Rheyna Aurora adalah istri dari seorang pria yang cuek dan minim perhatian yang bernama Bagas Awangga.
Bagas bekerja sebagai Manager pada perusahaan milik sepupunya, Arlo Yudhistira adalah CEO perusahaan tersebut.
Arlo menaruh hati pada Rheyna sudah sejak lama….
Tak semudah itu hubungan Arlo dan Rheyna berjalan,karena Arlo adalah sepupu dari Bagas dan Arlo telah memiliki istri dan 2 orang putri…..
Akankah Rheyna ertahan dengan Bagas? Ataukah berpaling pada Arlo? Atau ada yang lain?
Selamat membaca dan selamat menikmati karya pertama saya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhecella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah
Setelah menyelesaikan makan malam, aku membawa Vano masuk ke kamar karena sudah waktunya Vano mengganti pempers dan memakaikan baju tidur untuk Vano.
Vano sudah mulai terlelap,aku meninggalkannya dan berbaring di kasurku sambil menonton televisi,tetapi acaranya tidak ada yang bagus,akhirnya aku mengambil ponselku dan aku teringat belum memberi tahu SAAT bahwa nasi padang yang dia kirimkan enak dan juga porsi besar hahaha.
SAAT
“Terima kasih nasi padangnya,enak dan juga porsi besar hahahaha”
Aku mengirimkan pesan pada whatsup SAAT,whatsup yang tidak pernah tertera foto profile nya,entah karena nomorku yang belum disimpan atau karena memang dia tidak memberi foto pada profile nya.
Lama tak ada balasan,jam sudah menunjukkan pukul 10 malam,akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan meletakkan ponselku di atas nakas.
Aku mendengar suara mobil Bagas memasuki garasi rumah kami,rumah kami memang bukan rumah besar yang seperti para pejabat,hanya rumah sederhana yang memiliki 2 garasi mobil dan terdapat taman kecil di tengah-tengah garasi mobil yang berhadapan langsung dengan pintu ruang tamu kami,di depan garasi yang terparkir mobilku ada kamarku dan Bagas,sedangkan di depan garasi mobil Bagas adalah dapur,dan di belakang ada taman kecil dan tempat menjemur pakaian.
Aku meraih ponselku dan melihat jam menunjukkan pukul 00.34 hampir setiap hari Bagas selalu pulang larut dan mengabaikanku,aku meletakkan ponselku kembali dan pura-pura tertidur ketika Bagas masuk ke kamar kami. Ia berjalan menuju kamar mandi,dan aku mendengar suara air bergemericik,sekitar 15menit pintu kamar mandi dibuka dan Bagas keluar kemudian mengambil baju ganti yang telah aku sediakan,ya setiap malam sebelum tertidur aku selalu menyiapkan baju untuk Bagas ganti. Aku tak pernah menyiapkan makan malam untuk dia karena pasti tidak akan dia makan. Sudah entah brp lama dia mulai tidak pernah makan di rumah. Setelah memakai pakaian dia mencium Vano dan kemudian naik ke tempat tidur dan tidur membelakangiku,sama seperti malam-malam kemarin,aku seperti tak nampak baginya.
Pagi nya,seperti biasa aku bangun pukul 05.00 sholat subuh kemudian lanjut ke pasar karena tidak ada bahan sayuran dan lauk. Sepulang dari pasar aku memberikan Vano ASI yang sudah aku pompa dan aku masukkan kedalam botol,aku bersyukur karena Vano tak rewel saat melalui masa peralihannya. Aku bisa kembali ke dapur dan memasak,dengan di bantu mbak Sari yang aku tugasi untuk bagian mencuci dan memotong sayuran serta ikan.
Setelah selesai memasak pukul 07.00 aku kembali ke kamar dan membangunkan Bagas,
“Pah ayo bangun,udah waktunya siap-siap ke kantor”
“Pahhh….” Aku membangunkannya sambil menggoyangkan pundaknya perlahan
“Apa’an sih,aku masih ngantuk” jawab Bagas kasar sedikit membentak
“Kamu gak ngantor?” Tanyaku perlahan
“Bangunin aku ntar aja satu jam lagi” katanya masih dengan mata terpejam
“Tapi ini sudah jam tujuh pah” kataku masih dengan keyakinanku untuk membangunkan Bagas
“Haduh cerewet banget sih kamu ini” kata Bagas membentakku dan kemudian berdiri dan menyenggol badanku saat berjalan ke kamar mandi
“Kenapa dia jadi kasar begini ya Allah” aku berbicara pada diriku sendiri,dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada kami,aku menyiapkan baju yang akan dikenakan Bagas untuk ke kantor dan kemudian aku keluar kamar dan menyiapkan sarapan untuknya.
30 menit berlalu dan Bagas sudah keluar dari kamar kami dan mengambil tas kerjanya yang diletakkan di meja komputer yang terletak di samping kamar kami.
“Pah ayo sarapan dulu,ini aku sudah masakin sup kacang merah dan telur kesukaan mu” aku mengajak suamiku untuk sarapan makanan kesukaan dia
“Aku masih kenyang,aku langsung berangkat aja” katanya dingin
“Owh iya udah kalau gitu pah,hati-hati dijalan ya” kataku menyembunyikan kekecewaanku
“Heem” hanya ia jawab dengan dehaman saja
Setelah menutup pagar untuk Bagas,mbak Sari masuk kerumah dan melihatku terduduk lemas di kursi meja makan,
“Non,non Rheyna gak pa pa?” Tanya mbak Sari yang melihatku meneteskan air mata
“Gak pa pa mbak Sari” jawabku sambil menghapus air mataku
“Yang sabar ya non,yang kuat” kata mbak Sari memberikan ku semangat
“Insyaallah mbak Sari”
“Yuk mbak Sari kita sarapan dulu” ajakku pada mbak Sari
“Iya non,saya sarapan di dapur” kata mbak Sari
“Sarapan disini aja mbak temani saya,sudah lama saya makan gak ada temannya mbak” kataku sedih,entah sudah berapa lama aku selalu makan seorang diri sejak Bagas pulang larut malam,bahkan pagi saat Bagas sarapan pun aku sering tak dapat menemani karena rutinitas setiap pagi Vano harus selalu meny*su.
“Tapi non…”mbak Sari nampak sungkan dengan ajakkanku
“Gak pa pa mbak Sari,kita kan sama-sama manusia,derajat kita didepan Allah itu sama” kataku sambil tersenyum
“Ba…baik non” jawab mbak Sari yang masih ragu-ragu,kemudian kedapur untuk mengambil perlengkapan makan
Mbak Sari ragu-ragu untuk duduk di dekatku,
“Duduk mbak” ajakku
“Iya non” kemudian mbak Sari duduk
“Ayo mbak makan,gak usah takut gitu” kataku sambil tersenyum
“Iya” kata mbak Sari mebalas senyumku,kemudian kami makan bersama.
“Mbak Sari gak pengen nikah lagi?” Kataku membuka obrolan kami
“Emmm,belum kepikiran saya non” kata mbak Sari
“Kenapa mbak?”
“Masih trauma non,takut dapatnya seperti yang kemarin” mbak Sari adalah korban perceraian karena KDRT hingga dia yang saat itu tengah mengandung lima bulan harus mengalami keguguran,akhirnya dia memilih untuk bercerai dan pergi ke Surabaya untuk menjauh dari mantan suaminya yang berada di Kalimantan
“Kalau mantan suami minta rujuk gimana mbak?” Tanyaku lagi
“Kata orang buanglah mantan pada tempatnya non,jadi gak boleh dipungut lagi hehehehe” kata mbak Sari sambil cengengesan
“Hahahaha mantannya sudah masuk tempat sampah ya mbak” kataku sambil tertawa
“Iya begitulah non hehehe” kata mbak Sari masih dengan cengengesannya
“Mbak Sari ini bisa aja” kataku,umur mbak Sari tak jauh berbeda denganku,hanya berjarak 3tahun lebih tua mbak Sari
Tiba-tiba samar-samar aku mendengar ponselku berbunyi,
“Mbak Sari lanjutin aja makannya,tolong nanti punya saya di ringkas aja ya mbak,saya mau angkat telepon dulu” kataku sambil berlalu menuju kamar
“Baik non”
SAAT Calling……
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam , selamat pagi sweet mama”
“Pagi” jawabku singkat
“Pagi-pagi kok kayaknya udah be-te gini? Ada apa?”
“Gak ada apa-apa” kataku masih dengan nada jutek
“Uang belanja kurang? Atau masakannya gosong? Atau kangen aku? Hahaha” katanya mulai mengarang indah
“Apa’an sih kok pake kangen segala,ketauan bininya tau rasa” kataku masih tak enak
“Ya entar aku kenalin sekalian sapa tau bisa akur kan hahahaha” katanya masih bercanda
“Ih makin ngaco aja nih orang,ngapain telpon aku pagi-pagi?mau minta sarapan?” Kataku mengejek
“Wah ide bagus tuh,kalau gitu boleh ya aku minta sarapan? Masak apa pagi ini?”
“Aku gak masak,gak boleh kesini” kataku dengan cepat
“Gak jadi kesitu deh,ntar kamu jadi tau aku siapa hahaha” katanya tertawa
“Dih pe-de banget sih,ngapain telepon? Kalau gak ada perlunya aku tutup ya” kataku malas
“Jangan jutek dong,aku mau minta maaf karena saat kamu kirim pesan semalam ponselku sudah off,kalau dirumah aku selalu mematikan ponselku karena gak pengen ada yang mengganggu waktuku dengan anak-anak” penjelasan panjang yang sedikit membuat aku iri,dan berpikir ‘seandainya Bagas seperti dia yang pandai memberikan waktu untuk anaknya’
“Bahagianya menjadi istri dan anak-anakmu” kataku lirih
“Kamu bilang apa?” Katanya
“Ah gak pa-pa” kataku mengalihkan pembicaraan
“Hei sweet mama,dengarkan aku baik-baik ya,kamu itu terlalu berharga untuk sesuatu yang tak pernah melihat kamu,kamu layak untuk bahagia,berikan waktu untuk dirimu sendiri agar bahagia,kalau kamu mau aku bisa kirimkan pengasuh untuk anakmu”
Deg jantungku berpacu lebih cepat,’jangan memperhatikan aku seperti ini,aku takut memiliki rasa yang lebih,aku manusia biasa’
Bersambung……