"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 : Hari Pertama Menjadi Mahasiswa Baru
Senin pagi datang membawa ritme yang berbeda di kediaman Muhammad Akbar. Jika biasanya rumah minimalis bernuansa monokrom itu hening dan tenang, pagi ini ada denyut kesibukan yang terasa lebih cepat dan sedikit kacau dari biasanya.
Di dalam kamarnya, Hannah Humaira berdiri mematung di depan cermin panjang. Di lantai karpet, berserakan tiga pasang jilbab dengan warna berbeda yang tadi sempat ia coba, lalu ia lepas lagi dengan frustrasi. Hari ini adalah hari besar. Hari pertama ia menyandang status sebagai Mahasiswa Baru (Maba) jurusan Sastra Indonesia.
Hannah menatap pantulan dirinya dengan kritis. Ia mengenakan kemeja tunik kotak-kotak berwarna navy yang dipadukan dengan rok plisket hitam yang jatuh rapi. Jilbab pasmina syar'i berwarna abu muda akhirnya menjadi pilihan terakhir, melilit rapi menutupi dada. Di kakinya, sepatu kets putih baru hadiah dari Abah sebelum ia pindah ke sini tampak bersinar kontras dengan suasana kamar.
"Oke, Hannah. Kamu bukan lagi santriwati yang cuma bawa kitab kuning ke madrasah. Kamu mahasiswa sekarang," gumamnya pada diri sendiri, mencoba memompa kepercayaan diri yang entah kenapa pagi ini menguap entah ke mana.
Ada rasa gamang yang menyelinap. Selama bertahun-tahun hidup di balik tembok pesantren, dunia luar terasa seperti hutan belantara baginya. Hannah takut ia terlihat aneh. Hannah takut ia terlihat "udik" di tengah mahasiswa kota yang modis. Ia takut mempermalukan Akbar jika ada yang tahu bahwa istri direktur muda itu terlihat seperti anak kecil yang tersasar.
"Dek? Sudah siap?" suara baritone Akbar terdengar dari balik pintu, diikuti ketukan pelan yang sopan.
Hannah tersentak kaget, buru-buru menyambar tote bag kanvas besar berisi laptop dan buku catatan barunya. "Iya, Mas! Sebentar!"
Hannah menarik napas panjang, membenahi letak jarum pentulnya sekali lagi, lalu membuka pintu kamar.
Di lorong, Akbar sudah berdiri rapi dengan pakaian kerjanya: kemeja biru langit lengan panjang yang digulung sesiku dan celana bahan charcoal yang pas badan. Pria itu memegang kunci mobil, aroma parfum maskulin yang segar langsung menguar, memberi efek menenangkan bagi saraf Hannah yang tegang.
Akbar menatap Hannah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Alis tebalnya terangkat sedikit, meneliti penampilan istrinya. Hannah menahan napas, takut dikomentari negatif.
Namun, sedetik kemudian, sebuah senyum tulus terukir di wajah tegas Akbar.
"Masya Allah," puji Akbar pelan, nada suaranya terdengar bangga. "Mahasiswa baru siapa ini? Kok cantik dan rapi sekali?"
Pipi Hannah memanas seketika. Pujian Akbar terdengar sederhana, tapi entah kenapa pagi ini rasanya seperti suntikan energi ribuan volt yang meredakan kegelisahannya.
"Mas Akbar bisa aja," elak Hannah malu-malu sambil menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. "Ini nggak aneh kan, Mas? Hannah... Hannah nggak kelihatan kaku, kan?"
Akbar tertawa kecil, suara tawanya renyah menggema di lorong rumah yang sepi. "Sama sekali enggak. Kamu terlihat cerdas, sopan, dan siap belajar. Sangat pantas. Ayo, nanti macet. Mas nggak mau kamu telat di hari pertama."
Mereka berjalan beriringan menuju garasi. Pagi ini, Akbar melarang Hannah menyentuh dapur. "Hari ini fokusmu cuma kampus. Simpan tenagamu. Jangan pikirin sarapan, kita beli roti saja di jalan," begitu pesan Akbar semalam. Dan benar saja, di dalam mobil SUV hitam itu, sudah tersedia dua kotak susu cokelat dan roti gandum yang siap santap.
Perjalanan menuju kampus memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Jalanan kota mulai padat merayap oleh para pekerja dan pelajar. Di dalam kabin mobil yang sejuk dan kedap suara, Hannah meremas tali tasnya berkali-kali. Kakinya mengetuk-ngetuk karpet mobil tanpa sadar, menyalurkan rasa gugup.
Akbar, yang sedang menyetir dengan tenang, melirik gelagat istrinya lewat ekor mata. Ia tahu betul tanda-tanda kecemasan itu. Tangan kiri Akbar terulur, mengecilkan volume radio yang sedang memutar berita pagi agar suasana lebih tenang.
"Gugup?" tanya Akbar lembut, matanya tetap fokus ke jalanan, namun telinganya terpasang tajam untuk Hannah.
Hannah menoleh, lalu mengangguk jujur. Pertahanannya runtuh di depan suaminya.
"Banget, Mas. Hannah takut nggak bisa ngikutin pelajaran," curhat Hannah, suaranya terdengar cemas. "Teman-teman pasti pinter-pinter, lulusan SMA favorit kota, bacaannya buku-buku tebal bahasa Inggris. Sedangkan Hannah? Hannah cuma bisa nahwu sharaf. Hannah cuma hafal Alfiyah. Hannah takut... takut kelihatan bodoh dan tertinggal."
Lampu merah di persimpangan menyala, membuat mobil berhenti. Akbar menoleh sepenuhnya ke arah Hannah. Tatapannya dalam dan serius, namun sama sekali tidak menghakimi.
"Hannah, dengerin Mas," ucap Akbar tegas, mengubah nada suaranya menjadi mode 'kakak pembimbing'. "Jangan pernah merasa kecil karena latar belakangmu santri. Justru itu kelebihanmu yang paling mahal."
Hannah menatap Akbar bingung. "Kelebihan?"
"Iya. Kamu menghafal 30 juz Al-Qur'an, Dek. Kamu menguasai gramatika bahasa Arab yang rumit, yang orang lain butuh bertahun-tahun untuk paham," jelas Akbar penuh keyakinan. "Itu membuktikan otakmu encer. Disiplin belajarmu tinggi. Kuliah umum itu cuma soal adaptasi istilah. Mas yakin, satu dua bulan, kamu bakal jadi bintang di kelas."
Kata-kata itu menghujam tepat di hati Hannah. Ia tertegun. Selama ini ia merasa insecure, tapi Akbar justru melihat latar belakangnya sebagai senjata rahasia.
"Kamu punya pondasi adab yang kuat. Di dunia kampus yang bebas, itu pegangan yang nggak semua orang punya. Jadi, tegakkan kepalamu. Kamu istri Mas Akbar, kamu santriwati hebat. Jangan takut," lanjut Akbar sambil tersenyum meyakinkan. Tangan besarnya terulur, menepuk pelan punggung tangan Hannah yang masih meremas tas.
Hannah merasakan hangat menjalar dari tangan suaminya ke seluruh tubuhnya. Rasa insecurity itu perlahan terkikis oleh validasi nyata dari pria di sampingnya. Akbar bukan hanya menyediakan rumah dan nafkah, tapi ia menyediakan 'tulang punggung' emosional bagi Hannah.
"Iya, Mas. Makasih banyak," jawab Hannah lirih, tapi kali ini dengan senyum yang jauh lebih mantap. "Hannah akan berusaha."
Lampu hijau menyala. Mobil pun kembali melaju membelah keramaian pagi.
Lima belas menit kemudian, gerbang universitas yang megah mulai terlihat. Ribuan mahasiswa dengan jaket almamater warna-warni memadati trotoar. Suara klakson dan riuh rendah obrolan terdengar bising, menciptakan atmosfer kebebasan akademik yang kental.
"Mas turunin di lobi fakultas saja ya, biar nggak jalan jauh," kata Akbar, membelokkan setir masuk ke area kampus.
Saat mobil SUV hitam mengkilap itu berhenti tepat di depan lobi Fakultas Ilmu Budaya, beberapa pasang mata mahasiswa menoleh. Mungkin heran melihat mobil mewah berhenti di sana, atau penasaran siapa yang turun.
Hannah melepas sabuk pengaman. Jantungnya berdebar lagi, tapi kali ini debaran semangat, bukan ketakutan.
"Nanti pulangnya jam berapa?" tanya Akbar sebelum Hannah membuka pintu.
"Jadwalnya sampai jam tiga sore, Mas. Tapi mungkin ada kumpul kelompok sebentar untuk kenalan."
"Oke. Nanti kabari Mas kalau sudah selesai. Kalau Mas nggak sibuk, Mas jemput. Kalau Mas ada meeting mendadak, kamu pesan taksi online pakai akun yang sudah Mas sambungkan ke kartu kredit Mas di HP-mu, ya. Jangan naik angkot dulu, kamu belum hafal rute, nanti nyasar," pesan Akbar protektif.
Hannah mengangguk patuh. Ia merasa diperlakukan bak putri raja. Ia meraih tangan kanan Akbar, lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Aroma kulit dan jam tangan besi yang dingin menyentuh hidungnya.
"Hannah berangkat kuliah dulu, Mas. Doain Hannah lancar ya," bisik Hannah.
"Selalu. Doa Mas menyertai setiap langkahmu. Fi amanillah, Humaira," jawab Akbar lembut.
Lalu, sebuah gestur manis terjadi. Akbar meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Hannah sejenak, mengusap jilbab pasminanya dengan sayang. Sentuhan itu berlangsung singkat, tapi efeknya membuat hati Hannah penuh.
Hannah keluar dari mobil. Udara kampus yang hangat langsung menerpa wajahnya. Ia berdiri sejenak di trotoar, menutup pintu mobil pelan.
Kaca jendela mobil sisi penumpang turun perlahan. Akbar melongokkan kepala sedikit.
"Senyum, Dek! Jangan cemberut!" seru Akbar sedikit lebih keras agar terdengar di tengah kebisingan kampus.
Hannah refleks tertawa dan melambaikan tangan. "Iya, Mas!"
Ia melihat mobil suaminya perlahan melaju meninggalkan area drop-off, bergabung dengan kendaraan lain menuju gerbang keluar.
Saat mobil itu menghilang di tikungan, Hannah menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan keberanian baru. Ia berbalik badan menghadap gedung fakultas yang tinggi menjulang dengan pilar-pilar kokohnya.
Di sekelilingnya, mahasiswa lain berjalan bergerombol, tertawa, dan membicarakan mata kuliah. Hannah memang berjalan sendirian menaiki tangga lobi, tapi anehnya, ia tidak merasa sepi.
Ada "rumah" yang berjalan bersamanya. Ada keyakinan yang ditanamkan suaminya bahwa ia mampu. Ia tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi hebat. Ia cukup menjadi Hannah Humaira, santriwati yang sedang menjemput mimpi, dengan dukungan imam terbaik di belakangnya.
"Bismillah," ucap Hannah mantap.
Sepatu kets putihnya berdecit pelan di lantai marmer lobi, menandai langkah pertamanya di dunia baru. Hannah menyatu dengan kerumunan mahasiswa lain, siap menyerap ilmu, dan siap berkarya.