Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Tap.
Tap.
Langkah kaki tiga makhluk berbeda spesies itu terus menyusuri jalan setapak Hutan Hitam yang semakin lembab.
Arga berjalan di tengah sambil memegang obor bambunya erat-erat untuk menerangi jalan di depan.
Sementara itu Natasya berjalan di samping ayahnya sambil sesekali melirik ke arah Gaga yang memimpin di depan.
"Tunggu sebentar, kita harus berhenti dulu."
Arga tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan menancapkan ujung bawah obornya ke tanah yang agak basah.
Pria kekar itu menoleh ke arah putrinya dengan tatapan yang sangat serius dan penuh tanda tanya besar.
"Ada apa, Ayah?"
Natasya ikut berhenti dan menatap ayahnya dengan wajah yang sangat polos tanpa dosa.
"Apa kaki Ayah terasa sakit karena terlalu lama berjalan di hutan ini?"
"Kaki Ayah baik-baik saja, Natasya."
Arga menghela napas panjang lalu berjongkok agar wajahnya sejajar dengan wajah putri kecilnya itu.
"Tapi pikiran Ayah yang sedang tidak baik-baik saja sekarang ini."
Gaga yang berada di depan ikut berhenti lalu menoleh ke belakang dengan malas.
"Manusia dewasa ini pasti ingin meminta penjelasan panjang lebar tentang kejadian tadi."
Gaga mendengus pelan dan kembali duduk di atas tanah basah sambil mengawasi sekeliling mereka.
"Kamu dengar itu Ayah?"
Natasya menunjuk ke arah Gaga sambil tersenyum lebar.
"Gaga bilang Ayah pasti mau minta penjelasan tentang kejadian tadi."
Mata Arga kembali membelalak lebar mendengar ucapan putrinya yang seolah bisa membaca pikiran serigala itu.
"Tadi Ayah mendengar kamu menggeram pelan saat menatap kera pencuri itu dari bawah pohon, Natasya."
"Di telinga Ayah, suara yang keluar dari mulutmu sama sekali bukan bahasa manusia kita biasa."
"Benarkah begitu, Ayah?"
Natasya memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut bingung karena ia merasa sama sekali tidak menggeram.
"Padahal di telingaku, aku hanya berbicara bahasa kita seperti biasa saat memarahi kera nakal itu."
"Itu benar-benar keajaiban yang sangat tidak masuk akal, nak."
Arga mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat dingin dengan telapak tangannya yang kasar.
"Sejak kapan kamu bisa berbicara dengan binatang liar dan berteman dengan monster serigala sebesar ini?"
"Namanya Gaga, Ayah, dia bukan monster jahat."
Natasya melangkah maju dan mengelus bulu tebal Gaga yang sedang duduk santai di dekat mereka.
"Aku bertemu dengan Gaga beberapa minggu yang lalu di dekat batas Hutan Larangan tempatku biasa bermain."
Arga mengernyitkan dahinya mendengar pengakuan mengejutkan dari anak perempuannya itu.
"Batas hutan dekat pohon mangga besar itu maksudmu?"
"Lalu apa yang kamu lakukan pada serigala buas ini sampai dia mau menurut padamu begini?"
"Waktu itu kaki Gaga terjepit jebakan besi berkarat milik pemburu manusia."
Natasya bercerita dengan nada santai seolah sedang menceritakan dongeng sebelum tidur.
"Dia terluka parah, jadi aku menolongnya membuka jebakan besi itu dengan tanganku."
Arga merasa jantungnya seakan mau copot mendengarkan cerita singkat tersebut.
"Jebakan besi pemburu itu sangat keras dan butuh alat khusus atau tenaga dua pria dewasa untuk membukanya."
"Bagaimana mungkin tangan kecilmu ini bisa membukanya, Natasya?"
Arga langsung meraih kedua tangan putrinya dan memeriksanya dengan sangat panik.
"Kamu bisa saja kehilangan jari-jarimu kalau besi itu sampai menjepit balik tanganmu."
"Tapi buktinya jariku masih utuh semua kok, Ayah."
Natasya menunjukkan sepuluh jari mungilnya sambil tertawa kecil melihat kepanikan sang ayah.
"Aku juga tidak tahu dari mana tenagaku datang, tapi besi itu tiba-tiba terbuka begitu saja saat aku menariknya."
"Kekuatan fisik anak ini memang sangat tidak normal untuk ukuran manusia kecil."
Gaga menimpali obrolan itu sambil menguap lebar memamerkan taringnya yang tajam.
"Bahkan otot kakiku saja hampir patah saat mencoba menarik paksa engsel besi sialan itu waktu itu."
"Gaga bilang kekuatan fisikku memang aneh, Ayah."
Natasya menerjemahkan ucapan serigala itu dengan jujur kepada ayahnya.
"Dan sejak hari itu, Gaga berjanji akan selalu melindungiku kalau aku sedang dalam bahaya."
Arga menatap serigala raksasa di depannya itu dengan pandangan yang jauh lebih lunak dari sebelumnya.
Rasa takut di hatinya perlahan mulai digantikan oleh rasa syukur yang amat sangat besar.
"Terima kasih karena kamu sudah membalas budi dan menolong putriku malam ini, Gaga."
Gaga hanya mengibaskan ekor besarnya sekali ke tanah sebagai bentuk jawaban atas ucapan terima kasih Arga.
Meskipun serigala itu tidak mengerti bahasa manusia secara langsung, ia bisa merasakan nada ketulusan dari suara pria tersebut.
"Lalu bagaimana dengan ular sanca yang menjaga pohon tadi?"
Arga kembali bertanya karena rasa penasarannya masih belum sepenuhnya terjawab.
"Ayah sempat melihat ular sebesar pohon itu mendesis marah padamu di jalan masuk tadi."
"Oh, itu Sanca Hitam, dia juga bukan monster yang jahat kok."
Natasya menjawab dengan antusias sambil merapikan jaket tebalnya yang sedikit berantakan.
"Aku hanya memberinya sepotong singkong rebus milikku dan dia langsung membiarkan kami lewat begitu saja."
"Kamu menyuap ular raksasa pemakan daging dengan sepotong singkong rebus?"
Arga merasa kepalanya mulai pusing memikirkan betapa nekat dan konyolnya tindakan putrinya itu.
"Dan ular itu benar-benar memakannya tanpa memakan kalian berdua hidup-hidup?"
"Dia bilang singkong buatan Ibu sangat manis dan enak."
Natasya menganggukkan kepalanya dengan bangga seolah itu adalah pencapaian terbesarnya.
"Sama seperti kera merah tadi yang menyukai ikan asin kita."
"Ternyata putri kecilku ini benar-benar penuh dengan keajaiban yang tidak terduga."
Arga tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala Natasya dengan penuh rasa sayang.
"Kalau Ibumu tahu soal ini, dia pasti akan sangat terkejut sekaligus bangga padamu."
Mendengar nama ibunya disebut, raut wajah ceria Natasya seketika berubah menjadi sangat sedih dan murung.
"Kita harus cepat melanjutkan perjalanan ini, Ayah."
"Ibu sedang menahan sakit sendirian di rumah dan kita tidak boleh membuang waktu lebih lama lagi di sini."
"Kamu benar sekali, Natasya."
Arga kembali berdiri tegak dan mencabut obor bambunya dari tanah dengan gerakan mantap.
"Kita sudah tidak jauh lagi dari pusat hutan, ayo kita bergerak sekarang."
Slup.
Slup.
Langkah kaki mereka mulai terasa sangat berat karena tanah hutan yang kering kini berubah menjadi lumpur hitam pekat.
Bau busuk yang tadi sudah mulai hilang kini kembali menyengat hidung dengan intensitas yang jauh lebih kuat.
"Kita sudah resmi memasuki wilayah Rawa Kematian."
Gaga berhenti sejenak untuk mengendus udara rawa yang dipenuhi oleh kabut tipis berwarna kehijauan.
"Tempat ini adalah penghalang terakhir sebelum kita sampai di wilayah Danau Beracun."
"Udara di sini rasanya sangat sesak dan panas ya, Gaga."
Natasya terbatuk pelan sambil menutup mulut dan hidungnya dengan kerah jaket tebalnya.
"Lumpurnya juga sangat lengket membuat kakiku susah untuk diangkat saat berjalan."
"Ayah akan menggendongmu di punggung mulai dari sini, Natasya."
Arga langsung memberikan tawaran itu karena melihat putrinya mulai kesulitan menyeimbangkan badan di atas lumpur licin.
"Tanah rawa ini terlalu berbahaya untuk kaki kecilmu melangkah sendirian."
"Tidak usah repot-repot, biarkan dia naik ke atas punggungku lagi saja."
Gaga langsung berjalan mendekati Natasya dan merendahkan tubuh besarnya di lumpur.
"Punggung ayahmu itu harus bebas bergerak agar dia bisa menggunakan goloknya jika ada serangan mendadak."
"Kata Gaga aku naik ke punggungnya saja, Ayah."
Natasya langsung memanjat naik dan berpegangan kuat pada bulu leher serigala raksasa itu.
"Biar tangan Ayah bisa bebas menebas monster kalau ada yang berani mendekat nanti."
"Baiklah kalau itu maumu, Ayah akan terus berjaga di depan kalian berdua."
Arga menggenggam gagang goloknya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya memegang obor tinggi-tinggi.
"Tetap waspada dan jangan jauh-jauh dari cahaya api ini."