Ji Ming, murid luar Sekte Puncak Elang Hitam yang dianggap sampah karena "Meridian Kosong" — kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan qi seperti kultivator normal — ditugaskan menjaga Makam Terlarang di pinggiran sekte: tempat relik-relik Perang Boneka Jiwa, bencana ratusan tahun lalu yang nyaris menghancurkan seluruh dunia kultivasi, disegel selamanya.
Saat Hari Peringatan Perang Boneka, segel melemah. Ji Ming menemukan ruang tersembunyi berisi fragmen kesadaran terakhir seorang Grandmaster Pengukir Jiwa — bukan reinkarnasi, hanya sisa tekad yang nyaris punah, cukup untuk mewariskan Manual Sang Pengukir Pertama sebelum lenyap selamanya. Meridian Kosong yang selama ini dihina ternyata justru syarat paling langka untuk jalur ini: kekuatan dari jiwa, bukan qi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bajing33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Ujian di Mulut Lembah
Pada hari kedua pendakian, jalur sempit yang mereka ikuti tiba-tiba berakhir di sebuah celah batu raksasa—dua tebing curam yang nyaris bersentuhan di puncaknya, menyisakan lorong sempit yang hanya cukup dilalui satu orang dalam satu waktu.
"Ini dia," Su Mei berkata, suaranya bergetar antara lega dan waspada. "Mulut Lembah. Aku ingat tempat ini, meski terakhir kali aku ke sini masih sebagai gadis muda, mengantar barang untuk sekte."
Ji Ming melangkah mendekati celah itu, dan seketika merasakan getaran familiar di dadanya—sensasi yang sama seperti saat gerbang Makam Terlarang terbuka bertahun-tahun... atau rasanya seperti bertahun-tahun, meski baru beberapa minggu berlalu sejak hari itu.
"Ada formasi di sini," ia berkata, matanya menyipit mencoba melihat sesuatu yang tak sepenuhnya kasat mata. "Aku bisa merasakannya, seperti dinding tak terlihat."
Su Mei mengangguk pelan. "Formasi Penjaga Lembah. Sekte kami memasangnya berabad-abad lalu, dirancang untuk hanya membiarkan mereka yang membawa kekuatan jiwa sejati untuk lewat—penghalang sederhana namun efektif terhadap penjarah biasa." Ia menatap ke arah celah batu itu dengan waspada. "Tapi aku tidak tahu apakah formasi itu masih berfungsi normal setelah tiga ratus tahun tanpa perawatan, atau apakah ia sudah rusak jadi sesuatu yang lebih berbahaya."
"Bagaimana cara mengetahuinya?" Yun Xia bertanya, tangannya sudah siap di gagang pedang.
"Hanya dengan mencoba." Su Mei melangkah maju lebih dulu, tangannya terangkat, kekuatan jiwa dari gelang pusakanya mulai berpendar lembut saat ia mendekati celah itu.
Begitu ia melewati ambang batas tak terlihat, aksara-aksara kuno yang selama ini tersembunyi di permukaan batu tebing tiba-tiba menyala terang, membentuk pola rumit yang berputar perlahan di udara—bukan menyerang, hanya bersinar, seolah sedang membaca sesuatu dari kehadirannya.
"Ia mengenaliku," Su Mei berkata, suaranya lega. "Masih berfungsi seperti seharusnya."
Old Bo melangkah maju berikutnya, tapi begitu ia menyentuh ambang batas, cahaya aksara itu berkedip merah, dan sebuah tekanan tak terlihat mendorongnya mundur dengan lembut namun tegas.
"Aku tidak bisa lewat," Old Bo berkata, mencoba lagi dengan hasil yang sama. "Formasinya menolakku."
"Kau tidak punya kekuatan jiwa," Su Mei menjelaskan, wajahnya berubah cemas. "Formasi ini hanya mengizinkan yang membawa kekuatan jiwa sejati, atau yang secara langsung dilindungi oleh pembawa kekuatan itu."
"Kalau begitu aku akan menunggu di sini," Old Bo berkata, meski kekecewaan tersirat jelas di wajahnya.
"Tunggu," Ji Ming berkata, sebuah ide muncul di benaknya. Ia meraih Xiao Yu dari bahunya, menyalurkan sebagian kekuatan jiwanya melalui ikatan yang telah terbentuk kuat antara mereka, lalu menempatkan boneka burung kecil itu di pundak Old Bo. "Coba sekarang. Xiao Yu membawa fragmen jiwa dariku—mungkin itu cukup untuk formasi mengenalimu sebagai bagian dari kami."
Old Bo melangkah maju sekali lagi, ragu-ragu, tapi kali ini aksara di tebing hanya berkedip sekali sebelum kembali pada cahaya hijau lembut, mengizinkannya lewat tanpa hambatan.
"Berhasil," Old Bo berkata, takjub menatap Xiao Yu di pundaknya. "Kau baru saja menyelesaikan masalah yang bahkan tak pernah kupikirkan solusinya."
Yun Xia melewati celah itu berikutnya tanpa masalah—entah karena ikatannya yang erat dengan Ji Ming atau alasan lain yang tak sepenuhnya mereka pahami—dan akhirnya tiba giliran Ji Ming sendiri.
Saat ia melangkah mendekati ambang batas, aksara-aksara kuno itu menyala jauh lebih terang dari sebelumnya, berputar lebih cepat, seolah merasakan sesuatu yang istimewa dalam dirinya—Meridian Kosong yang selama ini dianggap kutukan, kini bergema dengan formasi kuno seperti kunci yang akhirnya menemukan gembok yang tepat.
Untuk sesaat, sebuah suara samar berkelebat di benaknya—bukan kata-kata jelas, melebih seperti gema perasaan dari ratusan tahun lalu, campuran harapan dan kesedihan dari mereka yang membangun formasi ini, berharap suatu hari seseorang yang layak akan datang untuk mewarisi apa yang mereka tinggalkan.
Ketika Ji Ming akhirnya melangkah melewati Mulut Lembah, cahaya aksara kuno itu perlahan meredup di belakangnya, seolah tugasnya telah selesai—dan di hadapan mereka, terbentang pemandangan yang membuat semua orang terdiam.
Lembah tersembunyi itu jauh lebih luas dari yang mereka bayangkan, dikelilingi tebing curam di semua sisi seperti mangkuk raksasa yang menampung sisa-sisa sebuah peradaban yang terlupakan—bangunan-bangunan batu yang sebagian besar sudah runtuh ditumbuhi lumut dan tanaman merambat, menara-menara yang masih berdiri kokoh meski atapnya sudah lama hilang, dan di tengah-tengah lembah, sebuah bangunan utama yang jauh lebih besar dari yang lain, kubahnya yang setengah runtuh masih menyisakan kemegahan yang pernah dimiliki tempat ini.
"Ini dia," Su Mei berkata, suaranya nyaris berbisik, dipenuhi emosi yang telah lama terpendam. "Rumah kami. Sekte Pengukiran Jiwa Cahaya Senja."
Di kejauhan, dari arah bangunan utama yang setengah runtuh itu, samar-samar terlihat kepulan asap tipis mengepul ke udara.