Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Panggung Penghakiman
Setelah kepulangan mereka dari Rumah Sakit, rumah terasa seperti lemari es yang membekukan segala bentuk kehangatan. Bram sama sekali tidak mengajak Larissa berbicara, pria itu memperlakukannya seperti bayangan tak kasat mata.
Hingga pada sore hari berikutnya, sebuah pesan singkat dari Bram masuk ke ponselnya .
“Bersiaplah. Malam ini kita makan malam di rumah Ibu. Ada hal penting yang harus diselesaikan.”
Larissa tahu, "hal penting" itu adalah menyangkut hasil rekam medisnya. Dengan tubuh yang masih lemas dan batin yang remuk redam akibat vonis kemarin, dia hanya bisa pasrah. Ia mengenakan blus putih polos dengan rok hitam panjang, pakaian yang tanpa sengaja menyerupai busana berkabung.
Ketika akhirnya mobil mewah Bram memasuki pelataran kediaman besar keluarga Baskoro, jantung Larissa bertalu-talu dengan ritme yang menyakitkan. Rumah megah bergaya klasik Eropa milik mertuanya itu malam ini tampak lebih angker dari biasanya.
Di dalam ruang keluarga, Ibu Maya sudah duduk di atas sofa beludru. Di atas meja marmer di hadapannya, tidak ada hidangan camilan hangat seperti biasanya. Yang ada hanyalah keheningan yang menegangkan.
Begitu melihat langkah anak dan menantunya mendekat, Ibu Maya langsung menegakkan punggungnya, menatap Larissa dengan pandangan mata yang dingin dan penuh tuntutan.
"Duduk kalian," perintah Ibu Maya, suaranya mengalun rendah namun sarat akan otoritas penuh.
Larissa duduk di ujung sofa, sedikit menjaga jarak dari Bram yang memilih duduk di sisi lain dengan wajah tertunduk lesu, penuh beban, dan tampak sangat menderita.
"Jadi, bagaimana hasil tes dari rumah sakit rujukan rekan bisnis barumu itu, Bram? Ibu sengaja mengosongkan jadwal malam ini karena Ibu ingin mendengar kepastiannya langsung. Ibu sudah lelah diberi harapan palsu," ujar Ibu Maya, melipat kedua tangannya di dada sembari melempar tatapan menusuk ke arah Larissa.
Bram menghela napas panjang, dia membuka tas kerjanya lalu mengeluarkan sebuah amplop putih besar dengan kop resmi Rumah Sakit Medika Kirana. Dengan tangan yang sengaja dibuat sedikit gemetar, Bram meletakkan amplop itu di atas meja, mendorongnya perlahan ke hadapan sang ibu.
"Ibu baca saja sendiri, aku tidak sanggup mengatakannya," ucap Bram dengan suara yang serak dan dipenuhi nada keputusasaan palsu.
Ibu Maya menyipitkan mata. Dengan gerakan cepat, beliau menyambar amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas rekam medis di dalamnya.
Seketika rahang Ibu Maya mengeras, matanya membelalak lebar membaca baris kesimpulan di lembar terakhir. Lembaran kertas itu seketika dihempaskannya ke atas meja dengan suara hantaman yang keras, membuat gelas kristal di dekatnya bergetar.
"Mandul permanen?! Peluang nol persen?!" Ibu Maya berdiri dari sofanya, wajahnya memerah padam oleh amarah yang meledak-ledak.
Telunjuknya yang gemetar langsung diarahkan tepat ke depan wajah Larissa. "Jadi ini kenyataannya?! Selama ini kamu selalu beralih alasan bahwa rahimmu hanya lemah biasa, hanya butuh waktu untuk terapi! Tapi ternyata, rahimmu itu sudah rusak total! Kamu adalah wanita cacat yang tidak berguna!"
Cacian itu menghantam dada Larisa bagai gada besi. Air matanya yang sejak kemarin ditahan kini luruh, membasahi pipinya yang pucat. "Ibu, maafkan aku, aku juga tidak tahu kalau hasilnya akan seperti ini," rintihnya dengan suara yang nyaris habis.
"Jangan panggil aku Ibu! Aku tidak sudi memiliki menantu yang rahimnya kering seperti gurun pasir!" teriak Ibu Maya, suaranya melengking memenuhi langit-langit ruangan yang tinggi.
"Lima tahun! Lima tahun keluarga Baskoro menampungmu, memberikanmu kemewahan! Dan ini balasanmu?! Kamu sengaja menyembunyikan kecacatan fisikmu ini agar bisa menikmati harta anakku, iya kan?! Kamu adalah wanita pembawa sial yang mengeringkan keturunan keluarga kami! Kamu ingin memutus garis keturunan mulia Baskoro!"
Kata-kata Ibu Maya semakin brutal, menguliti habis sisa-sisa kehormatan Larissa sebagai seorang wanita. Larissa menangis tergugu, tubuhnya berguncang hebat di atas sofa.
Di tengah makian yang merendahkan itu, Larissa menatap suaminya dengan pandangan mata yang penuh permohonan.
Dia berharap, setidaknya sebagai pria yang selama ini dia lindungi akan memiliki sedikit saja nurani untuk membelanya.
Larissa membatin, andai saja pria di sampingnya ini tahu kebenaran yang sesungguhnya. Andai saja Bram tahu bahwa dua tahun lalu dia yang memegang dokumen laboratorium asli yang menyatakan bahwa Bram-lah yang mandul total, pria yang tidak memiliki satu pun sperma hidup di tubuhnya.
Dia teringat bagaimana dia memilih bungkam dan rela berbohong mengaku "rahimnya lemah" hanya demi menjaga ego dan martabat suaminya itu agar tidak hancur sebagai laki-laki.
Namun ironisnya, Bram justru memercayai kebohongannya mentah-mentah. Pria itu benar-benar merasa dirinya adalah pria subur yang suci tanpa cacat.
Tolong, Mas... belalah aku sedikit saja. Aku menelan makian dan sindiran ini selama dua tahun demi harga dirimu, tapi kenapa kamu justru menggunakan kebohonganku untuk menginjak-injakku? teriak Larissa dalam batinnya.
Namun yang dia dapatkan justru adalah sebilah belati yang ditancapkan tepat ke jantungnya. Bram perlahan menegakkan tubuhnya, menatap Larissa dengan pandangan yang sarat akan rasa jijik.
"Ibu benar," kata Bram, suaranya mengalun dingin, tanpa ada sedikit pun getaran rasa bersalah di dalamnya.
"Aku sudah bersabar selama lima tahun ini, Ris. Aku mengabaikan omongan orang luar, aku membelamu di depan Ibu karena aku mengira kondisi rahimmu yang lemah itu masih bisa disembuhkan dengan waktu dan pengobatan. Tapi melihat hasil medis dari para ahli hari ini aku sadar bahwa pernikahan tanpa adanya anak bukanlah sebuah pernikahan yang utuh."
Larissa menghentikan tangisnya seketika. Matanya membelalak, menatap Bram dengan rasa syok yang teramat sangat. "Mas... apa yang kamu katakan...?"
"Aku adalah penerus tunggal keluarga Baskoro. Aku memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan cucu dan meneruskan bisnis warisan Ayah," lanjut Bram dengan nada tegas, seolah dirinya adalah korban terbesar dari ketidakadilan takdir ini.
"Aku tidak bisa membiarkan masa depanku hancur hanya karena ego seorang wanita yang menyembunyikan kecacatan fisiknya sendiri. Aku tidak bisa meneruskan pernikahan yang mati ini lagi bersama kamu. Kita sudah selesai."
Ibu Maya tersenyum puas, menepuk pundak putranya dengan bangga. "Dengar itu, Larissa?! Anakku sudah sadar dari sihirmu! Wanita mandul dan penipu seperti kamu tidak layak menjadi angota keluarga ini!"
Larissa terpaku di tempat duduknya, tubuhnya mendadak berhenti bergetar. Air matanya berhenti mengalir, menyisakan sepasang mata yang menatap kosong ke arah dua orang manusia di hadapannya.
Rasa hancur yang sedalam-dalamnya di dalam dadanya kini perlahan-lahan mulai membeku, berubah menjadi sebuah kehampaan yang luar biasa dingin. Rasa cinta, ketulusan, dan pengorbanan yang dia agungkan selama ini ternyata hanyalah sebuah lelucon konyol di mata Bram Baskoro.
Bram kembali merogoh bagian dalam tas kerjanya yang terletak di sofa. Dari sana, ia mengeluarkan selembar kertas putih yang tebal. Di bagian bawah kertas tersebut, sudah tertera tanda tangan Bram yang digoreskan dengan tinta hitam tepat di atas selembar materai sepuluh ribu yang mengilat.
Kertas itu adalah dokumen yang sudah disiapkan oleh Bram bersama pengacaranya, dan tentu saja atas saran licik dari Vera, bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di rumah sakit kemarin.
Sret.
Bram melemparkan lembaran kertas tersebut ke atas meja, tepat di hadapan Larissa yang masih terduduk kaku. Kertas itu mendarat dengan suara desiran tipis, menampilkan baris judul yang dicetak dengan huruf kapital tebal di bagian paling atas:
SURAT GUGATAN CERAI
"Tandatangani itu sekarang," perintah Bram dengan nada dingin, dia menatap istrinya seolah-olah Larissa hanyalah selembar kertas pembungkus yang sudah tidak memiliki nilai guna.
"Di dalam surat itu sudah dinyatakan bahwa perceraian ini terjadi karena kesalahan dan cacat fisik yang ada pada pihakmu. Kamu keluar dari rumahku dan dari keluarga ini tanpa hak menuntut harta gono-gini sepeser pun."
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut