NovelToon NovelToon
Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: MamGemoy

Bertemu setelah berpisah selama bertahun-tahun. Sahabat yang pernah mengisi ruang di hatinya. Pertemuan yang tak di sangka akan membuat jalan baru dalam kehidupannya yang kelam.

Sosok pria inilah yang dulunya membuat Rindu Nyaman.

Setelah mereka bertemu lagi, kini Ardian ingin mendapatkan Cinta Rindu secara utuh. Setelah dia terlambat menyadari cinta itu. Ardian berusaha untuk membuat Rindu kembali jatuh cinta padanya.

Status dan masalah yang berat, membuat Rindu ragu untuk membuka hatinya kembali.

Akankah persahabatan mereka berubah menjadi hubungan Asmara yang indah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MamGemoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan Rindu

***

Ardian menurunkan tubuh Rindu perlahan di depan wastafel. Wanita itu kemudian berbalik menghadap cermin. Dengan setengah melotot dia melihat sesuatu yang mengejutkan. Terdapat beberapa tanda kemerahan di lehernya. Lalu dia mendelik pada Ardian melalui cermin persegi itu. Seperti baru saja ketahuan melakukan kesalahan, Ardian menggaruk lehernya yang tidak gatal dan menyengir.

"Apa ini, Ardi?" tanya Rindu sinis.

"Itu, itu … maaf, Sayang. Aku khilaf," jawabnya merasa bersalah, semalam Ardian tak bisa mengendalikan diri.

Kemudian Rindu mengintip ke dalam bajunya. Sedikit lega, untung saja Ardian tak melakukan di bagian sana. Dia sendiri heran, kenapa tidurnya tidak terganggu sama sekali.

"Aku nggak sadar, Sayang. Mungkin itu terjadi ketika aku tidur." Ardian memberi alasan.

"Kamu ini! Mana ada orang tidur berbuat aneh-aneh." Rindu masih menatap dari pantulan cermin. "Setelah ini aku nggak akan mau lagi nginap di sini," tatapan tajam menusuk mata, pria itu bergidik ngeri.

"Maafkan aku, Sayang. Aku janji nggak akan terulang lagi."

"Satu hal lagi. Hilangkan panggilan itu, orang akan salah paham jika mendengarnya."

"Baiklah." Jawaban Ardian lemah.

"Sudahlah, keluar sana. Aku mau mandi!"

"Kamu nggak marah?"

"Errggmm …." Rindu mengerang dengan mata tajamnya.

Pria itu menyengir, serba salah. "Ok, Sayang. Muach …." Ardian melayangkan ciuman jauh melalui pantulan di cermin. Lalu segera keluar dari sana.

"Ardian …!" pekik Rindu kesal. Lalu menggeleng dan tersenyum tipis, tanpa Ardian lihat.

Pintu kamar mandi Ardian tutup, dia pun keluar dari kamarnya. Menuju dapur menyiapkan sarapan.

Yang sebenarnya terjadi semalam adalah, ketika Ardian terbangun pagi sekali. Saat melihat wajah Rindu yang tertidur pulas dalam dekapannya, saat Itulah dia melancarkan aksinya. Tanpa sadar Ardian tergoda untuk menciumi wajah, bibir serta leher Rindu, dan ketika kepalanya akan menelusup ke dada montok Rindu, Ardian pun tersadar. Dengan cepat dia berlari ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.

***

Ardian menghentikan kegiatan memasak saat menerima panggilan telepon dari Eja—asistennya.

"Kamu urus saja sebagaimana seharusnya, ini pekerjaan mudah. Jika dia berani menyebarkan berita yang merugikan, layangkan saja gugatan dan minta ganti rugi."

"Haruskah kita buat dia klarifikasi, Bos?"

"Terserah saja, jika itu diperlukan, lakukan. Ini hari minggu, jadi biarkan aku menikmati hari liburku."

"Tidak biasanya, Bos."

"Kali ini berbeda. Mulai sekarang weekend adalah waktu istirahatku, jangan berikan pekerjaan apapun untukku."

"Baiklah, Bos. Aku tutup dulu."

"Eemm."

Ponsel di tangan dilempar begitu saja ke meja. Kemudian melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi.

Rindu yang baru selesai mandi langsung menuju dapur. Dia telah mengenakan setelan yang dikirim atas perintah Ardian semalam. Ardian mulai menyalakan api dan mulai menggoreng telur mata sapi, dan Rindu terlihat mendekat hendak membantu.

"Ada masalah di kantor?" tanya Rindu saat mereka berdiri bersebelahan. Dia sempat mendengar sedikit percakapan Ardian tadi di telepon.

"Hanya masalah kecil, bukan tugas CEO, mereka bisa mengurusnya."

"Oo …."

Ardian lalu menoleh dan memberi senyuman manis pada Rindu. "Tunggulah di meja makan, sebentar lagi sarapan siap."

"Nggak mau aku bantu?"

"Nggak usah, Sayang. Aku akan melayanimu hari ini," ucapnya teduh.

Rindu mendelik. "Oo … baiklah." Dia pun pergi menuju ruang tamu, sekilas tampak senyuman tipis di sudut bibirnya.

Sambil menunggu Rindu menyibukkan diri dengan media sosialnya. Melihat-lihat apakah ada hal menarik hari ini. Ketika dia terhenti di sebuah postingan, sontak membuat Rindu kaget. Dia membaca caption yang terdapat videonya dan Ardian tengah viral.

'CEO perusahaan besar menggandeng kekasih!—Menolak banyak wanita selama bertahun-tahun. Ternyata pria sukses ini lebih tertarik dengan penyanyi kafe. Siapakah wanita itu?'

Walaupun wajahnya tersorot tidak begitu jelas, tapi beberapa komentar menyebutkan bahwa dia adalah penyanyi di cafe itu. Kebanyakan komentar bertanya-tanya siapakah sang CEO itu. Rindu memeriksa kotak DM-nya. Ternyata teman-temannya telah mengirimkan pesan dari. Dari semalam Rindu mematikan semua notifikasi pada ponselnya.

Rindu membaca pesan pertama dari Dian. "Rin, itu kamu sama Ardi bukan? Kalian sudah ketemu? Aku gak mau ketinggalan berita, cepat kasih tahu aku?"

Lalu pesan dari Dimas. "Rin, kapan kita ngumpul lagi. Ardi udah ketemu kamu?"

Sekarang Tia, teman kantornya. "Rin, itu kamu kan, sama siapa?"

Dan ada juga pesan dari Astrid, rivalnya sejak lama. "Woi … selera kamu orang kaya yah, pantesan sombong."

Masih banyak lagi pesan lain dari orang-orang yang mengenalnya. Rindu mulai gelisah, tidak mau kejadian ini berimbas pada Kanaya putri kecilnya.

Ketika Ardian melihat dari jauh, jelas sekali wajah Rindu tampak gelisah. Pria itu pun meletakkan hasil masakannya di meja, lalu menghampiri.

"Rin, apa yang sedang kamu pikirkan?" Ardian mengerutkan keningnya, memandangi wajah yang sedang tertunduk melihat layar telepon, Rindu terdiam. "Kamu sudah melihatnya?"

Rindu mengangguk pelan. Ardian mengambil ponsel dari tangan wanita itu dan meletakkannya di meja. Dia berlutut lalu menggenggam tangan Rindu erat.

"Rin, lihat aku." Ardian mengelus punggung tangan Rindu dengan lembut, mereka pun bertatapan.

"Apa yang kamu khawatirkan?" tanyanya lembut.

"Kanaya, Ardi."

"Kanaya? Itu nama putrimu?"

"Iya."

"Kenapa dengan gadis kecil itu? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ardian dan Rindu menggeleng.

"Mantan suamiku pernah mengancam akan mengambil Kanaya secara paksa jika aku … punya kekasih."

"Maksudnya apa?"

"Aku nggak tau. Dulu aku hanya ingin segera bercerai dengannya dan dia mengajukan syarat itu. Lalu aku setujui saja."

"Laki-laki bajingan! Mengancam wanita. Pengecut!" Ardian tampak sangat marah. Pernyataan Rindu membuatnya semakin membenci pria yang telah menjadi mantan suami wanita itu. Wanita yang sangat dia cintai dari dulu.

"Lalu, sekarang bagaimana? unggahan video itu telah menyebar. Bagaimana kalau dia sampai melihatnya?" Tampak bola mata Rindu telah berkabut, air bening itu hampir terjun dari pelupuknya.

"Kamu jangan khawatir, orang suruhanku sedang menghapus semua postingan. Semoga saja dia belum melihatnya. Jika terjadi sesuatu, aku akan melindungi kalian."

"Terima kasih." Mata cantik Rindu nampak sayu.

"Jangan berterima kasih, aku melakukan semuanya untukmu, untuk kalian."

Ardian mengecup punggung tangan Rindu dan mengusap pelan pelupuk mata wanita itu—cinta pertamanya.

Hidup Rindu ternyata berat, membuat Ardian sangat ingin melindunginya. Lelaki itu pun menghubungi Eja lagi dan memerintahkan untuk menghapus postingan video itu. Semula, Ardian memang tidak berniat memperpanjang masalah ini. Namun, saat ini Rindu sedang mencemaskan keselamatan putrinya. Ardian akhirnya harus mengurus ini, dan akan memastikan hal yang sama tidak akan terjadi lagi.

Bukan hanya ini saja. Apapun keadaan yang akan membahayakan Rindu dan keluarganya. Tak akan Ardian biarkan. Dia sangat tidak tega melihat wanita itu sangat ketakutan. Dia akan membuat Rindu tenang terlebih dahulu.

Ardian pun duduk di samping Rindu dan memeluknya erat. "Sssttt … tenanglah, semua akan baik-baik saja."

***

1
Lina Handayani
Semangat, Mamy. Setiap kata dan cara penyampaiannya sangat bagus 😍, pantas diacungkan jempol 👍😅🙂.
Lina Handayani
Untaian kata-katanya rapih, bagus dan sangat mendalam. Mamy, aku suka ceritanya 😅😘.
Lina Handayani
Shownya, bagus, Mam😍😘.
Wiwin Almuid77
tetap semangat dalam menulis Thor .
aku tunggu kelanjutannya....
☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya...
Bagus.. mudah di pahami...
juga menyentuh...
. selalu semangat untuk kakak author....
semoga karyamu semakin berjaya,...
💪💪💪💪☺️☺️
Wiwin Almuid77
aku suka alur ceritanya....
..
El_Tien
cerita menarik wajib baca!
Rizki Al-Mubarok
Biasa, cari reverensi 😅
Rizki Al-Mubarok
Aku dapet referensi
rinny aphrystanti
lanjut ...bikin ikutan deg deg an....
El_Tien
kenapa aku jadi ingat Ardian dan rindunya 🤣🤣🤣
MamGemoy: 👀 emm
total 1 replies
rinny aphrystanti
lanjutkan thorrtt...
Ayuk Noy
aku mampir kak🥰
Lina Handayani
Semangat, Mamy.💪💪
Siti Afifah
ikut nderekdek
Lina Handayani
Rindu, wanita yang dirindukan.😅
White Snake
"kau cinta pertama dan terakhirku" Kaya lirik sebuah lagu.
Siti Afifah
ya alloh calon ayah yg sigap
Lina Handayani
Aku datang lagi Mam😉🤗. Semangat yah, aku suka ceritanya. Sampai-sampai, aku bisa merasakan dan membayangkan isi ceritanya 😍
Siti Afifah
rindu takut ancaman mntan suami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!