Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Musim gugur di Aethelgard sangat indah. Daun-daun berubah warna menjadi emas dan merah, angin bertiup sejuk, dan cuaca di Paviliun Matahari Terbit berada di suhu yang sempurna untuk tidur siang.
Elara sedang berada dalam kondisi puncak kemalasannya. Ia berbaring telentang di atas kasur bulu angsa generasi ketiga (karena generasi kedua dianggap 'kurang membal' oleh Elara), sementara Nira dengan setia menyuapkan potongan buah persik yang sudah dikupas.
“Nira,” gumam Elara, matanya terpejam menikmati kedamaian. “Menurutmu, berapa lama sampai Kaisar menyadari bahwa dia tidak benar-benar membutuhkan konsultan paruh waktu? Mungkin kalau aku diam saja selama sebulan, dia akan lupa aku ada di sini.”
“Hamba ragu, Yang Mulia,” jawab Nira pelan, suaranya terdengar tegang. “Karena Kaisar sedang berjalan menuju paviliun. Dan beliau membawa.. Menteri Upacara.”
Elara langsung membuka kedua matanya. Rasa kantuknya menguap seketika, digantikan oleh rasa ngeri yang murni.
“Menteri Upacara? Untuk apa? Aku tidak mati kali ini! Kalau aku mati, urus saja pemakamanku secara sederhana. Jangan pakai bunga lili, aku alergi baunya.”
Pintu terbuka. Kaisar Lucian masuk, diikuti oleh seorang pria tua dengan jubah ungu berat yang dihiasi simbol-simbol astronomi. Itu Lord Hemlock, Menteri Upacara, pria yang dikenal sangat kaku dan memegang teguh tradisi hingga ia konon pernah pingsan melihat seseorang memakai sepatu yang salah warna.
“Elara,” sapa Lucian, menarik kursi dan duduk di tepi kasur. Ia tampak sangat menghibur diri melihat reaksi Elara. “Tenang. Kau tidak akan mati. Tapi kerajaan mungkin akan bangkrut jika kau tidak membantu kami.”
Lord Hemlock maju, membungkuk kaku. “Selir Elara. Festival Musim Dingin tinggal dua bulan lagi. Tradisi menuntut kita mengadakan perjamuan tujuh hari tujuh malam, kembang api dari bubuk perak murni, dan tarian seribu penari. Namun, karena.. eh, reformasi pajak yang sedang berjalan dan penyitaan aset Departemen Perang, kas negara untuk upacara sedang defisit. Kita kekurangan dua puluh ribu keping emas.”
Elara menatap Lord Hemlock. Lalu menatap Lucian. Lalu menatap buah persik di tangan Nira.
“Jadi,” ucap Elara perlahan. “Kalian datang ke kamarku, di hari liburku, untuk memberitahuku bahwa negara kita kehabisan uang untuk pesta.”
“Bukan sekadar pesta, Yang Mulia!” protes Lord Hemlock. “Ini adalah Festival Musim Dingin! Simbol kemakmuran Aethelgard! Jika kita membatalkannya atau membuatnya sederhana, rakyat akan kehilangan harapan, dan negara-negara tetangga akan menganggap kita lemah!”
“Lalu apa solusinya?” tanya Elara datar. “Memotong anggaran?”
“Tidak bisa!” seru Hemlock ngeri. “Itu akan melanggar hukum leluhur!”
Elara menghela napas panjang. Ia duduk, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, dan memijat pelipisnya.
Baiklah, Di dunia sebelumnya, kalau perusahaan kehabisan anggaran untuk acara gathering tahunan, solusinya cuma satu: cari pihak lain yang mau bayar.
“Dengar, Menteri Hemlock,” ucap Elara, suaranya terdengar sangat lelah. “Berapa banyak pedagang kaya di ibukota ini yang punya uang berlebihan tapi tidak punya gelar kebangsawanan?”
Lord Hemlock berkedip, bingung dengan perubahan arah pembicaraan. “Eh.. banyak, Selir. Guild Pedagang Sutra, Asosiasi Rempah, dan Kongsi Tambang memiliki kekayaan yang. melebihi beberapa adipati.”
“Bagus,” Elara menyengirkan selimutnya. “Nira, ambilkan papan tulis kecil dan kapur. Kita akan melakukan brainstorming.
Lucian menyipitkan matanya, tertarik. “Apa yang kau rencanakan?”
“Yang Mulia,” Elara menatap Lucian serius. “Di desa kuno saya, ada konsep bernama Sponsorship atau Patronase Komersial. Intinya: kalau kita tidak punya uang untuk pesta, biarkan orang kaya yang membayarnya. Sebagai gantinya, kita beri mereka sesuatu yang tidak bisa mereka beli dengan uang: Prestise.”
Lord Hemlock tampak terhina. “Menjadikan pedagang sebagai penyandang dana Festival Suci? Itu tidak sopan! Tradisi.."
“Tradisi tidak bisa makan, Menteri,” potong Elara. “Dengarkan. Kita tidak akan meminta mereka menyumbang secara cuma-cuma. Itu namanya pajak, dan mereka akan membencinya. Kita akan menjual sesuatu pada mereka.”
Elara mulai menggambar di papan tulis.