Siang hari, aku cuma Maxy — pegawai biasa yang diam-diam mencintaimu.
Malam tiba, aku berubah jadi Roxy — sosok percaya diri yang berani berdiri di hadapanmu.
Kamu tersenyum pada Roxy, tapi tak pernah tahu kalau dia itu aku.
Sampai kapan aku harus menyembunyikan siapa diriku?
Dan nanti… saat kamu akhirnya memilih, siapa yang akan kamu pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenzy Elbarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Saat Shella masih sibuk dengan kegalauannya, cahaya matahari menyelinap lewat celah tirai kamar, jatuh tepat di wajah Maxy. Matanya terbuka perlahan, dan hal pertama yang dia rasakan adalah denyut nyeri di bibirnya yang masih bengkak. Dia duduk di tepi ranjang, menatap jam dinding — jarum menunjukkan pukul enam kurang seperempat. Di meja samping tempat tidur, ponselnya menyala pelan, menampilkan dua pesan yang dikirim Shella tadi malam, hampir berbarengan.
"Lukanya udah diobatin belum? Jangan lupa istirahat ya. Makasih lagi buat hari ini." — untuk Maxy.
"Malam ini aku kepikiran terus. Boleh kita ketemu sebentar besok? Aku butuh cerita." — untuk Roxy.
Dan balasan yang dia kirim tadi: "Oke, besok kita ketemu." — dikirim ke dua nama yang berbeda, di hari yang sama.
Maxy menghela napas panjang, menutup wajah dengan kedua tangan. Dia tahu ini berisiko. Semakin dekat waktunya, semakin terasa betapa tipisnya garis yang memisahkan kedua identitas itu. Satu kesalahan kecil, satu momen yang tidak pas, dan semuanya bisa runtuh. Tapi dia juga tahu, kalau dia mundur sekarang, dia mundur dari kesempatan untuk jujur.
DING!
PEMBERITAHUAN SISTEM
Hubungan dengan Maxy: 25% (Stagnan)
Hubungan dengan Roxy: 25% (Stagnan)
Catatan: Keraguan belum terpecahkan. Keputusan belum diambil. Ini momen paling berbahaya — keseimbangan yang rapih, siap bergerak ke mana saja.
Jam enam pagi. Aku mandi, menatap pantulan di cermin. Bibirku bengkak sedikit, ada luka kecil di sudut kanan. "Aww" Aku mengoleskan obat pelan-pelan, lalu mengenakan kemeja berwarna agak gelap yang bisa sedikit menutupi bekas itu. Aku tidak mau menyembunyikan sepenuhnya — itu bagian dari kebenaran. Tapi dia juga belum siap menjelaskan semuanya sekaligus.
Sesampainya di kantor, langkah kakiku terasa lebih berat dari biasanya. Saat melintasi lorong menuju meja kerja, Aku melihat Shella sedang berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan pandangan yang kosong dan jauh. Mendengar langkah kaki, dia menoleh.
Matanya langsung tertuju ke bibirku. "Tap..tap..tap" Dia melangkah mendekat, suaranya pelan dan penuh perhatian.
"Belum sembuh ya?" tanyanya lembut, matanya menatap lekat-lekat. "Kamu nggak usah paksa masuk kalau belum enak badan lho."
"Udah lumayan kok. Cuma bengkak dikit," jawab Maxy, tersenyum tipis meski bibirnya terasa nyeri. "Bukan hal besar."
"Hal besar atau nggak, tetap harus dirawat," kata Shella, mengeluarkan selembar tisu bersih dan botol kecil dari tasnya. "Ini obat antiseptik, lebih cepat kering. Sini aku bantu olesin."
Sebelum Aku sempat menolak, dia sudah berdiri di depannya, dengan hati-hati menyeka area luka di sudut bibirnya. Gerakannya sangat lembut, jari-jarinya hampir menyentuh kulit wajahnya, napasnya terasa hangat di jarak yang sedekat ini. "Uffp" Aku menahan napas, menatap wajahnya yang terlihat begitu dekat, begitu tulus, begitu peduli.
"Kenapa kamu kayak gini, Maxy?" tanyanya pelan, matanya tidak beralih dari lukanya. "Kenapa kamu rela nyakitin diri sendiri cuma buat ngasih aku sesuatu? Aku nggak butuh kalung mahal buat ngerasa dihargai. Aku butuh kamu aman, kamu sehat, kamu ada di sini."
"Aku tahu," jawabku lembut, "Tapi aku mau ngasih kamu sesuatu yang bukan cuma uang. Aku mau ngasih kamu bukti kalau aku juga bisa berjuang buat kamu, walau caraku sedikit berbeda."
Shella berhenti mengoleskan obat, menatap matanya lekat-lekat. "Kamu emang orang aneh, Maxy. Orang lain ngasih hadiah tanpa keringat, kamu ngasih hadiah sambil berdarah. Nggak masuk akal."
"Mungkin emang nggak masuk akal. Tapi masuk ke hati kan?" candaku sambil tersenyum
Shella terdiam, lalu perlahan tersenyum sedih. "Apaan sih Maxy, itu nggak lucu."
Dia menarik tangannya pelan, menyimpan kembali obat ke dalam tas. "Udah. Sekarang kerja yang tenang ya. Jangan capek-capek. Kalau pusing, bilang aku."
"Siap. Makasih, Shella."
Shella mengangguk pelan, lalu berjalan kembali ke mejanya.
Aku duduk di kursi, menyentuh area yang baru saja diolesi obat. Terasa dingin, tapi hatiku terasa hangat dan sekaligus sesak.
"Aku tahu, kalau Aku jujur sekarang, Aku mungkin kehilangan momen ini. Tapi kalau Aku tidak jujur, Aku mungkin kehilangan Shella sepenuhnya." Otaku terus berputar
Menjelang siang, Pak Arif datang berjalan mendekat ke meja Shella. Penampilannya selalu rapi, wangi, percaya diri. Dia tersenyum menatap Shella.
"Shella, hari ini ada acara makan siang bersama klien. Kamu mau ikut? Bisa kita bahas rencana proyek sambil makan," ajaknya dengan nada yang tenang dan meyakinkan.
Shella menatapnya sejenak, lalu tersenyum dengan sopan tapi menjaga jarak. "Terima kasih, Pak Arif. Tapi hari ini aku sudah ada janji makan siang bareng Maxy."
Arif melirik sekilas ke arah Maxy, lalu kembali menatap Shella dengan senyum yang masih terjaga, meski ada sekilas bayangan kekecewaan. "Begitu ya. Lain kali kalau begitu. Jangan lupa persiapkan berkas rapat besok ya."
"Siap, Pak. Terima kasih," jawab Shella.
Saat Arif pergi, Shella menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah Maxy. "Aku bilang iya ya? Biar kita bisa makan bareng kayak biasa. Nggak apa-apa kan?"
"Bukan nggak apa-apa. Aku senang kok," jawab Maxy tulus. "Tapi Arif..."
"Arif itu baik, aku tahu. Tapi aku nggak bisa terus-terusan terima ajakan dia kalau aku nggak bermaksud lebih," potong Shella pelan. "Aku harus jujur juga sama perasaanku, walau belum jelas ke mana arahnya."
Kami makan siang di kantin kantor, seperti biasa. Sederhana, murah, tapi obrolannya terasa lebih dalam dari biasanya. Shella bercerita tentang masa kecilnya, tentang impian yang sempat tertunda, tentang ketakutan kalau dia salah mengambil keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Aku hanya mendengarkan, tidak memotong, tidak buru-buru memberi solusi. Hanya ada di sana, mengangguk, sesekali bertanya hal sederhana yang membuatnya bisa melanjutkan cerita.
"Kamu selalu jadi pendengar yang baik, Maxy," ucap Shella di akhir makan, menatap sisa makanan di piringnya.
"Kadang aku mikir, kenapa kamu nggak pernah minta aku dengerin kamu? Kenapa kamu selalu tanya soal aku, tapi nggak pernah cerita soal kamu?" tanya Shella.
Aku tertegun sejenak. "Karena aku takut kalau aku cerita, kamu bakal tahu kalau aku nggak sebaik yang kamu pikirin. Kalau aku cerita, kamu bakal tahu kalau aku punya banyak kekurangan, banyak hal yang aku sembunyikan."
"Kita semua punya kekurangan, Maxy. Itu bukan alasan buat nggak saling kenal," jawab Shella lembut tapi tegas.
"Kalau kita mau jadi dekat, kita harus saling tahu yang jelek juga, bukan cuma yang bagus." Lanjutnya.
Aku menatap matanya lama sekali. "Suatu hari nanti... aku janji aku bakal cerita semuanya. Tapi tidak sekarang, Aku belum siap."
Shella mengangguk pelan, seolah mengerti. "Oke. Aku tunggu. Tapi jangan lama-lama ya. Karena kalau kamu sembunyikan terlalu lama, yang keluar nanti bukan kebenaran, tapi masalah yang udah numpuk."
Jam tepat pukul lima sore. Aku pulang lebih cepat dari biasanya. Aku harus berganti identitas, dan jarak antara dua pertemuan itu terlalu sempit. Sesampainya di rumah, Aku langsung masuk ke kamar, berdiri di depan cermin.
DING!
FASE BERGANTI
Mode malam dimulai.
Penampilan dioptimalkan.
Akses dana sistem tersedia.
Metrik saat ini — Maxy: 25%, Roxy: 25%.
Wajah berubah. Luka di bibir tidak terlihat lagi. Penampilan rapi, tenang, percaya diri. Aku mengenakan pakaian yang rapi, lalu menyetir menuju tempat pertemuan dengan Shella — sebuah kafe yang agak sepi di pinggir pusat kota, tempat yang sering mereka pilih untuk mengobrol dengan tenang.
Sesampainya di sana, Shella sudah duduk di meja dekat jendela. Saat melihat Roxy masuk, dia tersenyum, tapi senyum itu tidak seceria biasanya. Matanya terlihat lelah, seolah belum tidur nyenyak semalam.
"Kamu datang," sapanya pelan saat Roxy duduk di hadapannya. "Makasih udah mau datang dadakan kayak gini."
"Kamu butuh cerita, saya datang. Itu yang penting," jawabku lembut. "Ada yang berat dipikirin?"
Shella menghela napas panjang, menatap cangkir teh di depannya. "Banyak hal. Banyak banget sampai aku nggak tahu harus mulai dari mana. Aku ngerasa kayak berdiri di persimpangan yang semuanya jalurnya terlihat benar, tapi semuanya juga terlihat salah."
"Cerita pelan-pelan aja. Saya dengerin," kataku lembut.
Shella menatapnya lekat-lekat, seolah mencari sesuatu di balik tatapannya. "Roxy... kamu pernah ngerasa nggak, kalau ada dua orang yang sama-sama penting buat kamu, tapi kamu nggak bisa punya keduanya? Dan milih salah satu berarti kamu kehilangan sebagian dari diri kamu juga?"
Aku diam sejenak, menatapnya dengan hati yang berdebar. "Saya pernah ngerasa kalau harus jujur itu berat. Tapi lebih berat kalau harus bohong terus-menerus."
"Kenapa susah banget ya?" suaranya bergetar pelan. "Kenapa harus ada yang menang dan yang kalah? Kenapa nggak bisa semuanya dapet yang mereka butuhin?"
"Karena hidup nggak selalu adil, Shella. Dan kadang yang paling berat bukan milih, tapi jujur sama diri sendiri kenapa kita milih," jawabku penuh ketulusan.
Shella menunduk, air mata mulai menetes pelan ke pipinya. "Aku takut salah milih. Aku takut nyakitin orang yang baik. Aku takut nanti aku nyesel seumur hidup."
Aku tidak berkata apa-apa, hanya mengulurkan tisu pelan ke arahnya. Shella menerimanya, menyeka air matanya, lalu tersenyum sedih.
"Makasih ya, Roxy. Bicara sama kamu bikin aku ngerasa lebih tenang, walau masalahnya belum selesai. Kamu selalu ngerti cara bikin aku ngerasa nggak sendirian."
DING!
Hubungan dengan Roxy: 26% (+1%)
Hubungan dengan Maxy: 24% (-1%)
Sumber: Ketenangan emosional dan kenyamanan bercerita. Perubahan kecil, tapi arahnya mulai terlihat.
"Kamu nggak sendirian, Shella. Selama kamu butuh didengarkan, saya ada di sini," ucapku lembut.
Kami duduk berdua sampai langit benar-benar gelap. Shella bercerita tentang keraguannya, tentang ketakutannya, tentang keinginannya untuk menemukan kebenaran tanpa menyakiti siapa pun. Aku mendengarkan, dan di setiap kata yang keluar dari mulut Shella, Aku semakin sadar satu hal — Dia tidak bisa terus begini. Dia tidak bisa terus membiarkan Shella bingung antara dua orang yang sebenarnya satu.
Saat kami berpisah di depan kafe, Shella berhenti di depanku, menatapnya lama sekali.
"Roxy... boleh aku tanya sesuatu yang serius?" tanyanya pelan.
"Boleh. Tanya apa saja."
Shella menatap matanya, seolah menembus ke dalam jiwa. "Kamu... pernah ngerasa kayak ada sesuatu yang kamu sembunyikan? Sesuatu yang kalau ketahuan, bisa ngerubah semuanya?"
Jantungku berhenti sejenak. Aku menatap mata Shella yang tajam dan menyelidik.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Karena kadang... aku ngerasa ada kesamaan. Cara kamu ngomong, cara kamu dengerin aku, cara kamu tau apa yang aku butuhin... kadang aku ngerasa kayak aku udah kenal kamu dari dulu. Kayak kamu bukan orang baru di hidup aku," jawab Shella pelan, matanya tidak berkedip. "Aku cuma nanya. Bukan nuduh."
"Gluk" Aku menelan ludah, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang. "Kesamaan itu bisa muncul dari kebiasaan, Shella. Bukan berarti ada yang disembunyikan."
Shella menatapnya sejenak lagi, lalu perlahan mengangguk. "Mungkin iya. Mungkin aku yang terlalu banyak mikir. Maaf ya."
"Nggak apa-apa. Wajar kamu bingung," jawabku lembut.
"Oke deh. Aku pulang dulu ya. Hati-hati juga di jalan," ucap Shella, lalu berbalik melangkah pergi.
Aku berdiri di sana, menatap punggung Shella yang menjauh sampai hilang di tikungan dan baru saja mau masuk ke mobil, saat langkah kaki terdengar mendekat dari arah trotoar.
Seorang pria berdiri beberapa langkah di depannya — mengenakan kemeja rapi, rambut tersisir rapi, tatapan tajam yang sedang menilai.
Itu Pak Arif. Dia berhenti, menatapku lekat-lekat, seolah sedang membandingkan wajah di depannya dengan sesuatu yang sudah sering dia lihat.
"Maaf mengganggu sebentar," ucap Arif, nadanya sopan tapi penuh selidik. "Saya tidak bermaksud kasar... tapi wajah Bapak sangat mirip dengan seseorang yang saya kenal di kantor."
Aku tetap tenang, menjaga sikap. "Oh ya? Banyak orang yang wajahnya mirip kok. Mungkin kebetulan saja."
"Bisa jadi," jawab Arif, tidak mengalihkan pandangan. "Saya lihat tadi Bapak sedang bersama Shella. Boleh saya tahu nama Bapak? Kalau Shella sering berhubungan dengan Bapak, sebaiknya saya kenal juga."
"Nama saya Roxy. Saya kenal Shella sebagai teman," jawabnya singkat, tidak memberi ruang untuk pertanyaan berlebihan.
"Roxy..." Arif mengulang nama itu pelan, seolah menyimpannya. "Baiklah, terima kasih. Saya Arif, manajer di tempat Shella bekerja. Kalau nanti ada urusan, saya bisa dihubungi di kantor." Dia mengulurkan tangan sekilas, lalu mundur pelan. "Saya pamit dulu."
Arif berjalan pergi, tapi Aku bisa melihat dia sempat menoleh sekali lagi sebelum berbelok — masih menatap dengan tatapan yang belum puas, belum yakin.
"Apakah Dia tahu identitasku yang sebenarnya??"