NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Sandiwara Makanan Sehat

Di balik dinding kaca ruang kerja Direksi Nusantara Industri Utama, Siska berdiri terpaku seraya berpura-pura menata tumpukan map laporan bulanan. Pandangannya tak lepas dari sosok Alya yang kini sibuk memeriksa berkas di balik meja jati besarnya.

Ada ketidaknyamanan yang kian membesar di dada Siska. Sahabatnya yang dulu pemalas, selalu menunda pekerjaan, dan pasrah pada setiap keputusannya, kini mendadak berubah menjadi sosok workaholic yang efisien dan dominan.

Bahkan pagi ini, sebuah kejutan pahit menghantam Siska. Tanpa berdiskusi dengannya sebagai Manajer HRD, Alya telah merekrut seorang asisten pribadi baru—seorang wanita muda lulusan hukum korporasi berotak encer bernama Maya.

"Al," panggil Siska akhirnya, mencoba menekan nada tak sukanya seraya melangkah mendekat. "Soal asisten baru kamu... Siapa namanya? Maya? Kenapa kamu tidak minta bantuan aku buat cari asisten? Bagian HRD kan punya daftar kandidat yang jauh lebih berpengalaman. Kalau orang asing begini, kamu yakin dia bisa dipercaya?"

Alya tidak langsung menengadah. Tangannya dengan lincah membubuhi tanda tangan di atas lembaran surat keputusan operasional, lalu merapikan tumpukan kertas itu dengan ketukan pelan di atas meja.

"Aku butuh seseorang yang murni profesional dan tidak punya keterikatan emosional dengan siapa pun di kantor ini, Siska," ujar Alya tenang seraya mengangkat pandangannya. Tatapannya lurus, dingin, dan tajam. "Maya punya spesialisasi di bidang hukum kontrak dan audit internal. Itu sangat aku butuhkan untuk mendampingiku menyetujui setiap keputusan manajerial ke depan."

Siska mengepalkan tangannya di balik punggung. Audit internal? Untuk apa Alya butuh ahli audit internal? batinnya panik.

"Tapi kan... kamu punya aku, Al. Selama ini aku yang bantu kamu," Siska memasang raut wajah terluka, mencoba memanipulasi emosi Alya seperti yang biasa ia lakukan.

"Kamu kan Manajer HRD, Siska. Tugasmu fokus pada rekrutmen dan pengembangan karyawan secara keseluruhan," potong Alya halus, namun menutup ruang sanggahan. "Lagi pula, bukankah kamu sendiri yang merekomendasikan Rendy untuk posisi Manajer Operasional? Aku tidak mau membebani kamu lebih banyak lagi."

Sebelum Siska sempat membalas, pintu ruangan diketuk pelan. Maya masuk dengan membawa dua cangkir kopi espresso dan sebuah dokumen tebal.

"Permisi, Bu Alya. Ini draf analisis risiko untuk pengadaan bahan baku kuartal depan yang Ibu minta. Dan Pak Rendy sudah menunggu di luar untuk menyerahkan laporan mingguan pertamanya," kata Maya dengan nada sangat profesional.

"Terima kasih, Maya. Suruh dia masuk," jawab Alya.

Siska terpaksa mundur beberapa langkah saat Rendy melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu tampil rapi dengan kemeja putih tergulung hingga siku, menampilkan kesan eksekutif muda yang giat bekerja. Senyum manis—senyuman yang dulu selalu sanggup meluluhkan hati Alya—terulas lebar di bibirnya.

"Selamat pagi, Al," sapa Rendy dengan nada lembut yang dipaksakan terdengar intim. Ia membawa sekotak kue sus mahal bertabur gula halus. "Aku mampir ke toko roti langgananmu tadi pagi. Aku tahu kamu pasti stres dengan tumpukan kerjaan hari ini, jadi aku bawakan makanan kesukaanmu."

Rendy melangkah mendekat, berniat meletakkan kotak kue itu di meja Alya dan menepuk bahunya dengan penuh kehangatan—sebuah gestur PDKT yang ia rancang bersama Siska untuk mengikat emosi Alya kembali.

Namun, baru saja Rendy melangkah dua jengkal dari mejanya, udara di sekitar Alya mendadak terasa mencekik.

Bayangan malam berdarah lima tahun di masa depan itu kembali menyergap Alya bagaikan kilatan petir yang menghantam kesadarannya. Rasa dingin sebilah pisau berburu berpola unik yang merobek perutnya, tawa dingin Rendy saat darahnya membendung di atas marmer lantai 40, serta aroma amis yang merembes di blazernya... semuanya meledak secara bersamaan di dalam kepalanya.

Rasa jijik yang teramat sangat bergejolak hebat di perut Alya. Kulitnya merinding parah, sampai-sampai bulu kuduknya berdiri.

"Jangan mendekat," desis Alya.

Suara itu kecil, namun dipenuhi oleh intensitas kebencian yang begitu pekat hingga membuat pergerakan Rendy terhenti seketika. Kaki Rendy terpaku di udara.

"Al?" Rendy menatapnya bingung, tangannya yang memegang kotak kue menggantung canggung. "Kamu kenapa? Aku cuma mau memberikan kue ini—"

"Geser kotaknya ke meja samping," potong Alya cepat, menahan rasa mual yang bergolak hingga ke kerongkongannya. Ia memalingkan wajah, tidak sudi menatap wajah pria yang pernah membunuhnya tanpa penyesalan itu. "Aku sedang tidak ingin makan manis. Dan di kantor, panggil aku Bu Alya atau Direktur. Kita harus profesional, Pak Rendy."

Atmosfer di dalam ruangan seketika membeku. Siska saling bertukar pandang dengan Rendy melalui lirikan mata yang panik.

Rendy menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia mencoba mengontrol raut wajahnya, mengumbar senyum canggung seraya meletakkan kotak kue itu di meja sudut dekat sofa. "Ah... baik, Bu Alya. Maafkan saya. Saya hanya ingin memastikan kesehatan Anda."

"Kesehatan saya sangat baik," balas Alya dingin, akhirnya memberanikan diri menatap mata Rendy dengan pandangan menusuk. "Tunjukkan laporan operasional minggu pertama Anda. Maya akan mencatat poin-poin yang perlu dievaluasi."

Selama tiga puluh menit berikutnya, Rendy memaparkan rencananya dengan gaya bicara yang dibuat-buat memesona. Namun, setiap kali Rendy mencoba menyipkan kalimat puji-pujian pribadi untuk mengambil hati Alya, Alya langsung memotongnya dengan pertanyaan teknis seputar anggaran dan vendor—pertanyaan yang begitu tajam hingga membuat Rendy berkeringat dingin di tempat duduknya.

Ketika Rendy dan Siska akhirnya keluar dari ruang kerja Alya dengan wajah tegang, Alya bersandar di kursi kebesarannya. Tangannya mengepal rapat di atas meja, gemetar hebat akibat trauma fisik yang menolak lupa.

Penipu busuk, batin Alya, matanya menyala dingin. Teruslah berakting, Rendy. Nikmati jabatan sementara ini sebelum aku menyeretmu ke tempat yang paling gelap.

Malam harinya, suasana hangat menyelimuti dapur rumah keluarga Alya. Suara denting alat masak dan aroma harum rempah-rempah memenuhi udara.

Mama Alya baru saja selesai menata piring-piring di atas meja makan kayu jati mereka ketika Alya turun dari lantai atas. Alya telah berganti pakaian menggunakan kaus santai dan celana kain panjang. Postur tubuhnya tampak jauh lebih tegak dari biasanya.

Papa Alya yang sedang membaca koran di meja makan menoleh, lalu tersenyum lebar. "Nah, ini dia anak Papa yang sekarang mendadak jadi sibuk sekali. Bagaimana kantor hari ini, Al?"

"Lancar, Pa. Semua proyek berjalan sesuai target," jawab Alya seraya menyalami tangan papanya dengan penuh hormat.

"Mama dengar dari Siska, kamu terima Rendy bekerja di kantor?" tanya Mama seraya meletakkan mangkuk besar berisi rendang daging sapi berkuah santan kental—makanan yang dulu menjadi pelampiasan stres favorit Alya hingga berat badannya melonjak ke angka 72 kg.

Alya duduk di kursinya, menarik napas pelan. "Iya, Ma. Alya memberi dia masa percobaan tiga bulan sebagai Manajer Operasional. Alya mau lihat dulu bagaimana kinerjanya secara objektif."

"Bagus itu," puji Papa. "Kerja ya kerja, profesional saja. Jangan campur adukkan perasaan sebelum ada ikatan resmi."

"Pasti, Pa," ujar Alya tegas.

Mama kemudian menyodorkan piring ke depan Alya, berniat mengisikannya dengan dua centong penuh nasi putih hangat dan potongan rendang berukuran besar. "Ayo dimakan, Al. Ini rendang kesukaan kamu. Mumpung hangat."

Namun, Alya dengan halus menyentuh pergelangan tangan ibunya, menghentikan gerakan centong nasi tersebut.

"Ma, nasi putihnya tidak usah," kata Alya lembut.

Mama tertegun, menatap Alya dengan dahi berkerut. "Lho? Tidak pakai nasi? Kamu mau makan lauknya saja?"

Alya tersenyum hangat, lalu meraih mangkuk kecil yang sudah disiapkannya sendiri dari meja dapur—berisi potongan dada ayam panggang tanpa kulit, rebusan brokoli, wortel, dan separuh buah alpukat segar.

"Mulai malam ini, Alya potong karbohidratnya, Ma. Tidak pakai nasi putih, tidak pakai santan, dan kurangi minyak," jelas Alya tenang seraya memindahkan dada ayam panggangnya ke piring. "Alya mau fokus makan makanan utuh (whole food). Supaya badan Alya tidak gampang mengantuk kalau kerja di kantor."

Papa menaruh korannya, menatap putrinya dengan raut terkejut sekaligus kagum. "Wah, serius sekali ini anak Papa? Biasanya kalau di depan rendang Mama, kamu paling tidak bisa tahan."

"Dulu, Pa," sahut Alya seraya mengunyah potongan brokolinya dengan nikmat. "Dulu Alya malas dan tidak menghargai tubuh Alya sendiri. Alya pikir makan sembarangan itu cara melepas stres, padahal cuma bikin badan makin berat dan pikiran jadi tumpul. Sekarang Alya mau hidup lebih disiplin."

Mama menatap piring Alya yang dipenuhi warna hijau dan protein bersih tanpa kuah santan. Ada rasa khawatir khas seorang ibu, namun melihat binar mata Alya yang begitu segar dan penuh energi, rasa khawatir itu berganti menjadi kebanggaan yang mendalam.

"Tapi kamu tidak merasa lemas, kan, Nak?" tanya Mama memastikan, mengusap bahu Alya yang terasa sedikit lebih padat dari sebelumnya. "Jangan sampai sakit karena diet ketat ya."

"Sama sekali tidak lemas, Ma. Malah rasa pusing yang biasanya muncul setiap malam sekarang hilang," Alya menatap ibunya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Badan Alya rasanya jauh lebih ringan, meskipun timbangan mungkin baru turun sedikit. Yang penting Alya sehat, jadi Alya bisa jaga Mama sama Papa sampai tua."

Mendengar kalimat tulus itu, mata Mama berkaca-kaca. Ia menepuk-nepuk pipi tembam Alya yang mulai berona merah alami. "Anak Mama pintar sekali. Ya sudah, kalau begitu besok Mama masakkan sup dada ayam pakai bening bayam ya? Nggak pakai minyak sama sekali."

"Mau banget, Ma! Terima kasih ya," balas Alya ceria.

Papa terkekeh bangga seraya menyantap makan malamnya. "Papa senang melihat kamu seperti ini, Al. Kamu kelihatan jauh lebih berwibawa dan punya pendirian. Laki-laki yang mau mendekati kamu sekarang harus berpikir dua kali kalau tidak sepadan dengan kecerdasan kamu."

Alya tersenyum tipis mendengar ucapan papanya. Pikiran Alya seketika melayang pada sosok Kai Aditya. Pria itu tidak pernah menuntutnya untuk kurus, namun Kai adalah orang pertama yang menghargai kecerdasannya tanpa syarat.

Alya mengunyah makanan sehatnya dengan tekad yang semakin membara. Setiap porsi makanan yang ia atur, setiap keringat yang ia keluarkan saat olahraga subuh, dan setiap keputusan tegas yang ia ambil di kantor adalah bagian dari fondasi kekuatan barunya.

Ia bukan lagi Alya yang lembek dan mudah dibodohi oleh kata-kata manis Rendy atau tipu daya Siska. Di balik tubuhnya yang masih berbobot 72 kg ini, tersimpan jiwa seorang penguasa yang siap menghancurkan setiap musuh yang berani mengusik kehidupan dan keluarganya.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!