Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Usir Clara
Pagi itu aku terbangun karena sinar matahari Bali yang menyilaukan masuk dari kaca raksasa vila.
Aku masih terbaring di sofa. Tapi aneh, sofa ini terasa lebih hangat, lebih keras, dan... bernafas?
Aku membuka mataku pelan. Ya Allah.
Aku tidak tidur di atas sofa. Aku tidur DI ATAS Mas Brayen!
Kepalaku bersandar di dada bidangnya, tangannya yang kekar melingkar erat di pinggangku, menjagaku agar tidak jatuh. Selimut tipis menutupi kami berdua. Gaun peach ku masih kusut. Posisi kami sangat mesra, sangat dekat. Bahkan aku bisa mendengar detak jantung Mas Brayen yang pelan dan teratur di telingaku.
Wajahku langsung merah padam. Malu!
"Mas... Mas Brayen bangun..." bisikku pelan sambil mencubit pelan lengan kekarnya.
Mas Brayen yang masih terpejam, malah tersenyum dalam tidurnya dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Hmm... lima menit lagi, Sayang... pelukan kamu enak..." gumamnya dengan suara serak baru bangun tidur yang duh, ganteng banget!
Aku mau protes, tapi tiba-tiba aku mencium aroma parfum yang menyengat. Bukan parfumku. Bukan parfum Mas Brayen. Ini parfum wanita yang manis menyengat!
Aku langsung menoleh ke arah pintu vila yang terbuka sedikit.
Dan di sana berdiri Clara.
Ya Allah! Clara!
Dia sudah dandan full sejak pagi! Pakai dress putih super pendek, rambut di blow, bibir merah menyala. Dia membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan croissant. Jelas dia berniat menggoda Mas Brayen dengan sarapan pagi!
Tapi ekspresi Clara saat itu... priceless! Wajahnya yang cantik itu pucat, matanya melotot, bibirnya bergetar menahan marah dan cemburu melihat kami berdua masih berpelukan tidur di sofa!
Aku panik. Aku langsung berusaha bangun dari pelukan Mas Brayen.
"Mas! Mas ada Clara!" bisikku panik, mencubit Mas Brayen agak keras.
Mas Brayen akhirnya membuka matanya. Matanya yang tajam itu menatapku dulu, lalu melirik sekilas ke arah pintu. Melihat Clara berdiri di sana.
Aku kira Mas Brayen akan kaget atau marah. Tapi tidak sama sekali!
Mas Brayen malah menatapku dengan tatapan super bucin, senyumnya miring, dan dengan santainya dia mengabaikan Clara seolah Clara itu cuma patung pajangan di vila!
Dia malah mendekatkan wajahnya ke wajahku, dan di depan Clara yang sedang panas cemburu, dia mengecup bibirku! Kecupan pagi yang lembut tapi lama!
"Good Morning, My Diamond..." bisik Mas Brayen dengan suara paling mesra di dunia tepat di depan wajahku, suaranya sengaja dikeraskan agar Clara dengar. "Tidur kamu nyenyak? Masih pegal?"
Aku meleleh sekaligus malu setengah mati! Ya Allah, ada Clara di situ, Mas!
"Mas... itu ada Clara..." bisikku lagi, wajahku sudah merah seperti tomat, aku menyembunyikan wajahku di dada Mas Brayen.
Mas Brayen melirik Clara sekilas dengan tatapan paling dingin sedingin kulkas 10 pintu.
"Abaikan saja perempuan tidak tahu diri itu," ujar Mas Brayen dengan suara datar tapi keras, jelas-jelas ingin didengar Clara. "Salah siapa dia datang ke vila orang tidak sopan. Tanpa ketuk, tanpa permisi. Sudah lah, Sayang. Nanti juga dia pulang sendiri kalau capek berdiri."
Clara yang mendengar itu langsung mengepalkan tangannya. Nampan di tangannya sampai bergetar!
"B-Brayen... aku... aku bawakan sarapan untuk kamu..." kata Clara dengan suara dibuat manja.
Mas Brayen tidak menjawab. Dia bahkan tidak menoleh ke Clara lagi!
Lalu tiba-tiba Mas Brayen bangun dari sofa, dan dengan gerakan yang sangat tiba-tiba, dia menggendongku! Gendongan bridal style! Aku yang masih pakai gaun peach kusut itu langsung melayang di gendongan kekarnya!
"Mas! Mas mau apa! Turunin! Malu ada Clara!" jeritku kecil sambil memukul-mukul dada Mas Brayen pelan.
Mas Brayen malah tertawa kecil, tawanya jahil.
"Mas Brayen mau mandiin Diamond nya. Biar wangi," bisiknya jahil di telingaku.
Dan dia berjalan menuju kamar mandi mewah di dalam vila, masih menggendongku, melewati Clara yang berdiri mematung di dekat pintu!
Clara benar-benar tidak dihiraukan! Dianggap angin lalu!
Saat kami sudah di ambang pintu kamar mandi, aku berbisik panik ke Mas Brayen.
"Mas, Clara masih di situ! Dia lihatin kita terus! Usir dong!"
Mas Brayen menurunkan aku pelan, tapi tangannya masih di pinggangku. Dia berbisik balik dengan ide yang super jahil.
"Gimana kalau kita kerjain dia, Sayang?"
Aku bingung. "Caranya gimana, Mas?"
Mas Brayen berbisik di telingaku, dengan senyum nakal yang baru pertama kali aku lihat.
"Kamu bilang yang kenceng tapi manja, 'Mas... aku geli...' pasti dia langsung kabur karena kesal dan cemburu. Hihi. Gimana? Padahal Mas nggak ngapa-ngapain, cuma nggelitikin kamu aja."
Aku langsung paham! Aku menahan tawa! Ya Allah, Mas Brayen ku yang CEO dingin ini ternyata jahilnya kebangetan!
"Oke, Mas! Ayo!" bisikku semangat.
Dan dimulailah operasi usir Clara paling ngakak sepanjang sejarah!
Mas Brayen pura-pura menggelitiki pinggangku. Aku yang memang paling tidak tahan digelitiki, langsung tertawa ngakak!
"Hahaha! Mas! Mas aku geli! Hahaha! Ampun Mas! Hihihi!" teriakku keras, sengaja dibuat manja dan melengking agar terdengar sampai ke ruang tamu.
"Ayo dong, Sayang, jangan berisik, nanti tetangga dengar," balas Mas Brayen dengan suara dibuat-buat mesra, padahal dia cuma menggelitiki perutku pelan!
"Mas! Jangan di situ! Geli! Hahaha!" aku terus tertawa sampai perutku sakit, berguling-guling kecil di dalam gendongan Mas Brayen.
Dari pintu kamar mandi, aku bisa melihat Clara!
Wajah Clara sudah merah padam seperti kepiting rebus! Matanya berkaca-kaca menahan malu dan amarah! Dia pasti mengira kami melakukan hal yang tidak-tidak di kamar mandi padahal kami cuma gelitikan!
"BR- BRAYEN! KALIAN! KALIAN TIDAK SOPAN!" teriak Clara akhirnya tidak tahan, suaranya melengking cemburu.
Mas Brayen, tanpa menoleh, hanya berteriak balik dari dalam kamar mandi sambil masih menggelitiki aku.
"CLARA! VILA INI PRIVATE! KALAU KAMU SOPAN, KAMU TAHU CARA KELUAR! PINTU DI SANA! JANGAN LUPA TUTUP LAGI!"
Aku yang mendengar itu semakin ngakak. "Hahaha! Mas! Udah Mas! Cukup! Aku nggak kuat ketawa!"
Clara yang sudah tidak tahan lagi dengan suara tawa mesra kami, akhirnya membanting nampan kopinya ke meja dengan keras! Kopi tumpah!
"AKU BENCI KALIAN! AKU BENCI!" jeritnya lalu dia berlari keluar dari vila dengan sepatu heels nya, membanting pintu kaca vila dengan sangat keras sampai bergetar!
BRAK!
Suara pintu dibanting.
Aku dan Mas Brayen saling tatap di dalam kamar mandi. Lalu kami berdua meledak tertawa bersamaan!
"Hahahaha! Kabur dia, Mas!" kataku sambil masih bergelantungan di lengan Mas Brayen.
Mas Brayen tertawa lepas, tawa yang jarang sekali aku lihat. "Rasain! Siapa suruh datang ke vila orang tanpa permisi pagi-pagi buta! Biar kapok!"
Lalu Mas Brayen menurunkan aku pelan, merapikan rambutku yang berantakan karena tertawa.
"Sudah, My Diamond sudah selesai tertawanya? Sekarang giliran Mas yang mandiin beneran. Kamu masih bau kopi Clara tadi," godanya.
"Mas! Aku mandi sendiri!" jeritku malu, mendorong Mas Brayen keluar dari kamar mandi.
Pagi itu, vila Alkantara yang tadinya tegang karena kedatangan Clara, berubah menjadi pagi yang penuh tawa. Dan aku tahu, tidak ada wanita mana pun yang bisa merebut Mas Brayen dariku, karena hati Mas Brayen sudah terkunci rapat hanya untuk Berlian tak ternilainya.
---BERSAMBUNG---