Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Drama terjun payung.
Cherry melirik kesal. Matanya membulat besar, kesal mendengar ejekan itu. "Nanas?? Kurang ajar banget, ya?? Ini wajah memang manis tapi nggak pakai berduri ya."
"Manis dari mananya??? Kalau manis nggak akan bikin orang emosi dari tadi." Balas Bang Dante tak kalah sengit, ia menyodorkan pulpen dan kertas itu di hadapan Cherry. "Cepaaat. Tulis nomor HP mu, sekarang..!!!Jangan banyak alasan..!!!"
Wajah Cherry cemberut, tapi tangannya tetap meraih pulpen itu meskipun dengan kasar. Gerakannya cepat ia lalu menuliskan sederet angka di atas kertas, lalu menyodorkannya kembali tak kalah kasar. "Tuh, puas kau sekarang?"
Bang Dante menyambar kertas itu, melipatnya rapi dan menyelipkannya ke saku dada seragamnya. Matanya menatap gadis itu sekilas, lalu berdeham pelan, berusaha menyembunyikan sudut bibirnya yang tak sengaja sedikit terangkat.
"Pergi dari sini..!!" Perintah Bang Dante singkat. "Kau sudah tau, kan.. Kawasan ini di buat steril karena akan ada demo terjun payung, jangan sampai ulah sembrono makhluk lain membuat celaka. Kalau kau mau bikin konten, cari tempat yang ijinnya jelas. Jangan lagi masuk area militer, apalagi toilet rusak. Bahaya."
"Idiiihh.. Anda siapa, Pak?? Jangan sok ngatur. Lebih baik kau sendiri yang laporan sama bapak-bapak tentara ini. Bisa-bisanya pedagang asongan sok ikut campur seperti dia sendiri yang jadi tentaranya." Celetuk Cherry.
Seketika jawaban itu membuat Bang Dante terbelalak, itu berarti sejak tadi gadis itu tetap tidak paham akan status dan keberadaannya disana.
Sedari tadi Cherry yang berada di dekatnya menjadi semakin kesal. Pria itu berambut gondrong dengan gaya man bun dengan kumisnya membuatnya semakin jengah.
"Menang tinggi, darah pun ikut tinggi." Gumam Cherry.
Bang Jangkar yang mendengarnya terkikik geli sampai memegangi perutnya.
"Ooooo.. J*n.............."
"Hussshh.. Ini perempuan, sabar sedikit..!!" Cegah Bang Jangkar agar sahabatnya itu tidak mengumpat. Memang nyatanya seorang Letnan Dante bersumbu pendek.
"Kalau bukan perempuan, sudah saya jambak bibirmu itu." Omel Bang Dante sampai kemudian HTnya berbunyi.
"Cendet masuk....." Suaranya.
"Puma monitor."
"Sembrani tidak bisa ikut demo karena kakinya mendadak terkilir, Puma.. Ambil alih..!!" Suara Danyon disana.
Bang Dante menepuk keningnya. Penampilannya masih berantakan, belum ada persiapan apapun juga.
"Info take off???"
"One one, zero zero..!!!!!" Jawab di seberang sana.
"A*u, satu jam lagi donk." Gumamnya.
Tak buang banyak waktu, Bang Dante segera meninggalkan tempat.
...
Tawa membahana Letnan Elang terdengar nyaring melihat sahabatnya tampil rapi namun tidak dengan 'cepol' di kepalanya, bahkan kumis pun tidak sempat di cukurnya.
"Kenapa si Sabrang????" Tanya Bang Dante kesal.
"Tadi dia jajan cilok. Nggak lihat kanan kiri, kakinya nyemplung parit." Jawab Bang Elang.
"B*****t, ada aja polahnya." Gerutu Bang Dante. Sebab insiden sahabatnya itu, ia harus menggantikan posisinya. Bukan karena tidak mampu, tapi ia sudah lelah dengan semua tingkah Letnan Sabrang.
Beberapa menit kemudian, pesawat sudah mendekati DZ, para anggota pun bersiap terjun dari pesawat bertipe long body.
"Yuk..!!!!!" Ajak Bang Dante kemudian melompat lebih dulu.
~
Pemandangan dari langit begitu indah. Nampak pemandangan dunia yang hanya mampu di nikmati seorang peterjun apalagi peterjun khusus seperti Bang Dante dan Bang Elang.
Bang Elang sudah memilih jalur pendaratannya, namun Bang Dante masih harus merekam suasana dari atas awan hingga pendaratan.
Namun, hal tak di duga terjadi. Angin kencang tiba-tiba datang. Tak ada kepanikan dari seorang Dante. Ia tetap tenang mengendalikan parasutnya. "DZ tak terlihat." Ucapnya memberi laporan.
Situasi di bawah sudah ramai menunggu Letnan Dante mendarat, setidaknya masih dalam area lapangan. Sebab pada lahan samping di sekitar area luas tertutup itu baru saja ada pemanenan tebu.
Bang Elang yang baru saja mendarat, cemas melihat sahabatnya masih berputar-putar di awan. Dirinya saja sempat kesulitan mendarat dan tidak turun tepat pada DZ karena angin yang tidak bersahabat.
Secepatnya ia melepas parasut dan mengejar Letnan Dante.
Dengan ketangkasan Letnan Dante, ia dapat menyesuaikan dengan arah angin meskipun harus dengan kerja keras yang luas biasa. Mau tak mau ia mendarat di sekitar rooftop di sisi gedung olahraga. Kakinya pun menjejak genteng hingga menendang sisa bahan bangunan yang berserakan.
braaaaakkkk..
"Aaaaaaaaaa..!!!" Pekik seseorang yang kaget melihat 'ufo' mendarat.
"Astaghfirullah..!!!" Bang Dante gugup, ia menubruk seorang gadis yang tengah berjoged di atas sana.
Melihat ada pecahan kaca dan patahan besi di samping, Bang Dante memeluk gadis itu agar tidak terluka dan melindunginya.
Semua di luar dugaan, angin menyeret parasut Bang Dante hingga mereka terpelanting dan meluncur cepat dari atas rooftop berlantai empat.
"Peluk saya yang kuat, jangan coba lepaskan..!!" Perintah Bang Dante tapi tangan kirinya tetap berusaha melindungi gadis itu.
Sebagai seorang tentara, tentu Bang Dante sudah memperhitungkan segala tindakan yang di ambilnya. Tapi gadis dalam pelukannya nyaris kehilangan kesadaran. "Kau lagi...!!" Gerutunya.
"Takuuuuutt.. Aku mau turun.. Cepat turunkan akuuuu..!!!" Teriak Cherry.
"Kalau kau tidak bisa diam, saya jimpit dan lempar kamu dari sini." Ancam Bang Dante.
Mereka semakin meluncur cepat, hingga mata Bang Dante melihat lagi ada patahan besi. Terang saja ia tidak akan membiarkan gadis itu terluka, secepatnya ia sedikit memutar arah badannya.
Jjlllbb..
"Aaaaawwwhh.." Pekik Cherry karena tangannya tergores.
"Aduuhh.. Kena tanganmu??" Tanya Bang Dante.
"Kenaaa.." Rengek Cherry dengan nada manja khas seorang wanita.
brruugghh..
Mereka berdua tiba di bawah. Para anggota secepatnya membantu Cherry. Gadis itu sampai syok hingga kemudian tak sadarkan diri.
"Laaahh.. Ini si Kinan????" Pak Riegan yang ada disana sampai kaget melihatnya.
Tak lama Bang Elang pun datang. "Ini Kinan?? Kenapa bisa ada disini?? Bukannya dia mahasiswa keperawatan?? Nonton demo juga kah, Yah?? Apa jadi relawan."
"Kinan?? Bang Dante bingung mendengarnya, tapi ia tidak ingin membahasnya sekarang. " Rawat dulu, dia pasti takut dan kaget meluncur dari atas sana." Perintahnya.
Para tenaga medis pun segera membawa Cherry ( Kinan ) ke dalam ambulans. Anggota pun sibuk membantu melipat parasut yang sobek juga sibuk dengan puing yang berserakan.
Disana Pak Riegan masih adu mulut dengan putranya hingga tidak sadar langkah Bang Dante terhenti.
"Let..!!!!" Sapa salah seorang anggota.
Bang Elang dan Pak Riegan menoleh bersamaan, tapi saat Bang Elang benar-benar mengarahkan tubuhnya.. Letnan Dante sudah memercing dan ambruk menimpanya sambil memegang perutnya.
"Astaghfirullah.. Darah???" Pekik Bang Elang kaget setengah mati.
"Ya Tuhan.. Mediiiisss... Cepat tangani..!!!" Perintah Pak Riegan.
"Kau ini kenapa, Dante. Lagak mu macam pahlawan saja. Kalau sudah begini, lemas kau sekarang." Omel Bang Elang.
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara