NovelToon NovelToon
OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

OTAK SUPER SANG DOKTER IDIOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Mobil sedan mewah berwarna hitam legam itu perlahan-lahan menepi di depan halaman lobi utama Rumah Sakit Medika Sentosa.

Pintu mobil terbuka dari dalam dengan gerakan lembut.

Arka melangkah keluar mengenakan seragam petugas kebersihannya yang sederhana.

Clara Wijaya ikut menurunkan kaca jendela mobil bagian belakang sambil menatap ke arah Arka.

"Terima kasih sudah mengantar saya pulang, Nona calon istri," ucap Arka dengan nada suara santai dan sedikit bercanda.

Wajah cantik Clara langsung merona tipis karena mendengar panggilan usil tersebut.

"Jangan besar kepala dulu, Arka," balas Clara dengan nada ketus untuk menutupi rasa malu di dadanya.

"Aku melakukan ini semata-mata karena disuruh oleh kakekku, bukan karena kemauanku sendiri."

Arka tersenyum kecil menanggapi jawaban gengsi dari wanita di depannya itu.

"Iya, saya tahu kok," jawab Arka sambil mengangguk-angguk kecil.

"Kalau begitu, hati-hati di jalan ya, Nona. Jangan sering marah-marah nanti cepat tua."

Sebelum Clara sempat melontarkan balasan omelan, Arka sudah berbalik badan dan melangkah santai memasuki area lobi rumah sakit.

Clara mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Pria itu benar-benar membuatku gila," gumam Clara pelan seorang diri di dalam mobil.

"Pak Joko, ayo kita jalan kembali ke kantor sekarang," perintah Clara kepada sopirnya.

Mobil mewah itu langsung melaju meninggalkan pelataran rumah sakit dengan kecepatan sedang.

Namun, tanpa disadari oleh mereka berdua, sepasang mata tajam sedang mengawasi kejadian itu dari balik pilar besar dekat pintu masuk IGD.

Orang itu adalah Dr. Dimas, dokter spesialis bedah senior yang terkenal arogan di rumah sakit tersebut.

Wajah Dr. Dimas tampak berkerut masam dengan rahang mengeras penuh rasa tidak suka.

"Tunggu sebentar... apa aku tidak salah lihat barusan?" gumam Dr. Dimas dengan nada suara penuh kecurigaan.

Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seorang petugas kebersihan rendahan turun dari mobil mewah keluarga konglomerat Wijaya.

Bahkan, mobil itu adalah kendaraan pribadi milik nona muda Clara Wijaya yang terkenal sangat sulit didekati oleh pria mana pun.

"Bagaimana mungkin si idiot itu bisa keluar dari mobil keluarga Wijaya?" bisik Dr. Dimas dengan dada yang mulai terbakar oleh rasa iri dan penasaran.

Dr. Dimas mengepalkan kedua tangan di dalam saku jas putihnya dengan kuat.

Selama ini, ia selalu berusaha mendekati keluarga Wijaya untuk mendapatkan dukungan finansial demi ambisinya menjadi wakil direktur rumah sakit.

Namun jangankan naik mobil pribadi, diajak bicara langsung oleh Clara saja rasanya merupakan hal yang mustahil baginya.

Kini, seorang pesuruh rendahan yang dianggapnya sebagai orang bodoh justru terlihat akrab turun dari mobil mewah tersebut.

"Pasti ada yang tidak beres dengan anak sialan itu," gerutu Dr. Dimas penuh amarah.

Ia segera melangkahkan kakinya dengan cepat memotong jalan menuju arah lobi utama tempat Arka baru saja masuk.

Arka sedang mendorong troli pembersihnya dengan santai sambil bersiul kecil menikmati suasana sore hari.

Tiba-tiba, sebuah tangan dengan kasar mencekal bahu kanannya dari belakang.

Bruuk!

"Hei, berhenti di situ kamu, Arka!" bentak suara penuh tekanan di dekat telinganya.

Arka menghentikan dorongan trolinya lalu berbalik badan secara perlahan.

Ia memasang kembali ekspresi wajah bodoh dan linglung yang menjadi ciri khas penyamarannya.

"Eh? Dokter Dimas? Ada apa ya, Dok?" tanya Arka dengan suara lambat dan terbata-bata.

Dr. Dimas menatap tajam ke arah Arka dari atas sampai bawah dengan pandangan menghina.

"Jawab pertanyaanku dengan jujur, Arka!" cerca Dr. Dimas dengan suara mendesis penuh kemarahan.

"Tadi itu kamu dari mana, hah? Dan berani-aninya kamu turun dari mobil mewah keluarga Wijaya!"

Arka mengerjap-nerjap lambat, pura-pura kebingungan mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter senior tersebut.

"Mobil mewah? Mobil yang mana ya, Dok? Saya tadi cuma disuruh bersih-bersih di luar," jawab Arka polos.

"Jangan pura-pura bodoh di depanku!" murka Dr. Dimas sambil mendorong dada Arka dengan jari telunjuknya.

"Aku melihatnya dengan mataku sendiri! Kamu baru saja turun dari mobil nona Clara Wijaya!"

Beberapa perawat dan staf administrasi yang kebetulan lewat di sekitar lobi langsung menghentikan langkah mereka.

Mereka mulai berbisik-bisik melihat Dr. Dimas melabrak Arka di tengah koridor utama rumah sakit.

"Ada apa lagi itu? Kenapa Dr. Dimas tampak sangat marah kepada Arka?" bisik seorang perawat kepada temannya.

"Entahlah, mungkin Arka membuat kesalahan besar lagi setelah dihukum di basement kemarin," jawab perawat lainnya penasaran.

Siska yang sedang membawa berkas medis di koridor seberang langsung terkejut melihat kejadian itu.

Ia segera mempercepat langkah kakinya untuk mendekati kerumunan demi membela Arka.

"Ada apa ini, Dr. Dimas?" selak Siska dengan nada suara tegas begitu sampai di dekat mereka.

"Kenapa Anda membentak-bentak petugas kebersihan di tengah lobi seperti ini?"

Dr. Dimas melirik sinis ke arah Siska yang berani ikut campur urusannya.

"Siska, jangan ikut campur urusan orang lain!" bentak Dr. Dimas tidak suka.

"Petugas bodoh ini sudah melakukan pelanggaran berat dengan mendekati tamu penting rumah sakit secara tidak sopan!"

Siska mendengus kesal mendengar tuduhan yang sama sekali tidak berdasar dari mulut dokter arogan itu.

"Pelanggaran apa? Arka kan hanya menjalankan tugasnya membersihkan area luar," bela Siska tegas.

"Tugas membersihkan luar kepalamu itu?!" seru Dr. Dimas semakin emosi.

"Mana ada petugas kebersihan yang diantar pulang naik mobil mewah seharga miliaran rupiah milik nona Clara!"

Arka menatap Dr. Dimas dengan ekspresi wajah yang tampak semakin ketakutan secara palsu.

"Dokter Dimas... saya benar-benar tidak tahu apa-apa," cicit Arka dengan suara gemetar.

"Tadi nona itu cuma menumpang lewat lalu menurunkan saya di depan gerbang karena jalanan macet."

"Alasan yang basi dan tidak masuk akal!" maki Dr. Dimas tidak percaya.

"Mana mungkin nona muda dari keluarga konglomerat mau sembarangan menumpangi seorang pesuruh rendahan!"

Siska maju satu langkah berdiri di samping Arka untuk melindungan pria tersebut dari amukan Dr. Dimas.

"Kalau Anda tidak punya bukti, jangan semudahnya menuduh orang lain berbuat curang, Dr. Dimas," kata Siska tajam.

"Bisa saja nona Clara memang kebetulan melihatnya di jalan dan memberikan tumpangan kemana salahnya?"

Dr. Dimas menatap Siska dan Arka secara bergantian dengan tatapan mata menyipit penuh kecurigaan yang mendalam.

Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh kedua orang di hadapannya ini.

"Kalian berdua ini... sepertinya ada kerja sama busuk di belakangku," curiga Dr. Dimas dengan nada suara mengancam.

"Awas saja kalau sampai aku menemukan bukti bahwa kalian mempermainkan aturan rumah sakit ini."

"Aku pastikan kalian berdua akan dipecat dengan tidak hormat dan diseret keluar dari sini!" lanjut Dr. Dimas penuh ancaman.

Arka tetap memasang senyum bodohnya di balik ketakutan palsu yang ia tunjukkan.

"Baik, Dok... saya tidak akan berani macam-macam," jawab Arka penurut.

Dr. Dimas mendengus kasar sambil melipat tangannya di dada.

"Sana, pergi! Lanjutkan pekerjaanmu membersihkan lantai toilet sebelum aku suruh potong gajimu bulan ini!" usir Dr. Dimas sinis.

"Baik, Dok. Saya permisi dulu," ucap Arka sambil mendorong trolinya perlahan meninggalkan tempat kejadian.

Siska memberikan tatapan tajam terakhir kepada Dr. Dimas sebelum menyusul langkah Arka dari belakang.

Dr. Dimas berdiri seorang diri di tengah lobi sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

"Sialan... aku tidak akan membiarkan si bodoh itu bisa mendekati keluarga Wijaya," gumam Dr. Dimas dengan senyum licik di bibirnya.

"Akan kucari cara untuk menjatuhkan harga diri pria itu dalam waktu dekat."

Sementara itu, Arka mendorong trolinya menyusuri koridor sepi menuju arah gudang penyimpanan alat kebersihan lantai bawah.

Siska berjalan cepat menyusul di sampingnya dengan napas masih sedikit memburu karena emosi.

"Arka, kamu tidak apa-apa?" tanya Siska dengan nada cemas begitu mereka tiba di tempat yang sepi.

Arka berhenti mendorong trolinya lalu menoleh ke arah Siska dengan senyum tipis yang tenang.

"Tenang saja, Siska. Bentakan anjing yang sedang marah tidak akan pernah melukai gajah yang sedang berjalan," jawab Arka santai.

Siska tertegun sejenak mendengarkan perumpamaan yang diucapkan oleh Arka dengan nada suara yang sangat berwibawa.

Lagi-lagi, Siska merasakan aura dominan yang luar biasa kuat terpancar dari diri seorang pria yang dianggap remeh oleh seluruh rumah sakit.

"Kamu ini ya... di saat orang lain ketakutan dimarahi Dr. Dimas, kamu malah sempat-sempatnya membuat lelucon," omel Siska pelan sambil tersenyum kecil.

"Buat apa takut pada orang yang sebentar lagi akan jatuh sendiri ke dalam perangkapnya?" balas Arka misterius.

[Sistem Mendeteksi Peningkatan Rasa Penasaran Sekutu Utama: Siska]

[Tingkat Kepercayaan Siska Terhadap Karakter Utama Mencapai 90 Persen]

[Membuka Informasi Tambahan Mengenai Rencana Busuk Dr. Dimas Berikutnya]

Suara notifikasi bernada datar berderik pelan di dalam kesadaran kepala Arka.

Sebuah layar transparan kecil muncul di hadapan penglihatan Arka, menampilkan data rahasia mengenai rencana manipulasi laporan keuangan rumah sakit yang sedang disiapkan oleh Dr. Dimas.

Rencana busuk itu bertujuan untuk menyudutkan direktur lama sekaligus menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalan kekuasaan Dr. Dimas di Rumah Sakit Medika Sentosa.

"Sepertinya dokter arogan itu tidak sabar ingin segera mengakhiri karirnya sendiri," gumam Arka pelan.

Siska yang mendengar gumaman itu mengerutkan keningnya karena tidak mengerti.

"Ada apa, Arka? Apa kamu bilang sesuatu?" tanya Siska penasaran.

"Tidak ada apa-apa," jawab Arka sambil menggelengkan kepalanya pelan.

"Siska, terima kasih ya karena tadi sudah membantuku menghadapi Dr. Dimas."

Wajah Siska mendadak merona merah mendengar ucapan terima kasih yang tulus dari Arka.

"Bukannya membantumu, aku cuma tidak suka melihat cara dokter itu bersikap semena-mena kepada orang lain," sangkal Siska salah tingkah sambil memalingkan wajahnya.

"Iya, terserah apa katamu," balas Arka tersenyum jahil.

"Kalau begitu, aku mau lanjut bekerja dulu sebelum Dr. Dimas benar-benar memotong gaji bulananku yang tidak seberapa ini."

Siska tertawa kecil mendengar lelucon tersebut.

"Ya sudah, sana lanjutkan kerjamu. Nanti jam istirahat kita ketemu lagi di kantin," kata Siska sambil melambaikan tangan lalu berjalan pergi meninggalkan area gudang.

Arka kembali berdiri seorang diri di dalam ruangan penyimpanan yang temaram.

Tatapan matanya kembali berubah menjadi sangat tajam menembus dinding beton rumah sakit.

Permainan catur tingkat tinggi di dalam dunia kedokteran ini baru saja memasuki babak pertengahan yang sangat menentukan.

Dan Arka sudah menyiapkan langkah skakmat terbaik untuk menghancurkan seluruh musuhnya dalam satu kali gerakan telak.

1
Shinta geol
karya yang bagus dan masuk ke dalam alur
Shinta geol
salut sama sikap thor yang tenang menguasai keadaan,saya kasih vote lah biar rame😍
Shinta geol
kasihan si arka selalu dekerjain para dokter lain nya😭
setiawan
motivasi hidup,saya kasih bintang 5
Jangkar pion
🥰😍🤩
Anton barly
saya suka karakter Thor🤗
gofur
karya yg menarik
yani
😶‍🌫️
fitri
motivasi untuk org normal biar tambah wawasan
fitri
hebat nya orang idiot tpi otak melebihi orang normal👍
Angel
sangat berkesan untuk orang nornal biar tambah semangat dalam bekerja💪
Angel
walaupun banyak yang hina tpi dia tidak runtuh sama sekali👍👍👍
Anton barly
orang idiot aja masih punya musuh,apalagi dia normal
Anton barly
orang pintar walaupun udiot masih aja punya musuh
fitri
sikap thor yang tenang menghadapi masalah👍
pricilia
jangan meremehkan orang yang memiliki kekurangan,belum tentu orang kekurangan itu di bawah batas kita,saya sadar orang normal belum tentu baik😒
clara
sangat bagus
clara
saya suka alur crita nya saya kasih vote 1 deh biar bisa lanjut baca nya😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!