NovelToon NovelToon
" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

" Kota Sane " Tertinggal Diujung Dunia

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Misteri / Tamat
Popularitas:710
Nilai: 5
Nama Author: eka sundari

"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."

Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.

Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.

Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.

Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?

​Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERPISAHAN TAK TERELAKKAN

Malam makin larut di Penginapan Bahari. Setelah jam operasional kafe ditutup dan keramaian wisatawan mulai menyurut, hembusan angin laut terasa membawa hawa dingin yang menusuk.

Di pelataran kayu yang kini sepi, Devan duduk berhadapan dengan Arkan ( Abang naya)

di sebuah meja rotan di bawah temaram pendar lampu gantung. Di atas meja, dua cangkir kopi hitam yang masih menggepulkan uap tipis menjadi saksi bisu keheningan di antara dua pria dewasa tersebut.

Arkan menyandarkan punggungnya di kursi, memandangi sosok Devan dengan tatapan penuh wibawa dan rasa hormat yang tulus.

"Devan," buka Arkan dengan suara berat yang menenangkan, memecah hembusan angin malam. "Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kamu, Nenek, dan seluruh staf di sini sudah menjaga Naya dengan sangat baik selama dia ada di pulau ini."

Devan mengangguk pelan, mengusap cangkir kopinya tanpa memandang Arkan secara langsung. "Sudah kewajiban kami, Mas Arkan. Naya orang baik. Dia justru yang sudah menyelamatkan dan meniupkan nyawa baru buat Penginapan Bahari ini."

Arkan tersenyum tipis. "Mengenai uang modal dan investasi yang sudah Naya keluarkan untuk renovasi penginapan dan kafe ini..." Arkan jeda sejenak, menatap Devan lurus-lurus. "...tidak usah dikembalikan. Anggap saja itu hadiah dan ucapan terima kasih dari keluarga kami untuk Penginapan Bahari."

Devan tersentak kecil, mendongak menatap Arkan. "Arkan, jumlah uang itu tidak sedikit. Saya pasti akan mencicilnya sampai lunas—"

"Tidak perlu, Devan," pangkas Arkan tegas namun penuh kehangatan. "Kami sangat menghargai kerja kerasmu di sini. Naya bahagia berada di tempat ini, dan bagi keluarga kami, kebahagiaan serta keselamatan Naya tidak bisa dinilai dengan uang."

Devan mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa berutang dan canggung berkecamuk di dalam dadanya. Namun sebelum ia sempat membalas, Arkan menyeruput kopinya perlahan, lalu menatap Devan dengan pandangan seorang kakak laki-laki yang protektif.

"Devan... saya tahu ada getaran yang berbeda saat melihat caramu menatap adik saya," ujar Arkan dengan nada tenang namun sarat penekanan.

Otot rahang Devan mengeras seketika. Pria itu membisu, membiarkan Arkan melanjutkan perkataannya.

"Naya itu... dia masih sangat muda untuk urusan cinta, Devan," lanjut Arkan lirih, pandangannya menerawang ke arah lautan malam. "Dia baru berumur 20 tahun. Di kampusnya di Pulau Sina, dia itu jadi primadona yang dikejar banyak pria. Tapi saya dan Ayah selalu menjaganya dengan sangat ketat. Kami membatasi dan memastikan tidak ada sembarang pria yang mendekatinya."

Arkan menatap Devan yang kini berusia 29 tahun—seorang pria matang yang penuh luka masa lalu, mantan pemuda keras jalanan yang kini berjuang mengelola penginapan sederhana.

"Sedangkan kamu sudah 29 tahun, Devan. Kamu pria dewasa yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan," kata Arkan dengan kejujuran yang menohok. "Naya masih polos, emosinya masih labil, dan dunianya masih sangat luas di luar sana. Biarkan dia tumbuh dan matang dulu dengan dunianya."

Setiap kata yang diucapkan Arkan merayap bagai sembilu yang menusuk tepat di dada Devan. Namun, tak ada kemarahan di dalam diri Devan. Yang ada hanya rasa sadar diri yang makin membendung. Kata-kata Arkan adalah cermin kenyataan yang selama ini sengaja Devan hindari.

Devan menghembuskan napas panjang, menatap Arkan dengan keteguhan dan mata baritonnya yang dalam.

"Saya mengerti,Arkan," sahut Devan parau namun mantap. Sikap acting cool yang biasanya ia pasang kini berganti dengan kepasrahan seorang pria sejati. "Naya memang pantas mendapatkan masa depan yang jauh lebih terang dan aman di Pulau Sina."

Arkan menepuk bahu Devan pelan, menghargai sikap dewasa dan lapang dada dari pemilik Penginapan Bahari tersebut. Di bawah naungan malam Pulau Sane, Devan tahu... menahan diri dan melepaskan Naya pergi adalah bentuk cinta tertinggi yang bisa ia berikan.

 

Mentari pagi di atas dermaga Pulau Sane membias redup, diselimuti kabut tipis dan deru ombak yang memecah dingin. Di pelataran Penginapan Bahari, suasana keharuan menyelimuti sesi perpisahan.

Nenek memeluk Naya erat-erat, menepuk punggung gadis itu dengan telapak tangannya yang keriput. Air mata sang nenek menetes perlahan. "Hati-hati di jalan ya, Nya... Jangan lupakan Penginapan Bahari. Jangan lupakan Nenek."

"Naya tidak akan pernah lupa, Nenek," bisik Naya parau, mencium kedua pipi nenek penuh kasih. Budi dan Pak Karman berdiri di belakang dengan mata berkaca-kaca, melambaikan tangan dengan senyum tulus yang dipaksakan. Bahkan Clarissa hanya bersedekap di pojokan, membisu melihat momen tersirat itu.

Arkan melangkah mendekati Nenek dan para staf, menunduk hormat dengan penuh wibawa. "Terima kasih banyak sudah menjaga adik saya dengan sangat baik. Kebaikan kalian tidak akan pernah kami lupakan."

Langkah kaki mereka berderak di atas kayu dermaga. Kapal besar tujuan Pulau Sina sudah mengapung tenang, siap melepas tali temali. Arkan berjalan lebih dulu naik ke atas geladak untuk menata barang-barang, memberikan ruang bagi adiknya dan sang pemilik penginapan.

Devan berdiri tegap di tepi dermaga, memegang tali jangkar dengan bahu kokohnya. Kemeja linen hitamnya berkibar pelan tertiup angin laut. Wajahnya kembali membeku—dingin, datar, dan tak terjangkau.

Naya membalikkan badan, berdiri tepat satu meter di hadapan pria itu. Matanya berbinar basah, menatap lurus ke dalam iris mata bariton Devan yang berusaha keras menghindari tatapannya.

"Naya pamit ya, Bang Devan," tutur Naya pelan, suaranya bergetar menahan tangis yang membendung di tenggorokan.

Devan mendeham pelan, merapatkan bibirnya hingga membentuk garis lurus yang kaku. "Hati-hati di jalan. Semoga perjalananmu ke Pulau Sina lancar."

Hanya itu. Singkat, dingin, dan berjarak.

Naya mengepalkan tangannya di samping gaunnya. Dada gadis itu berdenyut nyeri. Sikap Devan kembali persis seperti benteng batu yang tak tersentuh—seolah seluruh deru kembang api, kecupan hangat, dan genggaman erat dua Minggu lalu benar-benar telah sirna tanpa bekas.

"Apa cuma itu yang mau Abang katakan?" bisik Naya menuntut, mengambil satu langkah lebih dekat. "Tidak ada hal lain?"

Devan mengepalkan tangannya di balik saku celana hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan percakapannya dengan Arkan semalam—tentang usia Naya yang baru 20 tahun, tentang masa depannya yang terang di kampus Pulau Sina, dan fakta bahwa Devan adalah pria 29 tahun dengan masa lalu kelam—menghantam dadanya bagai hantaman ombak badai.

Dia harus bebas. Dia tidak boleh terikat pada pria berdarah dingin seperti kamu, Devan, bisik batin Devan kejam pada dirinya sendiri.

Devan mendongak, menatap Naya dengan sorot mata paling dingin yang bisa ia ciptakan. "Tidak ada, Naya. Semua sudah selesai."

Air mata Naya akhirnya luruh menembus pipinya. Gadis itu tersenyum pahit, mengangguk pelan seraya melangkah mundur menuju tangga kapal. "Baik. Terima kasih untuk semuanya, Bang Devan."

Naya berbalik dan menaiki tangga tanpa menoleh lagi.

Klaxon kapal meraung keras menggema ke seluruh penjuru dermaga. Peluit tanda keberangkatan dibunyikan, dan slowly, gelombang air putih tercipta saat mesin kapal mulai berputar mendorong lambung besi itu menjauhi dermaga Pulau Sane.

Naya berdiri di pagar geladak atas, memandangi sosok Devan yang kian mengecil di ujung kayu dermaga. Windu angin laut mengibaskan rambutnya yang basah oleh air mata.

Di bawah sana, Devan tetap berdiri membisu. Pria itu tidak melambaikan tangan. Ia hanya berdiri tegap bagai patung kayu, menyaksikan kapal itu bergerak makin jauh membakar jarak.

Namun, tepat ketika kapal terdorong lima puluh meter dari daratan...

Devan perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, meraba dada kirinya. Di balik kemeja linennya, sesuatu tersimpan rapat—sebuah sketsa kasar desain Penginapan Bahari yang dibuat Naya pada malam pertama mereka.

Otot rahang Devan bergetar hebat. Pria yang selama ini dikenal tak bermata air mata itu memejamkan matanya rapat-rapat. Saat matanya terbuka kembali, sebulir air mata bening menetes melewati pipinya yang tegas, jatuh membasahi kayu dermaga.

"Selamat jalan, dunia saya..." bisik Devan parau, suara baritonnya pecah diterpa angin laut yang dingin.

suasana mencekam pun kembali datang....

" Pulau sane " pulau tertinggal diujung dunia ......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!