Lisa Yang adalah wanita lembut yang percaya pada cinta. Ia menikah dengan pria yang ia cintai sepenuh hati, Arvin Pratama.
Namun pernikahan yang ia kira akan menjadi kebahagiaan justru berubah menjadi neraka.
Suaminya berubah menjadi pria dingin dan kejam. Lebih menyakitkan lagi, sahabatnya sendiri sejak kecil—Clara—ternyata adalah selingkuhan suaminya.
Selama bertahun-tahun Lisa dipermalukan, dimanfaatkan, dan diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri.
Pada akhirnya pengkhianatan itu mencapai puncaknya.
Lisa dibunuh oleh suaminya sendiri bersama sahabatnya demi merebut seluruh warisannya.
Saat napas terakhirnya hilang, Lisa bersumpah dalam hatinya.
"Jika aku diberi kesempatan hidup lagi... aku akan menghancurkan kalian berdua."
Namun keajaiban terjadi.
Lisa membuka mata dan menyadari dirinya kembali ke masa tiga tahun sebelum pernikahannya.
Kali ini Lisa tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama.
Ia akan membalas semua pengkhianatan.
Dan dalam rencananya, ia mulai mendekati se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Langkah Yang Mulai Terlihat
Hari mulai bergerak menuju sore ketika Lisa akhirnya meninggalkan ruang kerjanya dengan langkah yang tetap tenang namun pikirannya berjalan jauh lebih cepat dari sebelumnya, karena percakapan dengan Devan dan kemunculan Clara di waktu yang hampir bersamaan bukanlah kebetulan biasa, melainkan sinyal bahwa permainan yang ia mulai secara perlahan kini sudah mulai menarik perhatian lebih banyak pihak, termasuk mereka yang sebelumnya merasa aman dan tidak tersentuh, dan justru di situlah titik yang paling ia tunggu karena semakin banyak orang yang bergerak, semakin banyak pula celah yang bisa ia manfaatkan tanpa harus membuka semua kartu yang ia pegang.
Lisa berjalan menyusuri koridor perusahaan dengan sikap profesional, beberapa karyawan yang berpapasan langsung memberi salam dengan lebih hormat dibandingkan sebelumnya, dan ia menyadari perubahan itu tanpa perlu menunjukkannya secara berlebihan karena bagi Lisa, kekuasaan tidak perlu dipamerkan, cukup ditunjukkan lewat sikap dan keputusan yang tepat, lalu saat ia hampir mencapai lift, ponselnya kembali bergetar dan kali ini nama yang muncul tidak membuatnya terkejut sama sekali.
Arvin Pratama.
Lisa menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan dengan ekspresi yang tetap terkendali, lalu ia menempelkan ponsel ke telinganya dan berkata dengan nada lembut, “Halo?”
Di seberang sana, suara Arvin terdengar berbeda dari sebelumnya, lebih serius dan sedikit menahan sesuatu yang tidak ia ucapkan secara langsung, “Kamu sibuk?” tanyanya singkat.
Lisa melangkah masuk ke dalam lift, lalu menekan tombol lantai dasar sebelum menjawab dengan santai, “Baru saja selesai, kenapa?”
Arvin tidak langsung menjawab, seolah sedang menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan, lalu akhirnya ia berkata, “Aku dengar kamu tadi tidak sendirian di kantor.”
Kalimat itu langsung menunjukkan bahwa informasi sudah sampai padanya.
Lisa tersenyum tipis meskipun tidak terlihat.
“Memangnya kenapa?” balasnya ringan.
“Aku cuma ingin tahu,” jawab Arvin, tetapi nada suaranya tidak sepenuhnya santai, “siapa pria itu?”
Lisa menyandarkan tubuhnya di dinding lift dengan tenang.
“Teman,” jawabnya singkat.
Arvin langsung merespons, “Sejak kapan kamu punya teman seperti itu?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun jelas mengandung kecurigaan.
Lisa menutup matanya sejenak sebelum berkata dengan nada yang sedikit lebih dalam, “Sejak aku mulai mengenal lebih banyak hal.”
Lift berhenti di lantai dasar, dan Lisa melangkah keluar tanpa tergesa-gesa, lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar gedung sambil tetap berbicara.
“Arvin,” lanjutnya pelan, “kamu terdengar seperti sedang menginterogasi.”
Di seberang sana, Arvin terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Aku hanya peduli.”
Lisa hampir tertawa.
Namun ia menahannya.
“Peduli?” ulangnya pelan, “atau… merasa kehilangan kendali?”
Kalimat itu langsung mengenai sasaran.
Arvin tidak langsung menjawab.
Dan keheningan itu…
Sudah menjadi jawaban.
Lisa berhenti sejenak di depan pintu keluar, menatap ke luar gedung sebelum akhirnya berkata dengan nada yang kembali ringan, “Kita ketemu malam ini, kan?”
Arvin menarik napas pelan.
“Iya,” jawabnya.
“Kalau begitu… kamu bisa tanya langsung nanti,” lanjut Lisa sebelum akhirnya menutup panggilan tanpa memberi kesempatan Arvin untuk menekan lebih jauh.
Begitu ponsel diturunkan, Lisa melangkah keluar dari gedung dengan ekspresi yang tetap tenang, namun di dalam hatinya ia sudah mengetahui satu hal dengan sangat jelas—Arvin mulai merasa tidak nyaman, dan itu berarti rencananya berjalan dengan tepat.
Namun di sisi lain kota…
Arvin berdiri di dalam ruang kerjanya dengan wajah yang jauh lebih serius dari biasanya, ponsel masih berada di tangannya sementara pikirannya dipenuhi dengan berbagai kemungkinan yang tidak ia sukai, lalu ia berjalan mendekati meja dan menekan sebuah tombol interkom.
“Masuk,” katanya singkat.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan seorang pria masuk dengan sikap hormat.
Kevin Hartono.
Seorang rekan bisnis yang juga dikenal cukup ambisius.
“Kamu panggil aku?” tanya Kevin.
Arvin mengangguk, lalu berkata dengan nada langsung, “Aku butuh kamu cari tahu sesuatu.”
Kevin menyilangkan tangannya.
“Apa?”
Arvin menatapnya dengan tajam.
“Lisa Yang.”
Kevin sedikit mengangkat alis.
“Menarik,” katanya pelan, “akhirnya kamu serius juga.”
Arvin tidak tersenyum.
“Aku butuh semua informasi tentang siapa saja yang mendekatinya sekarang,” lanjutnya, “terutama pria bernama Devan.”
Kevin terdiam sejenak sebelum tertawa kecil.
“Kamu bermain di level yang cukup tinggi sekarang,” katanya, “kamu tahu itu?”
Arvin menjawab dengan dingin, “Aku tidak peduli.”
Kevin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk.
“Baik,” katanya, “aku akan cari tahu.”
Sementara itu…
Di tempat lain…
Clara duduk di dalam kamarnya dengan ekspresi yang jauh dari tenang, ponsel berada di tangannya sementara pikirannya terus mengulang apa yang ia lihat tadi, terutama sosok Devan yang berdiri di samping Lisa dengan aura yang tidak bisa ia abaikan, lalu ia menggigit bibirnya pelan sebelum berkata pada dirinya sendiri, “Aku tidak bisa diam saja…”
Ia langsung membuka kontak dan menekan nama seseorang.
Panggilan tersambung.
“Luna,” katanya.
Di seberang sana, suara wanita terdengar malas namun tajam.
“Clara? Ada apa?”
Clara menarik napas pelan sebelum berkata, “Aku butuh bantuanmu.”
Wanita itu adalah Luna Priscilla.
Seorang model terkenal yang juga dikenal dekat dengan banyak pria berpengaruh.
“Apa yang kamu butuhkan?” tanya Luna.
Clara menatap ke depan dengan mata yang mulai dipenuhi rencana.
“Ada pria yang harus aku dekati…” katanya pelan, lalu menambahkan, “dan aku ingin kamu yang melakukannya.”
Luna tertawa kecil.
“Kedengarannya menarik,” katanya, “siapa?”
Clara menjawab dengan satu nama.
“Devan Alexander.”
Keheningan terjadi di seberang sana.
Beberapa detik berlalu sebelum Luna akhirnya berkata dengan nada yang sedikit berubah, “Kamu yakin?”
Clara tersenyum tipis.
“Semakin sulit… semakin menyenangkan, kan?”
Sementara itu…
Lisa yang tidak mengetahui semua pergerakan tersebut justru sedang duduk di dalam mobilnya dengan ekspresi tenang, menatap ke depan sambil memikirkan pertemuannya dengan Arvin malam ini, karena ia tahu pertemuan itu tidak akan lagi sama seperti sebelumnya, kali ini bukan hanya tentang pendekatan biasa, melainkan tentang bagaimana ia akan mulai menarik Arvin lebih dalam ke dalam jebakan yang telah ia siapkan dengan sangat rapi.
Lisa menghela napas pelan.
Lalu berkata dalam hati…
“Mulai sekarang… tidak ada yang berjalan tanpa perhitunganku.”
Dan tanpa ia sadari…
Permainan yang ia mulai perlahan kini telah melibatkan lebih banyak pemain.
Lebih banyak kepentingan.
Dan juga…
Lebih banyak bahaya. 🔥