NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.6
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03 - Mahar Untuk Anak Yang Dilupakan

Ratna tidak langsung menerima keputusan itu dengan wajah bahagia.

Ia menerima karena tidak punya pilihan yang lebih cantik untuk ditunjukkan.

Setelah Arga dan Bima pulang, ruang tamu keluarga Santoso berubah menjadi pengadilan kecil. Ratna berdiri di tengah ruangan, Rania duduk dengan lengan terlipat, Bambang mondar-mandir sambil mengusap dagu, sedangkan Safira tetap berdiri di dekat meja, seperti terdakwa yang belum boleh duduk.

"Kamu sadar apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Ratna.

"Sadar, Ma."

"Kamu mempermalukan Mama di depan tamu."

"Aku menyelamatkan pembicaraan yang Kak Rania tolak."

"Jangan putar balik." Ratna menunjuknya. "Kamu sengaja mencari kesempatan. Dari dulu kamu memang diam-diam punya ambisi."

Safira menatap ibunya.

Ambisi?

Kalau benar ia punya ambisi, mungkin ia tidak akan bangun sebelum subuh setiap hari untuk menanak nasi bagi orang-orang yang bahkan tidak pernah bertanya apakah ia sudah makan.

"Aku cuma bilang bersedia menikah."

"Dengan lelaki yang baru kamu lihat lima menit!"

"Kak Rania juga diminta mempertimbangkan lelaki yang baru dilihat lima menit."

Rania langsung berdiri. "Jangan samakan aku dengan kamu."

Safira menoleh. "Kenapa tidak boleh? Kita sama-sama perempuan di rumah ini."

"Karena aku punya masa depan."

Kalimat itu jatuh di ruangan seperti gelas pecah.

Bambang berhenti berjalan. Ratna menatap Rania sebentar, bukan karena tidak setuju, tetapi karena kalimat itu terlalu telanjang.

Safira tersenyum kecil.

"Berarti aku tidak punya?"

Rania menggigit bibir. "Maksudku bukan begitu."

"Tidak apa-apa. Aku sudah sering mendengar versi lain dari kalimat itu."

Ratna memijit pelipis. "Sudah. Kita bicara praktis saja. Kalau kamu memang mau menikah, jangan berharap resepsi besar. Keluarga Kusuma juga kelihatannya tidak membawa apa-apa yang luar biasa."

"Aku tidak minta resepsi."

"Bagus."

"Tapi aku minta hakku."

Ratna mengangkat wajah perlahan. "Hak apa?"

Safira menaruh nampan di meja. Suaranya tetap pelan, tetapi setiap kata jelas.

"Mahar dan seserahan dari pihak Mas Arga bukan urusan Mama. Itu hakku sebagai calon istri. Lalu dari keluarga ini, aku minta uang yang dulu Nenek tinggalkan untuk pendidikanku."

Wajah Bambang berubah.

Ratna langsung berkata, "Uang itu sudah dipakai untuk kebutuhan rumah."

"Kebutuhan rumah atau DP mobil Kevin?"

"Safira!"

"Aku tahu, Ma. Aku yang disuruh mengambil berkas di laci Papa waktu itu. Aku lihat catatannya."

Kevin yang baru turun tangga berhenti. "Kenapa namaku dibawa-bawa?"

Safira menatap adiknya. "Karena bensin, uang nongkrong, cicilan motor, semua sering dibawa ke namaku."

"Ih, lebay banget."

Ratna menunjuk ke arah kamar. "Kevin, masuk."

"Aku belum sarapan kedua."

"Masuk!"

Kevin mendengus lalu pergi.

Safira kembali menatap orang tuanya.

"Aku tidak minta semua. Aku minta bagian yang seharusnya dipakai untuk kursus desainku dulu. Mama bilang uangnya disimpan. Aku percaya. Sekarang aku butuh untuk memulai hidup setelah menikah."

Bambang menghindari tatapannya.

Ratna tertawa sinis. "Kamu baru mau menikah dengan orang biasa saja sudah mulai hitung-hitungan. Bagaimana nanti kalau dia benar-benar miskin?"

"Justru karena dia orang biasa, aku tidak mau masuk pernikahan tanpa pegangan."

Rania menyahut, "Jadi kamu menikah demi uang?"

"Kalau aku menikah demi uang, aku akan rebut Dimas dari Kakak."

Rania membeku.

Bambang dan Ratna sama-sama menoleh.

"Apa maksudmu?" tanya Bambang.

Safira mengambil ponsel dari saku apron. Ia membuka galeri, lalu menaruh layar menghadap meja.

Foto pertama memperlihatkan Rania dan Dimas duduk terlalu dekat di sebuah kafe. Foto kedua lebih jelas. Tangan Dimas menggenggam tangan Rania. Foto ketiga memperlihatkan Dimas mencium pipi Rania di parkiran.

Rania langsung pucat.

"Kamu mata-mata?"

"Aku hanya tidak buta."

Dimas adalah laki-laki yang selama setahun terakhir masih mengirim pesan kepada Safira, masih memanggilnya sayang saat butuh dibuatkan desain gratis untuk usaha temannya, tetapi diam-diam jalan dengan Rania.

Safira sudah tahu lama.

Ia tidak pernah meledak karena, anehnya, rasa cintanya kepada Dimas sudah habis lebih dulu sebelum rasa marahnya sempat tumbuh.

Ratna mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar. "Safa, jangan buat fitnah."

"Itu foto. Kalau kurang, aku punya rekaman suara Dimas saat bilang Kak Rania lebih pantas jadi istrinya karena punya akses ke perusahaan Papa."

Rania menangis. "Ma, aku bisa jelaskan."

Ratna menatap putri kesayangannya dengan wajah panik. Bukan panik karena Rania menyakiti Safira. Panik karena skandal ini bisa menyebar.

Safira mengambil ponselnya kembali.

"Aku tidak akan menyebarkan apa-apa kalau kalian tidak memaksaku diam soal hakku."

Bambang duduk pelan. "Safa, ini keluarga."

"Aku tahu. Karena ini keluarga, aku masih bicara baik-baik di rumah."

Ratna menatapnya seperti baru pertama kali melihat Safira bukan sebagai anak yang bisa diperintah.

"Berapa yang kamu minta?"

Safira menyebut angka. Tidak besar dibanding uang belanja Rania untuk tas baru. Tidak besar dibanding biaya Kevin liburan ke Bali bersama teman-temannya. Tapi cukup untuk sewa tempat tinggal kecil dan modal awal kerja.

Ratna hampir menolak, tetapi Bambang mengangkat tangan.

"Berikan."

"Bambang!"

"Berikan," ulang Bambang, lebih lelah daripada tegas. "Kita sudah cukup kacau hari ini."

Safira mengangguk. "Terima kasih, Pa."

Ratna menatapnya dingin. "Setelah menikah, jangan berharap bisa bolak-balik meminta apa pun dari rumah ini."

Safira hampir menjawab, tetapi suara pelan dari arah lorong membuat semuanya berhenti.

"Safa mau menikah?"

Kakek Hadi berdiri dengan tangan memegang kusen. Entah sejak kapan ia berada di sana.

Safira segera menghampirinya. "Kakek, kok keluar sendiri?"

"Safa mau menikah dengan cucu Surya?"

Safira menahan napas. "Iya, Kek."

Kakek memegang tangannya. Matanya basah, tetapi senyumnya lembut.

"Bagus. Surya orang baik. Cucunya harusnya baik."

Ratna berdeham. "Pak, ini masih dibicarakan."

"Jangan sakiti Safa," kata Kakek, tiba-tiba menatap Ratna dengan mata jernih. "Anak ini sudah terlalu sering mengalah."

Ruangan kembali sunyi.

Safira menunduk, takut kalau ia menatap Kakek lebih lama, air matanya jatuh di depan orang-orang yang tidak boleh melihatnya lemah.

Malam itu, pesan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselnya.

`Ini Arga. Bima memberi nomormu. Besok keluarga saya akan mengirim orang untuk membicarakan akad. Kamu masih bisa mundur.`

Safira membaca pesan itu berkali-kali.

Lalu ia mengetik.

`Saya tidak mundur. Tapi saya ingin akad dilakukan dengan benar. Ada wali, saksi, mahar, dan semua dokumen resmi. Saya tidak mau jadi rahasia yang mudah dibuang.`

Balasan Arga datang tidak sampai satu menit.

`Kamu tidak akan jadi rahasia yang mudah dibuang.`

Safira menatap layar lama.

Ia tidak tahu apakah harus percaya.

Tapi untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa sedikit longgar.

Seperti ada pintu kecil yang terbuka.

Dan dari balik pintu itu, udara luar masuk.

Di sisi lain kota, Arga masih duduk di dalam mobil ketika pesan Safira masuk. Bima di kursi kemudi menoleh beberapa kali, menunggu komentar, tetapi Arga hanya membaca layar dengan wajah yang sulit ditebak.

"Dia minta akad yang benar?" tanya Bima akhirnya.

"Iya."

"Bagus. Berarti dia bukan tipe yang mudah diseret."

Arga tidak menjawab.

Bima bersandar. "Ga, kamu sadar kan? Kalau kamu lanjut, ini bukan lagi sekadar membuat keluarga Santoso menolak. Gadis itu benar-benar akan jadi istrimu."

"Saya sadar."

"Dan dia tidak tahu kamu siapa."

Arga menatap jalan di depan. Lampu merah memantul di kaca mobil tua yang mereka pinjam khusus untuk sandiwara hari itu.

"Justru karena itu saya ingin lihat bagaimana dia memilih."

"Dia memilih jalan keluar, bukan kamu."

Kalimat Bima tepat sasaran.

Arga menyimpan ponsel. "Saya tahu."

"Terus?"

"Kalau dia butuh jalan keluar, setidaknya saya pastikan jalan itu tidak membawanya ke tempat yang lebih buruk."

Bima menghela napas. "Kalimatmu mulai terdengar berbahaya."

"Kenapa?"

"Karena kamu biasanya tidak peduli sejauh ini."

Arga tidak membantah.

Bayangan Safira yang berdiri di ruang tamu dengan nampan kosong masih tertinggal di kepalanya. Perempuan itu tidak memohon. Tidak menjual kesedihan. Tidak juga berpura-pura tertarik pada apa yang bisa ia berikan.

Ia hanya berkata ingin jalan keluar.

Entah kenapa, Arga ingin menjadi jalan yang cukup aman untuk dilewati.

1
Riniwahyuti
novel paling belibet ya ini males jadinya mau baca terlalu banyak bertele² skipp aja lahhh
emiliana widya
kesannya kurang menghargai suami, hubungan stagnan ga ada kemajuan
Anonim
Safa merasa paling istimewa semua harus persetujuannya terlalu lebaybdan berlebihan
Anonim
Obtolan suami istribterasa formal banget aneh ya rumah tangga suami istri berdiri sendiri2, pasang tembok masing2 status suami istri aneh wkwkwkkwkw
Nha_A
udah mikir untuk skip...lama² muak banget bacanya
Anonim
Kan udh di kasih tau dia keluarga kesuma, pewaris urana apa yg bingung, safa gk jelas otaknya sok hebat kl bukan dukungan arga blm tentu jadi seperti ini
Anonim
Udh nikah tapi masih pasang batas gk jelas, kl gk mau pusah , safa merasa psling benar , dan arga tetlalu lama mebutup siri heran ini cerita gk ada ujungnta
Anonim
Ceritanya bulat gk kelar kelar
Nha_A
bener² cerita klewat ga jelas yg menarik,dari nama,tempat tinggal,kita domisili,pokoke suka²mu lah thoor 😂😂😂
Siti Ngaliyah
maaf KK,,knp ceritanya seakan jalan ditempat ga ada kemajuan,,ini kn hubungan suami istri harusnya,,kasih yg lebih hidup hubungannya,, Safira terlalu egois 🙏🙏
John dery
ini sebenarnya gimana sih diawal cerita mereka punya rumah eh sampai episode ini mereka dijelaskan punya apartemen lama🤭jadi rumahnya kemana
Mazree Gati
kapan ngentotnya thorr,uda nikah berbulan2 ,yg di utamain jahitan
Siti Solikah
bagus
Julia thaleb
ceritanya berputar putar di tempat ne.
Kenapa Safira ngak langsung ke rmh Bu Marni, kenapa Arga ngak cerita terus semuanya tentang kluarganya.
Kalau Arga lagi cerita Safira jangan masuk kamar tapi ddngaekan sampai tuntas.
yg paling nyebelin ayahnya safira sekarang namanya Dimas, lalu mantan pacarnya gabti nama apa ..?
Angga Ksatria Maulidyo
ah terlalu ribet ini Safira...perasaan Arga Khan udah buat pengakuan pribadi sbg keluarga Kusuma sebelumnya kepada Safira ...
Ummee
masih kaku gitu tapi uda bisa garis dua, gk bayangin kok bisa sampe garis dua🤭
Yashlaura
terus arga pratama dari mana pas ktp
Kaltum Ogus
ga jelas benar ceritanya ni membosankan
Andi Nurhayati
suami Ratna harusnya Bambang kan , Dimas itu di awal cerita pacar nya si Safa ,
terus itu Safa adenya Ryhan atau KK nya sih sebenarnya, tp knpa Ratih Mahesa malah di klinik bawa bayi brrti Safa keponakan ryhan yah, jd makin bingung 🙄
Kaltum Ogus
malas bnr ceritanya ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!