Demi nama baik keluarga, Elang Abimana terpaksa menjadi pengantin pengganti, untuk menggantikan adiknya yang telah tega membuat Anjani Pratiwi hamil diluar nikah.
Sementara Cakra, justru kabur bersama sang kekasih, karena menolak bertanggung jawab pada Anjani.
Walau menikah secara on line, tapi Anjani kini resmi menyandang status sebagai istri Elang.
Bagaimana kehidupan mereka selanjutnya?
Akankah dua orang asing ini, bisa menjalani bahtera bersama, tanpa adanya perasaan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah yang menyakitkan
Elang terlihat gusar karena Anjani masih belum sadarkan diri hingga akhirnya ia memanggil dokter pribadinya.
📞"Rain, cepatlah kau ke rumah, istriku pingsan!"
📞"Istri yang mana lang, kau jangan mengada ngada, ini tidaklah lucu!" tukas dokter Rain.
📞"Sudah, pokoknya kamu cepetan ke sini gak pake lama, faham kamu!" Bentak Elang, lalu mematikan sambungan teleponnya.
Elang kembali mendekat ke arah Anjani, di lihatnya wajah istrinya lebih dekat, 'Cantik!' Batinnya. Kemudian ia memukul kepalanya sendiri." Hey Elang, apa yang ada di dalam otakmu? Ayo kembali ke rencana semula, kau harus menciptakan neraka untuk wanita pembawa sial ini, sebagai bentuk pembalasan atas ketidak adilan terhadapku!" Sungut Elang sembari mengepalkan kedua tangannya.
Hampir tiga puluh menit akhirnya dokter Rain tiba di kediaman Abimana, beruntungnya tadi di jalan tidak terjebak macet, hanya padat merayap saja. Dokter Rain di antarkan oleh pak Lee menuju kamar tuan muda mereka.
"Silahkan dokter Rain, anda sudah di tunggu di dalam oleh tuan muda!" tutur pak Lee seraya membungkuk.
Kemudian dokter Rain mengetuk pintu dan Elang langsung membukanya.
"Cih kemana saja kau ini Rain, kau sangat lelet seperti kura-kura!" Elang menarik tangan dokter Rain sambil ngedumel karena lama menunggu.
"Maafkan aku Elang, tadi posisiku masih memeriksa pasien di rumah sakit, bersabarlah! Emmhhh...kau beneran sudah menikah lang?" tanya Rain masih meragukan perkataan dari Elang tadi, lalu Elang langsung menarik tangan dokter Rain, betapa kagetnya dokter Rain saat melihat ada seorang wanita cantik tidur di atas ranjang milik tuan muda Elang.
"Jadi wanita ini sungguhan istrimu lang? Kapan kau menikah? Kenapa kau tidak mengundangku? Kau anggap aku ini temanmu atau bukan sih?" cecar dokter Rain yang terus nyerocos tanpa jeda.
"Sudah diem, jangan kebanyakan b*cot kamu Rain, segera kau periksa kondisi wanita itu!" sungut Elang mendengus kesal.
Kemudian dokter Rain memeriksa kondisi Anjani. Tidak lama kemudian Anjani tersadar, ia memijit kepalanya, tiba-tiba perutnya terasa mual, ia pun bergegas lari menuju kamar mandi.
"Hoek...Hoek!"
Anjani terus saja muntah, kepalanya terasa sangat pusing.
Sedangkan Elang dan juga dokter Rain saling menatap dalam diam.
"Lang, apa istrimu sedang hamil?" tanya dokter Rain tidak percaya.
"Hemmm!"
"Wah..wah..wah, tokcer juga kamu lang, baru nikah sudah bisa bikin anak orang bunting!" Cibir Rain
"Sudah jangan kebanyakan ngomong kamu Rain!"
"Tapi kau pintar juga memilih wanita, sangat cantik dan anggun, kalau Renata sampai tahu kau sudah menikah dan istrimu hamil? entahlah apa jadinya dia lang, secara Renata itu masih sangat menyukaimu!" kata dokter Rain membahas masalalu.
Kemudian Anjani keluar dari dalam kamar mandi sambil memijit kepalanya, jalannya pun sampai sempoyongan. Saat Anjani hampir terjatuh, dengan gerakkan cepat, Elang langsung meraih tangan Anjani, dan akhirnya Anjani jatuh ke dalam pelukan suaminya
deg
keduanya kini saling memandang, Elang sempat terkesima, ia terus menatap wajah Anjani.
"Ehem...!" dokter Rain berdehem.
Hingga membuat keduanya tersadar dan segera menjauh.
"Baiklah, kalau begitu sepertinya kehadiranku sudah tidak di butuhkan lagi di sini, dan aku tidak ingin menganggu pengantin baru yang sedang di mabuk cinta, ini aku resep kan obat untuk anda nyonya, tolong di minum sesuai aturan, perbanyaklah istirahat!" tutur dokter Rain, kemudian dokter Rain membisikan sesuatu kepada Anjani." jangan mau di ajak terus begadang oleh suamimu itu nyonya, dia itu sangatlah buas, anda bisa mati di cabik-cabik olehnya!" cetus Rain, membuat Anjani diam mematung.
Karena Anjani adalah wanita polos yang tidak tahu apa-apa, ia pun semakin takut terhadap suaminya, di lihatnya suaminya yang sedari tadi menatapnya begitu lekat, anjani langsung menundukkan kepalanya, ia pun jadi teringat perkataan dari dokter Rain barusan.
' Ya ampun, apakah tuan muda Elang akan membunuhku saat ini juga? Barusan dokter Rain bilang jika tuan muda itu sangatlah buas dan aku bisa mati di cabik-cabik olehnya! Aaarrkkhhhhh tidak, aku tidak mau mati konyol oleh manusia psikopat itu!' batin Anjani ingin menjerit.
......................
Menjelang pagi, seperti biasa Elang sudah berada di meja makan, pagi ini Anjani tidak bisa menemani suaminya sarapan bersama karena kondisinya masih belum begitu pulih, di tambah Anjani mulai kembali mengalami morning sickness, tapi sepertinya Elang tidak memperdulikannya, baginya kehadiran Anjani di rumah ini tidak ia anggap.
Saat Elang melihat makanan kesukaannya berada di atas meja makan, matanya langsung berbinar, ia pun buru-buru melahapnya. Ketika roti club sandwich mendarat tepat di lidahnya, Elang langsung menghentikan aktifitas mengunyahnya.
"Bik Atun, kok rasa sandwich ini beda ya? bik Atun kalau masak gak pernah pake standar recipe? Kemarin aku memakan roti buatan bik atun enak, kok sekarang hambar?" protes Elang karena kesal.
lalu bik Atun buru-buru menghampiri tuan mudanya.
"Maaf tuan muda, emmm hhhh..sebenarnya yang kemarin bikin roti club sandwich itu nyonya Anjani!" jawab bik Atun sambil tengok kanan dan kiri.
Brak!
Elang langsung menggebrak meja makan."kenapa bik Atun membiarkan wanita itu masak ke dapur hah? bi Atun mau saya pecat!" ancam Elang tidak main-main.
Bik Atun buru-buru mengatupkan kedua tangannya, memohon ampun atas kesalahannya." bik Atun beneran minta maaf tuan, abis nyonya yang maksa, tapi tuan muda bibi lihat sangat menyukai masakannya nyonya Anjani!" tukas bik Atun
Elang malah semakin kesal di buatnya, dan ia memilih untuk pergi meninggalkan meja makan, kini ia bergegas pergi menuju kamarnya, ketika tiba di depan pintu kamar tidurnya, Elang langsung menerobos masuk, dan tanpa sengaja ia melihat pemandangan yang sangat menyegarkan mata, dimana Anjani sedang berjalan hanya mengenakan handuk, rambutnya yang di jepit ke atas memperlihatkan lehernya yang jenjang, Elang malah melotot dan menelan Saliva nya sampai-sampai jakunnya naik turun
Sedangkan Anjani saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar, tubuhnya terasa kaku, seperti tidak bisa ia gerakkan
Entah ada magnet apa sehingga Elang memutuskan masuk ke dalam kamar dan ia menutup rapat kembali pintu kamar, ia pun berjalan ke arah Anjani, arah pandangannya tidak pernah putus terhadap Anjani.
"T tuan, b bisakah a anda keluar sebentar?"pinta Anjani terbata.
Elang malah mengernyitkan dahinya." Ngapain juga aku harus keluar? Ini kan kamarku, harusnya kamu yang keluar!" usir Elang dengan suara yang lantang.
kali ini Anjani tidak menghiraukannya, ia memutuskan untuk bergegas mengambil pakaiannya dan memakainya di dalam kamar mandi, Anjani sendiri sangat malu karena hanya mengenakan handuk di depan suaminya, meskipun keduanya sudah menjadi halal, tapi baginya masih serasa begitu asing.
"Kau mau kemana hah?" bentak Elang dengan suara bariton nya.
"ke kamar mandi tuan, saya mau memakai pakaian saya dulu!" jawab Anjani sedikit takut.
"kau tidak usah ke kamar mandi!" pinta Elang sambil memelototi Anjani, otomatis Anjani menjadi ketakutan.
"Lantas saya harus ganti dimana tuan?"
"kau ganti pakaianmu di depanku sekarang!" Cetus Elang dengan tersenyum licik.
Wajah Anjani mendadak menjadi pucat.
'Tuan, belum puas kah anda menyiksaku lagi seperti ini? Mengapa anda senang sekali menindasku? Apa salahku padamu? Aku sebenarnya tidak menginginkan pernikahan ini, yang seharusnya menikahi ku itu adalah adikmu tuan!' batin Anjani menjerit.
" Tapi tuan, saya tidak bisa melakukannya!" jawab Anjani tidak berani menatap wajah suaminya yang sedari tadi tidak pernah putus memandang ke arahnya.
"Aku bilang sekarang ya sekarang, kau berani membantah perintahku hah? Kau ingat Anjani, jika aku adalah peraturan yang harus kau taati, bukan kau bantah seperti ini, faham!" Bentak Elang yang terus mendesak Anjani.
Sambil menangis dan tubuhnya yang semakin gemetar, akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka, Anjani dengan sangat terpaksa mengganti pakaian di depan suaminya, bulir bening di pelupuk kedua matanya terus saja berjatuhan, sedangkan Elang malah memejamkan kedua matanya saat Anjani tidak mengenakan apa-apa, justru wajahnya malah berubah seperti kepiting rebus.
Dag
Dig
Dug
Bunyi detak jantung Elang mulai berdegup kencang
'Kenapa detak jantungku berdebar-debar? Aaarrkkkhhh ini gila!' Batinnya kini meronta ronta akibat ulahnya sendiri.
Bersambung...
🌹🌹🌹🌹🌹