Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Matikan semua layar itu sekarang atau aku yang akan menghancurkan stasiun televisinya.” Suara Damian menggelegar di dalam ruang tunggu VIP rumah sakit yang semula tenang.
Tangannya mencengkeram remote televisi hingga buku jarinya memutih dan gemetar karena amarah. Di layar datar berukuran besar itu, wajahnya muncul dalam resolusi buram namun sangat jelas dikenali. Foto itu diambil semalam di lobi rumah sakit saat ia menggendong Arka yang tidak sadarkan diri.
Judul berita di bawahnya berkedip dengan warna merah yang menyakitkan mata. Anak Rahasia Sang Sagara: Pewaris Tersembunyi di Balik Kemewahan.
Alisha berdiri terpaku di samping tempat tidur Arka. Matanya tertuju pada ponselnya yang tidak berhenti bergetar karena notifikasi pesan yang masuk tanpa henti. Berita itu telah menyebar seperti api di atas tumpahan minyak. Media sosial dipenuhi dengan spekulasi liar tentang siapa ibu dari anak tersebut.
“Mereka tahu, Damian,” bisik Alisha dengan suara yang hampir hilang.
“Seluruh dunia sekarang tahu.”
“Clarissa benar-benar melakukannya,” desis Damian sambil melempar remote ke sofa kulit. “Dia pikir dia bisa menekanku dengan cara menjijikkan seperti ini.”
“Bukan hanya itu yang harus kau cemaskan.” Alisha menunjuk ke arah jendela bawah yang menghadap ke pintu gerbang rumah sakit. “Lihat ke bawah.”
Damian melangkah ke jendela dan menyibakkan tirai sedikit. Di bawah sana, kerumunan wartawan dengan kamera berlensa panjang sudah mengepung area parkir. Lampu kilat kamera menyambar-nyambar seperti badai petir di tengah siang bolong.
Petugas keamanan rumah sakit terlihat kewalahan menahan barikade manusia yang merangsek maju.
Ponsel Damian berdering. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras. Sekretaris Utama Sagara Group.
“Tuan Damian, saham kita anjlok lima persen dalam dua jam.” Suara di seberang telepon terdengar sangat panik. “Dewan direksi sudah berkumpul di ruang rapat darurat. Mereka menuntut klarifikasi segera. Jika Tuan tidak memberikan pernyataan, mereka akan mengeluarkan mosi tidak percaya.”
“Biarkan mereka menunggu,” jawab Damian pendek.
“Mereka meminta Tuan untuk menyangkal berita itu,” lanjut sang sekretaris dengan ragu. “Mereka menyarankan agar Tuan mengeluarkan pernyataan bahwa anak itu adalah anak dari kerabat jauh atau bagian dari program amal perusahaan.”
Damian langsung mematikan sambungan telepon. Ia memejamkan mata dan menarik napas panjang.
Keheningan di dalam kamar itu terasa sangat berat. Arka masih tertidur pulas di atas ranjang, tidak sadar bahwa namanya sedang menjadi bahan pembicaraan di seluruh penjuru negeri.
Alisha menghampiri Damian dan menyentuh lengannya dengan ragu.
“Mereka benar, Damian. Kau harus menyangkalnya demi perusahanmu.”
Damian membuka mata dan menatap Alisha dengan tajam. “Kau ingin aku membuang putraku sendiri di depan umum?”
“Hanya secara formal,” sahut Alisha cepat. “Katakan saja dia bukan anakmu. Setelah badai ini reda, kita bisa mencari cara lain. Jangan hancurkan kerajaan yang sudah kau bangun dengan susah payah.”
“Dan membiarkan Arka tumbuh dengan label anak haram yang tidak diakui ayahnya?” Damian menggeleng keras.
“Tidak akan. Aku bukan pengecut seperti itu.”
“Tapi sahammu, Damian! Posisi CEO mu!” Alisha mencengkram kerah jas Damian dengan putus asa. “Jika kau mengakuinya sekarang, Clarissa dan musuh-musuhmu akan memiliki senjata untuk menjatuhkanmu selamanya. Kau akan kehilangan segalanya.”
“Aku sudah kehilangan kalian selama enam tahun,” ucap Damian tiba-tiba merendah dan penuh emosi. “Aku tidak akan menukar satu hari pun bersama Arka hanya demi angka-angka di papan bursa saham.”
Pintu kamar diketuk dengan keras. Dua orang pengawal pribadi Damian masuk dengan wajah tegang.
“Tuan, wartawan sudah berhasil masuk ke lobi utama. Kita harus segera pindah lewat pintu belakang atau memberikan pernyataan sekarang juga.”
Damian menatap Arka yang mulai mengerjapkan mata karena kebisingan di dalam ruangan. Bocah itu menatap ayahnya dengan pandangan bingung. Arka melihat ibunya yang menangis dan ayahnya yang tampak seperti singa yang siap menerkam.
“Kenapa banyak orang berteriak di luar?” Suara Arka terdengar serak.
Damian mendekati Arka dan mengusap rambutnya dengan lembut.
“Tidak ada apa-apa, jagoan. Ayah hanya perlu meluruskan beberapa hal dengan mereka.”
Damian kemudian berbalik menatap Alisha. Ia mengulurkan tangannya di depan Alisha. Telapak tangannya terbuka, sebuah undangan yang penuh risiko.
“Ikut denganku!” ajak Damian.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Alisha dengan ketakutan yang nyata di matanya.
“Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan enam tahun lalu,” jawab Damian.
Alisha ragu sejenak. Ia melihat ke arah Arka, lalu kembali menatap tangan Damian. Ia tahu bahwa melangkah keluar dari pintu ini berarti ia tidak akan pernah bisa kembali ke kehidupannya yang tenang sebagai penjahit di pesisir.
Namun, ia juga tahu bahwa Arka berhak mendapatkan keadilan.
Alisha menyambut tangan Damian. Jemari mereka bertautan dengan sangat erat. Damian menuntun Alisha keluar dari kamar perawatan, melewati lorong rumah sakit yang kini dipenuhi oleh petugas keamanan yang membuat barikade manusia.
Saat mereka mencapai lobi utama, kebisingan itu meledak. Ratusan kamera diarahkan ke arah mereka.
Suara teriakan wartawan yang melontarkan pertanyaan saling tumpang tindih menciptakan kekacauan suara.
“Tuan Damian! Apakah benar anak itu adalah anak rahasia Anda?”
“Siapa wanita di samping Anda? Apakah dia simpanan Anda selama ini?”
“Bagaimana dengan pertunangan Anda dengan Nona Clarissa Aditama?”
Lampu kilat kamera membutakan pandangan Alisha. Ia menundukkan kepala, mencoba bersembunyi di balik bahu Damian yang lebar.
Damian tidak berhenti. Ia terus melangkah dengan dagu terangkat tinggi. Ia membelah kerumunan itu hingga mencapai podium kecil yang biasanya digunakan untuk informasi rumah sakit.
Damian berhenti. Ia mengangkat tangannya untuk meminta ketenangan. Ajaibnya, ruangan itu perlahan menjadi sunyi. Semua mikrofon kini diarahkan ke mulutnya. Semua lensa fokus pada wajahnya yang keras.
“Aku akan bicara sekali saja,” ujar Damian dengan suara yang berat dan berwibawa. “Dan pastikan kalian mencatat setiap katanya dengan benar.”
Damian mengeratkan pegangannya pada tangan Alisha. Ia menarik Alisha agar berdiri tepat di sampingnya, sejajar dengannya di depan sorotan lampu.
“Foto yang kalian lihat itu memang putraku,” kata Damian tanpa ragu.
Suara gumaman kaget langsung memenuhi ruangan. Damian tidak memberi mereka kesempatan untuk bertanya.
“Dia bukan anak rahasia. Dia adalah putra mahkota Sagara yang sah,” lanjut Damian dengan nada yang menantang. “Namanya adalah Arka Sagara. Dia adalah darah dagingku, pewaris tunggal dari semua yang aku miliki.”
Wartawan mulai berteriak lagi, namun Damian mengeraskan suaranya.
“Dan mengenai wanita di sampingku.” Damian menatap Alisha sejenak dengan tatapan yang sangat dalam sebelum kembali menatap kerumunan.
“Dia bukan orang asing. Dia adalah Alisha, wanita yang selama ini aku cari. Dia adalah ibu dari putraku, dan mulai hari ini, dia adalah calon istriku.”
Dunia seolah meledak di sekitar Alisha. Ia bisa merasakan kilatan lampu kamera yang semakin menggila. Kepalanya berdenyut, namun pegangan tangan Damian memberikan kekuatan yang aneh. Ia menatap Damian dan menyadari bahwa pria ini benar-benar telah mempertaruhkan seluruh kerajaannya demi dirinya dan Arka.
Di sudut lobi, di balik kerumunan, Clarissa Aditama berdiri dengan wajah yang hancur karena amarah. Ia memegang ponselnya yang masih menyala, melihat rencana penghancurannya justru berubah menjadi panggung pengakuan cinta yang paling megah di negara ini.
Damian tidak memedulikan yang lain. Ia merangkul pinggang Alisha dengan posesif di depan semua kamera yang masih merekam.
“Konferensi pers selesai.” Tutup Damian.
Ia menuntun Alisha kembali masuk ke dalam lift di bawah pengawalan ketat. Begitu pintu lift tertutup, keheningan kembali menyergap. Alisha bersandar pada dinding lift dengan nafas yang memburu.
“Kau gila, Damian,” bisik Alisha. “Kau baru saja menghancurkan saham perusahanmu sendiri.”
“Saham bisa naik lagi, Alisha,” jawab Damian sambil menghapus sisa air mata di pipi Alisha. “Tapi harga diri putraku tidak bisa dibeli dengan uang.”
“Calon istri?” tanya Alisha dengan nada protes yang lemah. “Aku tidak pernah setuju untuk itu.”
Damian tersenyum tipis, jenis senyuman yang sudah lama hilang dari wajahnya. “Anggap saja itu strategi pemasaran yang paling efektif saat ini. Dan kau tidak punya pilihan selain mengikuti naskahnya.”
Alisha ingin membantah, namun ia melihat sinar di mata Damian yang berbeda. Bukan sinar penguasa yang angkuh, melainkan sinar pria yang akhirnya menemukan kembali apa yang paling berharga dalam hidupnya. Lift berhenti di lantai VIP.
Saat mereka keluar, mereka melihat Arka yang sudah duduk di tempat tidur sambil menonton siaran langsung di televisi kamar.
Arka menatap mereka berdua dengan mata bulatnya yang cerdas.
“Ayah bilang aku putra mahkota,” ujar Arka datar. “Apakah itu artinya aku akan punya banyak uang untuk membeli laboratorium komputer sendiri?”
Damian tertawa lepas, sebuah suara yang belum pernah Alisha dengar sebelumnya. Ia menghampiri Arka dan mengacak rambutnya.
“Kau bisa membeli seluruh tokonya jika kau mau, Jagoan,” sahut Damian.
Alisha berdiri di ambang pintu, melihat pemandangan itu dengan perasaan yang campur aduk. Badai besar mungkin baru saja dimulai, dan musuh-musuh mereka pasti sedang menyiapkan serangan yang lebih kejam. Namun, untuk pertama kalinya setelah enam tahun, Alisha tidak lagi merasa sendirian menghadapi dunia.