Siapa aku, seorang pecundang?
Mengikuti kisah Lyan Clament, seorang penyihir tingkat Saint. Walaupun masih remaja, ia mengejutkan banyak orang dengan kemampuannya. Tapi kekuatan sihir bukanlah penentu utama.
Di dunia ini, Benua Ostland menjadi tempat Kekaisaran melakukan invasi tanpa henti. Tidak ada yang murni baik atau buruk; semua orang memiliki alasan masing-masing untuk bertahan hidup.
Tingkat Saint? Hah...
Gelar itu tidak membuat Lyan spesial di antara puluhan penyihir lainnya. Meski hanya satu dari seratus orang yang bisa menggunakan sihir, untuk apa kemampuan tersebut jika dihadapkan dengan kekuatan Kekaisaran?
Lyan baru saja kehilangan kedua orang tuanya, dan tetap bernapas sampai sekarang adalah sebuah keajaiban. Dendam di dalam hati sempat membutakannya untuk membalas kematian orang tuanya. Namun, semua itu perlahan berubah ketika ia bertemu dengan Steven dan Sandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lamunan Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9 Pilihan yang Bodoh!
Satu minggu setelah pertandingan terakhir...
"... Oke, sekarang kita menganggur!"
"Setidaknya kita tetap hidup setelah—"
"Sudahlah, aku tidak ingin mengingatnya lagi," bentak Sandra.
Mengerutkan dahi, aku mencoba menahan emosi untuk kesekian kali.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mengklaim salah satu quest?" Saran Steven.
"Setuju!"
Keributan kecil kami hari ini akhirnya terselesaikan dengan kesepakatan bersama. Kaslana datang membawa nampan tinggi-tinggi, lalu meletakkan pesanan kami di atas meja. Mereka boros sekali; tanpa pekerjaan dan pemasukan apa pun, tabungan kami bisa ludes dalam sekejap. Walaupun demikian, aku tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya—kami tidak pernah makan enak seperti ini selama sebulan.
Memberikan reward kepada diri sendiri sesekali tentu tidak ada salahnya, bukan?
"Memangnya kalian sedang membicarakan apa? Kulihat serius sekali," tanya Kaslana.
"Oh, iya, Mbak!" seru Sandra antusias sambil merampas paha ayam dari nampan. "Kami mau ambil quest hari ini!"
"Ya... Tampaknya hari ini tidak ada permintaan yang masuk setelah peristiwa mengerikan kemarin."
"Kenapa!" bentak Sandra sambil memukul cawannya keras-keras ke atas meja.
"Seperti yang kalian dengar, Count Maxus dipindah tugas dari jabatannya oleh Duke Welding akibat insiden Minggu kemarin." Kaslana menarik sebuah kursi dan ikut bergabung dengan meja kami. "Mau bagaimana lagi? Pekerjaan kita semua ikut terdampak. Hilangnya otoritas sipil di Istarloth membuat seluruh kendali kini diambil alih oleh pihak militer."
"Militer?"
"Ya, militer, Lyan. Kolonel Nicholas Hoult yang mengambil alih kepemimpinan," ujar Kaslana sambil meneguk minuman di atas meja kami. "Kalian tahu sendiri, militer tidak sama dengan birokrasi sipil. Mereka kaku dan kikuk dalam urusan administrasi."
Memang benar. Militer tidak pernah bisa diandalkan untuk mengurus administrasi publik. Mereka yang terbiasa hidup di medan perang tiba-tiba harus bergelung dengan tumpukan berkas di ruang kerja—pemandangan yang kontras. Meski begitu, harus diakui Count Maxus setidaknya mampu menjaga ketertiban wilayah ini.
"Jadi, apa rencana kita?" tanya Steven. "Tanpa ada pekerjaan, tidak ada juga pelanggan yang datang ke Guild, kan?"
"Ada benarnya juga. Kalau bukan karena kalian, aku mungkin sudah dipecat karena gagal memenuhi target pemasukan!"
Kaslana melirik sekilas ke arah papan pengumuman Guild, lalu beranjak dari kursinya. Ia menyingkirkan beberapa tumpukan kertas yang menutupi sebuah dokumen lama. Begitu menemukannya, ia kembali membawa perkamen tersebut ke meja dan menyerahkannya pada kami.
Sandra langsung merampas perkamen itu dari tangan Kaslana. Senyum mengerikan terukir di wajahnya—ekspresi yang sama persis setiap kali ia merencanakan hal berbahaya. Steven, yang ikut mengintip dari samping, mendadak mematung tanpa bernapas. Aku bergeser hendak membaca isinya, tetapi Kaslana dengan sigap menarik kembali perkamen kecoklatan itu.
"Bagaimana, kalian tertarik mengambilnya?"
"Party Gerombolan Gagak Hitam bersedia melaksanakannya!" seru Sandra sambil mengangkat tangan. Ia menyambar pena yang disodorkan Kaslana lalu membubuhkan tanda tangannya di atas perkamen.
"Oke kalau begitu, selamat menikmati petualangan!"
Kaslana menjentikkan jarinya, membuat kertas usang itu lenyap ditelan angin sihir. Tanpa ambil pusing, aku kembali melanjutkan suapan makananku.
Heh? Quest apa pula yang baru saja mereka setujui? Apa pun misinya, dengan kemampuanku, semuanya pasti bisa diatasi. Tapi... sudahlah. Kaslana tidak mungkin memberi kami misi tingkat S. Mengingat ekspresinya saat membahas Jenderal Iblis Zigurad tempo hari, dia jelas masih peduli pada keselamatan party kami.
Namun, semua ekspektasiku di Guild runtuh seketika.
"... Baiklah, kita akan mendaki pegunungan Sigmund!"
Sesampainya di kamar penginapan, Sandra baru membongkar rincian misi gila yang baru saja ia ambil. Di situlah aku sadar betapa fatalnya pilihan yang disetujuinya tanpa berpikir panjang.
"Kamu sudah gila, ya! Jen... Jende... Jenderal Zigurad, tadi kamu bilang apa?!"
Sandra mengangguk santai dengan senyuman plengernya. Tanpa babibu, aku langsung menjitak kepalanya keras.
"Aduh!" ringisnya.
"Misi tingkat S! Bayangkan sendiri, kita harus melawan monster yang bahkan Wizard Kekaisaran saja kesulitan untuk melenyapkannya!"
Aku mendengus kesal, lalu mengalihkan tatapan tajam ke arah Steven yang duduk di sudut ruangan.
"Dan kamu, Steven? Kenapa kamu malah membiarkannya mengambil misi tidak masuk akal ini?"
Tidak menjawab, Steven langsung menarik selimut hingga menutupi kepala lalu tertidur pulas sambil memeluk guling erat-erat.
"Oi, jawab dulu! Jangan pura-pura tidur!"
"Sudahlah, Lyan. Besok kita harus berangkat pagi-pagi sekali untuk perjalanan ke Pegunungan Sigmund."
"Besok pagi?!"
Meniup lampu minyak hingga padam, lalu Sandra berbaring di sebelah kakaknya. Sementara itu, aku masih terjaga semalaman di dalam gelap. Pikiranku melayang, membayangkan pertempuran macam apa yang akan kami hadapi di sana. Jika Estevan sekuat itu saja hampir membunuh kami, makhluk sekelas Jenderal Iblis tentu berada di tingkat yang jauh berbeda.
Tanpa terasa, fajar menyingsing. Sinar matahari pagi menerobos celah jendela, membangunkan dua kakak beradik itu. Menyadari aku bahkan belum memejamkan mata semalaman, mereka langsung menarikku turun untuk bersiap, lalu bergegas menuju karavan yang sudah menunggu di depan penginapan.
"Aku berharap kalian berubah pikiran," kataku lesu.
"Nasi sudah menjadi bubur, Lyan. Lagian, Kak Steven juga setuju, kan, Kak?"
Steven mengangguk lemah. Tapi dari tatapan matanya, aku menangkap pesan putus asa: "Tolong hentikan dia!"
Guncangan karavan selama perjalanan membuat mataku sulit terpejam. Melalui jendela yang terbuka, tampak lanskap Istarloth yang perlahan ditinggalkan di belakang. Dari atas bukit pertambangan Landmine, gugusan Kota Lorenzo dan Tremisland tampak membentang di kejauhan.
Semenjak Count Maxus lengser, aktivitas penambangan di wilayah ini dihentikan total. Situasi itulah yang memberi kami kebebasan bergerak ke mana pun tanpa hambatan militer. Sementara itu, Patricia memutuskan tidak bergabung dengan Party kami; setelah menyelamatkan orang tuanya dari bandar judi dan kelompok bandit, ia memutuskan pulang ke desanya begitu masa tugas wajibnya berakhir.
Tak lama kemudian, pemandangan Istarloth benar-benar lenyap, berganti hamparan padang rumput Pastoral yang membentang tanpa ujung. Tiba-tiba kusir menghentikan laju kereta. Tubuh kami sempat terdorong ke depan sebelum pria itu berteriak, menyuruh turun di pemberhentian pertama untuk mengistirahatkan kudanya yang kelelahan.
"... Di dekat sini ada Guild."
Benar saja, setelah melangkah sebentar, berdiri sebuah bangunan yang arsitekturnya sangat mirip dengan cabang di Landmine.
Kring~ kring~ kring~
Usai mendorong pintu, suara lonceng yang familier bergema lembut. Seorang pelayan laki-laki sebayaku bergegas menghampiri. Awalnya pria itu tampak enggan, tetapi pandangannya langsung tertuju pada lencana keanggotaan di dada Sandra dan Steven. Seketika, raut malas itu berganti menjadi senyuman kaku.
"Ada yang bisa dibantu, Travelers?"
"Bisa kami menginap semalam di sini?" tanya Steven.
"Selama kalian anggota Guild, kalian diperbolehkan menginap."
Selagi Sandra dan Steven sibuk mengurus kamar, aku berkeliling mengamati interior tempat ini. Tata letaknya hampir identik dengan cabang Landmine, tetapi ada satu hal yang janggal.
"... Kenapa tempat ini sepi sekali?" tanya Steven kemudian.
Pertanyaan itu mewakili kebingunganku. Bukan hanya sepi pelanggan, keberadaan pelayan wanita juga tidak ditemukan. Di dalam bangunan ini hanya ada lima pelayan pria bertugas. Pandanganku beralih ke sudut ruangan, memperhatikan beberapa pria tua yang asyik bersantai sambil meneguk bir. Berbeda jauh dengan pekerja wanita yang biasanya tetap cekatan meski tidak ada pengunjung.
Alasan itu pula yang membuatku lebih menyukai wanita yang lebih tua. Mereka jauh lebih pengertian dan berpengalaman dibanding gadis seumuran atau yang lebih muda.
Ha... Walaupun baru beberapa jam aku jadi rindu dengan senyum Kaslana.
Kalau bisa bakal ku buang Sandra dari party, dan Kaslana masuk mengantikannya. Betapa indahnya mimpi itu... Hehehe...
"Hey... Gadis muda sepertimu harusnya sudah bisa mencicipi anggur manis ini. Hahaha..." Tawanya menggelegar sebelum ia meneguk birnya lagi, lalu mendadak menghantamkan kepala ke meja hingga bersuara 'bug'. Baru saja aku berniat menepuk pundaknya, menyalurkan sedikit sihir penyembuhan, pria tua itu sudah bangkit kembali sambil lanjut tertawa.
"Hahaha... Lucu sekali kalian! Sudah lama aku tidak melihat orang asing diajak bicara!"
"Aku jadi takut, Lyan," bisik Sandra lirih.
"Tuan!" Steven memukul meja. "Kami di sini bukan untuk mendengarkan bualan tanpa arah!"
"Oke, oke... Tahan dulu, anak muda—"
Pria itu meneguk sisa birnya hingga habis tidak bersih, lalu merubah raut wajahnya menjadi serius. "Mau mulai dari mana? Oke, dari sejarah tempat ini. Wilayah ini dulunya dinamakan Desa Qianlo, masih bagian administratif Istarloth yang berbatasan langsung dengan wilayah Kekaisaran—"
"Langsung saja ke intinya, Tuan!" potong Steven cepat. "Kami sudah tahu latar belakang tempat ini."
"Baiklah! Di dekat sini ada pemukiman yang dulunya dihuni puluhan kepala keluarga. Tapi, serangan goblin dari dungeon di puncak bukit itu..." Ia menunjuk ke luar jendela, ke arah puncak tinggi yang terselimut awan tebal. "Di sanalah sarang mereka. Jika kalian sanggup meratakan tempat itu, penduduk pasti mau kembali."
"Benar!" timpal pelayan lain yang ikut mendekat. "Sejak dua tahun lalu para goblin membantai desa seberang. Orang-orang mengungsi ke kota lain, tersisa beberapa dari kami yang memilih bertahan."
"... Kami sudah berulang kali meminta bantuan pihak Kekaisaran untuk membasmi mereka, tetapi..."
"Tetapi apa?" tanyaku menanggapi. "Pesan kalian diabaikan?"
"Mereka membalasnya," sela si pemabuk cepat. "Pasukan ekspedisi yang dikirim ke puncak tidak pernah kembali. Serangan goblin justru makin masif, membantai habis sisa warga yang bertahan."
"Jadi, aku mohon, para Travelers!" teriak pelayan muda itu sambil membentangkan sebuah perkamen quest di atas meja. "Tolong bantu kami menyelamatkan desa ini!"
"Bukan urusan—"
"Kami terima!" teriak Sandra mantap.
"Tunggu sebentar!" bentakku kesal. "Masih ingat tidak tujuan awal kita ke sini untuk apa?!"
"Aku tahu, Lyan, tapi tidak ada salahnya membantu sesama di tengah jalan."
Steven mengangguk menyetujui perkataan adiknya.
"Astaga, kalian bisa tidak mendengarkanku sebentar saja?!"
Dengan dada bertolak pinggang dan wajah bangga, Sandra beranjak dari kursinya. "Mari kita tuntaskan masalah ini sekarang!"
"Lebih baik kalian istirahat dulu hari ini," potong si pemabuk menahan antusiasme Sandra.
"Benar, langit sudah gelap. Pergerakan para goblin bakal jauh lebih berbahaya di malam hari," tambah pelayan muda itu. "Ngomong-ngomong, apa pria di luar sana teman kalian?"
"Pria?"
"Oh, dia kusir karavan kami," jawab Steven. "Apakah dia boleh menginap di sini juga?"
"Tentu, kalau memang terpaksa. Lagi pula tidak ada tempat berlindung lain sejauh puluhan kilometer dari sini."
Bersambung...