"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Satu bulan kemudian.
"Na nanti beli pengembang ya? Sama margarin nya juga"
"Siap mbak, ada lagi? Mau nitip buah lagi tidak?"
"Sudah itu saja, nanti kalau ada yang lain aku chat kamu"
"Siap kakak!"
Nana dan Arin membuka toko kuenya sendiri, awalnya mereka berjualan dari rumah, namun dengan dukungan dari Dewa mereka bisa memiliki toko sendiri yang tidak jauh dari rumah Nana. Sudah satu bulan ini toko kue mereka beroperasi, konsumen mereka makin hari makin banyak, itu juga tak luput dari bantuan Dewa yang selalu mengiklankan toko kue Arin di media sosial.
Begitu Nana pergi, Dewa langsung mengambil kesempatan itu untuk berduaan dengan Arin.
"Pagi Rin"
Arin yang tengah sibuk mengadon kue menoleh, bukan hal yang mengejutkan lagi jika Dewa datang pagi-pagi begini, Dewa memang kurang kerjaan, setiap hari pergi ke Tokonya dan meninggalkan perusahaan nya begitu saja.
"Pak CEO mau jadi karyawan ku lagi?" Kekeh Arin. Dewa ikut tersenyum dan berdiri di sebelah Arin.
"Aku sudah mencuci tangan, lihat sudah bersih. Aku bantu ya?"
Dewa Ingin memasukkan tangannya ke dalam wadah besar yang berisi adonan, namun Arin langsung menggesernya.
"Ampun pak CEO, saya tidak sanggup menggaji anda" Arin menyatukan kedua tangannya yang penuh tepung dan mengangkat tangan itu sejajar dengan dahi dan hidung mirip seperti saat seseorang memohon sebuah permintaan.
"Aku tidak minta di gaji"
Dewa menarik baskom besar itu dan mulai memasukkan tangannya untuk membantu Arin membuat adonan.
Arin hanya bisa menggeleng pasrah sambil tersenyum pada Dewa, sahabatnya ini benar-benar tidak bisa di tolak.
"Jika saja orang-orang tahu siapa yang membuat kue ini, pasti kue ini akan jadi kue termahal di sini"
gurau Arin.
"Ide bagus. Apa perlu kita vidio?"
Arin menyikut lengan Dewa.
"Aku hanya bercanda"
"Itu bukan candaan tapi strategi penjualan yang brilian"
"Sudah sudah jangan di lanjutkan, pasti kamu yang paling benar"
Arin kembali mengaduk adonan kue itu, Dewa melakukan hal yang sama, sesekali tangan mereka bersentuhan. Jika tangan Arin ada di bawah tangan Dewa, dewa langsung menggenggam tangan itu, berpura-pura mengira jika itu adalah tepung.
"Lepas wa!"
"Apa?"
"Tangan kamu"
"Hehehe maaf maaf, habis tangannya lembut sekali, aku kira tepung"
"Bisa aja kamu"
mereka kembali mengadon.
"Rin?"
"Hemmm"
"Kapan kamu mau bercerai dari Aga?"
Arin langsung terdiam, dia bukannya tidak mau mengirim surat perceraian ke Aga. Tapi Arin masih trauma.
"Entahlah, aku akan tunggu waktu yang tepat"
Dewa kembali patah, sepertinya Arin tidak mau berpisah dari Aga, tapi kenapa? Lelaki itu sudah berkali-kali menyakiti Arin.
"Apa perlu aku yang membawakan surat itu ke Aga? Kamu nunggu apa lagi?"
Arin hanya menunduk, dia tidak bisa menceritakan alasannya pada Dewa.
"Kamu mencintainya?"
Arin langsung menggeleng cepat, setelah semua yang terjadi padanya, Arin sudah mati rasa pada Aga . Tapi untuk menerima Dewa pun dia merasa tidak pantas, masih banyak wanita lain yang lebih baik darinya di luar sana.
"Lalu kamu mau nunggu apa lagi Rin? kamu tahu kan aku selalu menunggu kamu? Sudah berapa kali kamu menolak ku? Aku tetap di sini Rin, aku siap bahagiakan kamu"
Arin hanya bisa menangis sesenggukan saat Dewa kembali membahas hal yang sama lagi. Ini bukan yang pertama kalinya, tapi sudah puluhan kali. Tapi Arin tidak bisa menjawab iya meski dia ingin. Dewa begitu baik padanya, perhatian,selalu ada untuknya. Tapi dia terlalu hina untuk lelaki sebaik Dewa.
"Maafkan aku Wa, tapi aku tidak bisa. Carilah wanita lain"
Dewa langsung memeluk Arin, dia tidak akan mencari wanita lain, hanya Arin yang akan jadi istrinya, dia tidak mau wanita lain.
"Aku mohon wa, carilah wanita lain. Aku tidak pantas buat kamu"
"Tidak, meski satu juta kali kamu menolak ku, aku tetap akan menunggu kamu mengatakan Iya"
Arin makin menangis mendengar itu, wanita mana yang tidak akan jatuh cinta dengan lelaki baik seperti Dewa? Tapi dia benar-benar tidak bisa. Dia tidak layak untuk Dewa.
Dewa makin erat memeluk Arin kala tangis Arin makin menjadi, dia tidak tahu apa kurangnya dirinya hingga Arin selalu menolak untuk dia pinang.
Sudah lama sekali Dewa memeluk Arin dalam diam,Arin tidak bersuara, tidak bergerak, hanya hembusan nafasnya yang terasa hangat di bahunya.
"Rin?"
Dewa mencoba memanggil Arin karena Arin hanya diam.
"Arin?"
Tubuh Arin terkulai lemas, matanya tertutup rapat, membuat Dewa hawatir setengah mati.
"Rin kamu kenapa!"
Dewa segera menggendong Arin saat menyadari jika Arin tengah pingsan.
"Rin jangan buat aku takut"
Dewa membawa tubuh Arin ke mobil dengan tangan yang masih penuh dengan tepung. Dewa tidak perduli, dia menaruh Arin di jok belakang, dia ingin menelfon Nana, tapi tidak di angkat. Akhirnya Dewa memanggil seorang wanita paruh baya untuk menjaga Arin di kursi belakang.
"Bu tolong saya jaga istri saya, nanti saya beri dua juta"
Tanpa meminta persetujuan wanita itu, Dewa langsung menarik tangan ibu itu ke mobil.
"Tolong pegang istri saya Bu"
"Baik nak"
Dewa langsung membawa Arin ke sebuah rumah sakit, dia sangat hawatir pada Arin yang mendadak pingsan.
Begitu sampai Dewa langsung menggendong Arin ke IGD, ibu-ibu itu ikut membantu memanggilkan perawat yang berjaga di sana.
Arin langsung di tangani dokter.
Dewa sangat cemas, dia menunggu di luar bersama ibu-ibu yang tadi dia ajak.
"Nak Ibu pulang dulu ya?"
Dewa langsung mengambil dompetnya, memberikan uang yang dia janjikan pada ibu itu.
"Tidak usah nak, ibu ikhlas bantu, semoga istrinya baik-baik saja"
"Jangan Bu, ambilah. Anggap saja ini rezeki dari Tuhan untuk Ibu"
Ibu itu agak ragu, namun karena Dewa terus memaksa Ibu itu akhirnya menerima uang itu.
"Terima kasih nak, semoga Tuhan mengabulkan semua keinginan kamu nak"
"Amiiin, terima kasih Bu"
Begitu ibu itu pergi, dokter yang menangani Arin keluar, Dewa langsung menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan Arin dok?" Tanya Dewa sangat hawatir. Akhir-akhir ini Arin memang jarang mau makan, dia cuma makan buah segar dan juga susu.
Dokter itu terserah dan menepuk pundak Dewa.
"Selamat ya pak, sebentar lagi anda akan menjadi ayah"
'Dwaaaaaaar Dwaaaar dwaaaar'
Jantung Dewa seakan berhenti di tempat, seperti ada petir dahsyat di siang bolong, rasanya Dewa seperti tersengat listrik bertegangan tinggi saat mendengar kabar itu.
"Hamil?"
"Iya pak, baru dua Minggu"
Rasanya kaki Dewa gemetar, kakinya seakan tidak bisa menopang berat tubuhnya.
'Arin hamil? dengan siapa? kenapa Arin hanya diam saja selama ini? Apa ini alasan di balik penolakan yang dia terima selama ini?
Tubuh Dewa ambruk di lantai kala dokter itu pergi, kabar apa ini? Kenapa jadi begini?
Buruan Ga segera kejar si Arin smg blm sempat terbang pesawatnya
kl kabur beneran pasti kluar kota Naik bus ganti kapal pesiar pasti gk Ada yg nemuin. ntah Arin itu goblok apa tolol jd wanita. pdhl dah dewasa dah pernh kawin tp ttp oon.
niat kabur Dr awal pergi jauh ganti nmr jng hub orang rumah lagi. kemarin mncing hub mertua oalah alah. cewek plin plan.
terus aja Rin keraskan hatimu buat dirimu sama ky si Aga yg suka menyimpan dendam jd kamu ga ada bedanya sama si Aga kan
heran koq bisa si Dewa tau2 nongol bawa bunga bawa cincin, ntar pas mereka lg pandang2 an ato pegangan tangan si Aga nongol tuh, lanjut lg salah pahamnya gitu aja terus ga kelar2