Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Kringggggggg
Pagi itu suara bising yang berasal dari panggilan telpon miliknya, membuat Luna terbangun dengan raut wajah yang kesal.
Dengan perasaan yang malas dan kelopak mata masih tertutup Luna terlihat mulai meraba ponselnya dan mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Halo, ada apa!" pekik Luna dengan kesal.
"Ada apa katamu? Come on Lun, bukankah kamu sudah menyiapkan kejutan ini jauh-jauh hari untuk Arkan? Mengapa kamu belum datang juga sampai sekarang?" ucap sebuah suara di seberang sana yang tentu saja langsung membuat kelopak mata Luna terbuka dengan sempurna.
Luna yang melupakan sesuatu lantas langsung melihat layar ponselnya dan memeriksa tanggal berapa hari ini.
"Sial! Mengapa bisa aku melupakannya, hari ini adalah pesta kejutan lanjutan setelah dinner kita semalam. Dan yah hari ini juga aku harus menanggung malu karena melihat Arkan lebih memilih menolong Rachel daripada membantu ku, ketika kita berdua sama-sama jatuh di kolam akibat perbuatan Rachel juga!" pekik Luna dalam hati sambil menepuk jidatnya pelan.
"Halo Lunnn apa kau mendengar ku?" pekik sebuah suara di seberang sana kembali.
"Eh iya iya iya, aku akan segera ke sana, kalian...kalian persiapkan saja segalanya." ucap Luna kemudian menutup panggilan telponnya begitu saja.
Luna bergegas bangkit dari tempat duduknya dan berlarian ke arah kamar mandi.
Luna jelas sadar apa yang akan terjadi hari ini, namun yang jelas ia datang bukan untuk mengulang apa yang terjadi, namun Luna datang untuk mengubah apa yang terjadi sebelumnya.
Sebuah hal gila yang mungkin saja tidak akan ia lakukan jika ia tidak diberi kesempatan untuk terlahir kembali seperti saat ini.
****
Di sebuah hotel bintang lima
Luna terlihat melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang mantap dan terlihat anggun. Hari ini penampilannya benar-benar berbeda, Luna yang biasa berpenampilan polos dan terlihat jauh dari kata wanita yang termasuk ke dalam kalangan atas atau anak orang kaya. Hari ini Luna mengenakan pakaian yang mencolok dengan kombinasi pakaian berwarna merah darah yang dipadu padankan dengan heels berwana hitam pekat, di lehernya terdapat sebuah kalung manik kecil yang menambah aksen pemanis dengan sentuhan make up yang soft namun juga terlihat sedikit garang di wajah Luna saat itu. Hal ini benar-benar berbanding terbalik dengan seorang Luna yang biasanya.
"Hari ini aku akan ubah segalanya! Persetan dengan image gadis polos yang selama ini selalu di katakan oleh Rachel dan terus mempengaruhi isi otak ku. Kali ini akulah Luna yang sesungguhnya..." ucap Luna sambil terus mengambil langkah kaki besar memasuki area hotel bintang lima tersebut.
.
.
.
.
Tak tak tak
Suara langkah kaki yang menggema di sebuah taman belakang di hotel bintang lima tersebut, nampak terdengar bersahutan dengan alunan sebuah musik jazz dari salah satu band ternama di kota tersebut.
Semua mata nampak tertuju pada Luna kala itu, ya...penampilan Luna yang berbeda membuatnya jadi pusat perhatian, namun hal itu anehnya malah membuat Luna tersenyum puas karenanya.
Ketika langkah kakinya terus membawanya mendekat kearah panggung kala itu, sebuah tangan terlihat menariknya perlahan dan menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa dengan penampilan mu Lun? Bukankah sudah ku katakan jika Arkan menyukai sosok gadis polos yang lemah lembut, bukan seperti ini!" ucap Rachel yang terkejut dengan penampilan Luna saat ini.
Luna melepaskan pegangan tangan Rachel kemudian menepisnya dengan perlahan.
"Gadis yang polos dan lemah lembut ya? Ups sayangnya itu bukan gaya ku. Ini Luna yang sesungguhnya dan tidak ada satu pun orang yang boleh mengatur penampilan ku, termasuk kamu atau bahkan Arkan!" ucap Luna dengan nada bicara yang tajam membuat Rachel nampak terkejut begitu mendengarnya.
"Lun apa ada sesuatu yang terjadi? Apakah Arkan menyakiti mu? Katakan kepada ku kalau memang benar begitu kenyataannya." ucap Rachel kembali yang lantas membuat Luna tersenyum karenanya.
"Hahahaha ah maaf, aku benar-benar ingin ketawa saat ini. Saran ku sebaiknya kamu tak usah memikirkan lagi tentang ku Rachel, aku bukan boneka mu yang bisa kamu atur sesukamu dan aku sudah muak bermain sandiwara, jadi tolong jangan ganggu aku dengan muka sok polos mu itu." ucap Luna dengan ketus.
"Lun.. Aku .." ucap Rachel namun langsung dipotong oleh Luna.
"Sudah, sudah tidak perlu drama karena drama yang sesungguhnya sebentar lagi akan di mulai. Aku katakan ini untuk memberitahu mu agar jangan macam-macam, apa kau mengerti Rachel?" ucap Luna sebelum pada akhirnya berlalu pergi meninggalkan Rachel dengan perasaan yang kebingungan.
"Sialan! Apa dia tahu rencana ku untuk mempermalukannya hari ini? Sial! Tentu tidak mungkin bukan? Hanya aku yang tahu rencana ini, dan sungguh mustahil jika Luna mengetahuinya." ucap Rachel dengan nada yang kesal sambil menatap kepergian Luna dengan raut wajah yang kesal.
.
.
.
Sementara itu di area luar sebuah hotel bintang lima yang sama dengan Luna, terlihat Sagara mulai melangkahkan kakinya dengan bergegas masuk ke dalam lift.
Pikirannya kali ini benar-benar kacau dan hanya tertuju pada Luna. Sagara jelas tahu apa yang akan terjadi pada Luna kali ini dan yang pasti Sagara akan berusaha sebisa mungkin untuk mencegahnya agar tidak kembali terjadi.
"Seharusnya aku datang lebih awal, kenapa aku bisa melupakan yang satu ini? Dasar bodoh kau Sagara!" gerutu Sagara pada dirinya sendiri sambil berjalan keluar dari lift.
Dengan langkah kaki yang besar dan tentu saja tanpa undangan, Sagara masuk begitu saja dan bergabung dalam acara anniversary yang dibuat khusus untuk Arkan.
Samar-samar dari kejauhan ia mendengar suara bising-bising yang tentu saja sesuai dengan prediksinya. Mendapati hal tersebut Sagara semakin mempercepat langkah kakinya dan menghampiri suara ribut-ribut tersebut.
Sampai pada akhirnya sebuah suara yang terdengar menggelegar lantas memacu adrenalinnya. Ya sebuah suara seseorang yang tercebur ke kolam renang, membuatnya tanpa pikir panjang langsung melepas sepatunya dan masuk ke dalam kolam untuk menolong seseorang yang terjatuh barusan, sepertinya Sagara berpikir jika yang terjatuh adalah Luna, makannya ia cepet-cepat bergegas terjun ke kolam renang.
"Tolong...tolong...siapapun tolong aku..." teriak sebuah suara.
Byurrrrr
"Kali ini aku tidak akan membiarkan mu dipermalukan lagi Lun..." ucap Sagara sambil berusaha berenang mendekat ke arah sumber suara.
Sagara terus berenang sampai pada akhirnya berhasil menggapai sebuah tangan dan langsung naik ke permukaaan. Namun sepertinya ada sesuatu yang salah tepat ketika Sagara berhasil naik ke permukaan air kolam.
"Kau!" pekik Sagara dengan raut wajah yang terkejut begitu ia berhasil naik ke permukaan air kolam.
Bersambung