Aruna Putri Rahardian harus menelan pil pahit ketika ayahnya menuduh sang ibu berselingkuh. Bahkan setelehnya dia tak mengakui Aruna sebagai anaknya. Berbeda dengan adiknya Arkha yang masih di akui. Entah siapa yang menghembuskan fit-nah itu.
Bima Rahardian yang tak terima terus menyik-sa istrinya, Mutiara hingga akhirnya meregang nyawa. Sedangkan Aruna tak di biarkan pergi dari rumah dan terus mendapatkan sik-saan juga darinya. Bahkan yang paling membuat Aruna sangat sakit, pria yang tak mau di anggap ayah itu menikah lagi dengan wanita yang sangat dia kenal, kakak tiri ibunya. Hingga akhirnya Aruna memberanikan diri untuk kabur dari penjara Bima. Setelah bertahun-tahun akhinya dia kembali dan membalaskan semua perlakuan ayahnya.
Akankan Aruna bisa membalaskan dendamnya kepada sang ayah? Ataukah dia tak akan tega membalas semuanya karena rasa takut di dalam dirinya kepada sangat ayah! Apalagi perlakuan dari ayahnya sudah membuat trauma dalam dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Kembali Ayah! 29
"ck! Dasar Xavier! Dia pikir aku ini anak kecil apa?" kesal Aruna saat dia memeriksa semua motornya.
Aruna tak begitu saja percaya kepada orang-orang di luar sana, termasuk kepada Xavier yang dia meminta untuk membelikan motor baru untuknya. Dia terpaksa meminta tolong kepada Xavier karena tak ada lagi orang di luar sini yang bisa dia mintai pertolongan. Dia tak punya teman, karena memang dia sendiri yang membatasi diri, dia tak ingin memiliki punya teman. Pada akhirnya temannya itu akan menjadi korban orang-orang tamak dan jahat. Dan mereka juga akan memanfaatkan mereka untuk mengancamnya. Karena itulah Aruna lebih memilih tidak memiliki teman.
Aruna membawa kendaraannya pergi menjauh dari Area apartemen. Dia pergi cukup jauh dengan motor bersarang barunya. Aruna bahkan bisa membuat identitas palsu untuk dirinya sendiri. Secerdas dan sepintar itulah Aruna, dan Bima seolah tutup mata dengan kemampuan Aruna. Karena dia terlalu sombong bisa mengendalikan Aruna seumur hidupnya. Di tak sadar jika anaknya itu lebih cerdik, sedangkan Bima terlalu meremehkan kemampuan Aruna.
Bima selalu berpikir jika Aruna tidak bisa apa-apa tanpa dirinya di luar sana. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya, bahkan sekarang dia seperti cacing kepanasan karena masih belum bisa menemukan keberadaannya. Bahkan Edwin dan Ramon menjadi sasaran amuk Bima. Mau bagaimana lagi karena memang mereka berdua tidak bisa menemukan jejak Aruna.
"Kau datang juga rupanya!" tanya seorang pria dengan pakaian perlente di sebuah cafe kecil tempat mereka bertemu.
"Jelas datang apa lagi Anda menawarkan harga yang mahal untuk jasa saya!" jawab Aruna datar dan membuka kacamata hitamnya membuat pria itu terkekeh.
"Katakan apa yang harus saya lakukan untuk anda?" tanya Aruna.
"Aku ingin kamu masuk ke rumah kakek tua itu dan menyamar menjadi perawatnya. Aku ingin kamu mem-bu-nuh-nya secara perlahan, agar tidak mencurigakan!" jawab pria bernama Sandy, menantu dari Mahardika, yang tak lain adalah kakek Aruna sendiri.
"Berapa lama waktu yang kamu inginkan?" tanya Aruna santai sambil menyeruput kopi hangat di depannya.
"Satu bulan, setelahnya aku akan menjadi pimpinan utama di kantor Mahardika," jawab Sandy.
"Ternyata anda menantu yang sangat tamak! Baiklah, mana data yang aku minta? Karena aku akan masuk ke sana sebagai perawat, sehingga aku harus mengetahui dasar-dasar penyakit dari pria itu. Agar orang-orang di rumah tidak ada yang curiga, benar kan? Aku harus bekerja secara totalitas!" jawab Aruna.
"Aku tak salah pilih menggunakan jasamu!" jawab Sandy dan memberikan amplop coklat yang berisi semua data yang di inginkan oleh Aruna.
"Apa ini sudah termasuk dengan data semua anggota keluarga dan kebiasaan mereka? Lalu siapa saja sekutu anda di rumah agar aku bisa menyesuaikan diri saat berada di sana!" tanya Aruna sambil melihat berkas beberapa orang yang ada di sana.
Anggota keluarga ibunya yang anggap saja tak pernah dia lihat. Karena mereka memang tak pernah di pertemukan. Sehingga semua anggota keluarga Mahardika tak akan pernah mengenalnya sebagai cucu Mahardika dari seorang Mutiara, anak kesayangan Mahardika yang lebih memilih hidup bersama pria yang dia anggap paling baik dalam hidupnya. Ah, mengingat kembali cerita ibunya membuat dia merasa kesal sendiri. Apalagi dia tahu jika ibu dan kakeknya sama-sama keras kepala. Tak berbeda dengan dirinya yang juga memiliki sifat keras kepala.
Sandy menunjuk beberapa orang yang menjadi sekutunya. Aruna mendengarkan dengan baik setiap ucapan dari Sandy. Akhirnya dia bisa berhasil masuk ke dalam rumah kakeknya. Tak mudah baginya untuk datang ke sana apalagi mengaku sebagai cucu dari Mahardika. Anak seorang mutiara yang sudah diusir dari lama.
"Kapan kamu siap untuk masuk ke rumah?" tanya Sandy.
"Kapanpun Anda memintaku aku akan selalu siap. Mau besok pun aku sudah siap!" jawab Aruna santai.
"Aku suka dengan ketegasan dan kecepatan kamu bekerja. Semoga saja kamu tidak mengecewakan saat nanti proses eksekusi!" jawab Sandy.
"Saya bekerja sesuai perintah dan juga uang yang masuk! Jika pembayaran sesuai maka perintah juga bisa dilakukan dengan cepat. Hanya saja Dari awal saya katakan kepada anda, syarat yang saya ajukan kepada Anda sebelumnya. Saya tidak mau ada yang ikut campur saat saya melakukan tindakan dan eksekusi kepada pria itu. Jika ada salah satu diantara Anda yang ikut campur, maka tak segan saya akan memberikan pelajaran atau bahkan mungkin saya akan membuka semuanya kepada Mahardika atau pengacaranya!" ujar Aruna.
"Kau tenang saja, aku percayakan semuanya padamu! Dan aku harap kamu tidak mengecewakan! Ini untuk dana awal pembayaran jasamu. Besok aku hubungi kamu dan akan ada orang yang menjemputmu untuk masuk ke rumah sebagai perawat baru! karena perawat lama sudah aku buat keluar," jawab Sandy memberikan paperbag berisi uang cash kepada Aruna.
Seperti permintaannya, Aruna meminta uang cash kepada Sandy. Aruna melihat isi dari paper bag itu kemudian mengacungkan jempol pertanda semua yang dia minta sudah sesuai. Sandy pergi dari sana lebih dahulu. Sedangkan Aruna menatap berkas yang ada di depannya.
Langkah awal agar dia bisa bersembunyi dari kejaran Bima yang pastinya tidak akan tinggal diam. Maka dia lebih memilih bersembunyi di rumah kakeknya. Dia ingin bertemu dengan kakek tua itu, karena ada pesan dari ibunya yang harus dia sampaikan. Apakah pria tua itu akan menerimanya atau tidak, dia sudah tidak peduli. Karena dia merasa hidupnya sendirian, tapi dia harus menjalankan amanah dari almarhumah ibunya.
"Baiklah, game is on Bima! Aku akan terus menjadi bayangan yang terus menghantuimu!" seru Aruna pelan menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Setidaknya aku harus mengumpulkan uang dan kekuatan setalah ini! Tunggulah aku Bima! Aku akan datang menjadi malaikat pencabut nyawa untukmu! Seperti yang kau lakukan kepada ibuku! Kau merenggut paksa nyawanya bersama dengan calon adikku yang bahkan masih dalam bentuk gumpalan da-/rah!" tangan Aruna mengepalkan kuat dan tatapannya tajam siap menerkam apapun yang ada di depannya.
calon keluarga mafia somplak 🤣🤣🤣
mau anda apa sih Pak bima ,,
herman saya/Facepalm//Facepalm//Facepalm/