Setelah kecelakaan tragis empat tahun lalu, Lyodra Taylor terbangun dari koma panjang di Chicago dalam keadaan amnesia total. Keluarganya, yang menyimpan dendam dan mengira kecelakaan itu adalah sabotase bisnis, memilih memalsukan kematian Lyodra dan menghapus seluruh masa lalunya—termasuk rahasia bahwa ia sempat hamil dan keguguran saat kecelakaan terjadi.
Di sisi lain, Archello Dominic, sang kekasih yang hancur karena mengira Lyodra telah tiada, berubah menjadi pria yang dingin dan menutup diri. Di bawah tekanan ibunya, Archello terpaksa bertunangan dengan Oliver Bernardo, seorang gadis baik hati yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi besar di balik perjodohan mereka.
Tanpa mereka sadari, kecelakaan itu sebenarnya adalah skenario manipulatif kakek Oliver demi ambisi bisnis keluarga. Di tengah bayang-bayang masa lalu yang membeku dan kebohongan yang rapi tersusun, Archello mulai berjuang antara kesetiaannya pada memori Lyodra atau membuka hati bagi ketulusan Oliver.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela besar di ruang keluarga utama Mansion Dominic. Ruangan yang biasanya terasa dingin dan penuh wibawa itu kini berubah drastis. Karpet Persia yang mahal kini tertutup oleh beberapa keranjang bayi berbahan sutra, tumpukan kado dari para petinggi negara, dan aroma bedak bayi yang lembut menyaingi aroma cerutu Alexander.
Di tengah ruangan, di dalam ukiran tangan dari Italia, bayi Lincoln Dominic menggeliat pelan. Kulitnya yang kemerahan kini telah berubah menjadi putih bersih, dengan rambut hitam lebat yang menurun persis dari ayahnya. Namun, matanya yang bulat dan jernih adalah warisan murni dari Lyodra.
Nenek Hera duduk di kursi kebesarannya, namun kali ini ia tidak memegang tongkatnya. Ia mencondongkan tubuh, menatap sang cicit dengan pandangan yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya—pandangan penuh pemujaan.
"Oh, lihat hidungnya. Sangat tegas. Ini adalah hidung seorang pemimpin," gumam Hera, jemarinya yang keriput mengusap pipi gembul Lincoln dengan sangat hati-hati.
Tiba-tiba, Hera mendongak dan menatap asisten pribadinya yang berdiri siaga di sudut ruangan. "Panggil perwakilan dari diler mobil sport di Jerman. Aku ingin memesan edisi terbatas terbaru. Pastikan warnanya hitam safir, sama seperti warna mata ayahnya. Aku akan memesan mobil sport terbaik untukmu, Nak. Ini adalah hadiah sambutan dari Oma."
Archello yang sedang menyesap kopi di samping Lyodra hampir saja tersedak. Ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi berdenting. "Nenek, dia bahkan belum bisa menggenggam jariku dengan benar. Untuk apa mobil sport?"
Hera mendengus, kembali menatap Lincoln dengan senyum miring. "Tentu saja agar dia punya selera yang tinggi sejak dini. Jangan sampai dia jadi seperti ayahmu, Lincoln. Jangan jadi pemberontak dan menghamili wanita..." Hera tiba-tiba berdeham keras, menyadari kalimatnya hampir melewati batas sensitif masa lalu. "...eh, maksud Oma, jangan seperti ayahmu yang selalu membangkang perkataanku dan membuatku hampir serangan jantung setiap hari."
Archello hanya bisa memutar bola matanya dengan malas, menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia sudah hafal tabiat neneknya yang akan selalu mencari celah untuk menyindirnya, meski kini nada bicaranya jauh lebih ringan.
Lyodra, yang duduk bersandar pada bantal empuk sambil memperhatikan interaksi itu, hanya bisa tersenyum simpul. Ia merasa damai melihat bagaimana kehadiran Lincoln benar-benar menjadi penawar racun di rumah ini. "Nenek hanya ingin yang terbaik untuk Lincoln, Ello. Biarkan saja," bisik Lyodra menenangkan suaminya.
Tak lama kemudian, Alexander masuk ke ruangan dengan setelan jas kerjanya. Ia berhenti di depan keranjang bayi, menatap cucunya dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan. Namun, begitu ia mendengar percakapan tentang hadiah dari ibunya, dahinya langsung berkerut.
"Ibu, aku tidak salah dengar?" tanya Alexander sambil menatap Hera. "Lin baru berusia satu minggu. Baru tujuh hari dia menghirup udara New York, dan kau sudah ingin memberikannya mobil sport? Kau ingin cucumu menjadi pembalap liar?"
"Itu namanya investasi gaya hidup, Alexander! Dia harus tahu bahwa dia lahir sebagai seorang raja," sahut Hera tak mau kalah.
Alexander terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Oh, tidak, tidak. Aku tidak akan setuju sebagai kakeknya. Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi pria yang hanya pamer kemewahan. Dia harus belajar bisnis, bukan belajar mengganti gigi mobil di usia balita."
Alexander membungkuk, menggendong Lincoln dengan gerakan yang sudah sangat mahir—sesuatu yang membuat Beatrice di sudut ruangan tersenyum haru. "Dengar, Lincoln. Kakek akan memberimu sesuatu yang lebih berguna. Sebuah yayasan atas namamu, dan mungkin beberapa hektar lahan di Swiss untuk tempatmu belajar berkuda nanti. Bukan mobil yang bisa meledak jika kau menabrak pohon."
"Kuda? Itu kuno, Alexander!" seru Hera.
"Dan mobil sport untuk bayi adalah kegilaan, Ibu!" balas Alexander.
Perdebatan antara kakek dan nenek buyut itu terus berlanjut, saling mengklaim siapa yang paling berhak memberikan hadiah termewah. Archello menatap Lyodra, lalu mereka berdua tertawa pelan melihat pemandangan langka itu. Dua penguasa Dominic yang biasanya ditakuti oleh dunia bisnis, kini berdebat seperti anak kecil hanya karena seorang bayi mungil.
Archello mendekati Alexander dan mengambil alih Lincoln dari gendongan ayahnya. Ia membawa bayi itu kembali ke pelukan Lyodra. Di saat itulah, suasana mendadak menjadi tenang. Kehadiran bayi itu di pelukan ibunya seolah memberikan gravitasi yang menarik semua orang untuk diam dan mengagumi.
"Apapun hadiahnya nanti," ucap Archello sambil menatap Nenek Hera dan ayahnya bergantian, "aku hanya ingin dia tumbuh dengan cinta yang tidak pernah ia ragukan. Dia tidak perlu menjadi pemberontak jika dia merasa didengar, dan dia tidak perlu membangkang jika dia merasa dihargai."
Nenek Hera terdiam, ia menatap Archello cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil—sebuah pengakuan tulus bahwa cucunya telah dewasa. Beatrice mendekat dan merangkul bahu Lyodra, mencium kening menantunya itu.
"Terima kasih, Lyodra. Terima kasih sudah melengkapi keluarga ini," bisik Beatrice.
Di hari ketujuh kelahiran Lincoln, Mansion Dominic tidak lagi terasa seperti istana yang dingin dan angkuh. Ada tawa, ada perdebatan konyol, dan ada harapan baru yang bersemi. Meski di luar sana dunia mungkin masih penuh dengan intrik, namun di dalam dinding ini, Lincoln Dominic telah memulai takdirnya sebagai pemersatu dua generasi yang sempat retak.