Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sydney
Pagi itu, suasana di lobi apartemen mewah Laras terasa dingin dan fungsional. Beberapa koper kulit premium dengan inisial ED dan LM sudah tertata rapi di dekat pintu otomatis, dijaga oleh dua pria berjas gelap yang berdiri kaku layaknya patung. Udara Jakarta yang lembap di luar sana seolah tak mampu menembus kaca tebal lobi, namun ketegangan di dalam ruangan itu jauh lebih menyesakkan daripada polusi kota.
Laras berdiri dengan setelan traveling berbahan kasmir lembut yang dipesan khusus oleh Elang. Di jari manisnya, berlian biru itu menangkap cahaya lampu lobi, memantulkan kilauan yang menyilaukan mata. Ia menatap Maya yang berdiri di hadapannya. Sahabatnya itu tampak lelah, matanya sembap, namun ia tetap memaksakan diri untuk mengantar Laras sampai ke titik keberangkatan ini.
"Jaga dirimu baik-baik di sana, Ras," bisik Maya, suaranya parau. Ia ingin memeluk Laras lebih erat, namun kehadiran sosok tinggi besar di samping Laras membuatnya mengurungkan niat.
Elang Dirgantara berdiri di sana, tangannya melingkar posesif di pinggang Laras, seolah sedang menegaskan pada dunia—dan pada Maya—bahwa wanita ini adalah wilayah kekuasaannya. Elang mengenakan trench coat hitam panjang yang membuatnya tampak seperti penguasa kegelapan yang sedang bersiap menaklukkan benua lain.
"Dia akan aman, Maya," sahut Elang dingin, matanya tidak beralih dari profil samping wajah Laras. "Aku tidak akan membiarkan seujung rambutnya pun tersentuh oleh hal-hal yang tidak menyenangkan di Sydney."
Maya hanya mengangguk kaku. Ia tahu, kata "aman" bagi Elang berarti isolasi total. "Ingat tujuanmu ke sana untuk menari, Laras. Jangan lupakan dirimu sendiri."
Laras hanya mampu mengangguk lemah. Ia ingin bicara lebih banyak pada Maya, ingin membisikkan bahwa ia takut, namun tatapan Elang yang seolah bisa membaca pikirannya membuatnya bungkam. Elang kemudian memberikan isyarat kepada asistennya, dan dalam sekejap, rombongan itu mulai bergerak menuju iring-iringan mobil hitam yang sudah menunggu di lobi.
*
Kejutan pertama bagi Laras adalah fakta bahwa Elang tidak hanya mengantarnya sampai bandara. Pria itu sudah menyiapkan jet pribadinya dan ikut terbang menuju Sydney. Elang beralasan bahwa ia memiliki beberapa agenda bisnis di Australia, namun Laras tahu kebenarannya: Elang tidak sanggup membiarkannya lepas dari pandangan mata, bahkan untuk penerbangan tujuh jam sekalipun.
Di dalam jet pribadi yang sangat mewah itu, Elang mendudukkan Laras di sampingnya. Ia terus menggenggam tangan Laras, sesekali mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
"Aku akan menemanimu sampai kamu menetap di hotel dan memastikan jadwal latihanmu aman," ucap Elang pelan saat pesawat mulai mengudara. "Setelah itu, aku harus kembali ke Jakarta selama beberapa hari untuk urusan yayasan, tapi aku sudah menyiapkan segalanya untukmu di sana."
Laras menoleh, sedikit terkejut. "Anda akan meninggalkan saya di sana sendiri?"
Elang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak memberikan rasa tenang. "Tidak sendiri, Sayang. Aku tidak akan pernah membiarkanmu benar-benar sendirian."
Ia menekan tombol interkom, dan tak lama kemudian, tiga orang masuk ke kabin utama. Dua pria bertubuh tegap yang tampak sangat terlatih, dan seorang wanita muda berambut pendek dengan sorot mata yang tajam namun profesional.
"Ini adalah tim keamanan pribadimu selama di Sydney," Elang menunjuk mereka satu per satu. "Mereka akan menjagamu dua puluh empat jam. Di mana pun kamu berada—di hotel, di ruang latihan, hingga di belakang panggung Opera House—mereka akan berada dalam jarak jangkau yang cukup untuk melindungimu."
Pandangan Elang beralih pada wanita muda di antara mereka. "Dan ini adalah Amy. Dia adalah pengawal khusus yang aku pilihkan untukmu."
Amy melangkah maju dan membungkuk sopan kepada Laras. "Selamat pagi, Nona Laras. Saya Amy. Tugas saya adalah mendampingi Anda secara pribadi. Tuan Elang khawatir jika Anda membutuhkan hal-hal yang bersifat perempuan atau keperluan mendesak lainnya, Anda mungkin merasa tidak nyaman bicara pada pengawal pria. Saya akan berada di samping Anda untuk memastikan semua kebutuhan Anda terpenuhi dengan cepat."
Laras menatap Amy. Wanita itu tampak ramah, namun Laras bisa merasakan aura ketegasan yang sama dengan para pengawal Elang lainnya. Ia menyadari bahwa Amy bukan sekadar asisten; dia adalah "sipir" cantik yang bertugas memastikan Laras tidak melakukan kontak dengan siapa pun tanpa seizin Elang.
"Dia terlatih dalam bela diri dan medis," tambah Elang, suaranya terdengar bangga. "Jadi, kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun. Amy akan menjadi bayanganmu."
Laras menelan ludah. "Bayangan? Apakah itu berarti saya tidak bisa pergi ke mana pun tanpa Amy?"
Elang membelai pipi Laras dengan punggung tangannya. "Ini demi kebaikanmu, Laras. Kamu akan menjadi bintang di Sydney. Banyak orang akan mencoba mendekatimu. Ada penggemar fanatik, kurator yang haus keuntungan, atau bahkan pria-pria yang hanya ingin mencari perhatianmu. Aku tidak ingin kamu merasa terganggu oleh mereka."
Laras mengalihkan pandangannya ke jendela pesawat, menatap hamparan awan putih di bawah mereka. Ia merasa seperti burung yang sedang dipindahkan dari sangkar kecil ke sangkar yang lebih besar, namun tetap saja, itu adalah sebuah sangkar. Kehadiran Amy—seorang pengawal perempuan—adalah taktik brilian dari Elang. Elang tahu bahwa jika ia menempatkan pengawal pria di dalam kamar atau ruang ganti Laras, itu akan memicu protes. Namun dengan menempatkan Amy, Elang memberikan kesan "perhatian" yang sangat manis, padahal tujuannya tetap sama: pengawasan total.
"Terima kasih, Elang," bisik Laras, meskipun hatinya terasa berat.
"Semua untukmu, calon istriku," sahut Elang, menekankan kata 'calon istri' seolah ingin mengingatkan Amy dan para pengawal lainnya tentang status hukum dan kepemilikan Laras.
Selama sisa perjalanan, Elang terus memanjakan Laras dengan makanan mewah dan perhatian yang intens. Namun, Laras tidak bisa berhenti memikirkan Sydney. Ia membayangkan dirinya berdiri di atas panggung megah Opera House, menari dengan bebas. Namun, bayangan itu selalu terpotong oleh bayangan Amy dan para pria berjas hitam yang berdiri di sisi panggung, mengawasi setiap gerakannya.
Ia menyadari bahwa panggung Sydney yang ia mimpikan bukan lagi tentang pengakuan dunia atas bakatnya, melainkan tentang bagaimana ia harus menari di atas tali tipis antara ambisinya dan obsesi Elang.
Di sisi lain, Amy terus berdiri di dekat pintu kabin, mengamati Laras dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia sudah mendapatkan instruksi khusus dari Elang: Laporkan setiap orang yang bicara padanya, setiap pesan yang masuk ke ponselnya, dan jangan biarkan dia sendirian dengan Julian atau siapa pun dari pihak Opera House.
Pesawat terus melaju menuju benua kangguru, membawa seorang diva yang sedang naik daun dan seorang penguasa yang tidak akan pernah membiarkan hartanya dicuri. Laras memejamkan mata, mencoba mencari ketenangan dalam tidurnya, sementara di bawah jarinya, berlian biru itu seolah semakin berat, mengingatkannya bahwa di Sydney nanti, ia bukan hanya seorang penari, melainkan simbol hidup dari kekuasaan Elang Dirgantara yang tak terbatas.
Penerbangan itu adalah transisi terakhir. Di ujung sana, Sydney menanti dengan segala kemegahannya, namun bagi Laras, setiap mil yang mereka tempuh hanya semakin mengukuhkan posisinya sebagai wanita yang paling dijaga, sekaligus paling tertawan di dunia.