NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Sendiri di Tengah Keramaian

Hari-hari setelah kepergian Darto terasa berbeda bagi Zaki, meski di sekelilingnya kehidupan pengungsian tetap berjalan seperti biasa. Ia masih menjalankan tugasnya sebagai kurir, masih membantu di dapur umum, masih mengajar mengaji anak-anak dusun. Tapi ada kekosongan yang terasa setiap kali ia hendak melempar candaan dan tidak menemukan Darto di sampingnya untuk membalasnya.

"Kang Zaki kenapa diam terus?" tanya Timin suatu sore, ketika mereka berdua duduk di tepi sungai setelah selesai mengaji.

"Kangen Kang Darto," jawab Zaki jujur, tersenyum kecil pada anak itu.

"Kang Darto lucu," kata Timin, mengangguk setuju. "Tapi Kang Zaki juga baik, cuma jarang senyum sekarang."

Zaki tertawa pelan mendengar komentar polos itu. "Kang akan berusaha lebih sering senyum, ya."

Ia mengambil tugas kurir lebih sering dari biasanya, sebagian karena memang dibutuhkan, sebagian lagi karena kesibukan itu membantu mengalihkan pikirannya dari kesepian yang mulai terasa berat. Setiap perjalanan ke dusun-dusun tetangga membawanya bertemu berbagai orang, mendengar berbagai kabar, dan perlahan-lahan, ia mulai dikenal sebagai salah satu kurir yang bisa dipercaya di antara jaringan kecil yang menghubungkan pondok dengan berbagai kelompok laskar di sekitar Karangtengah.

Suatu pagi, ketika Zaki sedang bersiap untuk tugas kurir rutinnya, Ustaz Malik memanggilnya ke sudut lumbung dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.

"Nak Zaki, kali ini tugasnya sedikit berbeda."

"Berbeda bagaimana, Ustaz?"

"Kamu akan mengantar surat langsung ke markas Gus Hanif, bukan hanya ke pos-pos kecil seperti biasanya. Ada informasi penting yang harus disampaikan langsung, dan Kiai memintamu secara khusus karena kepercayaannya padamu."

Nama Gus Hanif membuat dada Zaki sedikit menegang, meski ia berusaha menjaga wajahnya tetap tenang. "Baik, Ustaz. Saya siap."

"Ini bukan tugas ringan, Nak. Markas Gus Hanif lebih jauh, dan jalurnya lebih rawan karena dekat dengan garis patroli Belanda. Kamu harus berangkat sebelum subuh, dan usahakan sampai kembali sebelum gelap."

Zaki mengangguk, menerima gulungan surat kecil yang diserahkan Ustaz Malik, menyembunyikannya dengan hati-hati di ikat pinggangnya seperti biasa.

Perjalanan menuju markas Gus Hanif memakan waktu hampir tiga jam, melewati medan yang lebih terjal dari biasanya, kadang harus menyeberangi sungai kecil yang arusnya cukup deras karena hujan beberapa hari terakhir. Zaki berjalan dengan waspada, mengingat setiap pesan keselamatan yang pernah diajarkan Ustaz Malik dan Darto.

Markas itu berupa perkampungan kecil yang disamarkan di tengah hutan, dengan beberapa gubuk sederhana dan pos-pos penjagaan yang tersembunyi rapi. Setelah menyebutkan kata sandi, Zaki diantar menemui Gus Hanif yang sedang berdiskusi dengan beberapa pemimpin laskar lain di sebuah gubuk utama.

"Zaki," sapa Gus Hanif begitu melihatnya, wajahnya tampak lebih kurus dan lelah dibanding terakhir kali mereka bertemu di Al-Hikmah, tapi matanya masih menyimpan kehangatan yang sama. "Senang bertemu denganmu di sini."

"Assalamualaikum, Gus. Saya membawa surat dari Kiai Wahid."

Gus Hanif menerima surat itu, membacanya dengan seksama, wajahnya berubah serius seiring ia membaca isi surat tersebut. Setelah selesai, ia menghela napas panjang.

"Kabar yang berat," gumamnya, lebih pada diri sendiri. Lalu ia menatap Zaki. "Kiai mengabarkan bahwa Belanda sedang mempersiapkan serangan lebih besar ke arah utara, termasuk kemungkinan mendekati area pengungsian kalian. Kami perlu mempercepat rencana pertahanan."

Dada Zaki berdegup kencang mendengar kabar itu. "Apakah pengungsian dalam bahaya, Gus?"

"Mudah-mudahan tidak langsung, tapi kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk." Gus Hanif menatapnya lama, lalu tersenyum tipis, mencoba mencairkan ketegangan. "Bagaimana keadaan di Karangtengah? Semua sehat?"

"Alhamdulillah, semua sehat, Gus. Meski... Darto, sahabat saya, sudah bergabung dengan laskar minggu lalu. Ayahnya gugur beberapa minggu sebelumnya."

Wajah Gus Hanif berubah sendu. "Saya turut berduka. Semoga Allah memberi kekuatan padanya." Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih hati-hati, "Dan Nafisah? Bagaimana keadaannya?"

Pertanyaan itu jatuh seperti batu kecil ke air tenang. Zaki menjaga wajahnya tetap netral, meski hatinya bergejolak. "Alhamdulillah baik, Gus. Beliau membantu Bu Nyai mengurus santriwati lain."

Gus Hanif mengangguk pelan, matanya menerawang sejenak seperti memikirkan sesuatu yang jauh. "Baguslah. Tolong sampaikan salam saya untuknya, kalau ada kesempatan."

"Baik, Gus. Akan saya sampaikan."

Sebelum Zaki berpamitan, Gus Hanif menahannya sejenak, menatapnya dengan sorot mata yang lebih serius dan personal.

"Zaki," katanya, suaranya lebih pelan. "Boleh saya bicara jujur denganmu, sebentar saja?"

"Silakan, Gus."

"Saya tahu, tentang kamu dan Nafisah." Kata-kata itu keluar tanpa basa-basi, membuat Zaki terkejut, jantungnya berdegup kencang. "Bukan dari gosip murahan, tapi dari cara dia bicara tentangmu waktu saya sempat berkunjung ke Al-Hikmah beberapa bulan lalu, sebelum semua ini terjadi."

Zaki tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya menunduk hormat, menunggu kelanjutan kata-kata Gus Hanif.

"Saya tidak marah, Zaki. Justru saya ingin kamu tahu, saya menghargai kejujuran dan kesabaran yang kalian berdua tunjukkan selama ini. Perjodohan antara saya dan Nafisah, itu keinginan orang tua kami, bukan sepenuhnya keinginan saya atau dia." Gus Hanif menghela napas panjang, matanya menatap jauh ke luar gubuk, ke arah hutan yang rimbun. "Di tengah perang seperti ini, saya belajar bahwa memaksakan sesuatu yang tidak sejalan dengan hati hanya akan membawa penderitaan, bagi diri sendiri maupun orang lain."

"Gus..." Zaki tidak tahu harus berkata apa, dadanya penuh oleh berbagai perasaan yang sulit diurai.

"Saya belum bisa memberi jawaban pasti sekarang, karena ini menyangkut keluarga besar, bukan cuma keputusan saya sendiri. Tapi saya ingin kamu tahu, saya tidak akan menjadi penghalang bagi kebahagiaan Nafisah, kalau memang hatinya sudah menentukan pilihan." Gus Hanif tersenyum tipis, senyum yang menyimpan kedewasaan dan pengorbanan yang tidak mudah. "Jaga dia baik-baik, kalau memang nanti waktunya tiba. Dan jaga dirimu sendiri juga, karena perjalanan di depan kita semua masih panjang dan penuh bahaya."

Zaki menunduk dalam, merasakan campuran antara syukur, haru, dan tanggung jawab yang semakin besar. "Terima kasih, Gus. Untuk kejujuran dan kebesaran hati Panjenengan."

"Sama-sama, Zaki. Sekarang, cepatlah kembali sebelum gelap. Dan hati-hati di jalan."

Zaki berpamitan dengan hati yang penuh, berjalan pulang menyusuri jalan setapak yang sama, tapi kali ini dengan beban yang terasa sedikit lebih ringan, meski kabar tentang kemungkinan serangan Belanda tetap menggantung berat di pikirannya. Di tengah ketidakpastian perang yang semakin dekat, ia membawa pulang satu kabar baik yang tidak terduga: bahwa jalan di depannya, mungkin, tidak sesulit yang ia bayangkan selama ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!