku melihat Pak Bonadi dan yang lainnya menghampiri kami dengan wajah yang pucat dan tubuh yang lemas.
"Sial. Seharusnya kita tidak berada disini." jawab Pak Bonadi.
"Memangnya ada apa?" tanya Pak Juari semakin penasaran.
"Ternyata ini adalah desa mereka," jawab Pak Bonadi lirih.
"Aku tadi gak sengaja kesandung sebuah kendi dan malah ngebuka jendela disalah satu rumah," ucap Kak Evelyn dengan suara bergetar.
"S-setelah itu. Karena aku penasaran, aku malah ngintip kedalam rumah itu dan a-aku gak sanggup buat jelasinnya," sambung Kak Evelyn sembari memeluk tubuhnya dan sedikit menggigil.
"Memangnya apa yang kalian lihat?" tanya Pak Juari mulai cemas.
"Kami melihat. Mereka!" sambung Mas Haris dengan tatapan tajam menatap jauh ke pedesaan yang masih asri itu.
"Mereka dalam keadaan yang mengerikan. Mereka menatap kami dengan tersenyum senang seperti seekor buaya yang sedang melihat mangsanya," sambung Mas Haris.
"Aku melihat 2 orang dengan pisau ditangannya. Dan setelah mereka melihat kami, mereka mulai mencongkel kedua bola matanya dengan liur yang menetes. Seperti merasa tergiur melihat mata-mata kami,"
"Tetapi kenapa mereka tidak keluar mengejar kalian?" tanya Pak Juari.
"Kupikir karena cahaya mataharinya terlalu terang membuat mereka merasa silau. Layaknya hewan kelelawar yang hanya berburu diwaktu malam saja," imbuh Pak Bonadi.
"Heh beruntung sekali. Dan sepertinya matahari juga akan mulai terbenam," ucap Pak Juari sembari melihat langit dengan cahaya jingga yang mulai memudar berganti malam.
"Sebaiknya kita akan cari sebuah rumah atau bangunan yang cukup kokoh untuk kita bertahan dan bersembunyi dari kejaran mereka," ucap Pak Bonadi memberi instruksi.
"Ayo, An. Sini kakak gendong!" ucapku sembari menjongkokkan tubuhku dan melepaskan tas yang ada di punggungku dan meletakkannya di dadaku. Aini pun bergegas naik ke punggungku.
Kami pun mulai bergegas pergi dan mencari sebuah bangunan yang dirasa cocok untuk bersembunyi dari kejaran mereka. Kami pun mulai berlari ke jalan yang sudutnya sedikit menanjak.
"Kak lihat! Ada orang di dalam sana," seru Aini kepada sebuah jendela yang terbuka.
"Gak usah diliat ya. Mereka orang jahat. Kita harus lari dari mereka," ucapku menenangkannya.
"Terus itu yang dibelakang juga orang jahat ya?" tanya Aini. Aku melihat kebelakang terdapat beberapa orang yang berjalan menuju kearah kami.
"Sial. Mereka mulai bergerak," ucap Pak Juari.
Entah jalannya yang menanjak atau apa, mereka hanya berjalan cepat mengejar kami.
"Cepatlah. Akan kucoba buat menghambat mereka," suruh Mas Doni.
"Mau ngapain, Mas?" tanyaku. Mas Doni hanya diam sembari pandangannya masih menyapu ke sekeliling.
Tiba-tiba Mas Doni menendang sebuah gerobak yang berisi rumput-rumput yang mungkin akan dijadikan pakan ternak. Gerobak itu pun langsung meluncur menerjang kearah zombie-zombie itu. Sebagian ada yang terjatuh kedalam sungai dan sebagian lain masih bisa bertahan.
"Begitu ya? Karena perabotan disini jadul, pondasinya jadi agak lemah," gumam Mas Doni.
Kami berlari lagi mendaki menghindari kejaran para zombie itu. Matahari mulai redup, langit pun mulai gelap. Tiba-tiba para zombie itu mulai berdatangan. Satu persatu keluar dari rumah-rumah mereka.
"Ini kalau kita tidak cepat-cepat menemukan sebuah bangunan, kita bisa segera ditangkap sama mereka," seru Pak Juari.
"Kalo gitu, kalian duluan aja. Biar aku yang menghambat mereka," jawab Mas Doni.
"Gue ikut!" ucap Mas Haris menawarkan diri.
"Jangan konyol. Emang kalian bisa apa?" gertak Pak Bonadi.
"Rumah disini agak rapuh. Jika aku punya palu godam, sekali pukulan bisa meruntuhkan rumah ini. Sama posisinya juga agak menjorok kebawah," jawab Mas Doni sembari mengelus sebuah pilar yang terbuat dari kayu sebagai penyangga rumah sederhana yang sebagian besarnya terbuat dari bata berlumut dan anyaman bambu itu.
"Palu godam ya? Untuk meruntuhkan sebuah benda, selain menggunakan pukulan yang dilakukan berkali-kali, juga bisa dilakukan dengan sebuah ledakan yang menghasilkan daya hancur secara instan," gumam Pak Juari.
"Apa kau tau dimana titik terlemahnya rumah ini?" tanya Pak Bonadi.
"Sebuah pukulan palu godam disudut sana akan langsung membuat runtuh rumah ini," jawab Mas Doni.
"Apa yang membuatmu yakin?" tanya Pak Bonadi.
"Aku tidak terlalu mengerti apa itu fisika. Tapi kalo dilihat dari posisi tanah serta bentuk rumah, bagian itu yang paling berperan dalam menopang rumah ini," jawab Mas Doni lagi.
"Dan juga, jangan remehkan seorang tukang yang berpengalaman!"
"Aku mengerti," Pak Bonadi tersenyum.
"Hei bocil. Petasan paling kuat apa yang kamu bawa?" tanya Pak Bonadi.
"Tenang, Pak. Aku bawa 2 set,* seru Novan sembari membuka tas yang dibawanya.
Satu set berisi 6 buah, jadi totalnya ada 12 petasan. Kulihat dari jenisnya, satu buah saja dapat menghancurkan sebuah kaleng susu. Kenapa aku tau? Karena aku pernah mencobanya.
"Sini petasannya," pinta Pak Bonadi. Novan lalu memberikan seluruh petasannya ke Pak Bonadi.
"Aku mengerti," ucap Pak Juari.
"Aku akan menghambat mereka," tiba-tiba Mas Haris langsung berlari menerjang kearah zombie-zombie itu.
"Kau punya kertas atau buku, Nak?" tanya Pak Bonadi kepada Kak Willie.
"Gue punya banyak nih. Ambil aja dah semua," jawab Kak Willie sembari mengobrak-abrik seluruh isi tasnya.
"Kalo lakban ada?" tanya Pak Bonadi lagi.
"Ada." Ucap Kak Willie sembari masih sibuk mengacak-acak tas ranselnya.
"Kamu seperti toko berjalan ya?" puji Pak Bonadi.
"Thanks pujiannya, Pak," jawab Kak Willie sedikit kesal.
Kemudian Pak Bonadi mulai melipat-lipat kertas tadi dan mulai menggabungkannya dengan lakban.
"Origami kah?" tanya Novan.
"Bukan. Ini akan kubuat sebagai wadah untuk bubuk-bubuk mesiu yang ada didalam petasan ini," jawab Pak Bonadi.
Pak Bonadi mulai menyobek dan menuangkan seluruh bubuk petasan itu kedalam kertas hasil lipatan kertas tadi. Mas Doni dan Mas Haris juga masih berusaha untuk menghalau pergerakan zombie-zombie itu dengan melemparkan segala benda kearah mereka.
"Aku akan membantu mereka," Kak Evelyn menarik busur yang ada di di punggungnya dan membidik kearah zombie-zombie itu.
"Tembakan fatal kearah dada sebelah kiri sudah cukup untuk menumbangkan mereka. Jangan buang-buang anak panahmu," bisik Kak Ayu di telinga Kak Evelyn.
Anak panah meluncur cepat satu persatu mengenai tubuh mereka membuat Mas Haris dan Mas Doni terkejut. Tak ada satupun anak panah yang meleset. Dia benar-benar atlit yang profesional.
"Wahh keren," kagum Vivi.
"Nanti tolong kalian ambil-ambilin balik ya!" teriak Kak Evelyn kepada Mas Haris dan Mas Doni yang ada dibawah.
"Santai!" sahut Mas Haris.
Masih ku terperangah mengagumi kehebatan Kak Evelyn dalam memanah zombie, tak kusadari juga peledak hasil rakitannya Pak Bonadi juga sudah selesai dibuat.
"Dengan ini, kita sudah mendapatkan sebuah granat," ucap Pak Bonadi sembari tersenyum puas.
"Hei kalian berdua. Cepat naik!" seru Pak Bonadi.
Mas Haris dan Mas Doni mulai berlari mendaki kearah kami. Tak lupa juga Mas Haris mengumpulkan anak-anak panah yang masih bisa dipakai kembali.
"Hanya segini ya?" tanya Kak Evelyn.
"Nanti kubuatin lagi," jawab Mas Doni.
"Posisinya tepat disini kah?" tanya Pak Bonadi.
"Sebentar!" Mas Doni menghampiri Pak Bonadi. Mas Doni memperkirakan dimana titik terlemah pada rumah ini.
"Nah disini. Pasti akan langsung hancur," Mas Doni mulai merekatkan peledak itu pada dinding dengan lakban.
"Sudah siap?" tanya Pak Juari.
Kami pun segera mendaki menuju ke tempat yang lebih aman. Pak Juari mengarahkan senapannya kearah peledak yang ditempel tadi.
"Apa tidak kejauhan kalau dari sini, Pak?" tanya Pak Bonadi.
"Ini lebih mudah daripada membidik seekor burung," jawab Pak Juari sembari mengarahkan senapannya.
Pak Juari bersiap untuk menarik pelatuknya. Menunggu momen sesuai instruksi dari Pak Bonadi. Para zombie mulai bergerombol mengejar kami. Dan inilah saatnya.
"Sekarang!!" teriak Pak Bonadi memberikan aba-aba.
"Selamat tinggal kuman!"
Peluru melesat menuju peledak dan menghasilkan sebuah ledakan kecil, tetapi sangat destruktif.
Pondasi rumah pun hancur. Mengakibatkan rumah pun runtuh. Menerjang kearah para zombie yang tunggang-langgang karena reruntuhan itu. Prediksi Mas Doni tentang letak dimana titik terlemah pondasi rumah itu, ternyata terlalu akurat.
Setelah menerima beberapa getaran akibat runtuhnya rumah, tiba-tiba terjadilah longsor. Yang mengakibatkan rumah disekitarnya juga ikut terjun menerjang mereka. Sebuah bencana yang cukup hebat untuk menghambat pergerakan mereka.
Kemudian kami pun pergi menuju ke tempat yang lebih aman.
Akhirnya kami menemukan sebuah bangunan seperti sebuah sekolah dan kami berencana untuk bermalam didalamnya.
thor...sehat2 yah cuaca lagi buruk..banyak yg sakit...