NovelToon NovelToon
Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Dicampakan Suami Gila Harta, Diratukan Oleh Mafia Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu

Gion membanting pintu mobil SUV-nya hingga berguncang. Di dalam kabin, suasana terasa lebih dingin daripada AC yang berembus. Tuan Baskoro duduk kaku di kursi belakang, wajahnya merah padam, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

​"Benar-benar memalukan, Gion," desis Baskoro. Suaranya rendah, tapi penuh penekanan yang menusuk. "Sepanjang karier bisnis saya, baru kali ini saya dipermalukan seperti badut di depan polisi. Kamu bilang datanya valid? Kamu bilang gudang itu pusatnya?"

​"Tenang, Tuan... saya bersumpah, tadi siang datanya ada!" Gion memukul setir dengan frustrasi. "Zayn itu iblis. Dia pasti punya sistem pembersih otomatis. Tapi tenang, saya akan memikirkan cara lain. Kita belum kalah."

​Baskoro tertawa sinis, tawa yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Cara lain? Polisi sudah menganggap kita pembual. Reputasi saya taruhannya, Gion. Kalau besok pagi tidak ada pergerakan yang membalikkan keadaan, jangan harap dana investasi untuk proyekmu cair."

​Gion meneguk ludah. Keringat dingin menetes di pelipisnya. "Kasih saya waktu 24 jam, Tuan. Saya punya kartu as. Kalau kita tidak bisa menjatuhkannya lewat hukum, kita jatuhkan dia lewat orang-orang terdekatnya."

***

Mansion keluarga Malik.

​Di ruang tengah yang luas, Mama Rosa berjalan mondar-mandir. Sesekali ia melirik jam dinding besar yang berdetak konsisten. Laila duduk di sofa, menggenggam ponselnya erat-erat. Wajahnya pucat, matanya sembab karena kantuk yang tertahan oleh rasa cemas.

​"Ma, Zayn belum balas pesan Laila," bisik Laila. "Terakhir dia bilang sedang ada urusan sebentar. Tapi ini sudah jam dua pagi."

​Mama Rosa menghentikan langkahnya, mencoba mengatur napas agar tidak menularkan kepanikan pada menantunya. "Zayn itu seperti mendiang ayahnya, Laila. Kalau sudah berurusan dengan pekerjaan, dia lupa waktu. Tapi biasanya dia selalu memberi kabar."

​"Apa mungkin ada hubungannya dengan Gion, Ma? Tadi siang Gion datang ke kantor dengan wajah yang... tidak enak dilihat," lanjut Laila.

​Mama Rosa duduk di samping Laila, mengusap punggung tangan wanita muda itu. "Gion itu hanya kerikil, Sayang. Zayn sudah biasa menghadapi singa. Kita tunggu sebentar lagi ya? Kalau sampai jam tiga tidak ada kabar, Mama akan telepon orang kepercayaannya."

​Tepat saat itu, suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman. Laila langsung berdiri dan berlari menuju pintu depan. Begitu pintu terbuka, sosok tinggi Zayn muncul dengan jas hitam yang tersampir di bahunya. Wajahnya tampak lelah, tapi senyumnya langsung merekah begitu melihat Laila.

​"Zayn!" Laila hampir menabraknya jika Zayn tidak segera menangkap pinggangnya. "Kamu dari mana saja?"

​"Hei, tenang. Aku di sini," ucap Zayn lembut, mengecup kening Laila singkat.

​Mama Rosa menyusul ke depan, menyilangkan tangan di dada. "Zayn Malik, kamu tahu ibu dan calon istrimu ini hampir menelepon rumah sakit?"

​Zayn terkekeh pelan, melangkah masuk sambil merangkul Laila. "Maaf, Ma. Tadi ada sedikit 'pembersihan hama' di gudang utara. Tikus-tikusnya agak berisik, jadi butuh waktu lama untuk mengusir mereka."

​"Gion?" tanya Mama Rosa singkat.

​Zayn mengangguk sambil melonggarkan dasinya. "Dia mencoba bermain detektif malam ini. Membawa Inspektur Wahyu ke gudang kosong. Kurasa sekarang dia sedang menangis di pojokan kamarnya."

​Laila menghela napas lega, meski masih ada rasa khawatir yang tersisa. "Kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang terluka?"

​"Hanya harga diri Gion yang terluka parah, Sayang," jawab Zayn santai. "Sekarang, sebaiknya kita tidur. Besok akan ada drama babak kedua yang harus kita hadapi."

​Keesokan Harinya

​Sinar matahari pagi masuk melalui jendela besar rumah Zayn. Suasana yang harusnya tenang itu mendadak pecah ketika suara bel rumah berbunyi berkali-kali dengan tidak sabar.

​Bi Sumi, asisten rumah tangga, membuka pintu dan tampak terkejut melihat siapa yang datang. Gion berdiri di sana, kali ini tidak sendirian. Di sampingnya berdiri Nyonya Ratih, ibu Gion.

​"Zayn ada? Suruh dia keluar!" seru Gion tanpa basa-basi.

​"Eh, anu... Tuan Zayn sedang sarapan, Tuan," jawab Bi Sumi gugup.

​"Minggir!" Nyonya Ratih menerobos masuk dengan gaya angkuhnya. "Saya mau bicara dengan Rosa. Bagaimana bisa dia mendidik anaknya jadi penjahat seperti itu?"

​Zayn, Mama Rosa, dan Laila yang sedang berada di meja makan menoleh serempak. Zayn meletakkan sendoknya perlahan, menyeka mulutnya dengan serbet, lalu berdiri dengan tenang.

​"Wah, pagi-pagi sudah ada tamu agung," ujar Zayn dengan nada sarkastik yang kental. "Gion, aku pikir kamu masih sibuk menjelaskan ke polisi kenapa kamu membawa mereka ke gudang kosong semalam."

​Wajah Gion mengeras. "Jangan berlagak pintar, Zayn! Kamu memindahkan barang-barang itu, kan? Kamu meretas flashdisk-ku!"

​Mama Rosa berdiri, menatap Nyonya Ratih dengan tajam. "Ratih, jaga bicaramu. Masuk ke rumah orang tanpa izin dan berteriak-teriak, apa itu sopan santun yang kamu pelajari?"

​"Sopan santun?" Nyonya Ratih tertawa sinis. "Rosa, anakmu ini menyimpan barang ilegal! Gion melihatnya sendiri! Kamu mau menutup-nutupi kejahatannya hanya karena dia memberimu kemewahan?"

​Laila bangkit dari kursi, mencoba menengahi. "Tante Ratih, Mas Gion, tolong tenang dulu. Kalau ada masalah, bisa dibicarakan baik-baik, bukan dengan tuduhan seperti ini."

​"Kamu diam saja, Laila! Kamu itu cuma dinikahi untuk jadi pajangan," bentak Gion.

​Mata Zayn seketika berubah dingin. Atmosfer di ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Ia melangkah maju, berdiri tepat di depan Gion. Zayn jauh lebih tinggi, membuatnya harus menunduk sedikit untuk menatap mata sepupunya itu.

​"Gion," suara Zayn sangat tenang, namun sarat ancaman. "Kamu boleh menghinaku sepuasmu. Kamu boleh membual di depan polisi sampai mulutmu berbusa. Tapi kalau kamu sekali lagi membentak calon istriku di rumahku sendiri..."

​Zayn menggantung kalimatnya, tangannya masuk ke saku celana. "Aku akan memastikan nama 'Gion' hilang dari daftar bisnis di kota ini sebelum matahari terbenam."

​Gion mundur selangkah, nyalinya menciut sesaat. Namun, Nyonya Ratih segera membela anaknya. "Zayn! Jangan mengancam! Kami ke sini karena kami peduli pada nama baik keluarga besar. Serahkan diri saja sebelum semuanya terlambat."

​Zayn justru terkekeh. "Peduli? Atau kalian takut karena investasi Tuan Baskoro di proyek Gion terancam batal gara-gara kejadian memalukan semalam?"

​Gion terbelalak. "Dari mana kamu tahu soal itu?"

​"Aku tahu segalanya, Gion. Termasuk fakta bahwa kamu berhutang banyak pada lintah darat untuk menutupi kerugian proyekmu yang gagal bulan lalu," Zayn melirik jam tangannya. "Saran saya, daripada kalian membuang energi di sini, lebih baik kalian pulang dan siapkan pengacara. Karena Inspektur Wahyu baru saja meneleponku. Dia merasa sangat tersinggung karena dijadikan bahan lelucon olehmu."

​Nyonya Ratih menoleh ke arah anaknya dengan wajah bingung. "Gion? Apa yang dia maksud?"

​"Nggak, Ma! Dia bohong!" seru Gion panik.

​"Pulanglah," ucap Zayn sambil menunjuk ke arah pintu. "Sebelum aku memanggil satpam untuk menyeret kalian keluar secara tidak hormat. Dan Gion... lain kali kalau mau menjebak orang, belajar coding yang benar. 'Data sampah' yang aku berikan di flashdisk itu? Isinya cuma video kartun anak-anak tentang kejujuran. Silakan tonton kalau kamu punya waktu."

​Wajah Gion berubah dari merah menjadi ungu. Tanpa kata-kata lagi, ia menarik lengan ibunya dan melangkah pergi dengan langkah seribu, meninggalkan kediaman Malik dengan rasa malu yang lebih besar dari malam sebelumnya.

​Mama Rosa menghela napas panjang, kembali duduk. "Mereka tidak akan pernah belajar, ya?"

​Zayn kembali ke kursinya, menyesap kopinya yang mulai dingin. "Orang sombong butuh jatuh berkali-kali sampai mereka sadar kalau bumi itu keras, Ma."

​Laila memegang lengan Zayn. "Tapi ini belum berakhir, kan? Gion pasti akan cari cara lain."

​Zayn menatap Laila, senyum tipisnya kembali. "Biarkan saja. Selama mereka masih bermain di level 'tikus', kucing sepertiku tidak perlu terlalu khawatir. Yang penting sekarang..." Zayn melirik piring Laila yang masih penuh. "...habiskan sarapanmu. Kita punya jadwal melihat gaun pengantin, jam sebelas nanti, kan?"

​Laila tersenyum, rasa cemasnya perlahan memudar. Di balik sikap dingin dan misteriusnya, Zayn selalu punya cara untuk membuat dunia di sekitarnya terasa aman, setidaknya bagi orang-orang yang ia cintai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!