Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 JARUM PERAK DAN TITIK NADI KEHIDUPAN
Suasana di dalam kamar tidur VVIP itu bagaikan medan magnet yang siap meledak. Ibu Sinta berdiri terpaku, tatapan matanya yang semula dipenuhi kepedihan kini beralih menjadi ketajaman penuh selidik, menatap bergantian antara Dokter Hendri yang basah oleh keringat dingin dan Raka yang berdiri tenang di sisi ranjang Tuan Wiratman.
"Dokter Hendri," suara Ibu Sinta bergetar, dingin dan menusuk. "Kenapa Anda mendadak pucat pasi? Raka bahkan belum menuduh siapa pun, tapi reaksi Anda justru menunjukkan sebaliknya."
"Jangan dengarkan omongan anak ingusan itu, Sinta!" sanggah Dokter Hendri dengan suara tinggi yang sumbang, mencoba mempertahankan wibawanya meskipun jemarinya bergetar hebat di dalam saku jas putihnya. "Dia cuma penipu jalanan! Saya akan laporkan kalian atas pencemaran nama baik!" Tanpa menunggu jawaban, dokter pribadi itu berbalik arah dengan tergesa-gesa, melangkah lebar meninggalkan kamar dan membanting pintu di belakangnya dengan suara dentuman keras.
Ibu Sinta hendak mengejar, namun Raka mengangkat sebelah tangannya memberi isyarat agar wanita itu tetap tenang.
"Biarkan dia pergi, Bu Sinta," ucap Raka tenang. "Musuh dalam selimut tidak akan bisa lari jauh ketika racun yang ia sembunyikan sudah tersingkap. Yang lebih penting sekarang adalah menyelamatkan Tuan Wiratman."
Ibu Sinta mengangguk lemah, air matanya kembali menetes di pipinya. Ia mendekati ranjang, memegang erat tangan suaminya yang dingin. "Tolong dia, Raka. Apa pun yang kau butuhkan, akan aku sediakan."
Raka menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh kesadaran batinnya.
Berdasarkan pindaian energi Welingan Sejati, racun sintetis yang mengalir di tubuh Tuan Wiratman telah mengendap di sepanjang jalur meridien utama, melumpuhkan organ hati dan mengunci sistem pernapasan. Pengobatan modern gagal total karena obat kimia yang diberikan oleh Dokter Hendri selama ini justru bertindak sebagai katalis yang mempercepat pengikatan racun tersebut di dalam sel darah.
"Marni," panggil Raka kepada kepala pelayan yang masih berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat ketakutan. "Ambilkan wadah berisi air hangat, handuk bersih, serta beberapa siung jahe merah dan kencur dari dapur. Cepat!"
"Baik, Den! Saya laksanakan sekarang!" jawab Marni tergopoh-gopoh berlari menuruni tangga.
Sambil menunggu, Raka membuka gulungan kain kecil yang berisi selusin jarum akupunktur perak murni peninggalan leluhurnya. Di bawah temaram lampu kamar, jarum-jarum tersebut memantulkan kilau keperakan yang tajam.
Dengan gerakan yang sangat teliti, terukur, dan penuh kelembutan, Raka membuka kemeja pasien hingga bagian dada dan punggung Tuan Wiratman terbuka. Ia mulai memejamkan mata, meraba titik-titik akupunktur vital di sepanjang tulang belakang dan dada sang pengusaha senior. Setiap tusukan jarum dilakukan bukan dengan tenaga kasar, melainkan disalurkan bersamaan dengan aliran tenaga dalam Welingan Sejati yang hangat.
Tusukan pertama dilakukan di titik Dazhui di pangkal leher, berfungsi untuk membuka jalur pernapasan utama yang selama ini tersumbat oleh lendir beracun. Saat jarum perak itu masuk sedalam setengah inci, tubuh Tuan Wiratman sempat sedikit berkejang ringan sebelum napasnya yang tadinya tersengal-sengal mulai melambat dan berangsur teratur.
"Luar biasa..." gumam Raka dalam hati, menjaga ritme pernafasannya sendiri agar selaras dengan denyut nadi pasien.
Tusukan kedua dan ketiga ditancapkan secara presisi di titik Pishu dan Shenshu di area punggung bawah—titik meridian yang langsung terhubung dengan fungsi penyaringan ginjal dan pembuangan toksin.
Begitu jarum-jarum tersebut mencapai kedalaman yang tepat, Raka menyalurkan gelombang energi hangat lewat ujung jarinya, memaksa pori-pori kulit di punggung Tuan Wiratman membuka untuk mengeluarkan keringat dingin bercampur cairan beracun berwarna kehitaman yang perlahan merembes keluar membasahi seprai.
Ibu Sinta yang melihat proses pengobatan tersebut menutup mulutnya dengan kedua tangan, takjub bercampur ngeri melihat butiran-butiran cairan hitam pekat keluar dari kulit suaminya.
"Itu adalah akumulasi racun sintetis yang selama berbulan-bulan mengendap di dalam jaringan otot dan lemak tubuhnya, Bu," penjelasan singkat Raka menenangkan kecemasan wanita itu.
Tak lama kemudian, Marni datang terengah-engah membawakan baskom air hangat serta rempah-rempah yang diminta. Raka dengan cekatan memarut jahe merah dan kencur tersebut, mencampurnya dengan air hangat, lalu menggunakan handuk kecil untuk mengompres titik-titik persendian di tangan dan kaki Tuan Wiratman guna melancarkan kembali sirkulasi darah tepi yang sempat membeku.
Tahap terakhir dari proses penyunatan racun tersebut adalah pembersihan saluran pencernaan. Raka meracik sisa bubuk herbal akar puser bumi yang ia bawa di dalam ranselnya, menyeduhnya dengan air hangat, lalu membantunya meneteskan cairan penawar tersebut secara perlahan lewat sudut bibir Tuan Wiratman yang masih terpejam.
Waktu berjalan lambat di dalam kamar itu selama hampir dua jam penuh. Ketegangan memenuhi udara hingga tetesan keringat mengalir deras di pelipis Raka.
Akhirnya, pada menit-menit menjelang sore, perubahan drastis itu terjadi. Monitor digital di samping ranjang yang tadinya menunjukkan grafik lemah mendadak berbunyi stabil dengan ritme detak jantung yang kuat dan bertenaga. Warna kulit Tuan Wiratman yang tadinya pucat pasi kini berubah kemerahan, hangat, dan segar.
Secara perlahan, kelopak mata Tuan Wiratman bergerak-gerak. Ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangannya dengan cahaya ruangan, lalu menghela napas panjang seolah baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.
"Sinta... di mana aku...?" bisik Tuan Wiratman dengan suara parau namun jelas terdengar.
Ibu Sinta langsung jatuh berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan suaminya sambil menangis histeris penuh kebahagiaan. "Suamiku... kau sudah sadar, suamiku!"
Tuan Wiratman menoleh pelan, pandangannya beralih menatap Raka yang berdiri tersenyum di sisi ranjang sambil merapikan kotak jarum peraknya. Meskipun raga pria tua itu masih lemah, binar kehidupan dan kewibawaan pengusaha besar kembali terpancar di matanya. Malam itu, di balik pintu besi rumah megah di Dago Atas, keahlian pengobatan kuno dari seorang pemuda desa berhasil meruntuhkan cengkeraman maut, sekaligus membuka tabir konspirasi busuk yang mengancam nyawa keluarga tersebut.