Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Satu Tusukan yang Cukup
Pertarungan sudah berlangsung hampir lima menit—waktu yang jauh lebih lama dari yang pernah dibayangkan siapa pun di tribun, termasuk Chu Yan sendiri.
Keringat membasahi wajah Chu Feng, napasnya memburu, dan aliran qi di dalam tubuhnya mulai terasa seperti sungai yang hampir kering. Mata Dewa yang masih ia pertahankan aktif mulai terasa seperti beban yang menekan kepalanya, setiap detik penggunaannya terasa seperti menguras sumur yang tidak pernah cukup dalam.
Tidak akan bertahan jauh lebih lama, pikirnya, menghindari tebasan lain dari Chu Yan dengan margin yang semakin menipis.
Chu Yan sendiri mulai kehilangan kesabaran. Ekspresi mengejek di awal pertarungan sudah lama menghilang, digantikan dengan kefokusan yang lebih intens—jelas frustrasi karena lawan yang seharusnya bisa ia kalahkan dalam hitungan detik justru terus bertahan dengan cara yang tidak masuk akal baginya.
"Cukup bermain-main," geram Chu Yan, mengalirkan lebih banyak qi ke pedangnya hingga bilah itu bersinar keunguan—tanda teknik yang lebih serius dari sekadar serangan dasar. "Tunjukkan seberapa jauh kau bisa bertahan dari ini!"
Ia melesat maju dengan kecepatan yang jauh melampaui semua serangan sebelumnya, pedangnya membelah udara dalam rangkaian tebasan yang saling tumpang tindih, menciptakan jaring serangan yang hampir mustahil untuk dihindari sepenuhnya.
Chu Feng, dengan qi-nya yang hampir habis, tahu bahwa satu kesalahan kecil sekarang bisa berarti cedera serius—atau lebih buruk. Mata Dewa-nya menangkap satu celah, sepersekian detik di mana pergelangan tangan kanan Chu Yan sedikit terbuka di akhir rangkaian serangannya, sebuah kelemahan yang tersembunyi di balik kecepatan luar biasa teknik itu.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Alih-alih terus menghindar seperti sebelumnya, Chu Feng melakukan sesuatu yang tidak diduga siapa pun—ia melangkah maju, langsung ke tengah jaring serangan itu, gagang tombaknya berputar cepat untuk mengalihkan tebasan terakhir Chu Yan sedikit ke samping, sementara ujung tombaknya sendiri melesat lurus ke arah celah yang baru saja ia lihat.
Ujung tombak Chu Feng menggores lengan kanan Chu Yan—tidak dalam, tidak cukup untuk melumpuhkan, tapi cukup untuk menembus jubahnya dan meninggalkan goresan merah yang mulai mengalirkan darah.
Keheningan total menyelimuti seluruh lapangan.
Chu Yan berhenti bergerak, menatap goresan di lengannya dengan ekspresi yang sulit didefinisikan—campuran keterkejutan, kemarahan, dan sesuatu yang mendekati rasa hormat yang enggan.
Momentum serangan itu, bagaimanapun, juga membuat Chu Feng kehilangan keseimbangan sesaat—cukup lama bagi Chu Yan, meski terkejut, untuk membalikkan gagang pedangnya dan menghantam bahu Chu Feng dengan kekuatan penuh, mengirimnya terjungkal beberapa langkah ke belakang.
Chu Feng jatuh berlutut, tombaknya masih tergenggam erat meski tubuhnya bergetar hebat karena qi yang benar-benar terkuras habis. Mata Dewa-nya padam seketika, meninggalkan rasa sakit berdenyut di kepalanya, dan untuk sesaat pandangannya mengabur.
"Cukup!" seru tetua juri, melangkah cepat ke tengah panggung untuk memastikan pertarungan dihentikan sebelum berlanjut lebih jauh. "Pertarungan berakhir! Pemenang—"
Ia berhenti sejenak, matanya berpindah dari Chu Yan yang masih berdiri meski dengan luka di lengannya, ke Chu Feng yang berlutut kelelahan namun tidak sepenuhnya kalah.
"—Putra Keenam, Chu Yan, berdasarkan keunggulan akhir. Namun—" tetua itu menoleh ke arah tribun kehormatan, suaranya sedikit lebih pelan namun masih terdengar jelas, "—dewan juri mencatat performa luar biasa dari Putra Ketujuh."
Sorak-sorai campur aduk membahana dari tribun—sebagian bertepuk tangan untuk kemenangan Chu Yan yang memang diharapkan, namun sebagian besar lainnya justru bergumam kagum tentang Chu Feng, pangeran yang beberapa hari lalu masih dianggap tidak layak diperhitungkan, kini berhasil melukai salah satu kultivator terkuat di generasinya sebelum akhirnya kalah karena kelelahan.
Chu Yan berjalan mendekati Chu Feng yang masih berlutut di panggung, menahan sakit di lengannya dengan tangan lainnya. Untuk sesaat, ekspresi angkuhnya yang biasa sepenuhnya menghilang, digantikan sesuatu yang lebih jujur.
"Bagaimana," tanyanya pelan, hanya cukup terdengar oleh Chu Feng, "seseorang di tingkat Kondensasi Qi lapis kedua bisa membaca seranganku secepat itu?"
Chu Feng, meski hampir kehabisan tenaga, memaksakan senyum tipis. "Mungkin aku hanya beruntung, Kakak Keenam."
"Jangan bohong padaku," Chu Yan menatapnya tajam, namun tanpa nada mengejek seperti sebelumnya. "Aku sudah bertarung melawan banyak lawan. Tidak ada yang bisa membaca gerakan seperti itu hanya dengan keberuntungan."
Chu Feng menatap balik, mempertimbangkan seberapa banyak yang bisa ia ungkapkan. "Anggap saja," katanya akhirnya, "aku punya alasan untuk tidak lagi menyembunyikan segalanya seperti dulu."
Chu Yan terdiam sejenak, mengamati wajah adiknya lekat-lekat, sebelum akhirnya mengangguk pelan—bukan tanda persetujuan penuh, melainkan pengakuan bahwa ada sesuatu yang lebih dalam di balik pangeran yang selama ini ia remehkan.
"Lain kali," katanya, berbalik untuk kembali ke sisi panggungnya, "aku tidak akan meremehkanmu lagi, Adik Ketujuh."
Setelah pertandingan, tabib istana segera membawa Chu Feng ke ruang perawatan untuk memulihkan qi-nya yang terkuras habis. Lao Sun menunggu cemas di luar ruangan, wajahnya pucat sejak melihat tuannya jatuh di panggung.
"Yang Mulia baik-baik saja?" tanyanya begitu tabib mengizinkannya masuk.
"Hanya kelelahan," jawab Chu Feng lemah, namun matanya tetap tenang. "Aku akan pulih dalam beberapa hari."
Lao Sun menghela napas lega, meski tangannya masih sedikit gemetar saat menuangkan air untuk tuannya. "Yang Mulia sungguh nekat. Melukai Chu Yan di depan seluruh kerajaan..."
"Itu perlu," Chu Feng menggeleng pelan. "Kalau aku hanya bertahan tanpa melakukan apa pun, mereka akan menganggapku beruntung sekali, tidak lebih. Sekarang, setidaknya, mereka tahu aku bukan lawan yang bisa diremehkan begitu saja."
Pintu ruangan terbuka pelan, dan Su Yue melangkah masuk tanpa menunggu izin formal, ekspresi khawatir jelas terlihat di wajahnya sebelum akhirnya berubah menjadi kelegaan begitu melihat Chu Feng masih sadar dan bisa berbicara.
"Kau benar-benar nekat," katanya, duduk di kursi dekat ranjang tanpa diminta. "Aku pikir jantungku akan berhenti melihatmu maju ke tengah serangan seperti itu."
"Aku tahu apa yang kulakukan," Chu Feng tersenyum lemah.
"Apa kau memang tahu?" Su Yue mengangkat alis, meski nada suaranya lebih penuh kekhawatiran daripada tuduhan. "Atau kau hanya nekat karena tidak punya pilihan lain?"
Chu Feng terdiam sejenak, mempertimbangkan jawaban jujur. "Mungkin sedikit dari keduanya," akunya akhirnya, membuat Su Yue tertawa kecil meski masih menyisakan kekhawatiran di matanya.
Lao Sun, yang berdiri di sudut ruangan, memperhatikan interaksi keduanya dengan pandangan yang penuh arti namun tidak berkomentar apa pun—hanya tersenyum tipis sebelum keluar ruangan untuk memberi mereka sedikit privasi.
Malam itu, ketika Chu Feng akhirnya sendirian di ruang perawatan, suara di dalam dirinya kembali bergema, nada bangga namun juga waspada.
"Kau melakukannya dengan baik hari ini, Pangeran Ketujuh. Lebih baik dari yang kuduga."
Aku kalah, Chu Feng membalas dalam hati, meski tidak ada penyesalan dalam nadanya.
"Kau kalah dalam pertandingan," koreksi suara itu. "Tapi kau menang dalam hal yang jauh lebih penting—kau membuktikan bahwa dirimu tidak bisa lagi diremehkan begitu saja. Itu mengubah segalanya, baik untuk dirimu, maupun untuk mereka yang mulai memperhatikanmu."
Chu Feng menatap langit-langit ruangan, memikirkan wajah Chu Yan yang penuh rasa hormat baru, tatapan khawatir Su Yue yang masih terasa hangat di dadanya, dan firasat samar yang ia lihat sekilas di mata ayahnya sebelum pertarungan dimulai.
Ini baru permulaan, pikirnya, menutup mata untuk beristirahat memulihkan tenaganya. Festival ini akan berlanjut. Dan aku harus terus berkembang, secepat yang aku bisa—karena sesuatu memberitahuku bahwa dunia di luar tembok kerajaan ini menantikan tantangan yang jauh lebih besar dari sekadar Chu Yan.
Ia tidak salah. Jauh di sisi lain kerajaan, dalam kegelapan yang belum terjamah cahaya lentera istana, mata-mata yang lebih berbahaya dari sekadar pengikut Chu Yan mulai memperhatikan pergerakan Chu Feng dengan minat yang jauh lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan—minat yang berakar dari sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih gelap dari sekadar perebutan takhta kerajaan kecil.