"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Bima Minta Maaf ke Rina
...GAMON...
...Bab 20: Bima Minta Maaf ke Rina...
...POV Bima...
---
Seminggu Sejak Malam di Kost
Lima Hari Rina Nggak Nginep
Dua Hari Mereka Hanya Chat Seperlunya
Bima tahu dia harus minta maaf.
Bukan maaf biasa. Bukan maaf yang diucapin lalu selesai. Tapi maaf yang beneran. Yang datang dari dalam. Yang ngubah sesuatu.
Masalahnya, dia nggak tahu harus mulai dari mana.
Rina masih baik. Masih chat. Masih nanyain kabar. Tapi ada jarak. Tipis, tapi nyata. Kayak kaca retak—masih bisa dipakai, tapi setiap liat, inget kalau pernah hampir pecah.
Dan Bima tahu: retak itu karena dia.
---
Sabtu Pagi – Kost Bima
Bima duduk di meja. Buku catatan terbuka. Pena di tangan, tapi nggak nulis apa-apa.
Dia ingat seminggu lalu. Rina dateng, bersihin kost, dengerin dia nangis, nampung semua keluh kesahnya. Dan setelah itu? Rina pamit pulang dengan senyum tipis yang dipaksain.
Sejak malam itu, Rina nggak pernah nginep lagi. Alasannya selalu masuk akal: "Ada kerjaan, Bim." "Capek, mau istirahat di rumah." "Besok aja ya."
Bima nggak bodoh. Dia tahu itu bukan soal capek. Itu soal jaga jarak.
Dan dia nggak bisa nyalahin Rina.
---
Ponsel di tangan. Chat dengan Rina—terakhir tadi pagi.
Bima (07.12): "Pagi, Sayang. Udah bangun?"
Rina (08.45): "Udah. Lagi siap-siap ke pasar. Lo?"
Bima (08.47): "Di kost. Mau nulis."
Rina (08.48): "Oke. Semangat."
Oke. Semangat.
Nggak ada "love you". Nggak ada emoji. Nggak ada "kangen".
Baca itu, dada Bima sesak. Bukan marah. Tapi takut. Takut kalau dia udah kehilangan Rina—bukan secara fisik, tapi secara hati.
Dia tutup chat. Tatap buku catatan. Lalu mulai nulis.
Bukan buat publikasi. Tapi buat dirinya sendiri. Buat ngerangkai apa yang mau dia omongin ke Rina nanti.
---
Rin,
Gue nggak tahu harus mulai dari mana. Tapi gue harus ngomong. Karena kalau gue diem, gue bisa kehilangan lo.
Dan gue nggak sanggup kehilangan lo.
Gue tahu akhir-akhir ini gue jadi orang yang susah ditebak. Kadang hangat, kadang dingin. Kadang deket, kadang jaga jarak. Lo pasti bingung: "Bima kenapa sih?"
Jujur, gue juga bingung.
Tapi setelah malam itu—pas lo dateng, lo bersihin kost gue yang kayak kapal pecah, lo dengerin gue nangis—gue sadar satu hal:
Gue takut.
Gue takut kalau lo bener-bener kenal gue, lo bakal pergi. Gue takut kalau lo lihat semua kegelapan di dalem kepala gue, lo bakal kapok. Gue takut... gue nggak cukup buat lo.
Iya, gue tahu ini bodoh. Lo udah buktiin berkali-kali kalau lo beda. Tapi trauma itu nggak ilang cuma karena lo bilang "aku sayang kamu". Dia tinggal di dalem, nunggu waktu buat muncul.
Dan dia muncul. Dalam bentuk yang paling jelek: gue jadi orang yang dingin. Nggak peka. Nggak bisa nunjukin kalo gue sayang.
Tapi gue sayang lo, Rin. Beneran. Mungkin gue nggak bisa nunjukin dengan cara yang bener. Tapi dalam cara gue yang berantakan ini, gue sayang lo.
Gue minta maaf. Bukan cuma buat minggu ini. Tapi buat semua. Buat bikin lo ngerasa sendiri. Buat bikin lo ragu. Buat bikin lo nangis.
Lo nggak pantas dapet yang kayak gini.
Tapi kalau lo masih mau kasih gue kesempatan... gue janji bakal belajar. Bukan jadi sempurna. Tapi jadi lebih baik. Buat lo. Buat kita.
Terserah lo mau jawab apa. Gue terima.
Yang pasti, satu hal yang gue tahu: gue nggak mau kehilangan lo.
Bima.
---
Dia baca ulang. Tiga kali. Lalu simpan di draft.
Belum dikirim. Belum waktunya.
---
Sore – Bima ke Apartemen Rina
Jam 5 sore. Bima berdiri di depan pintu apartemen Rina. Tangan kanan bawa plastik—isi makanan kesukaan Rina: tahu bulat, sate padang, dan es buah langganan mereka.
Tangan kiri pegang ponsel. Surat itu udah dikirim? Belum. Dia mau ngomong langsung.
Pintu terbuka.
Rina di dalam. Pakai kaos rumah, rambut diikat asal, tanpa makeup. Tapi matanya—matanya langsung nanya: "Lo ngapain di sini?"
"Rin."
"Bim?" Rina kaget. "Lo nggak bilang mau ke sini."
"Iya. Maaf. Gue... pengen ngomong langsung."
Rina diem sebentar. Lalu minggir.
"Masuk."
---
Di Dalam
Apartemen Rina rapi—seperti biasa. Wangi lilin aroma terapi. Sofa empuk. Meja rendah dengan buku-buku.
Bima duduk di sofa. Rina di kursi—bukan di sampingnya. Jarak. Sadar atau nggak, dia jaga jarak.
"Mau ngomong apa?" tanya Rina. Suaranya hati-hati. Kayak orang nunggu vonis.
Bima taruh plastik di meja.
"Ini buat lo. Tahu bulat, sate padang, es buah. Favorit lo."
Rina liat plastik itu. Matanya melembut dikit. Tapi tetep waspada.
"Makasih."
Diam.
Bima tarik napas. Dalam.
"Rin, gue mau minta maaf."
Rina nggak jawab. Tunggu.
"Bukan maaf basa-basi. Tapi beneran. Gue sadar... akhir-akhir ini gue bikin susah. Gue bikin lo ngerasa nggak dihargai. Gue bikin lo ngerasa sendiri."
Rina masih diem. Tapi tangannya—di pangkuan—mulai gemetar dikit.
"Gue takut, Rin."
"Takut apa?" Suara Rina pelan.
"Takut kehilangan lo. Tapi dengan cara gue yang kacau ini, gue malah ngejalanin ketakutan itu."
Rina angkat muka. Matanya basah.
"Lo tahu nggak, Bim... gue capek."
Bima diem.
"Gue capek nebak-nebak. Gue capek nanya 'lo kenapa?' dan jawabannya selalu 'nggak apa-apa'. Gue capek jadi orang yang harus selalu ngerti, sementara perasaan gue sendiri nggak pernah didenger."
"Rin—"
"Biarkan gue selesai." Rina potong. Lembut tapi tegas.
Bima tutup mulut.
"Gue sayang lo. Tapi sayang aja nggak cukup kalau lo terus-terusan nutup diri. Gue bisa nerima lo yang lagi down. Gue bisa nerima lo yang lagi bingung. Tapi gue nggak bisa nerima lo yang pura-pura baik-baik aja padahal hancur."
Air matanya jatuh. Dia hapus cepet.
"Lo nggak perlu jadi kuat terus di depan gue. Lo boleh nangis. Lo boleh ngamuk. Lo boleh cerita semua isi kepala lo yang kacau itu. Tapi jangan... jangan diem. Jangan jaga jarak. Itu yang bikin gue sakit."
Bima nggak bisa ngomong. Dadanya sesak.
"Lo tahu kenapa gue nggak nginep seminggu ini?"
Bima geleng.
"Karena gue takut. Takut kalau gue di samping lo, lo malah makin ngerasa sendiri. Takut kalau gue peluk lo, lo malah makin ngerasa asing."
Rina tatap dia. Mata merah.
"Gue nggak tahu harus gimana, Bim. Gue udah kasih semua. Tapi kayaknya... nggak cukup."
Kata-kata itu. Sama persis kayak yang dulu Bima rasakan. Ironis.
Bima berdiri. Jalan mendekat. Jongkok di depan Rina.
"Rin, lo nggak salah. Sama sekali. Ini salah gue. Gue yang nggak becus ngelola perasaan sendiri. Gue yang terlalu takut buat terbuka."
Dia ambil tangan Rina. Genggam.
"Tapi gue janji. Mulai sekarang, gue bakal usaha. Bukan jadi sempurna. Tapi jadi jujur. Kalau gue sedih, gue bilang. Kalau gue takut, gue cerita. Kalau gue butuh lo, gue akan minta lo di sini."
Rina tatap dia. Lama.
"Lo yakin?"
"Gue yakin."
"Bukan cuma omong doang?"
"Bukan." Bima tatap matanya. "Gue akan buktiin. Setiap hari. Sisa hidup gue, kalau lo mau."
Rina diem. Air mata masih jatuh.
"Lo tahu... gue pernah hampir nyerah."
Bima kaget.
"Pas lo diem seminggu lalu, gue mikir: 'Mungkin gue harus pergi. Mungkin gue cuma numpang di hidup dia. Mungkin dia butuh waktu sendiri.' Tapi tiap kali mau ambil keputusan, gue inget senyum lo. Senyum yang dulu—pas awal kita, pas lo masih hangat."
Bima nunduk.
"Gue kangen senyum itu, Bim."
Bima angkat muka. Matanya basah.
"Gue janji bakal senyum lagi. Beneran. Bukan palsu. Tapi dari hati."
Rina tatap dia lama. Lalu—pelan-pelan—dia tersenyum. Tipis. Tapi nyata.
"Buktikan."
---
Malam Itu
Mereka makan bareng. Tahu bulat, sate padang, es buah. Sederhana. Tapi hangat.
Rina udah bisa ketawa lagi. Bima juga—meskipin kadang masih mikir, tapi dia usahain buat hadir.
Selesai makan, mereka duduk di sofa. Rina nyender di pundak Bima. Posisi yang udah lama nggak mereka lakuin.
"Bim."
"Hmm?"
"Lo tahu, gue nggak minta lo sempurna."
"Iya."
"Gue cuma minta lo nyata."
Bima kecup puncak kepala Rina.
"Makasih udah nunggu."
"Makasih udah sadar."
Mereka diam. Tapi diam yang hangat. Bukan diam yang menjauh.
---
Pukul 22.00 – Bima Pulang
Di kost, Bima duduk di meja. Buku catatan terbuka.
Dia buka halaman baru. Tulis:
---
Hari ini gue minta maaf ke Rina. Beneran. Bukan cuma kata-kata.
Dia nangis. Gue nangis. Tapi setelah itu, ada yang beda.
Kayak beban yang selama ini gue pikul sendiri, tiba-tiba dia bantu angkat.
Gue sadar: cinta bukan tentang siapa yang paling kuat. Tapi tentang siapa yang paling berani buat jujur—meskipun takut.
Rina ngajarin gue itu.
Dan gue nggak akan sia-siain lagi.
Besok, hari baru. Dengan hati yang lebih lapang.
Makasih, Rin. Udah milih buat tetep.
---
Dia tutup buku. Matikan lampu.
Di luar, hujan gerimis. Tapi di dalam, hatinya hangat.
---
Bersambung ke Bab 21: Dua Hati yang Sama-Sama Luka
---
...📝 Preview Bab 21:...
Dua kota. Dua hati. Dua luka yang berbeda, tapi sama-sama dalam.
Di Surabaya, Keana mulai merasakan kedamaian. Tapi di pojok hatinya, masih ada tanya: apa Bima baik-baik aja?
Di Jakarta, Bima mulai bangkit dari keterpurukan. Tapi di sela-sela kebahagiaannya, dia masih ingat—bukan Keana, tapi pelajaran dari masa lalu.
Takdir akan mempertemukan mereka lagi. Tapi bukan untuk balikan. Untuk... penutupan.
Bab 21: Dua Hati yang Sama-Sama Luka—segera!
---