Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Sore itu, angin berembus sepoi-sepoi di rooftop gedung fakultas yang sepi. Kinara duduk di atas sebuah ayunan besi panjang, menyandarkan kepalanya pada rantai ayunan sambil memejamkan mata perlahan. Menjauh dari hiruk-pikuk area bawah kampus yang sedang gempar karena video viral keluarga Adijaya, di atas sini Kinara akhirnya bisa merasakan ketenangan yang sesungguhnya.
Krieeet...
Suara pintu besi rooftop yang terbuka membuat Kinara perlahan membuka matanya. Sosok jangkung Zergan melangkah masuk dengan kedua tangan yang ditenggelamkan ke dalam saku celana. Pria itu tampak kusut, raut wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat—tampaknya ia naik ke atas sini dengan niat murni untuk menyendiri dari kerumunan.
Namun, langkah Zergan mendadak terhenti saat manik mata elangnya menangkap kehadiran Kinara. Mata mereka saling bertemu, terkunci dalam keheningan selama beberapa detik.
Zergan sempat ragu, namun alih-alih berbalik pergi, ia justru melangkah mendekati ayunan besi tempat Kinara berada. Pria itu mendudukkan dirinya di atas ayunan yang sama, namun di ujung yang paling berlawanan—menyisakan jarak yang cukup lebar di antara mereka. Keheningan kembali merayap di antara sapuan angin sore yang menerpa rambut mereka.
Menatap lurus ke depan, Kinara akhirnya memutus keheningan itu terlebih dahulu. "Aku tahu kamu sedang pusing memikirkan Oma Gayatri," ucap Kinara, suaranya terdengar lembut namun tenang, berbaur dengan deru angin. "Aku tidak bercanda soal ucapan malam itu, Zergan. Aku akan membantumu dan Haura untuk mendapatkan restu dari Omamu."
Zergan tidak langsung merespons. Ia menolehkan kepalanya, menatap tajam profil samping wajah Kinara yang tampak begitu damai dari jarak sedekat ini. Rahangnya mengeras samar.
"Kenapa?" tanya Zergan dengan suara beratnya yang menuntut penegasan. "Kenapa kamu selalu terlalu ikut campur dalam urusan hidupku? Kamu sengaja terluka demi aku, kamu tahu rahasia keluargaku, dan sekarang kamu bahkan mau mengurus restu hubunganku. Siapa kamu sebenarnya, Nara? Dan apa maumu dariku?"
Mendengar rentetan pertanyaan penuh kecurigaan itu, Kinara perlahan memutar tubuhnya menghadap Zergan. Alih-alih merasa terintimidasi, ia justru menyunggingkan sebuah senyuman yang teramat tulus—senyuman paling hangat yang pernah Zergan lihat dari gadis itu selama ini.
Kinara menatap lekat-lekat setiap inci wajah Zergan; mata elangnya yang tajam, hidung mancungnya, hingga garis rahang tegas yang di kehidupan lalu selalu ia pandangi dengan rasa cinta yang teramat dalam namun berujung luka.
"Aku tidak menginginkan apa-apa darimu, Zergan," ucap Kinara lirih dengan mata yang berbinar tulus namun menyiratkan kepasrahan yang mendalam. "Aku hanya ingin melihatmu hidup dengan baik, tanpa harus hancur oleh penyesalan yang terlambat. Anggap saja... ini adalah caraku untuk menebus sebuah janji di masa lalu yang tidak sempat kuselesaikan. Setelah kamu bahagia dan semuanya aman, aku berjanji akan menghilang sepenuhnya dari pandanganmu."
Mendengar jawaban yang begitu sarat akan emosi namun terdengar sangat asing di logikanya, Zergan tertegun membeku. Jantungnya kembali bertalu dengan ritme yang tidak beraturan, persis seperti sensasi aneh yang ia rasakan saat menyantap sup buatan Kinara malam itu.
Sorot mata elang Zergan menatap lurus ke dalam manik mata Kinara, mencoba mencari kilasan jawaban di sana. Angin rooftop yang berembus kencang menerbangkan beberapa helai rambut Kinara, menambah kesan misterius pada raut wajah gadis itu.
"Apa kita... pernah bertemu sebelumnya?" tanya Zergan dengan suara yang mendadak melunak, hampir menyerupai bisikan yang penuh keraguan. "Rasa masakanmu, caramu menatapku, dan semua ucapanmu... rasanya terlalu mustahil jika kita benar-benar orang asing yang baru bertemu beberapa hari lalu. Di mana kita pernah bertemu, Nara?"
Kinara tidak langsung menjawab. Ia menatap Zergan untuk yang terakhir kalinya sore itu, membiarkan senyuman tulusnya perlahan memudar digantikan oleh seulas senyum tipis yang sarat akan rahasia.
"Entahlah," jawab Kinara lirih, sebuah jawaban mengambang yang sengaja ia berikan untuk memutus rasa penasaran Zergan.
Sebelum Zergan sempat membuka mulutnya lagi untuk mendebat atau menahan pergelangan tangannya, Kinara sudah lebih dulu berdiri dari ayunan besi tersebut. Ia merapikan tas kuliah di pundaknya, berbalik tanpa ragu, dan melangkah pergi meninggalkan Zergan sendirian di atas rooftop.
Zergan hanya bisa terpaku di tempatnya, menatap punggung Kinara yang perlahan menghilang di balik pintu besi, menyisakan deru angin sore dan sejuta pertanyaan yang kian berkecamuk hebat di dalam benaknya.
kayanya Haura ada main di belakangnya, dengan Arsen pula!
ada pengkhianatan sebenarnya...
Namun sesudahnya sebenarnya terkuak hubungan rahasia Haura dan Arsen....
dan itu belum di ketahui oleh Ze 👍
dan...bisa jadi di takdir kedua ini, sebenarnya menghubungkan antara 2 tokoh utamanya 👍😁
besok² crazy up dong kk thor💪