Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18
Suasana di dalam ruang tamu rumah Franklin terasa begitu pekat dan membisu. Andika duduk di sudut sofa dengan pandangan kosong menatap lantai kayu, sementara Franklin menyandarkan punggungnya di dinding, membiarkan air mata duka perlahan mengering di pipinya. Kehilangan Lamar—saudara tertua yang selalu menghidupkan suasana dengan tawa konyolnya—meninggalkan lubang hitam yang sangat dalam di dada mereka bertiga.
Keheningan malam yang mencekam itu mendadak pecah ketika Franklin tiba-tiba berdiri tegap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, matanya yang memerah berubah menyala dipenuhi api dendam yang murni. Ia melangkah lebar masuk ke dalam kamar utamanya.
Klek! Brakk!
Suara pintu lemari besi berat yang terbuka terdengar dari dalam kamar. Tak lama kemudian, Franklin kembali ke ruang tamu sambil membopong dua pucuk senapan sebar taktis Pump Shotgun berlaras panjang lengkap dengan rompi amunisi yang sarat dengan puluhan selongsong peluru kaliber 12.
Franklin melempar salah satu shotgun beserta rompi amunisi tebal ke atas meja kayu tepat di hadapan Andika.
"Kita harus balas dendam, kawan," ujar Franklin. Suaranya serak, rendah, namun bergetar hebat menahan gelombang amarah yang siap meledak. "Hari ini juga. Tidak ada lagi menunggu. Tidak ada lagi bersembunyi."
Andika mendongak, menatap shotgun dingin di atas meja, lalu perlahan menyambar senjata berat tersebut. Ia mengokang larasnya dengan sekali sentakan keras—
CKLAK-BUMP!
"Yah... harus," balas Andika dengan tatapan mata yang dingin, menusuk, dan tanpa empati sedikit pun. "Dan kita tidak akan cuma membunuhnya, Frank. Harus dengan cara yang jauh lebih kejam dari apa yang anjing Lee Dong itu lakukan pada Lamar."
"Kita langsung ratakan markas utamanya," tegas Franklin sambil memakai rompi amunisinya. "Rumah mewahnya di Little Seoul. Saya tahu Lee Dong ada di sana sekarang, bersembunyi di balik puluhan anak buah tersisanya. Kita serbu pintu depannya dan kita habisi siapa pun yang bernapas di dalam rumah itu."
Andika berdiri, menyisipkan pistol cadangan di pinggangnya, lalu menyandang shotgun di bahu jaket kulit hitamnya. "Bagus. Biar mereka tahu rasa panasnya neraka sebelum Lee Dong ikut menyusul anaknya."
Dua pria yang kini tidak lagi memiliki rasa takut itu bergerak cepat mengikat rompi amunisi dan mengunci semua persiapan. Tidak ada lagi strategi bertahan; malam ini, kediaman mewah Lee Dong di Little Seoul akan menjadi benteng terakhir yang siap mereka bakar sampai ke dasar tanah.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Franklin dan Andika melangkah keluar dari rumah menuju garasi. Kali ini, mereka membutuhkan perlindungan bodi baja untuk menerobos pertahanan musuh. Sedan Bravado Buffalo milik Franklin dipanaskan. Suara deru mesin V8-nya menderu gahar di dalam kegelapan malam, seolah ikut merasakan murka kedua pemiliknya.
Franklin mengambil alih kemudi, sementara Andika duduk di kursi penumpang depan dengan shotgun bertengger siap di pangkuannya. Di jok belakang, bertumpuk magazin cadangan dan kantong amunisi peluru sebar kaliber 12.
SREEECH!
Franklin menginjak pedal gas dalam-dalam. Sedan hitam itu melesat keluar garasi, meninggalkan jejak ban terbakar di atas aspal La Puerta, menancap gas penuh menuju kawasan Little Seoul. Di sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya deru angin malam, raungan mesin yang dipaksa bekerja maksimal, dan tatapan mata dua pria yang sudah tidak lagi memikirkan jalan pulang.
Beberapa menit kemudian, bangunan megah yang menjadi jantung kekuatan geng Ying Long sudah terlihat di ujung jalan sepi.
Kediaman Lee Dong berdiri sangat megah dan menjulang tinggi—sebuah struktur benteng modern setinggi lima lantai dengan benteng tembok tebal dan pencahayaan remang. Di bagian depan, berdiri sebuah gerbang kayu jati raksasa berukiran naga yang kokoh, memblokir akses masuk utama. Tepat di depan gerbang raksasa itu, lima orang penjaga berjas hitam berdiri bersedekap dengan senjata tersembunyi di balik jas mereka, mengawasi setiap pergerakan jalanan.
"Itu tempatnya, Frank," bisik Andika dingin, jarinya sudah menempel ketat di pemicu shotgun.
Franklin menatap lima penjaga dan gerbang kayu besar itu dari jarak seratus meter. Wajahnya mengeras bagaikan batu karang. Bukannya memperlambat laju kendaraan, Franklin justru memindahkan gigi persneling dan menginjak pedal gas sampai menyentuh lantai mobil!
"Pegang pegangan tangan, Andika! KITA MASUK!" jerit Franklin gila!
BHRRROOOOMMM!
Sedan Buffalo itu melesat bagaikan peluru kendali membelah kegelapan! Lima penjaga di depan gerbang yang baru menyadari ancaman bahaya mendadak membelalakkan mata panik. Sebelum mereka sempat menarik senjata dari balik jas—
BRUAAAKKK!
Bumper besi tebal sedan Franklin menghantam kelima penjaga itu sekaligus! Tubuh mereka terlempar hancur dan tergilas di bawah roda mobil sebelum akhirnya—
DUARRR-SPLAT!
Sedan bermesin V8 itu menghantam hancur gerbang kayu besar kediaman Lee Dong! Kayu jati tebal berukiran naga itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan tajam yang beterbangan ke udara. Sedan Franklin menerobos masuk menembus hancurnya pintu pagar, berhenti memutar di tengah-tengah pelataran halaman dalam gedung lima lantai tersebut dengan raungan mesin yang masih membahana keras!
BRUAAAKKK!
Suara dentuman keras dari gerbang kayu raksasa yang hancur berkeping-keping bergema dahsyat menembus seluruh sudut kediaman megah lima lantai tersebut.
Di lantai dua, Lee Dong yang sedang meneguk segelas wiski langsung tersentak kaget hingga gelas kristalnya terlepas dan pecah berantakan di atas lantai marmar. Dengan napas memburu dan dada berdebar kencang, bos tua Tionghoa itu berlari cepat menuju teras balkon lantai dua untuk melihat apa yang sedang terjadi di pelataran bawah.
Namun, saat matanya menatap ke bawah menembus kebulan asap dan puing-puing kayu gerbang yang hancur, darah di tubuh Lee Dong mendadak terasa membeku. Jantungnya serasa mau copot!
Dari dalam sedan hitam yang ringsek di bagian depan, dua pintu terbuka secara serempak. Franklin dan Andika melangkah keluar dengan tenang, menggenggam erat shotgun bertengger di dada mereka.
Kedua pria itu mendongak secara bersamaan, mengunci pandangan tepat ke arah Lee Dong yang berdiri gemetar di teras lantai dua.
Wajah Franklin memerah padam, menggelegak dipenuhi emosi dan dendam kesumat yang siap meledak meluapkan kematian Lamar. Sementara Andika, di bawah remang lampu pelataran, menyunggingkan senyuman lebar yang sangat mengerikan—tatapan matanya kosong, dingin, dan liar, persis seorang psikopat yang sedang menatap mangsa tak berdaya.
Melihat dua iblis jalanan yang berhasil membantai anak tunggalnya dan puluhan prajurit terbaiknya kini berdiri tepat di halaman rumahnya, rasa percaya diri Lee Dong runtuh seketika. Muka bos besar itu pucat pasi, lututnya lemas, dan ketakutan hebat mencengkeram jiwanya.
"PENJAGA! ANAK BUAH! KELUAR KALIAN SEMUA!" jerit Lee Dong histeris dari atas balkon, suaranya melengking penuh kepanikan yang luar biasa. "BUNUH MEREKA BERDUA! JANGAN BIARKAN MEREKA NAIK KE ATAS! HABISI MEREKA SEKARANG JUGA!"
Suara teriak histeris Lee Dong langsung memicu kegemparan di dalam kediaman lima lantai tersebut. Sirene bahaya internal berbunyi nyaring, dan puluhan langkah kaki anak buah Ying Long mulai terdengar berhamburan dari tiap lorong dan tangga, bersiap menghadapkan senjata ke arah pelataran bawah.