Reyhan Ilham, cowok 19 tahun yang sekarang sedang sibuk bekerja menjadi pramuniaga minimarket, suka nongkrong di bengkel teman karena hobi mekanik, sayangnya gak lanjut kuliah karena tidak ada uang.
Suatu hari pergi liburan ke Bandung ke rumah temannya, tapi saat datang dengan status bujang tapi saat pulang malah berstatus menikah. Kok, bisa? Rey saja tidak mengerti kenapa? Kehidupan dia saja sebelumnya sudah pas-pasan, eh ditambah sekarang harus memberi makan satu orang lagi, semakin kekurangan uang dia.
Bagaimana sih, rasanya menjadi Reyhan, tiba-tiba mempunyai seorang istri saat masih muda dan melarat? Apakah pernikahan dia akan langgeng atau berhenti di tengah ja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pekerjaan Sampingan
**
"Lo pada pada punya informasi lowongan kerjaan, gak?"
"Kenapa? Lo dipecat?" tanya Dion terlihat penasaran tapi perlahan mulai tengil. "Lo mau masuk circle nganggur gue?"
Reyhan mendengus, melempar kain lap yang penuh oli ke arah Dion yang berhasil mendarat tepat di atas kepalanya. Reyhan melihatnya tersenyum penuh kemenangan.
"Brengsek!" amuk Dion kesal.
"Iya, elo!"
"Elo!"
"Elo pea!"
"Berisik lo semua! Pada balik sana. Bengkel gue jadi panas karena disarangi manusia yang penuh aura neraka kaya lo pada!" usir Bima kesal. Dia baru saja datang dari dalam rumah dengan membawa nampan yang berisi beberapa cangkir kopi.
"Apaan, tuh?" Dion sudah mendekat ke arah Bima, malah sudah duduk mepet di sampingnya.
Memang jika soal apapun yang bisa masuk ke dalam mulut terus membuat kenyang, apalagi yang gratis tentu untuk manusia seperti Dion pasti paling cepat. Soal enak atau tidak itu urusan belakang, yang paling penting dia tidak harus kelaparan. Maklum, mental anak perantauan yang sebulan sekali sering dipecat dari pekerjaan karena sering membuat masalah. Jangankan zaman sekarang, pada saat dulu musim tawuran antar sekolah tetangga saja, dia sering salah baku hantam serang teman sekolah sendiri, bukannya serang musuh.
"Kopi?" tawar Bima kepada Reyhan, sembari menjauhkan kopi dari Dion. "Heran, udah nikah bukannya menjadi cerah karena udah punya tampungan 'spertrum' tapi muka lo malah kelihatan makin belangsak."
"Iya lah, barusan dia malah nanyain kerjaan ke gue karena mungkin dipecat." Antara pergerakan mulut dan tangan ternyata lebih cepat tangan, karena sekarang Dion sudah berhasil mengambil secangkir kopi dari Bima.
"Bisa gak, kita pecat dia dari geng pertemanan cowok tampan ini?" Bima mengeluh kesal melihat Dion yang dengan rakusnya meminum kopi yang bahkan masih panas. Syukur-syukur mulut dia terbakar, Bima akan sujud syukur jika itu terjadi.
"Pulang gue, di sini kepala makin pecah." Reyhan sudah bangkit, mengabaikan dua temannya yang sedang saling menendang.
"Lo serius cari kerja?" tanya Bima tiba-tiba terdengar serius, membuat langkah Reyhan terhenti.
Reyhan berbalik. "Lo tahu ada loker, tapi bisa sesuaikan sama jam kerja gue di minimarket? Kalau bisa sih yang gajinya gede."
Dion tergelak. "Kalau gitu, cocoknya jadi simpanan tante-tante aja."
"Bim, gue setuju kayaknya soal tawaran lo keluarin dia dari geng cowok tampan kita."
Bima mengangguk. "Ok deal. Kita sekalian aja kirim dia ke perbatasan negara yang sedang konflik itu!"
"Buat apa coba?" Dion bisa-bisanya malah bertanya polos, padahal itu masih tentang nasib dirinya.
"Buat bahan senjata nuklir, kalau enggak buat dijadiin tumbal sekalian," jawab Bima yang langsung tergelak.
"Kampret!"
Reyhan yang akan ikut tertawa terhenti, sekelebat beban kehidupan menyapa langsung di pikirannya seolah tengah menari-nari meledek dan mengatakan bahwa dia tidak berhak untuk tertawa senang karena ada beban kehidupan yang harus diberikan kepastian.
"Stop ketawa-ketawa!" Reyhan terkekeh kecil, saat mengatakan kalimat barusan dia malah jadi teringat dengan opening seorang YouTubers. Dia kembali menggeleng berusaha untuk tetap fokus.
"Kenapa dia? Gila?" Dion menyenggol lengan Bima.
Bima mengangguk setuju kali ini terhadap Dion. "Bisa jadi. Itu tuh, akibat pernikahan muda belum siap mental dan fisik. Menikah itu bukan hanya untuk buat ajang pamer, berlomba-lomba apalagi hanya karena punya cinta saja. Enggak! Pernikahan itu harus punya pasangan yang selalu bisa untuk memuaskan di ranjang, apalagi yang pinter goyang. Si Reyhan, contoh orang yang sudah menikah tapi tidak dapat jatah."
"Tersumbat kali yah salurannya karena tidak tersalurkan padahal tiap hari disuguhkan. Goyang mang, tarik!" Dion sudah berdiri sambil menggoyang-goyangkan pantatnya heboh.
Reyhan mendengus karena harus mempunyai dua teman sialan seperti mereka. Walau itu kenyataan, tapi itu bukan fokus utamanya sekarang. Dia bisa-bisanya sempat terpukau dengan omongan Bima yang seperti seorang motivation itu, akhirnya temannya kembali ke jalan yang benar. Tapi kampret memang, malah semakin membuat tersesat di jalan, masuk got, diterjang hujan badai, dikejar anjing kelaparan, kemudian masuk jurang.
Bima yang sadar saat melihat Reyhan tidak ikut terawat, tiba-tiba terdiam. Dia sadar, ternyata kali ini Reyhan serius. Dia tidak tahu, beban apa yang dialami setelah menikah yang membuat temannya itu untuk pertama kalinya terlihat defresi seperti itu.
"Lo masih ingat Bara?"
Reyhan menoleh ke arah Bima. "Anak SMA Bintang yang waktu itu bantu kita tawuran?"
"Iya, yang waktu itu lo gantiin dia buat balap lawan musuh dia dari circle darah biru itu," kata Dion menambahkan. "Sedih banget darah gue gak warna biru. Padahal, sekalian gue malah maunya malah warna pink, kan jadi imut."
Kedua temannya yang mendengus kesal melihat tingkah absurd Dion lagi.
"Lanjut." Reyhan buru-buru menutup mulut Dion dengan kain lap yang membuat cowok itu terbatuk-batuk. "Kenapa memang si Bara?"
"Kemarin gue ketemu dia gak sengaja di mall, terus kita ngobrol-ngobrol bentar. Dia nanyain lo, mau nawarin jasa kaya kemarin. Gue lupa bilang, baru inget pas lo bilang butuh kerjaan."
"Gantiin dia balap lagi?"
Bima menggeleng. "Enggak. Kali ini gantiin teman dia yang balap karena gak bisa. Kata dia, dua hari lagi ada tanding balap. Setiap kelompok wajib mengirim 5 anggotanya, kebetulan, teman dia cedera waktu latihan. Dia mau lo yang gantiin temen dia. Udah percaya banget sama skill ngebut lo."
"Sekarang balap mereka udah legal yah, segala ada sesi latihan segala?"
"Mana ada! Mereka masih main ilegal karena dua bulan yang lalu gue masih nonton mereka masih main di jalan umum," celetuk Dion nimbrung karena sepertinya dia sudah sadar dari tersedak kain lap.
Reyhan mengangguk paham. "Yang waktu itu lo datang sama gebetan yang ternyata udah punya pacar anak balap. Ternyata lo cuman kepedean sendiri."
"Sialan!"
Bima ikut tertawa, kemudian fokus kembali ke Reyhan. "Jadi gimana, mau ambil? Kebetulan, gue sempet tukeran kontak sama dia. Katanya kalau lo setuju, gue langsung kabarin atau lo bisa hubungi sendiri. Pertandingannya hari ini, dia butuh keputusan lo cepet. Lo mau ambil?"
Reyhan terlihat berpikir. "Bayarannya masih segede dulu gak, yah?"
"Masih lah. Taruhan anak orang kaya gak pada ngotak. Padahal harta orangtua banyak, gak habis pikir gue. Gimana mau gak?"
Reyhan akhirnya mengangguk. "Ok, mau. Emang kondisi gue masih bisa pilih-pilih kerjaan. Apalagi ini duitnya kontan."
Reyhan memang sudah tidak ada pilihan lagi. Keuangan dia sekarang memang sedang dalam keadaan rawan di ujung tanduk. Tinggal menunggu waktu saja, dia masuk ke dalam jurang.
*
"Nanti malam, gue pulang telat banget."
"Kenapa? Bukannya hari ini lagi off?"
Hubungan mereka memang tidak akur, malah seringnya ribut. Tapi, seperti ada peraturan tidak tertulis untuk mereka saling mengabari jika pulang terlambat atau pergi kemanapun. Hanya sekedar untuk sekedar saling menghargai keberadaan masing-masing.
Reyhan yang sedang tidur terlentang, merubah posisinya menjadi tidur menyamping. "Kenapa coba? Mau tebak, gak?"
Ayana yang sedang melipat baju menatap tajam, mendengus kesal. "Terserah, lah."
"Akh ... gak seru!" ujar Reyhan terdengar kecewa, padahal cuman pura-pura. "Gak usah ditemenin, gak bisa diajak bercanda."
"Siapa juga yang mau temenan sama kamu?"
Seketika Reyhan langsung tergelak melihat ekspresi marah Ayana. Memang sangat menyenangkan bisa berhasil membuat gadis itu marah dan kesal. Seperti sebuah prestasi tersendiri untuk Reyhan jika berhasil untuk melakukannya.
"Gue ada kerjaan sampingan, tapi pulang tengah malam banget. Kunci aja pintu, nanti gue gedor-gedor," ujar Reyhan setelah berhasil meredakan tawanya.
"Kalau kamu gedor-gedor tengah malam yang keluar bukan cuman aku aja tapi seluruh penghuni kosan karena berisik. Memang kerjaan apa sih, yang pulang jam segitu?'
"Apa coba, mau--"
"Reyhan!" sentak Ayana menghentikan ocehan ngaco lelaki itu. "Jangan bilang kamu kerja yang kaya gitu, itu loh yang jualan diri?"
"Astaghfirullah, berdosa sekali Anda membicarakan hal yang seperti itu." Reyhan sudah duduk dengan ekspresi yang serius. "Tanpa sadar, Anda barusan sudah melakukan dosa besar dengan memfitnah manusia sholeh seperti saya. Tidak baik itu. Sungguh berdosa sekali Anda."
"Sholehhuddin," celetuk Ayana kesal. Gadis itu sekarang sudah berdiri. "Jual diri juga gak papa, yang penting duitnya banyak."
Setelah mengatakan itu, Ayana sudah berlalu ke kamar mandi meninggalkan Reyhan yang masih menatapnya prihatin sembari menggelengkan kepala.
"Wahai Malaikat, tolong pisahkan dosa dia dan saya. Saya sebagai suami sudah menasehati, tapi dianya saja yang tidak mau mendengarkan."
Setelah mengatakan itu, Reyhan kembali berbaring. Tak lama, lelaki itu terkekeh pelan.
"Udah kaya jadi ustadz beneran deh, gue. Reyhan memang sudah ganteng, terus sholeh lagi."
"Tapi miskin!" teriak Ayana dari dalam kamar mandi.
##