Warning!! Hanya untuk pembaca 21 tahun ke atas.
Lyra menjadi wanita yang haus akan kasih sayang setelah kepergian suaminya. Usia pernikahannya baru berjalan 2 bulan, namun harus berakhir dengan menyandang status janda di tinggal mati. Bertemu Dika seorang lelaki yang bekerja di daerah tempat tinggalnya. Membuat mereka terlibat dengan hubungan cinta yang penuh dosa.Tapi siapa sangka, ternyata Dika sudah menikah, dan terobsesi kepada Lyra.
Lyra akhirnya memutuskan untuk sendiri menjalani sisa hidupnya. Namun ia bertemu Fandi, rekan kerjanya yang ternyata memendam rasa padanya.
Bagaimana kisah kehidupan dan cinta Lyra selanjutnya?
Yuk simak kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Tinggal Terpisah
Bab 12
Tinggal Terpisah
Dika merasa Lyra sedikit berbeda sejak ia pulang kerja tadi. Kekasihnya itu lebih banyak diam tanpa berbicara. Bahkan ketika menyambut dirinya pulang kerja pun, Lyra hanya membukakan pintu dan langsung menuju dapur tanpa sambutan hangat seperti biasanya.
"Ada apa sayang? Apa Mas ada buat salah?"
Dika membuka obrolan. Karena sejak tadi Lyra tak bersemangat dan hanya uring-uringan meski mereka duduk bersebelahan.
"Nggak ada apa-apa Mas." Jawab Lyra. Namun gestur tubuhnya tidak mengatakan demikian.
"Apa kamu marah soal pembalut tadi siang?"
"Nggak kok."
Dika semakin yakin Lyra sedang marah. Apalagi jawaban yang kekasihnya itu berikan terkesan malas untuk menjawab.
"Pasti ada sesuatu kan?" Dika menatap Lyra dalam, meski wanita itu lebih banyak melihat ke depan televisi. "Mas minta maaf, kalau itu membuat kamu marah. Maafkan Mas ya..."
Sejujurnya, bukan soal Dika menolak membeli pembalut yang bikin Lyra kesal. Tetapi karena omongan ibu pemilik warung yang begitu mengenai hatinya karena semua ucapannya tidak lah salah.
"Mas..." Lyra ragu untuk mengutarakan isi hatinya.
"Ada apa sayang? Katakan sama Mas, apa yang membuat mu gelisah hari ini."
Awalnya Lyra ragu untuk mengatakan. Tapi ia juga ingin menyampaikan isi hatinya.
"Apa nggak sebaiknya Mas tinggal kembali ke rumah Dinas Mas sendiri?"
Dika terkejut tiba-tiba Lyra memintanya demikian. Raut wajahnya berubah kesal. "Kenapa?" Tanya Dika dingin. Ada nada kemarahan dan kekecewaan disana.
Lyra menarik napas dalam dan menghembuskan sedikit berat.
"Mas, kita nggak bisa menutup mata dan telinga selamanya dengan omongan tetangga sekitar. Apa yang mereka katakan benar loh Mas. Dan aku nggak bisa membantah untuk membela diri karena salah."
"Aku nggak peduli dengan omongan mereka!"
"Tapi aku peduli Mas! Aku malu dan sedih selalu di gunjingkan orang-orang."
Dika beranjak berdiri sambil berkacak pinggang. Ia jadi kesal kini Lyra terprovokasi ucapan tetangga mereka.
"Jadi kamu lebih peduli mereka dari pada aku?!"
"Bukan begitu Mas. Mas tahu kan apa yang kita lakukan selama ini salah?"
"Kenapa? Apa kamu menyesal sekarang?!"
"Sudah terjadi Mas. Dan aku hanya ingin memperbaikinya sedikit. Rumah dinas Mas juga nggak jauh. Kita hanya bersebelahan." Ucap Lyra dengan wajah bersedih.
Lyra menunduk lemah. Keinginan untuk kembali tinggal sendiri sepertinya tidak akan bisa. Lyra mencoba untuk menjaga hubungan baik dengan tetangga seperti dulu, sebelum ia dan Dika mulai menjalani hubungan sepasang kekasih.
Tinggal serumah pada awalnya pun bukan keinginan Lyra. Hanya karena Dika pernah tertidur tanpa sengaja saat membantu Lyra memperbaiki selang tabung gas yang bocor di malam hari, Dika jadi sering main ke rumahnya di malam hari. Menghabiskan waktu menonton televisi bersama sampai tengah malam dan ketiduran. Lalu Dika sering meninggalkan pakaian kotor saat ia ketiduran sehingga Lyra membantu mencucikan pakaiannya. Lama kelamaan Dika lebih sering menginap. Dan kini hampir semua barang-barang Dika di rumah dinasnya berpindah ke rumah kontrakan Lyra.
"Pokoknya aku nggak setuju! Terserah orang mau bilang apa?! Aku nggak meminta makan pada mereka kok! Sebentar lagi kita juga akan segera menikah. Kita akan pindah dari sini setelah menikah nanti, dan kamu bisa hidup dengan tenang nanti."
Dika keras kepala, tetap pada pendiriannya. Lyra pun terpaksa harus menyerah pada keinginannya dan harus menahan hati untuk beberapa bulan lagi.
-
-
-
Ucapan Desi malam itu terus terngiang di kepala Novia. Novia memang memiliki ribuan follower meski tidak begitu aktif di media sosial. Tapi ia sudah lama tidak pernah lagi membuka media sosialnya. Dan merasa itu tidak penting karena Dika juga melarangnya.
Tetapi entah mengapa, malam itu Novia ingin melihat-lihat beberapa media sosial. Banyak permintaan pertemanan menumpuk, juga tag dari beberapa teman yang ia kenal. Novia menyetujui satu persatu permintaan pertemanan setelah mengamati profil mereka. Setelah itu, barulah Novia menggulir berandanya.
Ternyata dunia maya sudah jauh berkembang pesat dari beberapa tahun yang lalu. Hanya bermodal sering posting dan mengupload video, seseorang sudah bisa menjadi konten kreator. Bahkan ada siaran langsung yang lebih menjanjikan untuk mencari uang tambahan.
Beberapa waktu Novia larut dalam media sosial. Ia pun jadi teringat kalau Dika juga memiliki media sosial dan iseng ingin mengintip media sosial milik suaminya itu.
Novia tidak meninggalkan jejak setiap melihat unggahan Dika. Tapi melihat postingan yang baru-baru, Novia merasa ada yang berbeda. Mulai dari tata ruang sebagai background Dika berfoto, kursi yang ia duduki, juga cangkir bunga-bunga yang suaminya itu pegang karena Novia merasa tidak pernah membelikan Dika cangkir seperti itu. Meski Dika berfoto sendiri, tapi Novia tetap merasa aneh. Apalagi jendela teras yang Novia yakin itu bukan rumah dinas Dika.
Deg!
Tiba-tiba perasaannya tidak nyaman. Wa tengah malam yang hilang tanpa jejak kembali menghantui Novia setelah melihat foto-foto Dika barusan. Firasatnya pun mengatakan ada yang salah. Dan rasa gelisah memaksa Novia untuk mencoba menelepon Dika saat ini juga meski ia tahu, Dika pernah melarangnya menelpon di atas jam 9 malam jika tidak ada hal penting yang mendesak.
Tuut...! Tuuuuut...!
Panggilan tersambung meski tidak di angkat. Novia menggigit ujung kuku jarinya dalam perasaan gelisah menunggu panggilannya di angkat.
-
-
-
"Triiing...! Triiing...!"
"Mas... Ahh!"
"Triiing...! Triiing...!"
Dika tengah memandu kasih dan hampir berada di puncak bersama Lyra ketika handphonenya berdering.
"Triiing...! Triiing...!"
"Mas, handphone... uhh..."
Namun Dika yang sedang kepalang tanggung tak ingin menyudahi hasratnya berhenti di situ saja. Dika terus memacu menggoyangkan pinggulnya dan membuat desahan-desahan hangat keluar dari mulut Lyra. Handphone yang berdering berkali-kali ia abaikan demi kepuasan diri. Hingga lenguh keras pun keluar bersamaan benih-benih miliknya. Dan tidak lama, ia pun ambruk di samping Lyra.
"Triiing...! Triiing...!"
"Emm... Mas, handphone." Ucap Lyra pelan, karena napasnya masih terengah-engah.
"Ck! Siapa sih?! Ganggu saja!"
Dika berdecak kesal lalu beranjak bangun meskipun malas. Tanpa sehelai benang pun ia menuju meja rias karena handphonenya terletak disana.
Dika melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Seketika tubuhnya membeku dan salivanya sulit di telan.
"Siapa Mas?" Tanya Lyra yang penasaran melihat Dika terdiam dan hanya menatapi layar handphonenya.
"Ibu." Jawab Dika singkat.
Dika lalu memakai pakaian yang telah berserakan di lantai dengan cepat.
"Mas mau kemana?" Tanya Lyra, karena tidak biasanya Dika setelah berhubungan badan dengannya memakai pakaian kembali.
"Mas mau nelpon ibu di luar sebentar. Sekalian cari angin segar. Kamu istirahat saja, sudah malam," jawab Dika tanpa menoleh kemudian berlalu pergi.
Lyra tidak menjawab maupun mengangguk. Ia hanya memperhatikan gerak gerik Dika yang ia rasa aneh menurutnya. Bukankah, ibunya Dika sudah tahu mereka pacaran dan akan segera menikah? Tapi kenapa Dika harus menelpon jauh darinya? Seperti ingin merahasiakan apa yang mereka bicarakan, pikir Lyra.
Dika pun keluar. Sesekali melihat ke belakang seperti tak ingin di ikuti. Bahkan melihat sekitar seperti tak ingin ada yang mendengar.
Lyra bersembunyi dari balik jendela ruang tamu. Meskipun pintu di tutup rapat, Lyra masih bisa mendengar samar-samar suara Dika yang sedang menelpon dari celah jendela dan kusen jendela.
"Ada apa menelpon jam segini? Kan aku sudah bilang, kalau nggak ada yang penting jangan menelpon jam segini! Ganggu waktu tidur saja! Sudah lah, besok saja tunggu aku di tempat kerja, nanti aku telepon."
Lyra menggigit bibir bawahnya. Ia segera kembali dengan langkah cepat menuju kamarnya. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa pantas seorang anak berbicara kasar seperti itu kepada orang tua, atau sebenarnya itu bukan dari calon ibu mertuanya, karena Dika mengatakan akan menelponnya besok di tempat kerja.
Kenapa harus di tempat kerja? Siapa yang sebenarnya menelpon Mas Dika? Batin Lyra.
Lyra merebahkan dirinya membelakangi sisi dimana Dika akan merebahkan dirinya disana nantinya. Ia pura-pura memejamkan mata, agar Dika mengira ia sudah tidur dan tidak ada lagi ronde ke dua malam itu.
Hasrat Lyra sudah hilang setelah mendengar pembicaraan Dika di telepon. Bahkan hatinya menjadi gelisah tidak jelas, dan memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab.
-
-
-
Bersambung...
Jangan lupa dukung Author dengan likenya please 🥺🙏
pas pulang lyra udah pergi.. kayaknya bakalan nambah Maslah deh Novia.. mending ber3 bicaranya..klo sepihak gitu nantinya badan dika dikamu tapi hati dan jiwanya di lyra