Terancam Drop Out karena masa studi yang di ujung tanduk, Ruby menyusul Bara --dosen pembimbingnya hingga ke pelosok desa tempat pria itu melakukan penelitian. Misinya hanya satu, acc skripsi demi menyelamatkan masa depannya.
Sebuah kesalahpahaman konyol membuat mereka dituduh melanggar adat setempat. Tanpa opsi untuk bernegosiasi, Ruby dan Bara dipaksa menikah. Dalam semalam, status Ruby berbalik 180 derajat: dari mahasiswa abadi, menjadi istri sah sang dosen.
Kejutannya tak berhenti di situ. Bara bukan sekadar dosen senior dan dingin, dia adalah duda beranak dua dan salah satu anak Bara penyandang disabilitas.
"Satu dosen dingin, plus bonus dua krucil. Mirip promo beli satu dapat tiga.”
Ruby mendongak, menatap Bara yang menatapnya. "Jadi, ibu tiri! Siapa takut? Lagipula, menghadapi bab empat Pak Bara aja saya bertahan, apalagi cuma ngadepin mereka berdua!"
“Mas, panggil saya mas Bara.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditemani Suami Posesif (2)
Bab 32
“Siapa Mel? Eh, mas Bara!”
Bara menatap Ruby dari kepala sampai kaki. Busana yang dipakai bukan yang terbuka, terlihat elegan dan mewah. Penampilan gadis itu begitu sempurna, tapi ingin sekali ia bawa kabur dan kurung di kamar saja agar tidak bisa dinikmati pria lain meski hanya pandangan.
Ruby menghampiri, meraih tangan Bara dan menautkan jemarinya. “Mau nonton aku di foto ‘kan. Ayo, sambil duduk.”
Mengenalkan pada rekan Ruby dan para crew yang terlibat dengan sesi foto tersebut. Ada perasaan bangga di hati Bara, karena Ruby mengakui kalau Bara adalah suaminya. Tidak ada drama menutupi hubungan mereka. Bahkan ada rekan Ruby yang tidak percaya mereka sudah menikah.
“Udah jelas ya, ini om ganteng udah hak paten punya Ruby. Nggak usah ada yang ngarep jadi orang ketiga apalagi jadi ani-ani,” ujar Meldy.
Bara memperhatikan model yang sedang dalam sesi foto. “Setelah foto lalu selesai?”
“Tergantung mas, berapa banyak sampel pakaian yang tertera di kontrak.”
Pandangan Bara tertuju pada para model pria. “Kamu ada foto dengan mereka?”
“Ada kayaknya. Katalog ‘kan selalu model tunggal bisa juga pasangan atau beberapa orang.”
Tiba giliran Ruby untuk sesi pemotretan berikutnya. Dari yang tadinya duduk, lalu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Pandangan Bara lurus terkunci pada sang istri yang tampil begitu memukau, berganti-ganti pose sesuai arahan fotografer dengan sangat lincah.
Di sebelah Bara, Meldy sibuk mencatat dan menggeser layar tabletnya. Bara melirik sinis ke arah tablet itu.
"Mel," panggil Bara tanpa mengalihkan pandangan dari Ruby.
"Yes, om ganteng,” sahut Meldy cepat. Meski sebelumnya ia senang menggoda suami dari bosnya ini, tapi tetap saja ada rasa segan pada pria itu.
"Kirimkan draft schedule Ruby. Semuanya. Termasuk tawaran yang belum kalian approve?
Meldy mengedipkan mata, reflek mendekap tabletnya di dada. "Waduh, om ganteng... jangan bilang semua kerjaan itu mau di cancel. Kena finalty loh, bisa dianggap wanprestasi ini.”
"Saya mau tahu jadwal istri saya, bukan mau ikut campur," sahut Bara dingin namun tegas.
Sesi pertama selesai untuk pergantian busana. Ruby berjalan gontai menuju ruang ganti sambil mengipas-ngipas lehernya yang agak gerah. Baru saja mau melangkah ke bilik sekedarnya di pojok studio dan Meldy membawakan busana berikutnya. Bara menyusul dan menahan istrinya itu.
"Mau ke mana?" tanya Bara menahan dengan memegang lengan Ruby.
"Mau ganti baju lah, Mas. Kan pakaiannya beda lagi," jawab Ruby polos. “Mas tunggu di sana ya, aku usahakan cepat.” Seperti biasa, Ruby menggoda Bara dengan mencolek dagunya.
Bara melirik ke bilik tirai tipis di pojok studio yang pintunya cuma ditutup kain seadanya. "Ganti di toilet saja. Tidak akan ada yang ngintip. Disitu … tirainya tipis. Disibak langsung kelihatan sedang apa kamu di dalam sana.”
Ruby menatap suaminya dengan alis berkerut, lalu mendengus geli. "Mas Bara, itu tirai bilik ganti juga ketutup rapat kali!”
"Nggak ada alasan. Nurut atau ikut aku pulang,” ujar Bara dengan tegas, ini terkait prinsip.
"Duh, om ganteng posesif banget. Tapi gak pa-pa, nurut aja sih. Om ganteng cemburu dan posesif karena dia bucin. Demi kebaikan lo juga, dari pada nanti ada drama. Ayo, kita ke toilet, kalau perlu lo ganti di rumah aja, terus balik kemari lagi," tutur Meldy tidak jelas antara pro atau kontra dengan sikap Bara.
Ruby cuma bisa menghela nafas lalu tersenyum geli melihat kelakuan suaminya. ia masuk ke ruangan yang lebih aman untuk berganti sesuai dengan perintah sang bodyguard.
Bara sudah kembali duduk berusaha tetap tenang. Namun, ketenangannya siap berubah menjadi badai saat seorang model pria bertubuh jangkung dan berwajah ala blasteran melangkah mendekati Ruby untuk sesi foto pasangan.
Pandangan Bara terkunci telak. Matanya memicing tajam, menyipit bagaikan laser yang siap menembus dahi model pria itu kalau berani memegang pinggang istrinya terlalu dekat.
Meldy yang berdiri di samping Bara bisa merasakan aura dingin yang mendadak seperti menusuk tulang. Ia berdehem pelan untuk mencairkan suasana.
"Tenang, om ganteng. Tarik nafas terus tahan sampai satu jam. Eh, maksudnya hembuskan," bisik Meldy santai sambil menyodorkan kipas angin portable ke wajah Bara. “Om ganteng jangan cemburu dong, nanti ada angin topan di sini.”
"Kenapa harus ada model pria?" suara Bara terdengar sangat menuntut.
"Ya namanya juga konsep untuk semua kalangan. Ada cowok, cewek, anak kecil, manula bahkan balita dan bayi. Masa Ruby foto sama patung,” sahut Meldy polos tanpa dosa. Melihat urat leher Bara mulai tegang, Meldy cepat-cepat menambahkan, "Tapi serius deh. Ruby itu profesional banget. Selama saya mendampingi dia dari zaman purba sampai sekarang udah zaman AI. Ruby itu selalu pintar menjaga batas dan harga dirinya. Nggak pernah ada cerita dia menye-menye atau cari kesempatan sama model lawan jenis. Pegangannya cuma sebatas tuntutan peran, habis itu selesai. Dia juga menolak kalau brandnya pakaian dalam, bikin1 atau yang kira-kira nggak sesuai norma."
Terdengar sang fotografer memberi instruksi, "Oke, Ruby! Coba senderan dikit ke bahu David, agak merem sambil tersenyum.”
"Bang, gini aja ya," usul Ruby sambil tersenyum dengan gaya lain tapi tetap berkesan romantis meski tanpa bersentuhan. Tidak ingin menolak dan tetap profesional tanpa menyakiti perasaan Bara.
“Oke, bagus! Tahan ya.”
Meldy terkekeh pelan melihat kejadian itu. "Tuh kan, saya bilang juga apa. Istrinya om ganteng itu otaknya memang kadang agak sengklek, tapi pagar pembatasnya setinggi benteng takeshi kalau soal harga diri!"
Bara yang tadinya tegang perlahan mengulum senyum tipis. Hatinya merasa puas dan bangga melihat bagaimana cara Ruby menjaga kehormatannya.
“Btw, udah cinta mati ya om,” ejek Meldy.
“Iya,” sahut Bara tanpa sadar.
Meldy terkekeh. “Woi, Ruby, pawang lo bilang udah cinta mati sama lo. Anjay bener dah ini pasangan.”
“Love u too mas suami,” pekik Ruby sambil memberikan kiss bye.
Buuuunnn anak mu udah bujang malu dia dipeluk ditempat umum 😂😂😂