NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2 - TAMENG YANG TAK LAGI BERGUNA

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di ambang pintu. Adipati Pramana yang tampak kuyu bergegas masuk sambil menopang Nenek Utari yang terhuyung-huyung di sampingnya. Cahaya lentera lorong masuk bersama mereka, membawa udara malam yang dingin dan aroma embun dari pepohonan jati di halaman. Begitu Nenek Utari melihat penampilan Wulan yang pucat dan lemah, ia tak kuasa menahan tangis dan berkata dengan pilu, "Wuri, biarkan nenek melihat, bagian mana yang tidak enak badan?"

Waskita buru-buru menyingkir dan memberi ruang bagi Nenek Utari.

Nenek Utari meneliti Wulan dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu mengambil saputangan bersulam untuk menyeka air matanya sendiri, menggenggam tangan Wulan erat-erat, dan berkata dengan suara yang bergetar, "Anakku yang baik, nenek tahu hatimu sedang menderita. Tetapi sebesar apa pun sakit yang kau rasakan, kau tidak boleh melakukan ini pada dirimu sendiri. Jika kau sampai kenapa-kenapa, bagaimana nenek bisa terus hidup, dan bagaimana nenek menjelaskan kepada ibumu yang sudah meninggal?" Air mata sang nenek menetes di punggung tangan Wulan yang digenggamnya erat, dan Wulan bisa merasakan genggaman itu bergetar — betapa takutnya sang nenek kehilangan dia untuk kedua kalinya.

"Nenek, Wuri sadar Wuri salah." Wulan merasakan kehangatan dari telapak tangan itu, dan matanya tak kuasa memerah. Orang-orang yang satu per satu ia anggap telah tiada kini tampak hidup kembali di hadapannya, membuat hatinya tak mampu menahan perasaan campur aduk. Betapa murahnya ia dulu menilai genggaman sederhana seperti ini. Kini, ketika orang-orang yang ia cintai bisa lagi ia lihat dan ia sentuh, ia tidak mau membuang walau satu detik saja dari setiap genggaman itu.

Setelah melihat bahwa tubuh Wulan masih sedikit lemah namun sudah tidak dalam bahaya, raut dingin di wajah Adipati Pramana perlahan surut. Ia melangkah maju dan berdiri di depan pembaringan, menatap Wulan dengan kecewa bercampur kesal. "Sekarang dekret Sultan sudah dikeluarkan, dan semua orang tahu kau menceburkan diri ke air untuk menolak dekret itu. Wuri, Wuri, kenapa kau sebodoh ini? Kau jelas-jelas ingin seluruh keluarga kehilangan tempat pemakaman!" Wajah Adipati yang biasanya tegar itu tampak bertambah tua beberapa tahun, seolah putri kecilnya nyaris membuat jantungnya berhenti sebelum waktunya. Uban di pelipisnya terasa lebih banyak daripada ingatan Wulan, dan tangan yang biasa menggenggam kendali kini hanya meremas ujung jubah dengan gelisah.

"Cukup." Nenek Utari melotot kepada putranya dengan tidak senang sambil bersandar pada tongkatnya. "Wuri baru saja sadar, apa lagi yang kau bicarakan!"

"Ibu, Ibu memang selalu tahu cara melindunginya. Kali ini ia nyaris membuat kesalahan besar. Jika tidak diberi pelajaran, langkah berikutnya ia mungkin berani pergi menghadap ke langit!" Adipati Pramana menatap dingin.

Wulan mundur seakan ketakutan, bersembunyi takut-takut di balik Nenek Utari, lalu mengangkat bahu dan menundukkan kepala mengakui kesalahannya dengan jujur. "Ayah, Wuri tahu Wuri salah." Bulu matanya berkaca-kaca, tetapi di balik pandangan yang turun itu ia mengamati reaksi ayahnya dengan tenang — kebiasaan lama yang kini terasa absurd, seperti memakai kostum dari kehidupan yang sudah usai.

"Kau tahu kau salah. Kau selalu berkata kau tahu kau salah. Kapan kau benar-benar tahu kau salah, Nak?" Adipati Pramana menatap putri bungsunya dengan penyesalan dan ketidakberdayaan.

Putri bungsunya dimanjakan sejak kecil. Ia tidak hanya tumbuh manja dan egois, tetapi juga memiliki temperamen yang sesuka hati. Adipati khawatir cepat atau lambat, putri kecilnya ini akan sangat menderita karenanya. Almarhumah isterinya dulu pernah berbisik padanya, gadis kecil ini hatinya terlalu lunak untuk dunia yang tajam — jagalah ia, jangan biarkan kelembutannya menjadi pintu bagi musibah.

"Ayah, Wuri benar-benar tahu Wuri salah." Mata Wulan masih merah karena menangis, tetapi kini ia menatap sang ayah dengan sendu dan menyedihkan. Kata-kata teguran yang hendak keluar pun tersangkut di tenggorokan Adipati, tak sanggup lagi diucapkan.

"Sudahlah, ayah macam apa kau ini? Ia tidak peduli dengan keadaan tubuh putrinya, malah menceramahi tiada henti begitu menangkap sesuatu." Nenek Utari memarahinya dengan marah, lalu berbalik menggenggam tangan Wulan lagi. "Sayangku, cucu nenek, jangan menangis, patuhlah."

Wulan mengingat dengan jelas bagaimana ia menceburkan diri. Tiga hari sebelum pernikahannya dengan Nalendra, ia dihasut oleh sepupunya, Aryati, putri dari rumah keluarga kedua, untuk melompat ke Danau Rinai di halaman belakang Puri Ardani. Saat itu ia masih muda dan naif, percaya bahwa cara mati-matian itu akan membuat Pangeran Cendana akhirnya menoleh kepadanya.

Udara awal musim dingin sangat dingin, dan Kota Pelantar berada di utara hingga terbentuk lapisan es tipis di permukaan Danau Rinai. Napas membeku menjadi kabut putih, dan pepohonan di tepi halaman bertelanjang kering, seakan ikut menahan napas menyaksikan kegilaan gadis itu. Ia menyesal begitu menceburkan diri. Ia berteriak minta tolong tetapi tak ada yang datang; Aryati telah menyiapkan diri, mengevakuasi semua dayang dan pelayan di sekitar danau.

Jika kakak keenamnya, Waskita, tidak memperhatikan gerak-geriknya sedari awal dan langsung menyelam menolongnya, hari itu ia benar-benar akan tewas kaku di dasar Danau Rinai. Sampai hari ini, detak jantungnya sendiri di bawah air masih sesekali terngiang kembali di telinganya, menuntunnya terbangun dengan napas tersengal di tengah malam.

Memikirkan hal ini, mata hitam cerah Wulan yang biasanya tenang berubah sedikit dingin. Sepupu itu telah meninggalkan kesan yang begitu dalam pada gambaran kehidupan lampaunya. Kali ini tidak akan ada panggung kedua. Apa pun langkah yang disiapkan Aryati, Wulan akan memastikan gadis itu kehabisan pintu.

Waskita, kakak keenam yang paling mencintainya sejak kecil, tidak hanya kehilangan nyawanya di kehidupan lampau karena kekeraskepalaan dan kesengajaannya, bahkan meninggal tanpa tubuh yang utuh. Pada akhirnya, ia bahkan tidak diizinkan masuk ke dalam silsilah keluarga Ardani. Nama yang dulu ditulis dengan tinta emas itu lenyap seketika, seolah orang itu tidak pernah lahir di rumah besar tersebut.

Di kehidupan sebelumnya, Wulan dilindungi dengan baik oleh keluarga dan kakak-kakaknya. Ia bukan hanya cuek terhadap urusan duniawi, tetapi juga menolak mendengarkan nasihat siapa pun. Meski Waskita dan Nenek Utari berulang kali memperingatkannya agar tidak terlalu dekat dengan gadis dari rumah keluarga kedua, saat itu ia hanya mengira kakak dan neneknya memandang rendah gadis selir itu. Ia tidak menyadari bahwa di balik senyum manis sepupunya tersimpan racun yang menunggu waktu. Baru setelah Nalendra tiada dan keluarganya berantakan, ia benar-benar melihat wajah asli sepupu ini.

Benar saja, kerabat terdekatlah yang paling menyakitkan, karena orang seperti itu tahu di mana letak pisau yang paling perih. Wulan mengingat dengan jelas hinaan yang diberikan Aryati kepadanya. Kini, karena diberi kesempatan untuk memulai dari awal lagi, ia tidak akan pernah membiarkan Aryati menggunakan dirinya sebagai tameng sekali lagi.

"Nona Ketujuh, sehebat apa pun kau tidak menyukai pangeran itu, kau tidak boleh menceburkan diri ke air untuk mencari mati. Jika orang lain mengetahuinya, bagaimana mereka akan memandang keluarga Ardani kita?" Suara wanita yang tajam terdengar dari ambang pintu. Langkahnya ringan namun terukur, dan harum bunga kemuning yang mengikutinya masuk lebih dulu ke dalam ruangan.

Benar juga pepatah: bicara tentang setan, setan datang. Baru saja Wulan memikirkan sepupu itu, ia mendengar suaranya yang datang dari pintu di kejauhan.

Tangan di balik lengan bajunya mengepal tanpa disadari. Wulan menundukkan bulu matanya dan dengan tenang menyembunyikan tatapan suram di matanya.

Skandal kabur dari pernikahan ini sudah lama diredam oleh Adipati Pramana. Kecuali beberapa orang di dalam keluarga, tak seorang pun mengetahuinya. Tetapi Wulan tahu, sepupu inilah yang membuat berita "Nona Ketujuh rela melompat ke air demi menghindari pernikahan" tersebar ke seluruh Kota Pelantar hanya dalam tiga hari, hingga menjadi bahan tertawaan orang-orang di ibu kota setelah jamuan makan, sementara Wulan sendiri menjadi bulan-bulanan di setiap perbincangan. Dari kedai teh sampai ke pasar, cerita itu dimutakhir dengan warna-warni yang makin tidak karuan, dan tak satu pun versi yang menggambarkan Wulan sebagai korban.

Waskita segera mengerutkan kening mendengar kata-kata Aryati. Saat ini, jika kata-kata itu didengar dan dimanfaatkan oleh orang yang punya maksud buruk, pasti akan menjadi masalah besar bagi Wulan. Keningnya mengerut semakin dalam; sejak tadi ia memperhatikan bagaimana sepupunya memilih kata seperti pedagang memilih barang dagangan.

"Wulan tidak mengerti maksud kata sepupu." Wulan menyimpan ketidakpedulian di matanya, memiringkan kepala dan tersenyum. "Akhir-akhir ini Kota Pelantar sering turun hujan dan salju, jalan bersalju di tepi Danau Rinai licin. Wulan tidak sengaja jatuh ke danau. Mengapa sepupu mengira Wulan melompat ke air untuk lari dari pernikahan? Kalau memang Wulan berniat kabur, pasti Wulan memilih cara yang jauh lebih rapi daripada menceburkan diri di musim sedingin ini."

Begitu kata-kata itu keluar, bukan hanya Aryati yang tercengang, Waskita, Adipati Pramana, dan Nenek Utari pun memandangnya heran, seakan tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut gadis yang biasanya cengeng dan manja itu.

Namun, Wulan tidak peduli dengan raut wajah mereka. Ia hanya tersenyum lembut dan melanjutkan, "Orang-orang di Puri Ardani banyak jumlahnya, jadi sepupu sebaiknya berhati-hati dalam berkata dan bertindak."

"Kau... bukankah kau tidak ingin menikah dengan Pangeran Senja?" Aryati menatapnya bingung, seakan tak bisa menerima perubahan yang begitu mendadak.

"Oh?" Wulan mengangkat alisnya sambil tersenyum. "Sejak kapan aku mengatakan aku tidak ingin menikahi Nalendra?"

"Bukankah kau menyukai Pangeran Cendana?!" Mata Aryati berkilat curiga, dan tanpa sadar ia sedikit meninggikan suaranya.

Senyuman di wajah Wulan tiba-tiba memudar. Ia sedikit menyipitkan matanya, nadanya menjadi dingin dan tajam. "Sepupu, tolong jangan bicara omong kosong. Sekarang Nalendra dan aku akan segera menikah. Menurut sepupu, kenapa aku bisa menyukai Pangeran Cendana?"

"Kau..." Aryati tiba-tiba bergidik saat bertemu dengan tatapan tajam itu. Tanpa sadar ia menutup mulutnya dan tidak berani berkata apa-apa lagi.

Mengapa gadis Nona Ketujuh di hadapannya ini menjadi sedikit berbeda setelah jatuh ke air? Nona Ketujuh sebelumnya jelas tidak berkepribadian seperti ini. Biasanya ia hanya perlu membisikkan beberapa patah kata di telinganya, dan Nona Ketujuh akan mengikutinya tanpa ragu. Kuncinya sederhana: puji sedikit, hasut sedikit, lalu sorotkan bayang-bayang Pangeran Cendana. Selama ini kuncinya tidak pernah gagal.

Seperti saat jatuh ke air kali ini, ia hanya berbisik, "Yang Mulia Pangeran Cendana pasti akan tersentuh melihat kau rela mati demi dirinya." Lalu Nona Ketujuh pun menceburkan diri dengan patuh.

Sayangnya, semua itu gagal membunuh gadis ini. Aryati benar-benar tidak tahu apakah ia harus menyebutnya takdir, atau perlindungan Waskita yang terlalu ketat. Yang pasti, rencana yang sudah ia susun rapi itu kini runtuh berantakan di depan matanya.

Wulan tidak melewatkan keengganan dan penyesalan di matanya. Tebakannya benar. Sepupunya itu sama sekali tidak ingin ia berakting dalam drama yang menyedihkan — Aryati hanya ingin ia mati!

"Sepupu, Wulan masih ada urusan dengan sepupu." Meski kata-katanya demikian, nada bicara Wulan sama sekali tidak menunjukkan rasa sungkan, melainkan penuh kesejukan yang menindas.

"Apa?" Aryati berkata tanpa sadar, menatap Wulan yang seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin dan menindas.

"Setelah keluar dari pintu ini, aku tidak mau dan tidak ingin mendengar gosip apa pun tentangku." Wulan menatapnya dengan senyuman tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

"Apa maksudmu?" Aryati tak kuasa menciut di bawah tatapan yang nyaris menusuk itu. Ia punya firasat aneh, seolah Wulan mengetahui semua pikiran yang bersembunyi di hatinya.

Wulan mengerutkan bibirnya dan berkata dengan tegas, "Tidak ada arti apa-apa. Sepupu sendiri lebih tahu apa maksudku."

Bola mata Aryati tiba-tiba menyusut. Wulan benar-benar tahu niatnya untuk menyebarkan masalah ini.

Tak satu pun orang yang hadir itu bodoh. Adipati Pramana dan yang lain dengan cepat menebak seluruh cerita dari percakapan keduanya. Hampir seketika, wajah Adipati berubah dingin.

"Wuri, jangan khawatir. Jika ada anggota keluarga yang berani membocorkan masalah ini, ayah pasti akan memenggal kepala orang itu." Adipati Pramana memandang Wulan, tetapi kata-katanya jelas ditujukan kepada Aryati.

Aryati mendengar maksud di balik kata-kata itu dan langsung menggigil.

"Sepupu, sebaiknya kau tidak terlalu banyak ikut campur dalam urusan Wuri." Waskita berdiri di depan dan menghalangi pandangan Aryati kepada Wulan tanpa jejak sedikit pun.

"Benar kata Waskita." Nenek Utari berdiri dengan tongkatnya dan memandang Aryati dengan acuh tak acuh. "Tangan keluarga kedua mungkin terlalu panjang. Jaga baik-baik."

"Ya, Aryati akan menurut." Aryati mengertakkan gigi dan menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah penuh ketidakpuasannya. Jari-jarinya mencengkeram lipatan rok hingga memutih. Hari ini boleh ia pulang dengan tangan kosong; besok pagi, papan caturnya akan kembali terpasang — kali ini dengan jarak yang lebih rapat dan senyum yang lebih tebal. "Karena Nona Ketujuh dalam keadaan sehat, Aryati bisa merasa tenang. Untuk masalah ini, Aryati pamit dulu agar tidak mengganggu istirahat Nona Ketujuh."

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!