NovelToon NovelToon
GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

GUGURNYA SAYAP DI PANGKUAN PREGIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: syakhira ahyarul husna

Gatotkaca dikenal sebagai ksatria otot kawat tulang besi, sang penjaga langit Pringgandani yang tak kenal ampun di medan laga. Tidak ada panah yang mampu menggores kulitnya, dan tidak ada musuh yang tak gemetar mendengar raungannya. Ia diciptakan murni untuk perang dan pengorbanan.

Namun, segala keperkasaan itu luluh lantak seketika di batas Hutan Wanamarta, saat ia menatap sepasang mata teduh milik Dewi Pregiwa.

Di tengah bayang-bayang kelam intrik Astina dan ancaman perang besar Baratayuda yang semakin memanas, cinta yang canggung namun tulus tumbuh di antara mereka. Gatotkaca sang manusia baja harus belajar merengkuh kelembutan, sementara Pregiwa harus menghadapi kenyataan pahit: pria yang mencintainya telah ditakdirkan oleh para dewa menjadi perisai hidup bagi Pandawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syakhira ahyarul husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

Di ujung paling gelap dari Yamaloka, di mana Sungai Serayu Hitam bermuara pada ketiadaan, menjulanglah sebuah struktur purba yang tak tertembus oleh cahaya bintang mana pun. Gerbang Panguripan. Itulah batas mutlak antara dunia orang mati dan alam fana. Gerbang itu tidak terbuat dari batu atau besi, melainkan terbentuk dari jutaan fosil jiwa-jiwa pendosa yang membatu dalam penderitaan abadi. Lengkingan bisu dari wajah-wajah yang membeku di dinding gerbang itu sanggup meremukkan kewarasan roh mana pun yang berani mendekatinya.

Di depan gerbang raksasa itulah, roh Gatotkaca berdiri tegak.

Wujud siluet putihnya kini berpendar menyala oleh titik api Candradimuka yang berkobar di dadanya. Hawa panas dari tekadnya mengusir kabut kelabu Yamaloka, menciptakan sebuah radius kehampaan di sekelilingnya. Sang Senopati Pringgandani tidak membawa gada, tidak membawa keris, dan tidak lagi mengenakan zirah emas Antakusuma yang dibanggakannya. Ia datang hanya membawa amarah yang murni dan cinta yang menolak untuk berkalang tanah.

Batara Yamadipati, sang Dewa Kematian, melayang turun dari singgasana kabutnya. Mata birunya menatap Gatotkaca dengan campuran antara rasa hormat yang langka dan peringatan yang mematikan.

"Ini adalah peringatan terakhirku untukmu, Ksatria Pandawa," suara Yamadipati bergemuruh, membuat air Sungai Serayu Hitam beriak ganas. "Gerbang Panguripan dijaga oleh Tiga Penjaga Purba. Mereka bukanlah monster yang bisa kau bunuh dengan otot kawatmu. Mereka adalah manifestasi dari keputusasaan, ingatan, dan penyesalan. Jika rohmu hancur di tangan mereka, kau tidak akan reinkarnasi. Kau akan musnah, terhapus dari sejarah tiga dunia."

Gatotkaca tidak menoleh. Mata elang rohnya menatap lurus ke arah pintu gerbang yang menjulang hingga menembus awan kelabu.

"Eksistensi hamba sudah hancur saat hamba melepaskan tangannya di Swantipura, Batara," jawab Gatotkaca, suaranya kini terdengar berlapis ganda, perpaduan antara bariton manusianya dan gema energi murni dari Kawah Candradimuka. "Hamba tidak peduli pada sejarah tiga dunia. Hamba hanya peduli pada satu jiwa yang sedang tersesat dalam kegelapan di utara sana."

"Kau sadar harga yang harus kau bayar jika kau berhasil menembusnya?" tanya Yamadipati lagi, mengangkat gada tulang naganya. "Kau meninggalkan wujud fisikmu di Kurusetra. Kau akan kembali ke dunia fana bukan sebagai ksatria keemasan yang dipuja rakyat Amarta. Kau akan merangkak keluar dari tanah sebagai entitas bayangan. Iblis tanpa raga yang hanya hidup dari sisa-sisa prana. Duniamu akan menolakmu. Keluargamu akan memburumu."

Gatotkaca tersenyum getir. Senyum yang menyiratkan kedewasaan pahit dari seorang pria yang telah menerima takdir paling kelam.

"Biarkan mereka memburuku," bisik Gatotkaca mantap. "Selama aku bisa memotong rantai dendam yang mencekik leher permaisuriku, aku rela menjadi iblis yang paling dikutuk oleh para dewa."

Mendengar keteguhan absolut itu, Yamadipati menghela napas yang terdengar seperti badai. Ia memutar gadanya, lalu menghantamkannya ke atas Sungai Serayu Hitam.

"Maka hadapilah pengadilanmu, Jiwa yang Memberontak!" raung Sang Dewa Kematian. "Bangkitlah, Tiga Penjaga Purba! Uji kelayakan roh ini!"

Bumi Yamaloka bergetar dengan kehebatan yang sanggup meruntuhkan gunung. Dari dasar kabut pekat di depan Gerbang Panguripan, tiga pilar energi hitam meledak ke atas, menyapu bersih sisa-sisa keheningan alam baka.

Penjaga pertama mewujudkan dirinya. Dari dalam pusaran energi hitam itu, melangkah keluar seekor gajah raksasa bermata empat yang seluruh tubuhnya terbentuk dari tulang belulang dan asap beracun. Gajah Kumara. Ia adalah manifestasi dari beban dosa dan keputusasaan yang siap meremukkan jiwa para penentang takdir.

Penjaga kedua menyusul dengan desisan yang membuat telinga roh Gatotkaca berdenging ngilu. Seekor ular naga sepanjang seratus tombak, Naga Tatsaka Api, merayap turun dari puncak gerbang. Sisiknya terbuat dari api neraka yang menyala biru, memancarkan hawa panas yang dirancang untuk membakar memori dan akal sehat.

Gatotkaca memasang kuda-kuda bertarungnya. Tidak ada rasa takut di dadanya. Api merah di jantungnya berkobar semakin beringas, menantang api biru sang naga.

Gajah Kumara menyerang lebih dulu. Binatang tulang itu mengangkat belalainya dan meraung, lalu menerjang maju dengan kecepatan yang mustahil untuk ukuran sebesar itu. Tanah kabut meledak saat kaki-kaki raksasanya menginjak. Gadingnya yang setajam tombak pusaka terarah lurus ke dada Gatotkaca.

Sang ksatria tidak menghindar. Di dunia fana, ia akan menahan serangan itu dengan otot besinya. Di alam roh ini, ia menahannya dengan kekuatan kehendaknya.

Gatotkaca memusatkan energi Candradimuka di kedua lengannya, menciptakan proyeksi cahaya pelindung, lalu menubruk kepala gajah raksasa itu. Benturan antara dua entitas roh itu menciptakan ledakan cahaya putih dan hitam yang membutakan mata. Gatotkaca terseret mundur belasan tombak, kakinya merobek lapisan kabut. Beban keputusasaan dari Gajah Kumara menekan jiwanya, mencoba menanamkan pikiran bahwa usahanya sia-sia, bahwa Pregiwa sudah terlalu jauh untuk diselamatkan.

*Menyerahlah,* bisik suara gaib gajah itu di dalam kepala Gatotkaca. *Wanita itu kini menikmati darah. Ia tidak lagi membutuhkan pengawal rongsokan sepertimu.*

"Tutup mulutmu, Binatang Karma!" raung Gatotkaca.

Ia menolak racun keputusasaan itu. Bayangan wajah Pregiwa yang menangis di dadanya saat badai salju menjadi perisai batinnya yang tak tertembus. Dengan raungan yang menggelegar melebihi suara Gajah Kumara, Gatotkaca mengerahkan seluruh tenaganya, memutar tubuh gajah raksasa itu, mencengkeram kedua gading tulangnya, dan dengan satu hentakan brutal yang mematahkan hukum alam baka, ia merenggut gading itu hingga putus dari tengkoraknya. Gajah Kumara menjerit melengking sebelum wujudnya meledak menjadi serpihan debu hitam yang kembali tertelan kabut.

Satu penjaga tumbang. Namun, tidak ada waktu untuk mengambil napas.

Naga Tatsaka Api melesat dari udara. Ular raksasa itu tidak menyerang dengan fisik, melainkan membelit tubuh roh Gatotkaca dalam sekejap mata. Lilitan api birunya membakar proyeksi wujud sang senopati. Ini bukan rasa sakit fisik; ini adalah rasa sakit yang mencabik-cabik ingatan. Setiap kali naga itu mempererat lilitannya, Gatotkaca merasa satu keping kenangannya tentang dunia fana mulai meleleh. Ingatannya tentang wajah pamannya Arjuna, tentang tawa ayahnya Bima, mulai memudar menjadi abu.

Naga itu sedang berusaha menghapus alasan Gatotkaca untuk kembali.

"Mati... matilah dalam kelupaan abadi..." desis sang Naga tepat di depan wajah Gatotkaca, taring apinya siap menembus dahi sang ksatria.

Namun naga itu melakukan satu kesalahan fatal. Ia mencoba membakar memori Gatotkaca tentang aroma bunga melati di malam Hutan Wanamarta.

Saat ingatan tentang sentuhan tangan pualam Pregiwa mulai terancam oleh api biru sang naga, inti jiwa Gatotkaca meledak. Titik api di dadanya—api Candradimuka yang telah menyerap rasa cinta dan obsesi tertingginya—berkobar keluar dari dadanya layaknya erupsi gunung berapi.

"KAU BOLEH MENGAMBIL INGATANKU TENTANG DUNIA!" teriak Gatotkaca, matanya menyala dengan murka yang membuat Yamadipati sendiri mundur selangkah. "TAPI KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MENYENTUH NAMANYA DI DALAM JIWAKU!"

Semburan api Candradimuka yang berwarna keemasan keluar dari sekujur tubuh Gatotkaca, menelan habis api biru Naga Tatsaka. Sang naga menjerit kepanasan oleh api yang derajatnya jauh di atas api neraka. Lilitannya mengendur, dan Gatotkaca menggunakan kesempatan itu untuk merobek rahang naga tersebut menjadi dua bagian, membakarnya hingga menjadi ketiadaan murni.

1
Siska Dianti
fresh ceritnta seru banget ngangkat sejarah perwayangan
MUHAMMAD AQIEL ELYAS
terimakasih dukunganya kak
Siskadianti @gmail.com
sedih
Siskadianti @gmail.com
keren sejarah begini tapi di buat novel
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!