Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Perawat Pribadi Tuan Baek
...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...
Aku bohong.
Aku melihat setiap lekuk tubuh telanjang Quinn yang menggoda itu.
Aku bohong karena aku enggak mau dia tahu. Kalau dia tahu aku melihat dia telanjang, dia mungkin bakal mencoba merayuku demi kebebasannya. Dia tawanan aku. Dan hubungan kami cuma sebatas itu.
Setelah mandi, aku pakai celana hitam, kemeja putih, dan rompi. Aku enggak repot-repot pakai jaket karena aku enggak berniat meninggalkan penthouse.
Sambil menyelipkan pistol Glock ke pinggang belakang celanaku, aku menghela napas dan keluar dari kamar.
Waktu Vloo mengantar barang-barang Quinn, aku suruh dia sekalian belanja, biar cewek itu punya bahan-bahan buat masak. Aku sudah mengamati dia cukup lama, buat tahu apa yang dia butuhkan untuk menyiapkan hidangan bintang lima.
Waktu melewati kamar Quinn, aku perhatikan pintunya tertutup dan aku enggak dengar apa pun dari dalam.
Aku turun ke bawah. Begitu sampai ruang tamu, mataku langsung tertuju ke semua siaran langsung dari rumah besar keluarga Musielak. Aku ambil remote dan naikkan volumenya.
“Aku enggak bisa lapor ke polisi,” kata Tanoko ke pembantu rumah tangganya, air mata mengalir deras di wajahnya. "Kita enggak bisa ngelakuin apa pun yang membahayakan nyawa Quinn. Dia putriku!” teriaknya.
“Kita harus lakuin sesuatu,” seru Sarrah.
Melihat keluarga Musielak hancur pelan-pelan itulah yang aku mau. Sekarang mereka merasakan penderitaan yang dulu harus aku tanggung. Sesaat, ingatan tentang Naveen yang pernah memanggil aku tua, melintas di kepalaku.
Aku merasakan kehadiran Quinn. Mataku terbuka dan langsung menatap dia. Dia sudah bersih. Dia pakai gaun lain, warna krem dengan bunga hitam besar di tengah roknya.
Wajahnya tegang. Matanya masih bergetar karena takut.
Walaupun tikus kecilku ketakutan, dia tetap angkat dagunya dan menatapku.
"Kamu bilang, aku harus jaga tempat ini supaya tetap bersih, tapi ada beberapa hal yang enggak bakal bisa aku lakuin selama empat minggu ke depan."
Oke.
Dia masih dalam masa pemulihan.
Begitu aku tatap dia, lidahnya keluar membasahi bibirnya. Dia melirik ke arah dapur sebelum balik menatap mataku.
Memasak jelas bukan jadi masalah.
Dia bisa duduk sambil memasak masakan paling rumit sekalipun.
Sekali lagi aku enggak menjawab. Tatapanku turun dari matanya, menyusuri tubuhnya dari atas sampai bawah.
Quinn mulai mainkan ujung gaunnya, lalu akhirnya melingkarkan lengan ke tubuhnya sendiri, mencoba agar tetap tenang.
Tatapanku kembali ke TV. Aku lihat pembantu rumah tangga itu menangis di dapur. Enggak ada tanda-tanda Tanoko.
Pandanganku pindah dari satu siaran ke siaran lain, sampai akhirnya berhenti di kamar Quinn yang kosong.
Ya, karena aku sudah menangkap tikus kecil itu. Sekarang aku enggak perlu lagi mengawasi dia dari jauh.
Aku balikkan perhatianku ke Quinn. Napasnya makin cepat. Keringat muncul di dahinya, dan wajahnya pucat lagi.
“Duduk,” geramku.
Dia maju, lalu duduk di sofa yang paling jauh dari aku.
“Ada perawat yang bakal periksa kesehatan kamu,” lanjutku. Mataku tetap ke Quinn. “Sampai Nabilla ngijinin kamu pergi, satu-satunya hal yang kamu lakuin cuma masak.”
Aku agak terkejut waktu tikus kecilku cukup berani buat bertanya, “Terus … aku harus ngapain dengan sisa waktuku?”
Sudut bibirku naik, dan aku hampir tertawa lepas.
"Kamu di sini bukan buat senang-senang, Tikus Kecil."
Dia miringkan kepala sedikit.
Aku berdiri dan melangkah mendekat, sampai posisiku lebih tinggi dari dia dan dia harus menengadah.
Aku ulur tangan ke wajahnya, dan aku lihat jelas bagaimana dia tersentak saat jariku mengusap lekukan rahangnya.
"Pernah lihat kucing main sama tikus?"
Quinn menggeleng. Matanya berkilat karena takut. Aku harus hati-hati. Aku mulai menyukainya.
"Mereka enggak langsung membunuh tikusnya. Mereka nyiksa dulu."
Jariku turun ke leher Quinn, menemukan denyut nadinya yang berdebar kencang.
"Menggigit di sini .…"
Aku eratkan cengkeraman di lehernya, cukup untuk membuatnya terengah.
"Menggigit di sana ...."
Waktu aku mengangkat dia berdiri sambil pegang lehernya, Quinn mencengkeram pergelangan tanganku dengan dua tangannya.
Bibirnya terbuka sedikit, napasnya panas dan terengah. Aku menunduk sampai napas ketakutannya menyentuh bibirku, lalu aku berbisik, “Waktu si tikus akhirnya memohon ampun, kucing bakal nyabik kepalanya.”
Pintu lift terbuka.
Aku langsung melepas Quinn.
Aku menoleh dan lihat Vloo masuk membawa belanjaan. Nabilla mengikuti di belakangnya, bawa tas medis.
“Kayaknya semua yang bos minta sudah lengkap,” kata Vloo sebelum bawa bahan makanan ke dapur.
“Taruh aja di meja itu,” perintahku.
Tatapanku pindah ke Nabilla.
"Kamu bisa periksa dia di sini. Di ruangan ini."
Wajah Nabilla tetap datar waktu dia mendekat ke Quinn, yang masih gemetar.
“Kamu udah minum obat?” tanya Nabilla.
“Belum.” Mata Quinn melirik ke aku. “Ada di dapur. Di rumah aku."
"Vloo," geramku.
Dia langsung balik lagi ke ruangan.
"Iya, bos?"
"Pergi ke rumah Musielak dan bawa obat buat Quinn."
“Baik, bos.”
“Aku bakal ambil sampel darah,” kata Nabilla ke Quinn.
Aku memperhatikan saat darahnya diambil dan tanda-tanda vitalnya diperiksa.
Nabilla menatapku lalu bergumam, “Aku perlu cek bekas jahitan operasinya.”
“Kalau gitu, periksa,” jawabku datar.
Mata Nabilla pindah ke Quinn sebelum dia bilang, “Tolong angkat gaun kamu.”
Aku sama sekali enggak kasih mereka privasi, dan aku hampir nyengir waktu melihat Quinn ternyata pakai celana dalam hitam lagi.
Nabilla mengecek lukanya lalu berkata, “Lukanya sembuh dengan baik. Kamu bisa tutup lagi.”
Dia masukkan semua alatnya ke tas dan kembali menatapku. “Dua bulan lagi dia harus ke klinik buat biopsi ginjal. Aku enggak bisa lakuin prosedur itu di sini.”
“Kita urusin nanti pas waktunya,” jawabku.
“Tanda-tanda vitalnya normal … mengingat kondisinya ....” katanya. Aku angkat alis, dan dia langsung jelaskan, “ ... detak jantungnya tinggi dan tekanan darahnya rendah. Dia perlu makan dan istirahat.”
Aku sadar Nabilla ingin bicara lebih banyak, jadi aku bergumam, “Apa lagi?”
“Kesehatan mentalnya sama pentingnya dengan fisiknya, Tuan Baek. Ini masa kritis pascaoperasi, dan tubuhnya bisa aja menolak ginjal itu.”
Jadi intinya, aku enggak boleh menyiksa Quinn dengan cara apa pun selama tiga sampai enam bulan ke depan?
Setan.
Aku menatap perawat itu sampai dia kelihatan gelisah, lalu dia berbisik, “Ini cuma menurut medis, Tuan.”
“Berapa lama lagi sebelum dia bisa lakuin hal-hal dasar, seperti pekerjaan rumah?” tanyaku.
“Oh, dia bisa mulai dari tugas ringan, lalu setelah empat minggu, sebagian besar aktivitas bisa dilanjutin.”
Sambil melambai ke arah lift, aku bilang, “Makasih, Nabilla. Kabari aku hasil tes darahnya.”
“Baik, permisi Tuan,” katanya sambil melirik Quinn yang masih duduk di sofa dengan kepala sedikit menunduk.
Aku memperhatikan Nabilla pergi dari penthouse, lalu pandanganku kembali ke Quinn dan aku perintahkan, “Bikin sesuatu buat dimakan.”
Dia menatapku sebentar sebelum berdiri dan jalan ke dapur. Aku dengar suara lemari dibuka-tutup, mungkin dia sedang menghafalkan letak barang-barang.
Saat aku menengok, aku lihat dia ambil beberapa pisau dari wadah, dan dia menatap salah satu pisau yang dengan gampang bisa saja menggorok leherku.
Sambil tertawa kecil, aku mendekat.
Quinn terkejut dengar suaraku dan langsung melirik.
Suaraku rendah, ada nada geli sedikit waktu aku bertanya, “Lagi mikirin cara bunuh aku, ya Tikus Kecil?”
“Emangnya itu bakal ngubah situasi aku?” tanyanya, berani. “Toh, anak buah kamu tetap bakal bunuh kami, kan?”
Sudut bibirku naik saat aku berhenti enggak jauh dari dia. “Oh, tikus kecil .…”
Sebelum dia sempat ambil napas lagi, aku menyambar pergelangan tangannya dan memutar tubuhnya, sampai punggungnya menempel di dadaku.
Mata pisau yang tajam itu berbalik menempel di denyut dadanya yang berdebar kencang.
Sambil menundukkan kepala, aku berbisik, “Kamu enggak bakal bisa bunuh aku, mengerti!”