Alea Maheswari tidak pernah menyangka bahwa hidupnya yang tenang akan berakhir menjadi pion dalam permainan bisnis ayahnya. Ia dipaksa bertunangan dengan Dafin Danuar, seorang CEO dingin yang merupakan putra dari rekan bisnis keluarganya.
Bagi Dafin, kehadiran Alea adalah gangguan besar. Hatinya sudah terkunci untuk kekasih pilihan hatinya sendiri. Di mata Dafin, Alea hanyalah penghalang kebahagiaannya, sementara bagi Alea, pertunangan ini adalah beban yang harus ia pikul demi kehormatan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
vidio skandal
Setelah Audi hitam itu berhenti dengan sempurna di lobi kediaman Maheswari, Kenan membukakan pintu untuk Alea. Ia memastikan Nona Mudanya masuk ke dalam rumah dengan aman sebelum ia sendiri berpamitan untuk mengistirahatkan kendaraan.
Namun, Kenan tidak langsung menuju ke paviliun tempat para staf beristirahat. Ia melajukan kembali mobilnya keluar dari gerbang besar itu, menuju sebuah area parkir umum yang sepi di pinggiran kota. Suasana malam yang mulai turun membuat tempat itu terasa sunyi, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin yang menggoyahkan dahan pohon di sekitar.
Kenan mematikan mesin mobil, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan kabin sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu merogoh sebuah ponsel khusus dari laci rahasia di bawah dasbor ponsel yang tidak diketahui oleh siapa pun di keluarga Maheswari.
Ia menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah beberapa nada sambung, suara berat di ujung sana menyahut.
"Ya, Kenan?"
"Ini aku," ucap Kenan, suaranya kini terdengar jauh lebih tajam dan dingin dibandingkan saat ia bicara dengan Alea.
"Aku punya tugas baru untukmu."
"Katakan."
"Ikuti Dafin Danuar ke mana pun dia pergi. Pantau setiap pergerakannya, siapa yang dia temui, dan di mana dia menghabiskan waktunya. Tapi ingat, jangan sampai diketahui siapa pun, terutama oleh tim keamanannya sendiri. Dia bukan orang sembarangan."
Hening sejenak di seberang sana sebelum suara itu kembali terdengar. "Kenapa tiba-tiba tertarik pada calon suami Nona Mudamu?"
"Dia berbahaya bagi Nona Alea. Dia punya rencana sendiri untuk merusak hidup Nona, dan aku tidak bisa hanya diam menunggu itu terjadi. Laporkan padaku segera jika dia melakukan hal yang mencurigakan, sekecil apa pun itu. Terutama jika dia bertemu dengan kekasihnya, Maya."
"Dimengerti. Laporan akan masuk setiap dua belas jam."
"Bagus. Pastikan identitasmu bersih. Aku tidak ingin ada jejak yang mengarah padaku atau keluarga Maheswari."
Kenan mematikan sambungan telepon itu. Ia menyandarkan punggungnya ke jok mobil, menatap layar ponsel yang perlahan meredup. Sebagai seorang bodyguard, tugas utamanya adalah menjaga keamanan fisik Alea. Namun, bagi Kenan, melindungi Alea berarti juga melindungi masa depannya dari pria seperti Dafin.
Ia tahu ia sedang bermain api. Jika Arkan Maheswari tahu ia sedang menyelidiki calon menantunya, mungkin saat itu juga dia akan berhenti menjadi bodyguard Alea.
......................
Di sebuah bar eksklusif yang hanya bisa diakses oleh kalangan atas, Dafin Danuar sedang duduk di sudut yang remang-remang. Di depannya, Maya tampak sedang membisikkan sesuatu sambil menggenggam tangan Dafin erat.
Dafin tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rencana busuk. "Tenang saja, Maya. Hari Sabtu nanti, Alea akan tahu rasanya dipermalukan di depan ribuan mata. Dan saat itu terjadi, Papa tidak akan punya pilihan selain membatalkan semuanya."
Di luar gedung bar tersebut, sebuah motor hitam terparkir di kegelapan. Pengendaranya, yang mengenakan helm full-face gelap, baru saja mematikan mesinnya dan mulai mengaktifkan kamera jarak jauh. Perang dingin baru saja dimulai, dan Kenan adalah orang pertama yang menarik pelatuknya.
......................
Hari yang paling ditakuti Alea akhirnya tiba. Hotel bintang lima milik keluarga Danuar telah disulap menjadi sebuah istana bunga. Ribuan mawar putih dan lili menghiasi setiap sudut Grand Ballroom, menciptakan aroma harum yang bagi Alea justru terasa memuakkan.
Di dalam kamar suite mewah yang dikhususkan untuk pengantin, Alea duduk mematung di depan cermin. Gaun off-shoulder berwarna sampanye yang bertabur kristal swarovski membalut tubuhnya dengan sempurna. Wajahnya yang cantik telah dipulas riasan profesional, namun sorot matanya tetap kosong.
"Nona, waktunya sepuluh menit lagi."
Suara Kenan terdengar dari arah pintu. Kenan tampak luar biasa gagah dengan setelan jas formal hitam yang baru, namun ekspresinya jauh lebih tegang dari biasanya. Sejak tadi malam, Kenan tidak berhenti memantau laporan dari orang suruhannya.
Alea menoleh, menatap Kenan melalui pantulan cermin. "Kenan, aku takut. Rasanya aku ingin lari sekarang juga."
Kenan melangkah mendekat, berdiri di belakang kursi Alea. "Tarik napas dalam-dalam, Nona. Ingat rencana kita. Jangan tunjukkan kelemahan Anda di depan mereka. Jadilah pemenang di panggung yang mereka buat sendiri."
Alea menggenggam tangan Kenan yang berada di dekat bahunya. Genggaman yang erat, seolah Kenan adalah satu-satunya pelampung di tengah badai. "Kamu sudah dapat informasi tentang Dafin?"
"Tenang saja nona. Nona tak perlu khawatir saya akan berusaha membatalkan semua ini"
Ketukan keras di pintu memutus percakapan mereka. Arkan Maheswari masuk dengan wajah penuh kemenangan. "Ayo, Alea. Jangan buat keluarga Danuar menunggu. Ini adalah hari besar bagi perusahaan kita."
Tanpa bertanya bagaimana perasaan putrinya, Arkan menarik tangan Alea untuk berdiri. Alea melirik Kenan sekali lagi sebelum ia dipaksa melangkah keluar.
Pintu Grand Ballroom terbuka lebar. Alunan musik orkestra menyambut kehadiran Alea. Di ujung karpet merah, Dafin Danuar berdiri dengan setelan jas yang sangat elegan. Wajahnya tampan, namun tatapannya tetap sedingin biasanya. Ia mengulurkan tangannya saat Alea sampai di depannya.
"Tersenyumlah," bisik Dafin di telinga Alea saat mereka berhadapan di atas panggung, cukup rendah agar hanya Alea yang mendengar. "Jangan sampai wartawan tahu kalau kamu sedang merasa terhina."
"Sama halnya denganmu, Dafin. Jangan sampai mereka tahu CEO hebat ini sebenarnya hanya boneka ayahnya," balas Alea dengan senyum manis yang dipaksakan.
Dafin mendengus sinis. Saat acara tukar cincin hendak dimulai, tiba-tiba lampu di ballroom padam sepenuhnya. Suara gumaman bingung dari ratusan tamu mulai terdengar.
Tiba-tiba, layar besar di belakang panggung yang seharusnya menampilkan foto-foto profil perusahaan mendadak menyala. Namun, bukan grafik saham yang muncul, melainkan sebuah video rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang pria dan wanita di sebuah kamar.
Seluruh tamu tersentak. Arkan Maheswari berdiri dari kursinya dengan wajah pucat. Alea menatap layar itu, jantungnya berdegup kencang.
Sama halnya dengan Dafin bukan ini yang ia rencanakan dari awal.
"apa kamu yang merencanakan ini" tanya Dafin dengan tajam
Alea menggeleng cepat. "Tidak, untuk apa aku melakukan itu. Buang-buang waktuku saja"
"Sialan"
Alea juga terkejut, apa Keenan yang merencanakan semua ini.
Video itu memperlihatkan Dafin yang sedang bermesraan dengan Maya di sebuah hotel beberapa hari yang lalu, lengkap dengan suara Dafin yang mengatakan, "Tenang saja, Maya. Pernikahan ini hanya sampah bisnis. Aku tidak akan pernah menyentuh Alea."
Skandal meledak seketika. Kilatan lampu kamera wartawan menggila. Para tamu berbisik riuh, dan Bramantyo Danuar tampak seolah ingin meledak di tempat.
Namun, Bramantyo Danuar bereaksi lebih cepat dari siapa pun.
"MATIKAN LAYARNYA SEKARANG!" teriakan menggelegar Bramantyo memecah keheningan.
Hanya dalam hitungan detik, layar itu menjadi hitam pekat. Bramantyo berlari ke atas panggung, merebut mikrofon dari tangan pembawa acara yang gemetar. Wajahnya merah padam.
"Hadirin sekalian, mohon tenang!" suara Bramantyo menggema. "Mohon maaf atas gangguan teknis barusan. Tampaknya ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mencoba merusak aliansi keluarga Danuar dan Maheswari dengan video rekayasa. Kita semua tahu betapa jahatnya teknologi saat ini."
Bramantyo menatap tajam ke arah para wartawan. "Keamanan kami sedang melacak pelaku peretasan ini. Jangan terkecoh oleh sabotase murahan. Acara... TETAP DILANJUTKAN!"
Arkan Maheswari, meski tangannya gemetar karena marah, segera naik ke panggung dan berdiri di samping Bramantyo. "Benar! Kami tidak akan membiarkan sabotase ini menghentikan komitmen keluarga kami. Sesi tukar cincin akan dimulai sekarang juga."
Alea menatap ayahnya tidak percaya. Video rekayasa? Dia tahu itu asli. Dafin pun tahu itu asli. Tapi demi saham dan kontrak, kedua orang tua mereka memilih untuk menutup mata dan memaksanya tetap berdiri di sana sebagai pajangan yang dipermalukan.
"Pa... tapi..." bisik Alea dengan suara serak.
"Diam, Alea. Pasang cincinnya atau Papa hancurkan hidupmu malam ini juga," desis Arkan tepat di telinga putrinya sambil tetap tersenyum ke arah kamera wartawan.
Di sisi panggung, Kenan mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin sekali naik ke sana, menarik Alea pergi dari sandiwara menjijikkan ini. Namun, ia melihat kode dari Alea sebuah gelengan kepala kecil yang sangat lemah. Alea tahu, jika Kenan bergerak sekarang, Kenan akan celaka oleh pengawal Arkan yang lain.