Untuk mengukuhkan kerja sama dan persahabatan yang sudah terjalin cukup lama, Bara dan Elang menjodohkannya anak sulung mereka, Nathan dan Zea. Namun, pada kenyataannya, justru Zio-putra ketiga Baralah yang akhirnya menikahi Zea. Kok bisa?
"Gue bakal tanggung jawab, lo nggak usah nangis lagi," ucap Zio.
"Aku nggak butuh tanggung jawab kamu, pergi!" usir Zea.
Zio berdecak, "terus, lo mau abang gue yang tanggung jawab? Itu benih gue! gue yang bakal tanggung jawab!"
Tangis Zea semakin pecah," semua gara-gara kamu, aku benci kamu Zio!"
"Bukannya lo emang udah benci sama gue?"
" Aku makin benci sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embunpagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Bukan hanya Zea yang sudah kehilangan akal sehatnya. Zio pun yang sebenarnya tak terengaruh6 oleh apapun selain sebuah godaan dari Ze yang sejak tadi terus membangkitkan gairahnya tak memiliki alasan untuk melakukan hal laknat yang pasti akan menimbulkan masalah ke depannya nanti. Sebuah rasa dalam dirinya tentu tak bisa di jadikan alasan untuk melakukan sesuatu yang bisa sangat fatal akibatnya nanti.
Bagaimana ia akan menghadapi keluarganya, keluarga Zea dan terutama sang kakak nantinya jika ini ia teruskan. Ia memang di kenal brandal, tapi tak pernah ia berlaku sebejad ini. Jangankan menyentuh, melirik mereka yang sering merayunya pun ia tak sudi.
Sedikit akal sehatnya yang tersisa, membuat Zio menghentikan kegiatan yang baru saja ia mulai pada bibir wanita di bawahnya tersebut.
Entah apa yang ada dalam pikiran Zio saat ini, ia terus memandangi wajah Zea dalam kebisuan.
Zea yang memang sudah kehilangan kesadarannya, tak terima saat Zio melepas pagutan pada bibirnya, "Abang, ayo lagi! Aku udah kangen banget sama abang, aku cinta sama abang," ujarnya parau dengan wajah sayu. Tangannya membelai pipi Zio, "Mirip si Brandal, hihi! Kan abangnya!" rancaunya lagi, di susul senyum manis dari bibirnya.
"Gue Zio, bukan Nathan!" Zio kesal mendengar celotehan Zea. Ia belai pipi gadis itu dengan lembut, "Kenapa lo nggak pernah lihat gue, Ze? Apa gue seburuk itu di mata, lo? Gue emang Brandal dan akan gue tunjukkan seperti apa brandal ini sebenarnya!" tekannya. Ada nyeri yng ia rasakan saat mengatakannya.
Zio kembali melu-mat bibir Zea. Kali ini lebih panas hingga Zea yang di kuasai obat saja merasa kewalahan.
Dengan satu tarikan, Zio menarik handuk yang masih menutup tubuh gadis iti hingga kini tubuh putih bak pualam itu polos tanpa sehelai kain pun. Membuat jiwa kelelakiannya membuncah tanpa bisa lagi di cegah. Rancauan dan desa-han Zea seolah memanggilnya untuk berbuat lebih hingga ia benar-benar membuang akal dan pikiran sehatnya.
.
.
.
Esok hari....
Cahaya matahari yang mulai merangkak naik, menembus celah gorden kamar penginapan dimana semalam terjadi hal yang tak diingkan itu hingga menerpa wajah cantik Zea yang terpaksa mengerjap karena silau.
Zea melenguh, memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing sambil berusaha menguasai keadaan. Hingga satu hal ia sadari, yaitu kini ia tak memakai apapun, hanya sebuh selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
Zea langsung beringsut duduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Mendapati dirinya bangun dalam keadaan seperti ini, membuatnya ketakutan. Ia mencoba mengingat apa yang semalam. terjadi dengannya. Kenapa ia bisa bangun di tempat yang asing baginya tersebut dan dalam keadaan tanpa busana.
Zea mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh ruangan tersebut, tak menemukan siapapun hingga matanya berhenti pada benda-benda berserakan di lantai kamar, ada handuk putih yang teronggok begitu saja di lantai dan dalaman berbentuk segitiga yang ia tahu itu adalah celana milik...seorang laki-laki. Ketakutan dan kecemasan kian mendera dirinya.
Tubuh Zea semakin lemas rasanya, mencoba berpikir positif namun sangat sulit, ia memberanikan diri menilik ke balik selimut yang menutupi tubuhnya. Ia baru sadar, ada rasa yang tak biasa pada area intinya.
Luruh sudah pertahanannya, yang ia takutkan sepertinya benar-benar terjadi, matanya langsung menganak sungai, "Aaaarrgghhhh!" teriaknya frustrasi.
Siapa... Siapa yang sudah melakukannya. Zea benar-benar ketakutan setengah mati. Matanya melihat sebuh kemeja berwarna putih yang tersampir di sofa yang ada di ruangan tersebut, ia hapal betul itu milik siapa.
"Zio....nggak mungkin!" Zea menggelengkan kepalanya kuat, mencoba menepis apa yang ada dalam otaknya.
Seluruh tubuhnya terasa lemas bagai tak bertulang. Sayup-sayup, ia mendengar suara di kamar mandi. Tak siap mendapati kenyataan jika benar itu adalah Zio, Zea berusaha bangun.
Ia Terpaksa memakai kemeja itu yang kebesaran hingga menutup pahanya karena ia tak mendapati bajunya dimana-mana. Dengan sisa tenaga yang ia miliki dan menahan sakit di area sensitifnya, Zea keluar dari kamar tersebut.
Zio yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, melihat Zea mengendap hendak keluar setelah membuka pintu.
"Ze...." panggil Zio. Pria itu hanya melilitkan handuk hingga ke pusarnya.
Zea menghentikan langkahnya tepat saat membuka pintu. Air matanya semakin berderai kala ia mendengar jelas suara siapa itu.
Zea lalu menguatkan diri untuk menoleh, "Kenapa kamu lakuin ini, yo?" ucap bergetar.
"Ze...Gue...gue bakal tanggung jawab atas apa yang sudah terjadi," ucap Zio mantap. Ia memang tak berniat lari dari masalah.
Zea menatapnya sengit, lalu tanpa berkata apapun, ia melangkah keluar. Ia benar-benar merasa hancur, bahkan untuk sekedar mengumpat kepada pria yang sudah merebut kesuciannya tersebut, rasanya tercekat di tenggorokannya.
Zea berlari menuju tempat mobilnya di parkir. Beruntung, pagi itu suasana sangat sepi sekali sehingga tak ada yang berpapasan dengannya yang berpakaian ala kadarnya tersebut. Kemeja kedodoran.
Zio bergegas menyusul Zea setelah ia memakai celananya.
"Ze, tunggu Ze!" Zio mengetuk kaca mobil Zea. Namun, wanita yang masih berderai air mata itu bergeming. Ia muli melajukan mobilnya meninggalkan penginapan.
Zio berniat menyusul dengan mobilnya, namun ia sadar, semalam ia dan Zea datang hanya dengan sati mobil milik Zea, "Si al!" umpatnya frustrasi.
Zea terus melajukan mobilnya tanpa tujuan. Untuk pulang, jujur ia tak berani. Ia terus menangis dan merutuki dirinya yang sudah ternoda. Dalam kebingungan dan kebimbangannya tersebut, Zea menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Aaarrgghhhh, kenapa jadi begini...." raungnya meratapi nasib.
Ia mencari ponselnya yang di dalam tas. Dilihatnya ada banyak sekali panggilan dan pesan dari orang tuanya dan juga miranda. .
Di sela tangisnya, ponselnya berdering. Dari Miranda. Zea menghela napasnya dalam sebelum mengangkat panggilan dari sahabatnya tersebut. Ia mengusap kasar wajahnya yang basah akibat air mata yng tak kunjung berhenti.
"Ha-halo, Mir..." Zea berusaha setenang mungkin saat bicara.
"Halo, Ze! Kemana aja sih? Dari semalam aku hubungi nggak kamu angkat. Di chat juga gak balas. Semalam orang tua kamu telepon aku nyariin kamu, katanya kamu nggak pulang. Mereka cemas banget, telepon Zio juga katanya juga nggak ada jawaban, kalian kemana? Zio bawa kamu kemana semalam, kata Agas kamu sama dia pulang duluan, tapi nggak ke rumah, aku jadi khawatir," berbondong Miranda dengan sejumlah pertanyaan. Sahabatnya tersebut ikut cemas.
"Terus kamu bilang apa sama orang tuaku?" alih-alih menjawab pertanyaan Miranda, Zea justru menanyakan jawaban apa yng sahabatnya itu berikan karena itu yang paling penting saat ini.
"Ya aku bilang aja kamu menginap di rumahku dan udah tidur semalam. Aku salah, ya? Habisnya orang tua kamu khawatir banget, aku nggak tega," ujar Miranda.
"Makasih ya Mira, udah bantu aku," ucap Zea lirih.
"Iya, kamu kemana Ze? Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Miranda.
"Semalam kepalaku pusing, Zio Mengantar aku ke tempat saudara yang dekat sama club, aku menginap di sana," ujar Zea berbohong. Tak mungkin ia mengatakan yang sebenanrnya. Dirinya sendiri saja masih belum bisa menerima apa yang terjadi dan berharap ini hanyalah mimpi buruk semata.
"Oh gitu, buruan hubungi orang tua kamu gih, mereka khawatir banget soalnya," sahut Miranda yng dengan polosnya percaya dengan apa yang Zea katakan.
"Hem, thanks ya Mir," ucap Zea sebelum mengakhiri panggilan.
"Aaarrgghhhh, aku benci kamu Zio!" umpatnya. Ia benar-benar merasa hancur.
Zea menelungkupkan wajahnya di atas stir mobil, andai saja ia menuruti daddinya untuk tidak datang ke pesta itu, pasti hal menjijikkan itu tak akan terjadi, "Mommy, daddy.... Maafin Zea," gumamnya di sela tangisnya.
...----------------...
hampir tiap hari nyari2 notif barangkali nyempil /Sleep//Sleep//Sleep/
ternyata hari ini kesampaian juga
makasih kak author
sehat" selalu 😘
🌸🏵️🌼 tetap semangat 💪
Zio cinta Zea tapi Zea tunangan dgn Nathan, kakaknya Zio. Karena suatu hal, Zio tidur dengan Zea akhirnya mereka menikah.
alhamdulillah semoga terus lanjut ya kka smpai tamat...
di tunggu up beriktnyaa