Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Seraphina! Apa kau berniat membuat keluarga kita jadi malu besar, hah?"
Romi menggeram marah. Dia berbisik tertahan dengan wajah yang memerah dan urat leher yang menegang.
"Bukankah, sejak awal aku sudah bilang kalau aku tidak akan pernah menikah dengan Arsen?"
"Kau..."
Romi menghentakkan tangannya kuat-kuat hingga pegangan Seraphina terlepas. Pria paruh baya itu bersiap untuk menampar putri bungsunya.
Sepasang mata Seraphina menatap dengan nyalang tangan sang Ayah yang hendak menamparnya. Sudut bibirnya terangkat. Tipis. Namun, penuh dengan kekecewaan yang tersembunyi.
"Apa yang Ayah mertua lakukan?"
Sebelum tangan itu sempat memukul wajah Seraphina, Noah sudah lebih dulu menangkapnya.
Bibirnya memang tersenyum lebar. Namun, sepasang matanya menyebarkan aura pembunuh yang sangat pekat.
Terlebih lagi, tenaganya sangat kuat. Alis Romi bahkan mengernyit, berusaha menahan sakit pada pergelangan tangannya yang dicengkeram erat oleh Noah.
"Hari ini hari yang bahagia. Tolong jangan membuat masalah, Ayah mertua!" lanjut Noah penuh penekanan. Ia melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Romi.
"Siapa kau sebenarnya? Apa kau aktor bayaran yang sengaja disewa Seraphina untuk mengacaukan dan mempermalukan kami?" tanya Romi.
Dia mengabaikan rasa sakitnya. Dia tak mau terlihat lemah didepan pemuda dengan kepribadian yang tak bisa ditebak ini.
Noah tersenyum. "Nanti juga Ayah akan tahu."
Pria muda itu memberi kode kepada teman-teman groomsmen-nya untuk memaksa Romi turun dari altar. Pun, dengan Arsen.
Sementara, Kaivan dan Kalani sengaja dibiarkan tetap berdiri di tempat mereka.
"Apa-apaan ini? Sera, kau benar-benar memalukan!" teriak Romi murka.
"Sera, siapa dia?" tanya Arsenio panik. "Aku ini calon suamimu. Kamu tidak bisa menikah dengannya, Sera!!"
"Sera, aku mencintaimu. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, Sera! Jangan menikah dengannya. Aku jauh lebih baik dibanding pria manapun, Sera!!" lanjut Arsenio. "Sera, dia hanya orang asing. Jangan tertipu oleh tampangnya, Sera!! Wajah setampan dia biasanya cuma penipu, Sera. Kau dengar?"
Mau sekeras apapun Arsenio berteriak, namun Seraphina tak peduli. Hatinya sudah lama mati untuk Arsenio.
"Kau siap, calon istri?" bisik Noah.
Seraphina mengangguk.
"Kalau begitu, pegang tanganku!"
Kembali, jantung Seraphina berdegup dengan kencang. Dalam 25 tahun hidupnya, hari ini adalah hari perdana dimana Seraphina benar-benar melakukan perlawanan yang sangat sengit atas semua ketidakadilan yang pernah dia alami.
Kali ini, Seraphina hanya akan hidup untuk dirinya sendiri. Bukan untuk membahagiakan orang lain lagi.
"Pak, tolong nikahkan kami sekarang!" pinta Noah kepada pria paruh baya yang sedari tadi mengikuti drama ini dengan tatapan bingung.
"Tapi..."
"Ekhem!!" Seseorang berdehem disampingnya. Marco.
Pria paruh baya itu pun memperbaiki posisi kacamatanya. Kemudian, dia memulai prosesi pernikahan dengan penggantian mempelai pria yang tak pernah disangka-sangka.
"Mohon maaf, siapa nama calon pengantin prianya?"
"Noah Elian Alexander." Marco menjawab dengan lantang dan sedikit sombong.
Ya, ini pertama kalinya dia menyebut nama Noah dengan sebangga itu.
(Sebagai bocoran, dia bisa sesemangat itu karena jatah cutinya ditambah jadi seminggu.)
"Sera, kamu tidak bisa menikah dengan sembarang orang. Kau..."
"Sssttt!!!" Noah memotong ucapan Kalani. "Jangan berisik!"
Namun, Kalani tetap berusaha mengganggu jalannya prosesi pernikahan Seraphina dan Noah. Dia tak terima jika Seraphina mendapatkan pria yang jauh lebih tampan dibanding Arsenio dan Kaivan.
"Sera, Ayah dan Ibu akan benar-benar marah! Apa kamu mau dikeluarkan dari keluarga Maherza selamanya?"
"MARCO!!" panggil Noah dengan suara keras.
"Siap, Bos," sahut Marco.
"Kau pakai kaos kaki?" tanya Noah.
Marco mengangguk meski bingung. "Tentu."
"Copot semuanya dan berikan padaku!" titah Noah.
"Oke."
Marco membuka sepatu kemudian melepas sepasang kaos kakinya dengan cepat. Kemudian, sepasang kaos kaki itu ia berikan kepada Noah.
Noah menerima sepasang kaos kaki itu. Dia mendekati Kalani lalu menjejalkan kaos kaki bekas Marco ke mulut Kalani.
Eunghh!
Pftt!
Seraphina berusaha menahan tawa. Wah, Noah benar-benar luar biasa.
"Kau..." Kaivan hendak membela sang istri.
"Oh, kau mau juga?"
Dan, jleb!
Kaos kaki yang satu lagi kini masuk ke dalam mulut Kaivan.
Pweh!
Kaivan dan Kalani sama-sama memuntahkan kaos kaki itu dari mulut mereka.
"Apa yang kau lakukan?" protes Kaivan.
Noah langsung menarik dasinya hingga Kaivan tercekik dan sulit untuk bernapas.
"Sebaiknya, kau buat mulut istrimu itu diam! Kalau tidak, bukan hanya kaos kaki saja yang akan aku jejalkan ke mulut kalian tapi juga peluru. Kau mengerti?"
Deg.
Bulu kuduk Kaivan reflek berdiri. Tatapan itu... tidak main-main. Pria ini bersungguh-sungguh.
"Sera, pria macam apa yang sebenarnya ingin kau nikahi, hah?" gumam Kaivan dalam hati.
Tubuhnya mundur beberapa langkah saat Noah melepaskannya.
"Kita lanjutkan upacara pernikahannya," kata Noah.
Senyumnya kembali muncul. Saat menatap Seraphina, tatapan menyeramkan itu langsung berubah begitu lembut.
"Saudara Noah Elian Alexander, maukah engkau menerima saudari Seraphina Allena Maherza sebagai istrimu yang sah? Maukah engkau mengasihinya, menghiburnya, menghormatinya, dan menjaganya dalam keadaan sehat maupun sakit, suka maupun duka, dan tetap setia kepadanya seumur hidupmu?"
"Ya, aku bersedia."
Tangan Seraphina mulai terasa dingin. Dia mendadak gugup. Namun, remasan lembut pada telapak tangannya membuat dia jadi sedikit lebih berani. Lebih teguh.
"Saudari Seraphina Allena Maherza, maukah engkau menerima saudara Noah Elian Alexander sebagai suamimu yang sah? Maukah engkau mengasihinya, menghiburnya, menghormatinya, dan menjaganya dalam keadaan sehat maupun sakit, suka maupun duka, dan tetap setia kepadanya seumur hidupmu?"
Jantung Seraphina rasanya hampir meledak. Suara yang keluar dari tenggorokannya pun terdengar bergetar.
"Ya, aku bersedia."
Senyum Noah semakin lebar. Marco pun ikut tersenyum.
Dibawah, Romi justru tampak geram. Selly hanya menonton pasrah dan Arsenio serta kedua orangtuanya tampak begitu tak terima karena calon istri dan calon menantu mereka malah direbut orang lain.
"...Dengan ini, aku menyatakan bahwa kalian sudah resmi menjadi suami istri yang sah."
Saat kalimat itu terdengar di rungu Seraphina, ada kelegaan yang seketika mengisi jiwanya. Sesak yang telah menekan dadanya selama bertahun-tahun seolah terangkat.
Dia memperoleh kemenangan pertamanya. Dia memperoleh kemerdekaan hidupnya.
"Sekarang, apa aku boleh mencium istriku, Pak Pendeta?" tanya Noah yang seketika membuat napas Seraphina tercekat.
Pria tua itu tersenyum. "Tentu saja boleh."
Noah pun membuka veil yang sedari tadi menutupi wajah sang istri.
Deg.
Noah terpaku. Tatapannya tak bisa lepas dari wajah cantik yang sedang malu-malu itu.
"Aku memang tidak salah pilih," gumam Noah dengan bangga.
"Hah? Kau bilang apa?" tanya Seraphina.
"Bukan apa-apa," jawab Noah yang langsung mencium bibir Seraphina dengan tak sabaran.
"Lepaskan calon istriku! Brengsek, jangan sentuh dia!" teriak Arsenio murka.
Dia pun terpaksa diseret keluar oleh anak buah Noah agar suaranya tak mengusik kebahagiaan Noah.
Disisi lain, ada Kaivan yang hatinya sungguh merasa tak enak. Seharusnya, dia bahagia hari ini. Namun, hatinya justru terasa kosong dan kini berubah jadi nyeri saat pria lain mencium Seraphina dengan menggebu-gebu dan penuh minat.
"Akan ku simpan bagian terbaiknya untuk nanti malam," bisik Noah saat dia mengakhiri sesi ciuman itu. Ia mengelap bibir sang istri dengan lembut lalu menjentikkan jarinya ke udara.
Tak lama, seorang bridesmaid naik ke atas. Dia membawakan sepasang cincin untuk Noah dan Seraphina.
"SERAPHINA!!!" Kalani tiba-tiba berteriak kencang saat melihat cincin yang disematkan oleh Noah ke jari manis Seraphina.
Batu berlian cincin itu jelas lebih besar dibanding miliknya. Kilaunya juga tampak berbeda. Milik Seraphina jauh lebih bersinar dan berwarna merah muda. Jelas, itu potongan berlian langka.
"Kau dapat uang darimana untuk membeli cincin semahal itu, hah?" tanya Kalani. "Kau mencuri uang milik Ayah, kan? Cepat mengaku!!"
Kemudian, Kalani menunjuk wajah Seraphina. Dia berteriak sekencang mungkin.
"PENCURI!! Tolong ada pencuri!! Ayah, Ibu! Cepat hubungi polisi! Penjarakan Seraphina dan suami penipunya ini."
Plak!
Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Kalani. Bukan dari Kaivan. Bukan juga dari Seraphina. Tapi, dari pria yang sedari tadi mengamati.
Marco.
"Kau..." Kalani mulai meneteskan air mata. Tamparan itu keras sekali hingga sudut bibirnya berdarah dan pipinya membengkak.
"Jaga bicaramu, Nona! Kau tidak tahu, siapa orang yang sedang kau singgung!" peringat Marco.
Tajam.
Penuh penekanan.
Dan... menakutkan.
menyusun rencana merebut lagi
noah & sera kalian keren sekali 🤭🤭🤭🤭