Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Cincin di Jari Manis
Semburat jingga mulai terlukis di atas langit Kudus. Mobil yang Gus Hafiz kendarai memasuki gerbang pondok.
Anisa turun lebih dulu. Tangannya menggenggam kantong belanjaan yang tadi dipilihkan Gus Hafiz. Tidak banyak bicara sepanjang perjalanan pulang, hanya sunyi yang menggantung.
Gus Hafiz mengikuti langkah Anisa, di serambi belakang Gus Hafiz bertemu dengan Ibu Nyai Fatimah.
"Nisa, bawak Masmu istirahat dulu." ujar Ibu Nyai. Anisa langsung menoleh, kearah Gus Hafiz.
"Emm...tapi..." suara Anisa ragu untuk mengiyakan. Namun lagi-lagi, ucapan Ibu Nyai membuat Anisa tak berkutik.
"Nyai tau, kalian suami istri, ndak usah sungkan, Nduk. Lakukan kewajibanmu sebagai istri, terkait peraturan dari Umi Laila, kamu kudu pinter menyikapinya. Di sini, Kalian hanya perlu menutupinya dari orang luar, tapi tidak dengan Bulekmu dan Pak lekmu." ujar Nyai Fatimah.
Gus Hafiz tersenyum, sambil mengangguk.
"Nggih Bulek, maturnuwun,"
ujarnya.
Anisa menelan ludah.
Ia hanya mematung.
"Nisa, nunggu apa, Nduk. Ayo ajak Masmu istirahat."
"Haaa..." sahut Anisa.
Ibu Nyai tersenyum melihat kegugupan santri titipan masnya itu.
"Mau tetap di sini?" suara Gus Hafiz memecah kecanggungan.
Anies mengangguk, lalu buru-buru melangkah ke arah kamarnya.
Anisa membuka pintu kamar. Lampu menyala lembut.
Gus Hafiz masuk satu langkah, lalu meletakkan kantong belanjaan di atas lantai, rapi di dekat lemari.
Hening menyelimuti ruangan.
Gus Hafiz berdiri tepat di hadapan Anisa.
Jarak mereka tidak sampai satu lengan.
Anisa menunduk, tak berani menatap terlalu lama.
Ada gerakan ragu dari tangan Gus Hafiz. Seolah ia mempertimbangkan sesuatu. Jari-jarinya sedikit terangkat… lalu turun lagi.
Beberapa detik terasa canggung.
Namun kemudian, Gus Hafiz mengangkat tangannya kembali, dan mengelus puncak kepala Anisa.
Lembut, hangat.
Gerakan yang sederhana, tapi membuat napas Anisa tercekat.
“Setelah ini, Mas langsung pamit,” ujarnya rendah. “Jaga dirimu.”
Anisa hanya mengangguk kecil.
“Kalau ada waktu, Mas akan lebih sering sambang.”
Kali ini Anisa mendongak.
Mata mereka bertemu.
Ada sesuatu di tatapan Gus Hafiz, tatapan itu, tidak lagi sejauh dulu.
Namun ada keterkejutan di mata Anisa.
Lebih sering?
Anisa membatin, penuh tanya.
Kenapa kalimat itu justru membuat dadanya bergetar?
Gus Hafiz melangkah setengah langkah lebih dekat. Dan Refleks, Anisa mundur satu langkah, hingga kakinya menabrak lemari pakaian.
Langkah Gus Hafiz pun langsung berhenti.
Ia tidak memaksa.
Hanya menatap Anisa, lembut.
“Mas cuma mau pamit,” suaranya rendah, "Ndak boleh?”
Anisa mendelik, napasnya tak beraturan. Ia tidak berkata tidak. Tapi juga tidak mengangguk. Diamnya menggantung.
Gus Hafiz menatapnya lurus beberapa detik untuk memastikan.
Lalu dengan gerakan pelan, ia mengangkat tangannya, menyentuh sisi kepala Anisa, bagian belakang dan menariknya sedikit mendekat.
Kecupan itu mendarat di kening Anisa.
Lembut dan tidak tergesa.
Sama seperti saat setelah akad dulu.
Ciuman kedua, yang ia dapatkan dari seorang Gus.
Kecupan itu, tidak lebih lama dari beberapa detik, tapi cukup untuk membuat dunia Anisa terasa berhenti.
Saat Gus Hafiz menjauh, tangannya masih memegang kedua bahu Anisa sebentar.
“Mas pamit.”
Anisa mengangguk kaku.
Jantungnya masih meronta-ronta.
Ia tak tahu harus berkata apa. Tak tahu harus mengantar atau membiarkannya pergi begitu saja.
Gus Hafiz berbalik, melangkah keluar kamar, lalu menutup pintu perlahan.
Suara langkahnya menjauh di lorong ndalem.
Anisa bersandar di lemari.
Menahan debar jantung jang hampir pecah.
Semua perasaannya bergulat liar, malu, gugup, kesal, bercampur jadi satu dan meledak bersamaan.
Beberapa detik kemudian, Anisa bangkit tiba-tiba.
Ia berlari keluar.
Menyusuri lorong. Turun ke halaman.
Tapi mobil hitam itu sudah bergerak menjauh dari gerbang pondok.
Anisa berhenti di ambang gerbang.
Langit sudah hampir gelap.
Mobil itu makin kecil, lalu hilang di tikungan jalan.
Anisa berdiri diam.
Kenapa setiap kali lelaki dewasa itu pergi… rasanya seperti ada yang dicabut dari dalam dirinya?
Angin senja menyentuh wajahnya.
Tangannya perlahan menyentuh keningnya sendiri.
Bekas kecupan itu masih terasa jelas, meski tak lagi ada bibir Gus Hafiz yang menempel di keningnya.
***
Seminggu sejak kecupan di kening itu.
Seminggu sejak mobil hitam Gus Hafiz menjauh, entah kenapa meninggalkan ruang kosong yang tak Anisa akui.
Pangi Minggu, Anisa duduk di tepi ranjangnya. Tangannya memegang ponsel cukup lama sebelum akhirnya ia menekan nama Nabila.
Sambungan tersambung cepat.
“Nisaaa! Akhirnya kamu ingat aku juga!” suara Nabila riang seperti biasa.
Anisa tersenyum kecil. “Iya, gimana kabar pondok?”
Obrolan mereka ringan di awal. Tentang jadwal baru. Tentang santri yang pindah kamar. Tentang ustadz yang mulai galak karena mendekati ujian.
Tapi lama-lama…
Pertanyaan Anisa berubah arah.
“Eh… Gus Hafiz gimana?” tanyanya terdengar santai. Terlalu santai, agar Nabila tak mencurigainya.
“Gus Hafiz, ya...?” Nabila langsung bersemangat. “Nah ini yang lagi hangat!”
Jantung Anisa berdetak sedikit lebih cepat.
"Hangat..?"
“Kenapa?”
Tanya Anisa berubah serius.
“Kamu nggak dengar kabar?” Nabila menurunkan suaranya seperti sedang bergosip rahasia. “Katanya Gus Hafiz lagi deket sama Ustadzah Afifah.”
Anisa terdiam.
Ustadzah Afifah.
Anisa hanya membatin.
Nama itu tidak asing.
Dan Anisa cukup kenal dengan Ustadzah lulusan Kairo itu. Cantik, tegas dan dikenal sebagai ustadzah yang sulit didekati.
“Oh ya?” suara Anisa terdengar datar.
“Iya! Dan ini nih...”
Beberapa detik kemudian ponsel Anisa bergetar. Sebuah foto masuk.
Anisa membukanya.
Itu foto tangan Gus Hafiz.
Ia hafal betul tangan jari itu.
Di jari manisnya, terpasang cincin perak sederhana. Ada ukiran kecil di bagian dalam lingkarannya. Huruf yang samar, seperti inisial.
“Lihat nggak?” Nabila kembali bersuara. “Kata mbak-mbak abdi ndalem, itu cincin couple. Katanya sengaja dipesan Gus buat bidadari hatinya. Yang dia tunggu bertahun-tahun.”
Anisa merasa ujung jarinya dingin. Anisa pernah lihat cincin langsung, di kamar Gus Hafiz, saat ia ngerok punggung Gus Hafiz pas masuk angin, Nabila benar, cincin itu sepasang.
“Dan ternyata…” Nabila menahan napas dramatis. “Yang dia tunggu itu Ustadzah Afifah!”
Sunyi.
Di ujung telepon, Nabila masih berbicara.
“Nisa? Nis...?”
Anisa tidak langsung menjawab.
Pandangannya masih terpaku pada foto itu.
Jari manis.
Cincin perak.
Inisial A.
Dadanya terasa seperti diremas perlahan.
“Nisa!” suara Nabila sedikit panik. “Kamu masih di situ?”
Anisa tersentak.
“Haaa...Iya… iya, aku denger.”
Lalu ia tertawa kecil. Dipaksa.
“Wah cocok dong mereka. Sama-sama killer.”
Nabila langsung ikut tertawa. “Iya sih! Tapi aku nggak ikhlas, Nis. Masak ustadz idolaku punya wanita lain, selain aku!”
Nabila pura-pura menangis di telepon.
Anisa ikut tersenyum.
Senyum yang berbeda.
Tidak ada tawa di matanya.
Setelah beberapa menit lagi bercanda, sambungan terputus.
Kamar kembali sunyi.
Anisa masih duduk di tempat yang sama.
Ponselnya perlahan diturunkan.
Jadi… inisial A di cincin itu Afifah.
Batin Anisa lirih.
Ternyata wanita yang Gus Hafiz tunggu selama ini… Ustadzah Afifah.
Seketika Anisa, teringat ucapan Gus Hafiz waktu itu.
“Mas tidak pernah menganggap ini sekadar keadaan.”
Kenapa sekarang kalimat itu terasa berbeda?
Dadanya tiba-tiba sesak.
Ada rasa kecewa yang muncul tanpa izin.
Tapi… kenapa kecewa?
Bukankah sejak awal ia sendiri yang mengatakan pernikahan itu hanya karena keadaan?
Bukankah ia yang selalu menolak mengakui hubungan itu sepenuhnya?
Anisa memejamkan mata.
Tak salah jika Gus Hafiz mencintai Ustadzah Afifah. Itu haknya.
Ia berhak mencintai siapa pun.
Ia berhak menunggu siapa pun.
Anisa dinikahi hanya karena keadaan.
Hanya solusi dari masalah, yang dianggap sudah membuat aib pondok pesantren.
Dan hanya perempuan yang hadir di waktu yang salah.
Air mata yang tadi ditahannya akhirnya jatuh juga. Ia menunduk, memeluk lututnya sendiri.
Kenapa sesak sekali rasanya?
Padahal sejak awal… ia yang bilang ini bukan pernikahan sungguhan.
Tapi kenapa saat membayangkan Gus Hafiz memberikan cincin couple pada perempuan lain, yang terasa patah justru hatinya sendiri?